Friday, 12 August 2011

Sistem negara ideal, landasan kemajuan bangsa


Berbicara negara maka bebicara sistem. Konsep bagaimana negara di jalankan. Proses organisasi dalam negara. Maka berbicara negara tidak dapat di pisahkan dari ideologi serta pemikiran tentang negara. Konsep yang tepat terhadap sebuah sistem akan menghasilkan pencapaian yang sempurna. Di mana akan ada kemajuan di berbagai bidang ketika sistem yang tepat berlaku dan menjadi sistem positif yang dapat mendukung berbagai aspek pendorong kearah bangsa maju.

Diperlukan sistem yang baik untuk menjadikan negara sebagai prototipe kehidupan yang baik dan madani( civil society). Suatu kondisi di mana kehidupan berbangsa bernegara yang harmonis dalam hubungan bermasyarakat (antar warga negara) dengan mengenyampingkan berbagai macam perbedaan. Kondisi di mana negara tidak perlu lagi mengharap sokongan dari negara lain karena sudah mampu mandiri bahkan menjadi sokoguru peradaban bagi bangsa lain.

Sebuah sistem dalam menjalankan negara sangat menentukan wajah dari negara. Sedangkan sosok pemimpin hanya representasi dari sistem. Seorang pemimpi dapat menjadi otoriter ketika sistem negara tersebut memungkinkannya untuk bersikap demikian. Hal itu karena sifat-sifat  manusia seperti tamak dan serakah atau baik, adil serta zuhud  adalah perwujudan  sikap yang merupakan hal yang alamiah terjadi. Skap tersebut bisa di ambil atau di hindari sesuai dengan kehendak dari pemimpin.

Dari berbagai sistem yang di gunakan banyak kekurangan yang akhirnya menjadikan situasi negara menjadi oligarkhi dengan sistem yang bisa dikatakan kacau balau. Dalam proses perjalanan negara berbagai kondisi negara akan berputar dan mengecap situasi yang berbeda-beda. Hal itu bisa di sebabkan sikap yang di ambil pemimpin atau sebagai sesuatu yang alamiah saat negara mencoba sistem-sistem baru yang di anggap ideal namun belum atas kajian yang sempurna sehingga situasi negara menjadi amburadul.

Diperlukan sistem yang mengutamakan akal pikiran serta intelektualitas yang menyeluruh dalam setiap aspek dan komponen kenegaraan sebagai logika pemikiran para pelaku negara. Sebuah sistem yang  hanya dapat di jalankan ketika semua komponen dalam negara memiliki intelektualitas yang sama dalam menyikapi sistem. Dan di lihat dari proses pembangunan maka inti dari sistem tersebut adalah pemahaman rakyat yang menyeluruh terhadap sistem dan prosesnya di mulai dari membentuk  pemahaman di tengah masyarakat. Sistem tersebut mampu mengatur aspek mulai dari hukum, pendidikan, moral, dan agama sebagai suatu kesatuan universal yang menjadi pilar utama bagi proses berbangsa bernegara. Baik dalam pengambilan sikap politik maupun menyikapi kemajuan pembangunan ekonomi maupun industri dan teknologi.

Sistem yang paling humanis adalah sistem yang mampu mengedepankan intelektualitas sebagai landasan logika berpikir dan bertindak. Dimana yang akan menjadi  patron tidak hanya suara mayoritas, namun suara minoritas juga dapat menjadi patron ideal bahkan suara dari perorangan atau individu dapat menjadi tumpuan bersama ketika pendapat tersebut di anggap paling rasional dan menimbulkan lebih banyak maslahat atau kebaikan. Dan semua orang tidak akan berpendirian pada segala macam bentuk egonya baik secara individual ataupun kolektif karena memiliki tingkat intelektualitas yang sama terhadap sistem dan pemikiran mereka telah terasionalkan sehingga dapat menerima berbagai pendapat dan yang muncul hanya penilaian secara bijak.

Akan berefek jelek ketika sebuah negara yang memakai sistem instan dengan cara mengadopsi karena banyak hal yang seharusnya tidak terjadi namun tidak dapat di antisipasi. Dalam sistem negara monarkhi sangat memungkinkan seorang raja menjadi ambisius dan kecemburuan antara keluarga raja menimbulkan perebutan kekuasaan sehingga rakyat cenderung terkorbankan oleh obsesi sang raja. Obsesi zhalim sang raja serta sistem yang mendukung akan membuat sikap otoriritarian akan teus berlanjut dengan kekuasaan raja yang absolut. Demikian juga dengan sistem demokrasi ketika masyarakat masih buta politik akan menyebabkan sekelompok orang pintar naik tahta merekayasa kondisis sosial dengan bebagai pencitraan dan akan berakibat buruk bagi warga negaranya. Potensi rakyat  di bodoh-bodohi sangat memungkinkan mengingatkan mengingat sistem demokrasi bersifat instan dan di adopsi oleh negara, akan sangat berbahaya dalam kondisi intelektualitas masyarakat yang belum mampu berada dalam sistem.

Seorang negarawan muslim yang juga ulama said hawwa mengatakan” jika ingin membentuk negara islam maka islamkanlah bangsa yang ada dalam negara tersebut. ini menjelaskan sikap beliau dalam membentuk sistem negara islam maka ada tugas memberi pemahaman tentang islam kepada semua masyarakat. Dan sistem akan berjalan ketika semua bangsa dalam negara sudah dalam islam. Maka dalam islam sebagai sebuah sistem yang juga mengatur tata negara dengan sistem tata negara islam dengan aturan dan hukum islam maka ketika semua sudah islam dapat di artikan sebagai masyarakat sudah berada dalam rasionalitas pemikiran dan intelektualitas yang sama dalam berbangsa dan bernegara. Ketika hal tersebut terjadi maka konflik-konflik horizontal (antar warga negara) serta konflik vertikal ( rakyat dengan pemimpin)  dapat di hindari. Dengan sistem yang fleksibel dan seimbang akan membuat rakyatnya hidup dalam kondisi yang aman dalam keadilan dan kesejahteraan, civil societypun dapat menjadi kenyataan dan negara akan menjadi kuat di bawah sistem yang tepat.

Negara sangatlah bergantung pada keberadaan rakayat, namun dalam kondisi tertentu terkadang Negara tidak terlalu di butuhkan. Hal ini terjadi ketika kondisi dalam negara sudah stabil. Seperti masa Umar Bin Abdul Aziz, kepemimpinan beliau meruakan bukti dari sebuah sistem yang tidak instan. Dimana rakyat sudah cukup makmur sampai dalam negaranya sangat sulit menemukan orang yang pantas menerima Zakat. Artinya setiap orang sudah mapan. Pada akhirnya negara berfungsi sebagai penghubung antar beberapa negara. Menjadi identitas yang tidak universal. Dalam sempitnya sebuah nasionalisme kenegaraan.

Kembali kepada  negara yang kondisinya stabil dikarenakan kesadaran warganya terjadi di negara Madinah. Yang di pimpin oleh seorang Rasul bernama Muhammad SAW. Sosok yang telah di nobatkan sebagai pemilik strategi perang  terbaik (memenangi semua peperangan yang ia lalui). Dan juga sebagai pemimpin paling berpengaruh. Tercatat di negara madinah tidak memiliki Bendahara Negara. Namun negara tetap berjalan bahkan jadi pilot project Negara Impian. Betapa tidak semua orang di negara tersebut memiliki jiwa negarawan yang tinggi. Tiap individu menghormati semua perbedaan. Semua individu sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Mereka tidak lagi bergantung pada negara. Bahkan penyebab negara tidak ada pemegang kas adalah karena memang negara madinah tidak memiliki Kas resmi negara. Setiap kebutuhan negara di tanggung oleh individu-individu. Setiap warga negara memiliki kesadaran bernegara yang sangat tinggi. Begitulah bentuk negara ideal. Negara dengan sistem yang di tanam dari grassroot. Buka sekedar copy n paste, lalu mencoba menerapkannya.

Tuesday, 2 August 2011

Provokasi Media Terhadap Islam, Sikapi Dengan Bijak


Globalisasi memang tidak dapat kita bendung lagi. Arusnya begitu kuat menghantam setiap segi kehidupan manusia. Karena kuatnya sehingga tidak mungkin kita bisa menghindar darinya. Secara kasat mata perubahan besar ini sangatlah banyak membawa manfaat bagi kita semua. Mulai dari informasi yang tadinya tersembunyi dapat muncul kepermukaan. Ilmu pengetahuan yang sebelumnya belum banyak diketahui dan belum mengalami perkembangan secara signifikan dapat kita modifikasi dan manipulasi demi kemudahan hidup manusia. Semua perkembangan itu tentu tidak dapat kita pungkiri adalah akibat dari peran besar yang dimainkan oleh media.

Tanpa kita sadari dan tanpa dapat kita tolak keberadaannya. Media menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan globalisasi. Dalam teori politik dikenal tiga pilar negara yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Namun, ternyata media menjadi kekuatan yang disebut-sebut sebagai pilar keempat. Begitu dahsyatnya peran yang dilakoni oleh media, sehingga timbul istilah ‘jika menguasai informasi sama dengan menguasai dunia’. Tentunya istilah ini bukan hanya isapan jempol belaka. Ini jelas terbukti dan dapat kita lihat disekeliling lingkungan kita.

Dunia Islam yang merupakan salah satu bagian dari komunitas dunia ini, juga tidak terlepas dari pengaruh globalisasi. Hal ini dapat kita lihat dari sedikit banyaknya perkembangan Islam sejak 14 abad lalu hingga sekarang. Sekali lagi media memainkan perannya yang tidak kecil. Semua informasi perkembangan seputar dunia Islam dapat kita lihat dan dengar sebagai bagian dari kerja media. Seperti koin yang bermata dua. Media juga mempunyai dua sisi yang saling berlawanan.

Hitam dan putih. Baik dan buruk. Merupakan dua sisi media yang tidak mungkin kita hilangkan. Mengapa dikatakan baik? Karena dengan media dunia, dapat mengetahui Islam sebagai salah satu prinsip hidup yang sangat sempurna dan telah terbukti pada zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Dan juga tidak tertutupi kemungkinan akan berhasil juga pada era modern ini. Lalu bagaimana dengan sisi satu lagi? Mengapa media itu bisa berdampak negatif bagi Islam? Hal ini dibuktikan dengan pemberitaan media yang berat sebelah. Dalam artian media tidak menilai Islam secara keseluruhan, namun keparsialan cara pandang dijadikan rujukan bagi media dalam menilai Islam.

Salah satu contohnya adalah konsep jihad dalam Islam. Media menjadikan konsep ini sebagai tolak ukur untuk menimbang dan menilai Islam, termasuk juga dengan orang-orang yang menjadikan Islam sebagai agamanya. Kekerasan dan perang dikatakan sebagai sarana penyebarannya keseluruh dunia. Begitulah media menilai Islam sebagai agama kekerasan. Agama teroris menjadi label bagi Islam yang diberikan oleh media. Padahal kebenaran dari esensi jihad bukan lah demikian. Tidak seperti yang di beritakan media.

Sebagai bagian kecil dari komunitas pemeluk “Agama Teroris”, sudah selayaknya kita membersihkan hal-hal negatif yang melekat pada Islam. Kemuliaan dan kebanggaan sebagian pemeluk Islam haruslah menjadi bahan bakar diri kita dalam membela Islam. Wajah mulia Islam dicoreng dengan arang hitam didepan mata kita sendiri. Hal ini tentunya tidak dapat kita biarkan begitu saja. Namun juga tidak mungkin kita bertindak melebihi garis yang telah dibuat oleh Allah sebagai pemilik agama ini. Dalam bertindak tentunya tidak terlepas dari syariat-syariat seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Karena islam bukanlah teroris seperti yang merka gambarkan. Hanya saja mereka teralu takut terhadap perkembangan agama yang mulia dan semurna. Dan perlu di ingat dan di catat merka tidak akan senang, serta akan terus melakukan propaganda hingga tiap muslim kembali sesat dan mengikuti ilah meraka.

Bisa di simak bagaimana Anders Behring Breiviks yang membantai 70 orang di Norwegia. Dia adalah seorang fasis kristen dan dia membunuh orang yang bertanggung jawab atas penyebaran islam. Anehnya dalam proses hukum di carikan alibi untuk dinyatakan gila dan tidak dihukum. Padahal dia telah membantai 70 muslim dengan alasan menyelamatkan eropa dari islam. Mereka sedemikian hinanya menjelek-jelekkan islam. Dan terus mendiskreditkan islam. Konpirasi itu terlihatnya.

Sebagai pemuda Islam, seharusnya hal ini menjadi perhatian khusus kita. Sebagai generasi yang membawa perubahan dan pembaharuan tentunya kita tidak akan ridho dengan keadaan ini. Sungguh mereka yang secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi menentang Islam sejatinya belum mengenal Islam secara keseluruhan. Inilah tugas utama kita sebagai generasi muda Islam. Menyadarkan semua manusia tentang hakikat kebenaran Islam.

Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah memberikan keteladanan yang baik terhadap dunia dalam memandang Islam. Sungguh ini adalah hal yang paling utama yang bisa kita lakukan. Karena ini menjadi jendela bagi semua orang untuk merasa dan bahkan mungkin tertarik untuk menjadi salah satu pemeluk Islam. Bagaimana mungkin orang akan tertarik jika tidak ada keteladanan yang baik Islam sendiri.

Tidak usah susah mencari teladan yang layak. Pribadi besarnya sudah diakui oleh para sahabat maupun orang-orang yang dulu menentang ajaran yang dibawanya. Dialah Muhammad saw. Seorang pemuda yang terlahir ditengah kerasnya kehidupan jahiliyah Makkah pada waktu itu. Namun pribadi istimewa ini sedikitpun tidak pernah ternodai dengan segala bentuk kejahiliyahan yang ada. Muhammad bukanlah orang yang dulunya sering melakukan kesalahan dan kemudian kembali ke jalan yang lurus. Disinlah kekuasaan Allah berperan. Allah menjaga keturunan yang mulia ini bersih dari noda jahiliyah.

Jika kita cermati lebih dalam tentang globalisasi sekarang. Maka akan kita temui satu kenyataan. Yaitu tiadanya keteladanan dalam memanajemen perkembangan yang ada. Kerusakan yang ditimbulkan justru menjadi sangat besar ketimbang manfaat yang dapat diambil. Krisis moral mungkin sebutan yang pantas kita berikan pada generasi muda sekarang. Namun jangan sampai hal ini terjadi pada generasi muda muslim. Sangat disayangkan bahwa keteladanan agung itu perlahan menghilang dari pribadi kita. Tersilaukan oleh gemerlap cahaya materialisme dan hedonisme.

Sesungguhnya, Islam adalah agama yang sangat fleksibel disetiap zaman dan waktu. Perkembangan teknologi bukan malah makin mempersempit ruang gerak Islam. Justru dengan menggunakan petunjuk yang secara gamblang dijelaskan dalam al-quran dan sunnah, perkembangan ini dapat kita manfaatkan untuk kebaikan. Begitu juga dengan hal-hal yang pada waktu itu tidak ada namun sekarang ada, Islam tidak menutup mata akan hal ini. Selama masih dalam koridor syariat, maka Islam akan menyambutnya dengan senyum mengembang. Tapi, jangan coba-coba untuk melakukan hal yang diluar syariat. Islam tegas pada siapapun tanpa pandang bulu.

Sudah seharusnya kita sebagai generasi muda Islam berpikir dan bertindak sesuai dengan batas yang telah ditetapkan. Tidak lebih dan tidak kurang. Islam adalah agama perdamaian. Namun tegas terhadap pelanggaran. Islam agama yang turun dari langit. Namun menyentuh nurani manusia. Islam agama persatuan. Namun tidak menafikan perbedaan yang ada. Semuanya telah diatur oleh Allah, disampaikan melalui lisan nabi-Nya dan dicatat dalam kitab-Nya Al-Quran. Agama ini akan terus ada, karena yang menjaganya adalah Allah Sang Maha Menjaga. Cahaya Islam tidak akan pudar. Zamanlah yang mengikuti Islam, bukan sebaliknya. Manusialah yang membutuhkan Islam. Dunialah yang membutuhkan Islam. Islam akan terus ada selama kehendak Allah.

Provokasi Media Terhadap Islam, Sikapi Dengan Bijak


Globalisasi memang tidak dapat kita bendung lagi. Arusnya begitu kuat menghantam setiap segi kehidupan manusia. Karena kuatnya sehingga tidak mungkin kita bisa menghindar darinya. Secara kasat mata perubahan besar ini sangatlah banyak membawa manfaat bagi kita semua. Mulai dari informasi yang tadinya tersembunyi dapat muncul kepermukaan. Ilmu pengetahuan yang sebelumnya belum banyak diketahui dan belum mengalami perkembangan secara signifikan dapat kita modifikasi dan manipulasi demi kemudahan hidup manusia. Semua perkembangan itu tentu tidak dapat kita pungkiri adalah akibat dari peran besar yang dimainkan oleh media.
Tanpa kita sadari dan tanpa dapat kita tolak keberadaannya. Media menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan globalisasi. Dalam teori politik dikenal tiga pilar negara yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Namun, ternyata media menjadi kekuatan yang disebut-sebut sebagai pilar keempat. Begitu dahsyatnya peran yang dilakoni oleh media, sehingga timbul istilah ‘jika menguasai informasi sama dengan menguasai dunia’. Tentunya istilah ini bukan hanya isapan jempol belaka. Ini jelas terbukti dan dapat kita lihat disekeliling lingkungan kita.
Dunia Islam yang merupakan salah satu bagian dari komunitas dunia ini, juga tidak terlepas dari pengaruh globalisasi. Hal ini dapat kita lihat dari sedikit banyaknya perkembangan Islam sejak 14 abad lalu hingga sekarang. Sekali lagi media memainkan perannya yang tidak kecil. Semua informasi perkembangan seputar dunia Islam dapat kita lihat dan dengar sebagai bagian dari kerja media. Seperti koin yang bermata dua. Media juga mempunyai dua sisi yang saling berlawanan.
Hitam dan putih. Baik dan buruk. Merupakan dua sisi media yang tidak mungkin kita hilangkan. Mengapa dikatakan baik? Karena dengan media dunia, dapat mengetahui Islam sebagai salah satu prinsip hidup yang sangat sempurna dan telah terbukti pada zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Dan juga tidak tertutupi kemungkinan akan berhasil juga pada era modern ini. Lalu bagaimana dengan sisi satu lagi? Mengapa media itu bisa berdampak negatif bagi Islam? Hal ini dibuktikan dengan pemberitaan media yang berat sebelah. Dalam artian media tidak menilai Islam secara keseluruhan, namun keparsialan cara pandang dijadikan rujukan bagi media dalam menilai Islam.
Salah satu contohnya adalah konsep jihad dalam Islam. Media menjadikan konsep ini sebagai tolak ukur untuk menimbang dan menilai Islam, termasuk juga dengan orang-orang yang menjadikan Islam sebagai agamanya. Kekerasan dan perang dikatakan sebagai sarana penyebarannya keseluruh dunia. Begitulah media menilai Islam sebagai agama kekerasan. Agama teroris menjadi label bagi Islam yang diberikan oleh media. Padahal kebenaran dari esensi jihad bukan lah demikian. Tidak seperti yang di beritakan media.
Sebagai bagian kecil dari komunitas pemeluk “Agama Teroris”, sudah selayaknya kita membersihkan hal-hal negatif yang melekat pada Islam. Kemuliaan dan kebanggaan sebagian pemeluk Islam haruslah menjadi bahan bakar diri kita dalam membela Islam. Wajah mulia Islam dicoreng dengan arang hitam didepan mata kita sendiri. Hal ini tentunya tidak dapat kita biarkan begitu saja. Namun juga tidak mungkin kita bertindak melebihi garis yang telah dibuat oleh Allah sebagai pemilik agama ini. Dalam bertindak tentunya tidak terlepas dari syariat-syariat seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Karena islam bukanlah teroris seperti yang merka gambarkan. Hanya saja mereka teralu takut terhadap perkembangan agama yang mulia dan semurna. Dan perlu di ingat dan di catat merka tidak akan senang, serta akan terus melakukan propaganda hingga tiap muslim kembali sesat dan mengikuti ilah meraka.
Bisa di simak bagaimana Anders Behring Breiviks yang membantai 70 orang di Norwegia. Dia adalah seorang fasis kristen dan dia membunuh orang yang bertanggung jawab atas penyebaran islam. Anehnya dalam proses hukum di carikan alibi untuk dinyatakan gila dan tidak dihukum. Padahal dia telah membantai 70 muslim dengan alasan menyelamatkan eropa dari islam. Mereka sedemikian hinanya menjelek-jelekkan islam. Dan terus mendiskreditkan islam. Konpirasi itu terlihatnya.
Sebagai pemuda Islam, seharusnya hal ini menjadi perhatian khusus kita. Sebagai generasi yang membawa perubahan dan pembaharuan tentunya kita tidak akan ridho dengan keadaan ini. Sungguh mereka yang secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi menentang Islam sejatinya belum mengenal Islam secara keseluruhan. Inilah tugas utama kita sebagai generasi muda Islam. Menyadarkan semua manusia tentang hakikat kebenaran Islam.
Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah memberikan keteladanan yang baik terhadap dunia dalam memandang Islam. Sungguh ini adalah hal yang paling utama yang bisa kita lakukan. Karena ini menjadi jendela bagi semua orang untuk merasa dan bahkan mungkin tertarik untuk menjadi salah satu pemeluk Islam. Bagaimana mungkin orang akan tertarik jika tidak ada keteladanan yang baik Islam sendiri.
Tidak usah susah mencari teladan yang layak. Pribadi besarnya sudah diakui oleh para sahabat maupun orang-orang yang dulu menentang ajaran yang dibawanya. Dialah Muhammad saw. Seorang pemuda yang terlahir ditengah kerasnya kehidupan jahiliyah Makkah pada waktu itu. Namun pribadi istimewa ini sedikitpun tidak pernah ternodai dengan segala bentuk kejahiliyahan yang ada. Muhammad bukanlah orang yang dulunya sering melakukan kesalahan dan kemudian kembali ke jalan yang lurus. Disinlah kekuasaan Allah berperan. Allah menjaga keturunan yang mulia ini bersih dari noda jahiliyah.
Jika kita cermati lebih dalam tentang globalisasi sekarang. Maka akan kita temui satu kenyataan. Yaitu tiadanya keteladanan dalam memanajemen perkembangan yang ada. Kerusakan yang ditimbulkan justru menjadi sangat besar ketimbang manfaat yang dapat diambil. Krisis moral mungkin sebutan yang pantas kita berikan pada generasi muda sekarang. Namun jangan sampai hal ini terjadi pada generasi muda muslim. Sangat disayangkan bahwa keteladanan agung itu perlahan menghilang dari pribadi kita. Tersilaukan oleh gemerlap cahaya materialisme dan hedonisme.
Sesungguhnya, Islam adalah agama yang sangat fleksibel disetiap zaman dan waktu. Perkembangan teknologi bukan malah makin mempersempit ruang gerak Islam. Justru dengan menggunakan petunjuk yang secara gamblang dijelaskan dalam al-quran dan sunnah, perkembangan ini dapat kita manfaatkan untuk kebaikan. Begitu juga dengan hal-hal yang pada waktu itu tidak ada namun sekarang ada, Islam tidak menutup mata akan hal ini. Selama masih dalam koridor syariat, maka Islam akan menyambutnya dengan senyum mengembang. Tapi, jangan coba-coba untuk melakukan hal yang diluar syariat. Islam tegas pada siapapun tanpa pandang bulu.
Sudah seharusnya kita sebagai generasi muda Islam berpikir dan bertindak sesuai dengan batas yang telah ditetapkan. Tidak lebih dan tidak kurang. Islam adalah agama perdamaian. Namun tegas terhadap pelanggaran. Islam agama yang turun dari langit. Namun menyentuh nurani manusia. Islam agama persatuan. Namun tidak menafikan perbedaan yang ada. Semuanya telah diatur oleh Allah, disampaikan melalui lisan nabi-Nya dan dicatat dalam kitab-Nya Al-Quran. Agama ini akan terus ada, karena yang menjaganya adalah Allah Sang Maha Menjaga. Cahaya Islam tidak akan pudar. Zamanlah yang mengikuti Islam, bukan sebaliknya. Manusialah yang membutuhkan Islam. Dunialah yang membutuhkan Islam. Islam akan terus ada selama kehendak Allah.

Saturday, 21 May 2011

Sedikit Tentang Pikiran dan Pemikiran


Pikiran adalah hasil dari penalaran otak. Dimana setiap informasi masuk di olah hingga menghasilkan sebuah pengetahuan. Orang perlu memutar otak terkadang untuk berpikir. Tergantung dari berat tidaknya masalah yang harus dipecahkan. Dan beban itu sepenuhnya di tanggu otak sebagai pusat informasi. Dan analisa otak di sebuat dengan akal. Manusia hanya dapat berpikir sehat jika masih memiliki akal sehat.

Pisau analisa yang dipakai otak sebagai  landasan dalam mengeluarkan ide-ide atau pikiran-pikiran adalah pemikiran. Jika pikiran sifatnya informasi atau berupa output, pemikiran berada pada posisi alat atau tools. Seseorang akan cenderung berpendapat tentang suatu hal secara objektif ataupun subjektif menurut landasan pemikiran yang di milikinya. Dan hal sepeti ini naluriah terjadi.

Pemikiran itu sendiri juga merupakan buah dari pikiran. Hanya saja pikiran tersebut sudah dipakai menjadi landasan berpikir. Mudahnya seperti ini. Seseorang mengutarakan pikirannya tentang penyebab masalah sosial adalah karena konflik perekonomian, hingga timbul apa yang disebut dengan kesenjangan sosial. Ketika terjadi sebuah konflik antar suku misalnya, orang lain yang menggunakan pikiran tadi di atas sebagai landasan berpikirnya (menjadi sebuah pemikiran) maka orang tersebut akan mengatakan bahwa menurut pendapat dia adanya konflik tersebuat di karena kan adanya ketidak adilan ekonomi antara kedua suku yang menyebabkan kedua belah pihak berseteru memperebutkan keadilan menurut persepsi masing-masing. Dan persepsi dari  masing-masing pihak yang bertika itupun merupakan pikiran yang dilandasi oleh pemikiran masing-masing atas makna dari keadilan.

Pemikiran sering kali menjebak. Begitu banyak juga orang yang terjebak dalam pikirannya sendiri. Faktor penyebabnya itu landasan pemikiran yang di gunakan sebagai pisau analisis itu tadi. Kebanyakan dari kita enggan menerima pikiran orang lain karena berbentur dengan pemikiran yang ada pada diri kita. Hingga kecenderungan bertahan pada posisi tersebut dan mencari alasan untuk tetap pada pikiran kita sendiri. Merasa pikiran tersebut sudah hebat dan itulah yang benar. Namun semua itu alamiah. Karena landasan berpikir sifatnya sangat mengakar dan paradigma berpikir hanya dapat di ubah melalui diskusi dan bisa jadi perdebatan yang alot. Perdebatan yang bisa menghasilkan permusuhan malah, jika otak masih belum dapat berepikir jernih, rasional serta tidak emosional.

Kebenaran dari pemikiran manusia sangatlah relatif. Oleh karenanya sangat tidak benar percaya begitu saja pada satu pemikiran. Setiap kita haruslah mencari ilmu yang banyak untuk landasan pemikiran. Dengan begitu kita akan lebih rasional dan objektif. Karena objektif adalah hasil terbaik dari pkiran-pikiran yang muncul. Jika ingin mengetahui pendapat yang mutlak benar maka jawabannya itu ada pada Al-Quran dan Al Hadist. Untuk saat ini dan selamanya hanya pendapat dari sumber keduanya yang absolut. Karena berasal dari Allah dan Rasul (utusan) Allah. Dan satu-satunya tuhan yang patut untuk di sembah itulah Allah.

Kebanyakan kita terjebak dalam kejumudan. Hingga tidak lagi  mau menerima pemikiran dari orang lain. Sering orang terkukung dalam sempitnya landasan pemikiran yang digunakan oleh dirinya. Mengira sudah berpikir realistis dan menolak kemungkinan lain yang patut diperjuangkan. Melihat contoh dari mayoritas atau bahkan dari minoritas lalu memberikan  justifikasi semua orang itu sama. Padahal ketika kita terkungkung dalam sempitnya pikiran-pikiran kita. Enggan menerima pemikiran orang lain yang mengatakan perubahan sebagai landasan berpikir yang patut diperjuangkan. Maka tanpa kita sadari kita telah tertinggal jauh sedangkan orang lain telah berada pada tempat yang tidak sanggup kita jangkau bahkan dengan pemikiran kita. Dan kesadaran akan seperti itu baru akan terjawab ketika pemikiran dari orang lain tersebut sudah menampakkan hasil yang nyata dan dapat dinikmati. Dan dapat dipastikan orang yang terjebak dalam perasaan sudah berpikir relistis kebanyakan berkarakter pragmatis dan senderung materialis dalam menilai. Tidak melihat dan tahu makna dari sebuah proses. Melulu melihat pada hasil yang instan.

Memiliki banyak referensi pemikiran sebagai dasar pisau analisis sangatlah perlu. Walaupun akhinya satu pemikiran yang cocok dengan kita yang akan kita gunakan. Namun penting untuk mencoba dinamis dalam berpikir. Terkadang tidak mampuan nalar pribadi menyebabkan kita terjebak dengan pendapat  kemustahilan melakukan sesuatu. Suatu hal yang sebenarnya bukan tidakmungkin, hanya saja kita tidak mau percaya atau nalar pikiran kita yang tidak sanggup kearah tersebut. Dan kondisi tersebutlah yang membuat terkukung dan terjebak dalam suatu stigma atau pikiran. Hingga kita menganggap pikiran kitalah yang briliant. Padahal dimata orang-orang yang lebih dinamis pemikiran kita telah ketingalan jauh. Dan orang yang berpikir dinamis tidak pernah meremehkan orang lain kerna orang seperti ini sifatnya pembelajar dan sangat mudah untuk menghormati pendapat lain. Orang yang sombong dan merasa benar hanya berasal dari kalangan orang-orang yang terjebak dalam pemikiran yang sempit.

Berbicara berpikir luas dan logis maka syarat mutlak untuk berada di level tersebut adalah memperbanyak referensi diri. Baik pemikiran dari buah pikir manusia yang relatif, muapun landasan berpikir dari Allah. Keseimbangan antara nalar akal dan wahyu akan membuat kita tidak terjebak dalam sempitnya suatu pemikiran serta tidak pula tersesat terlalu jauh karena kita mengerti batasan-batasan yang menjadi tolak ukur dalam berpikir. Karena apapun ceritanya fakta membuktikan rasionlisasi akal selaras dengan rasionalisasi wahyu(intelektualitas profetik). Hanya saja terkadang akal tersesat jauh ketika tidak mempedomani wahyu sebagai landasan berpikir. Mari kritis dan berpikir lebih dinamis, hingga ada kesempurnaan dalam menghasilkan ide-ide.

Thursday, 28 April 2011

Belajar Melatih Diri Dari Bakat Seorang Snipper


Setiap orang memilliki karakter tersendiri. Fitrah manusia untuk berbeda satu dengan lainnya. Baik dari segi tampang, tubuh, lirikan mata hingga pemikiran. Setiap orang juga dilahirkan dengan bakat yang berbeda-beda. 
Kemampuan dapat dilatih. Orang yang sering berlatih akan menuai kesuksesan. Demikian juga dengan bakat. Jika tidak pernah dilatih maka bakat itu akan kering. Namun orang yang tahu potensi dirinya. Memahami bakatnya dan melatihnya maka ia akan memberikan hasil yang sangat luar biasa. Karena bakat alami itu memang berbeda dengan keahlian yang di peroleh belakangan. Karena di ballik bakat itu ada instuisi yang memang secara naluriah bermain. Walaupun instuisi juga dapat di latih. Dan akan berkurang kemampuannya jika tidak digunakan. Insting semakin di asah maka ia akan semakin tajam. Contoh gampangnya antara kucing hutan dan kucing rumah. Instuisi dan daya survive keduanya sangatlah berbeda.

Bakat merupakan hal yang nyentrik. Spesial dan tidak dimiliki oleh orang lain. Contoh lain dari spesialisasi bakat dapat dilihat di dunia militer. Yakni sniper atau penembak jitu. Ada juga yang menyebutnya penembak gelap. Dalam satu batalyon tentara hanya akan ada beberapa orang snipper. Ketika masa pendidikan tidak semua tentara di jadikan snipper dan memegang snipper riffle. Hanya orang dengan bakat, insting membunuh, instuisi yang kuat serta kontrol emosi yang mumpuni yang akan dipilih. Perkara menembakkan peluru tidak hanya perkara membidikkan laras senjata tepat ke sasaran. Bisa jadi arah moncong senjata tidak tepat di dahi jika ingin menembak tepat di dahi. Hal itu karena turbulensi yang di akibatkan oleh angin, berat peluru dan momentum penembakan akan sangat mempengaruhi apakah peluru sampai ke sasaran atau tidak.

Bakat menembak, itulah yang membuat snipper berbeda dari personil lainnya. Seorang snipper harus memiliki insting membunuh yang kuat. Hal ini berkaitan dengan apakah ia akan menarik pelatuknya atau tidak ketika sasaran sudah terkunci. Hal ini berkaitan dengan mental. Kemudian seorang sniper harus bisa merasakan arah dan kecepatan angin. Mengira dengan cermat sudut peluru dengan sasaran. Karena kemungkinan untuk peluru meleset, atau berbelok sekian inci karena angin tidak bisa di abaikan. Dan snipper juga harus bisa mengendap untuk menyelamatkan diri. Berada pada posisi yang tidak di duga oleh lawan. Stamina yang tinggi hingga ia sangat di takuti oleh pasukan yang lain dalam medan perang.

Para snipper juga tidak cukup berbekal bakat saja. Ia harus ikut program pelatihan khusus. Agar dia terbiasa menembak. Snipper dilatih menembak pada jarak tertentu yang terus ditingkatkan ketika dia sudah yakin dapat menembak dengan tepat pada sasaran dengan jaraj tertentu. Dengan kata lain dalam latihan snipper dibiasakan menembak tepat sasaran hingga ia terbiasa menembak dengan baik dan yakin setiap kali menembak.

Lalu apa yang dapat di pelajari dari kisah latihan snipper itu tadi. Bahwa kita memiliki kemapuan yang berbeda yang membuat kita lain. Hanya saja bagaimana kita memahaminya dan melatihnya. Hingga kita terbiasa dan yakin untuk bisa. Tidak terbeban lagi ketika harus mengeksekusi suatu perkerjaan.
Sering orang apatis karena tidak mencoba membiasakan dirinya. Orang berhasil setelah gagal berulang-ulang. Dan ketika gagal tidak menyerah serta terus mencoba akan memberikan latihan tersendiri.

Nah demikian juga dalam hal ikhlas. Kita akan ikhlas ketika dalam mengerjakan apapun saat kita tidak merasa terbebani dengan perkerjaan kita. Sangat sulit untuk ikhlas jika tidak di latih dengan membiasakan diri ikhlas. Meski di awalnya berat, setelah terbiasa maka itu tidak akan lagi jadi hal yang memberatkan. Malah dengan yakin kita akan melakukan perkerjaan yang diamanahkan. Stiap orang memiliki potensi untuk ikhlas, amanah, peka dengan kondisi lingkungan. Karena itu memang sifat alamiah dasar manusia. Hanya saja bagaimana kita membiasakan diri untuk terus seperti itu. Hingga kondisi tersebut menjadi bagian dari kita. Mental dan fisik kita sudah mendukung. Hingga apapun tantangannya akan terhadapi dengan kemampuan semaksimal mungkin dan ikhlas.

Dan dengan menjadi pribadi yang demikianlah kita akan berbeda dengan manusia lainnya yang hidupnya cenderung apatis. Tidak peka lingkungan. Mereka sama dengan tentara pada umumnya. Dan jadilah diri yang berbeda dari lainnya secara kualitas diri dengan berusaha sebaik mungkin dan membiasakan diri untuk berusaha. Karena itulah yang membuat kita berbeda. Dan itulah kunci untuk sukses.

Monday, 25 April 2011

Antara Perang, Terorisme, Amerika dan Sekutunya, serta Minyak.

Terorisme telah  menjadi tren baru dalam beberapa dekade terakhir. Siapa saja dapat berada dalam kondisi terancam keselamatan nyawanya. Bom ada di mana-mana. Siapa saja dapat di tembak, di rampok dan lebih mengerikan lagi di hancurkan dengan bom. Bom ada di mana-mana dan mengancam siapa saja.

Isu perang melawan terorisme pun digulirkan oleh amerika serikat. Negara ini mengklaim dirinya sebagai Polisi Dunia. Dan kampanye perlawanan pun di gulirkan. Amerika berteriak-teriak tentang teroris yang mengancam amerika. Perang melawan teroris pun meletus.

Ada yang mengatakan bahwa perang melawan teroris harus menjadi prioritas. Amerika mengatakan teroris mengancam negara mereka. lalu Pemerintah Amerika mulai menebar perang di negeri orang. lihat saja afganistan, iraq, dan sekarang libia. ada perang disana. lebih merasa aman di manakah anda, di bali indonesia atau di gang-gang di iraq. Lebih aman berjalan kaki di Mahattan atau berada dalam bunker di Iraq. Sekarang NATO menggempur libia dengan alasan hendak menyelamatkan warga sipil, namun siapakan yang mati di perang tersebut. Mayoritas warga sipil yang menjadi korban. sekarang bagi warga libia lebih aman berada di toko senjata di Indianapolis dari pada di dalam rumah mereka sendiri yang mungkin bisa jadi sasaran hantaman dari rudal. Sekarang siapakan yang lebih merasa teracam.

Ada sebuah realita yang menarik. Negara-negara yang di klaim oleh negara Amerika tidak stabil dan ancaman banyak yang tidak terbukti. sungguh kasihan melihat penderitaan rakyat Iraq. Amerika membuat perang, sekaligus menjual senjata canggih. mereka menyerang negara dengan alasan memiliki senjata pemusnah masal, malah tidak bisa mereka membuktikan keberadaan sejata tersebut di Iraq. Sekarang Libia, justru sekarang negari yang dulunya jadi syurga bagi para imigran di Afrika kini menjadi neraka yang siap menumpahkan darah. Dan tidak luput dari perhatian yakni Indonesia. Mulai ada bom-bom dan teroris di Indonesia. Pendapat dari pengamat teroris barat itu karena Islam. Ada orang islam yang akan menyerang orang islam. logiskah, mungkin karena mereka teroris.

Yang jelas setiap Negara yang terkena Dampak dari Terorisme adalah negara dengan kekayaan alam yang besar. Cadangan minyak bumi terbesar, cadangan gas alam terbesar, cadangan uranium terbesar ada di negara-negara tersebut. Lantas apa yang di kejar Amerika Serikat dengan sekutunya itu. Teroris atau minyak, teroris atau gas, teroris atau uranium. Yang jelas bom nuklir terbanyak berada di negara amerika serikat dan sekutunya. Sesuatu yang tidak di miliki oleh negeri islam. Dan negeri islam memiliki apa yang di inginkan oleh siapa saja yang hendak berkuasa 50 tahun kedepan. Yakni sumber energi terbesar. Minyak bumi dan energi nuklir.

Jika perang dingin di anggap telah berakhir, maka amerika seperti telah menyiapkan perangnya sendiri. bersama para sekutu mereka. apa yang mereka cari di timur tengah. Teroris atau minyak. Hentikan perang.

Monday, 18 April 2011

Kerja Profesional atau Kerjasama Tim Profesional

Semua orang pernah berkerja dalam sebuah tim. Baik saya, anda, dan kita semua. Namun bagaimana yang dikatakan kerja sama yang ideal. Dan apa pula itu kerja sama yang profesional. Sering kesalahan dalam mempersepsikan sesuatu menyebabkan banyak orang salah dalam mengambil tindakan. Cukup sering sebuah organisasi  ataupun sebuah perusahaan itu mengalami kerugian akibat adanya lubang yang tidak tertutupi oleh pagawai ataupun pengurusnya. Masing-masing pegawai juga berdalih mereka sudah melakukang tugas masing-masing. Masing-masing beralasan bahwa ini merupakan Kerja profesional, hingga masing-masing cukup menyelesaikan tugas sendiri tanpa perlu memikirkan apa yang dilakukan orang lain dan apakah tugas tersebut adaah beban berat baginya atau bukan.

Lantas apakah yang bagaimana yang disebut dengan kerja profesional. Apakah masing-masing berkerja dan menyelesaikan tugas  masing-masing namun tujuan dari tim atau organisasi ataupun perusahaan tidak tercapai. Atau kejasama yang profesional dimana semua pihak bahu membahu dalam menyukseskan agenda bersama. meraih sebuah gol akhir yang ingin dicapai, dan menikmati keberhasilan secara bersama-sama. Tentu pilihan kedua menjadi pilihan terbaik yang semestinya dipilih. Walau kadang-kadang banyak juga yang memilih nomor satu karena berpendapat demikian. Namun yang memilih nomor satu jarang memikirkan akibat yang akan muncul. Tidak memperhatikan akibat yang harus dilalui bersama. Dan ketika gol yang di capai tidak sesuai target bahkan mengalami kerugian baik materil maupun immateril harus ditanggung oleh seluruh orang dalam kelompok. Orang yang cenderung memilih pilihan pertama cenderung egois dan memikirkan diri sendiri.

Sebuah tim yang baik adalah tim yang memiliki gol atau tujuan bersama yang akan dicapai dan setiap individu yang menjadi bagian dari tim akan berkerja bahu membahu untuk mencapai target bersama dan menyukseskan tim. Bukan terdiri dari individu yang ingin dikenal atau menjadi pahlawan sendiri. Kesuksesan kita dan kesuksesan lembaga atau perusahaan dimana kita berada di dalamnya bukan tergantung dari siapa memegang posisi apa, namun siapa dengan peran apa yang dia ambil.

Sebagai sebuah analogi mari kita mencermati sebuah hal yang dekat dengan kita. yakni tim dalam olahraga sepak bola. Untuk menilai kesuksesan dari kerjasama tim yang profesional mungkin bisa kita pelajari dari olahraga ini. Sebuah tim sepak bola terdiri dari sebelas orang pemain inti, beberapa orang pemain cadangan, pelatih, asisten pelatih, manager, presiden atau ketua club, dan pemilik dari club sepakbola.

Setiap pemain sepak bola memiliki tugas masing serta peran masing-masing. Demikian juga wilayah permainan dari masing-masing berdasarkan tugas dan peran yang diambil. Seorang bek atau defender bertugas mengamankan wilayah pertahanan yang sering di sebut dengan garis tiga. demikian juga dengan gelandang, dia berperan mengamankan lapangan tengah. dan di depan ada penyerang yang bertugas membongkar pertahanan lawan.

Dalam sepakbola tiap pelatih menggunakan strategi dengan menempatkan beberapa pemain untuk mengisi pos-pos tertentu. bisa di bayangkan jika kerja profesionak mereka adalah mengambil dan menyelesaikan tugas masing-masing, maka setiap pemain yang mendapat kan bola akan memainkannya di wilayah masing-masing. dalam kondisi seperti ini kerja sama tim akan rusak dan gol yang menjadi tujuan bersama sangat sulit tercapai.

adapun yang menarik dari sepakbola adalah kesadaran setiap individu yang berada dalam tim adalah bagian dari tim. Lalu ada sebuah sikap dimana masing-masing memainkan peran atas tugas dan posisi yang dia tempati. setiap defender mempertahankan bola agar tidak  sampai penyerang lawan membobol gawang yang dijaga seorang kiper. Tiap defender berusaha agar kiper tidak lelah dalam menangkap bola meski mereka sendiri kelelahan. Dan kiperpun akan merasa bersalah jika dia tidak dapat mengamankan gawang dan sering kiper mengalami depresi karena rasa bersalah menjadi penyebab kekalahan karena tidak bisa mengamankan gawang dengan baik.

Demikian juga dengan gelandang. Penguasa lapangan tengah ini memiliki peran yang yang sangat vital. Dimana ada yang menjadi gelandang bertahan dan gelandang serang. Dan itulah peran yang mereka ambil sebagai gelandang. Gelandang serang akan naik membantu serangan meninggalkan lapangan tengah yang menjadi tugasnya. Namun ketika bola terlebas maka dengan cepat ia akan kembali keposisinya semula. Demikian juga dengan gelandang bertahan. Ketika sedang di gempur oleh lawan maka ia akan ikut berjibaku mengamankan gawang bersama defender dan ketika kemellut usai dan tim mulai membangun serangan maka ia akan kembali fokus mengamankan tengah lapangan karena masing-masing sadar akan tugas dan peran di tim. Ada sebuah kesadaran dari gelandang bertahan mereka harus segera kembali ke lapangan tengah agar para gelandang serang bisa membantu striker di garis depan. Terkadang juga karena jeli melihat peluang seorang defender tidak ragu melakukan overlap dan mencetak gol. Dia tidak khawatir meninggalkan posnya karena akan ada seorang gelandang bertahan yang akan mengisi lubang yang ia tinggalkan. Dan ketika kehilangan peluang biasanya sang defender akan berlari sekuat tenaga kembali kepada posisinya, meski ia tahu akan ada seorang gelandang bertahan yang menggantikan perannya di pos tersebut saat dia mengambil peran yang lainnya. Dan sungguh sebuah keja tim profesional. Semua kelihatan bahu-membahu.

Demikian juga idealnya kita dalam berkerjasama di posisi manapun dan tugas apapun dengan tujuan bersama yang ingin kita capai. Setiap bagian dari tim harus sadar akan posisinya di mana dan juga memiliki pengertian dan pemikiran yang matang terhadap peran yang diambil. Sebuah kerja sama yang indah ketika semua bagian dari tim saling mengisi dan tidak saling meyalahkan atas berbagai kekurangan dan kesalahan yang terjadi. Namun nasehatilah agar dia tidak mengulangi perbuatan yang salah dan mari saling mengisi. Dengan begitu sebuah kerjasama profesional akan terbentuk. Dan inilah esensi dari apa yang dalam islam dikatakan sebagai amal jama'i. Kerja-kerja jama'ah. dan mari kita menentukan peran yang akan kita ambil.

Monday, 11 April 2011

Membedakan Pemimpin dengan Jabatan Tertinggi Managerial


Ada sebuah kisah menarik yang coba saya kutip dari buku Quantum Leadership of King Sulaiman karya Rijalul Imam S. Hum, M. Si. berikut kisahnya.

Sebuah pelajaran menarik ingin penulis suguhkan dalam tulisan yang coba penulis uraikan ini. Seorang Direktur melakukan sebuah hal menarik dalam mengambil putusan di sebuah perusahaan besar di negara maju. Kala itu perusahaannya itu terkena dampak krisis global. Sang Direktur mengumpulkan semua karyawannya dan berkata "kalian semua harus jadi pemimpin". "Dimana seorang pemimpin adalah orang yang cermat melihat persoalan, bertanggung jawab atas keputusan yang di ambil, dan bersedia berkerja sama secara tim".
Penulis tidak ingin menceritakan kisah tersebut secara lengkap, karena dibuku tersebut memang sebegitu saja kisahnya. Jadi tidak ada yang mengarang-ngarang cerita.

Namun mari melihat kepada sosok pemimpin. Apa dan siapakah itu pemimpin. Kemudian siapa itu Direktur, Manager, Ketua, dan Ketua bidang. samakah antara Direktur dengan Ketua. Penulis yakin 70 % anda menjawab "ya". Ketua adalah pemimpin karena dia adalah orang nomor satu di dalam tim, dipilih untuk mengkomandoi semua bawahannya. Timbul pertanyaan di benak penulis. Apakah anda akan sepakat dengan apa yang penulis katakan. Saya tidak merasa yakin namun naluri saya cenderung mengatakan "ya, anda akan sepakat".

Coba anda simak dan resapi kata-kata berikut ini. "Peran perlu dibedakan dengan posisi secara managerial". Apa anda akan sepakat. Saya agak ragu namun ingin memastikan bahwa anda akan tidak menjawab karena ada sedikit ragu dan galau yang menyelimuti hati anda. Namun dengan yakin saya menyarankan anda untuk membedakan antara peran dan posisi managerial.

Saya pun merasa yakin bahwa ada pertanyaan lagi di hati anda, yakni "kenapa". Meskipun saya tidak berani meyakinkan diri saya tentang anda benar akan bertanya.

Mengapa saya menyarankan anda agar membedakan antara peran dengan posisi managerial. Karena saya ingin anda membedakan antara pemimpin dengan ketua atau direktur. Pemimpin adalah kata yang menunjukan objek penderita atau orang yang melakukan kegiatan memimpin.  Memimpin adalah sebuah kegiatan yang menunjukkan peran. Peran dari seseorang di manapun dia diposisikan. Sedangkan jabatan adalah posisi managerial semata. Ketua, direktur, dan posisi apapun bahkan staf sekalipun adalah posisi yang harus diisi oleh seorang pemimpin. Dan masing-masing memimpin pada porsi dan posisi masing-masing. Jadi saya ingin mengajak anda untuk berpikir pemimpin adalah peran. Dan saya mengajak anda untuk mengambil peran tersebut di manapun posisi anda. Sedangakan jabatan anda adalah posisi yang membuat anda memerankan diri anda pada posisi atau jabatan tersebut.

Lebih jelasnya coba anda simak penjelasan berikut. Seorang ketua, direktur, bahkan presiden sekalipun harus memainkan perannya sebagai pemimpin atas beberapa orang ketua bidang, manager, menteri, serta beribu-ribu staf mungkin. Seorang menteri, ketua bidang, manager memiliki bawahan yang harus dipimpin. Sedangakan staf berada pada mohon maaf jika anda tersinggung ingin saya katakan berada pada posisi managerial paling bawah. Namun ia adalah pemimimpin bagi dirinya sendiri. Dan kesadaran akan peran itulah yang membuat si staf dengan ikhlas akan berkerja , dan mencurahkan semua ide yang dia miliki untuk menyukseskan tugas dia sebagai staf. Dia harus memimpin dirinya agar keluar dari rasa bersalah, kecil dan rendah diri agar dapat berkerja secara maksimal. Nah demikian juga dengan seorang ketua bidang atau manager. Dia harus dapat memimpin dirinya agar menjadi bijak dan dapat memimpin bawahannya. Juga  harus dapat memimpin dirinya agar dapat  merespon apapun bentuk intervensi ataupun perintah dari ketua. Ketua bidang atau manager harus dapat memimpin dirinya keluar dari kemelut dan sikap dilematis. Dan memimpin dirinya untuk bersikap profesional dan menyelesaikan tugasnya. Dan pada posisi sebagai ketua atau posisi sebagai direktur maka dia harus dapat memimpin dirinya untuk dapat mengakomodir banyak pihak. Memimipin dirinya untuk membawa tim pada sebuah kesuksesan bersama.

Nah, dari sini akan nampak siapa saja yang berkarakter kepemimpinan. Nampak bukan dari posisi apa yang dia peroleh, namun dari peran apa yang yang dia ambil. Bisakah anda sepakat jika saya menarik konklusi tersebut.

Terserah sepakat atau tidak saya ingin memberikan sebuah ilusrasi lainnya. Saya ingin anda membayangkan sebuah lapangan bola dengan sebelas orang pemain di dalam team. Ada juga seorang pelatih di pinggir lapangan lengkap dengan asistennya. Kelihatan juga pemilik klub berada di tribun serta suporter.

Nah, sekarang coba anda pikirkan formasi apa yang yang cocok untuk klub tersebut. Ok saya menawarkan 442(baca empat-empat-dua). Dikabarkan posisi ini adalah formasi paling ideal dan paling fleksibel. Karena ada 4 orang di posisi bek atau pemain bertahan yang posisi dari mereka  di garis tiga atau pertahanan. Kemudian 4 orang gelandang yang berposisi di garis dua atau lapangan tengah. Dua orang penyerang sebagai line up atai di garis pertama meliputi wilayah pertahanan lawan dan area kiper di penalti area.

Jangan heran kenapa saya mencontohkan dengan permainan bola. hal itu karena menurut saya kerja sama team atau kerja berjamaah untuk kesuksesan bersama  ada di permainan bola.

apakah anda orang yang berpikiran bahwa kerja profesional adalah kerja di bidang masing-masing. atau kerja menurut spesialisais masing-masing. Mari kita kaji bersama-sama secara seksama. Saya mencoba menguraikan dan anda mencari jawabannya.

Jika anda berpikir bahwa kerja profesional adalah menyelesaikan tugas masing-masing, maka coba anda perhatikan ilustasi berikut. Para defender dalam sepak bola berkewajiban mengamankan garis pertahanan. Sedangkan kiper mengamankan gawang. Saya lupa mengantakan bahwa area kiper tidak boleh lewat dari kotak penalti. Jika anda tidak tahu apa itu kotak penalti maka silahkan browse di internet. Ketika dua orang penyerang yang bertugas meng obrak- abrik garis pertahanan lawan maka dua orang  penyerang akan kewalahan untuk menghadapi 4 orang  defender. Jika defender hanya mengamankan wilayahnya di garis 3 maka ketika masuk ke area kiper  dua orang penyerang dapat membuat kiper kencing dan dehidrasi terlebih dahulu sebelum dia mencetak gol pertamanya. Pertarungan yang adil hanya ada di lapangan tengah di mana ada 4 orang gelandang jika kedua tim yang berhadapan menggunakan formasi yang sama. Dan dengan liciknya para striker atau penyerang hanya berdiri di area kiper menunggu suplai bola dari lapangan tengah atau dari para gelandang untuk digolkan. Jika para gelandang berkerja profesional maka juga tidak akan ada gol yang tercapai karena wilayahnya ada di garis dua. Dan kerja sama tim untuk mencapai tujuan bersama tidak akan pernah terjadi.

Jadi saya ingin mengatakan kepada anda bahwa kerja profesional adalah sebuah kerjasama menurut spesialisasi masing-masing guna mencapai tujuan bersama. Jadi bukan berkerja menurut tugas masing-masing. Posisi gelandang adalah tugas sebagai penjaga lapangan tengah. Dan di lapangan tengah ada yang di sebut gelandang bertahan dan gelandang serang. Di mana setelah berusaha mempertahankan bola di lapangan tengah gelandang akan mengoper ke penyerang untuk mencapai apa yang disebut sebagai gol atau tujuan. Tentu penyerang akan kualahan menghadapi 4 defender sekaligus nah gelandang serang akan segera meninggalkan posisinya dari garis dua tengah lapangan untuk naik ke line up dan membantu serangan. Jika ada dua gelandang serang maka pertarungan akan imbang dan kecendrungan mencetak gol sangat besar. Sebalikanya ketika di serang, dengan sadar gelandang bertahan akan turun ke garis tiga membantu defender. Dengan begitu peluang lawan mencapai golnya dapat ditekan pada peluang terendah. Jika berhasil maka bola akan kembali ke lapangan tengah dengan sigap para gelandang bertahan mencoba mengiring bola ke depan dan gelandang serang kembali pada posisinya sebagai gelandang agar kemelut tetap terjadi di lapangan tengah. Di mana jauh dari gawang sendiri dan dekat ke gawang lawan. Dengan kata lain saya ingin membahasakan kepada anda tim dekat kepada kesuksesan, dan lebih jauh dari apa yang disebut kegagalan. Bukankah seperti itu posisi yang aman bagi sebuah tim sepak bola atau tim mana pun bak itu organisasi yang memiliki tujuan bersama.

Bisa di lihat juga terkadang tidak jarang seorang defender melakukan overlaping dan mencetak gol juga demi kemenangan tim. Bukan kemenangan si pencetak gol. Dan kegagalan kiper menangkap bola juga akan menyebabkan kekalahan tim. Bukan kekalahan dari kiper. Dan inilah kerjasama tim yang populer juga dengan sebutan kerja jamaah. Dan saya lupa menjelaskan ketika sang defender yang melakukan overlap kehilangan bola  maka dengan cepat dia berlari ke posisinya semual dengan sekuat tenaga dan sekencang mungkin. Dan dia akan menemukan seorang gelandang bertahan ada di posisinya. Menggantikan perannya. Hingga tim akan merasa aman. Dan si defender tahu betul setiap melakukan overlaping pasti akan ada gelandang bertahan yang akan  menggantikan lubang yang dia tinggalkan namun setiap kehilangan bola dia tidak akan berhenti namun tetap akan berlari keposisinya hingga tim kembali normal. Kerja sama yang sangat indah bukan.

Bagaimana anda masih berpikir tentang apa itu kerja profesional. Dan  anda masih bingung dengan kepemimpinan. Setelah ilustrasi dan penjelasan panjang lebar saya masihkah anda bingung.

Mari mengambil peran sesuai dengan posisi masing-masing dan coba untuk mengisi berbagai ruang kosong demi terciptanya stabilitas dan tercapainya tujuan dari tim. Tidak saling berlepas tangan seolah kesuksesan tim bukan tanggung jawab anda. Anda hanya perlu memastikan kerja anda di posisi anda sukses hingga ada kesan what the hell about the others. Jika anda masih merasa seperti itu maka nilai dari profesionalitas, persaudaraan dan kebersamaan belum hadir dalam diri anda. Dan kita yang seperti itu adalah kita yang belum paham makna dari kepemimpinan. Bukankah seperti itu.

Kadang banyak di antara kita enggan bersuara dan memberikan ide besar karena takut menjadi beban dan tanggung jawab. Namun merasa ide yang diberikan orang lain itu adalah tanggung jawab dia dan tidak ada hubungannya dengan kita. Sadar atau tidak kita sering bersuara “tentang hal itu saya tidak tahu menahu dan itu idenya si fulan. Tidak ada urusan dengan saya”. Adakah seperti itu. Tidak usah di jawab karena saya tidak perlu jawaban anda. Dan betapa kerdilnya pemikiran kita yang bersikap demikian. Enggan memberikan ide dan tidak mau membantu ide dari kawan kita, mungkin staf kita atau ketua kita.
Dan sekali lagi peran itu kita yang ambil. Sedangakan posisi itu diberikan orang lain atau orang yang kasih. Maka wajarlah ketika rasulullah nabi Muhammad SAW dalam hadisnya meminta untuk memilih pemimpin yang terbaik di antara yang terbaik jika tidak ada maka pilihlah yang paling sedikit mudharatnya. Itulah kriteria yang diberi. Bukan pemimpin yang terkuat yang dikriteriakan. Bukan pemimpin yang terpandai yang dikriteriakan. Namun yang terbaik. Artinya sesuai dengan kebutuhan. Bisa jadi yang terbaik itu adalah orang paling lemah diantara kamu hingga kamu yang kuat dengan sepenuh hati mendukung dan membela dia. Menyukseskan semua programnya. Membantunya dalam menyusun program jika kamu seorang yang pandai. Hingga tujuan bersama tercapai. Dan demi itu kamu rela berkorban untuknya.

Dan terbaik itu dapat diartikan orang terkuat jika kamu terdiri dari orang yang lemah. Hingga dia dapat membimbingmu menjadi kuat. Dapat melindungimu dari ganguan. Dan terbaik dapat berarti pintar jika kamu terdiri dari orang-orang bodoh. Hingga dia dapat membimbingmu kepada menjadi  pandai. Mencegahmu ditipu dan dibodohi orang lain. Seperti itulah peran kepemimpinan. Hingga tidak perlu untuk saling menyalahkan apalagi menyalahkan orang lain. Atau dengan licik berusaha agar terlihat tidak bersalah. Namun kesalahan haruslah menjadi pelajaran bagi semua. Saling terbuka dan melengkapi kekurangan. Karena seperti itulah yang terbaik. Satu hal yang ingin kembali penulis katakan yaitu "dimanapun posisi anda mainkanlah peran anda dengan sebaik mungkin". Karena itu yang akan membuat anda lebih berharga.

Saturday, 9 April 2011

Krisis BBM. Indonesia Belum Jadi Negara Mandiri

Indonesia belum mandiri, setidaknya secara Ekonomi. Tidak di ragukan lagi, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang besar. Sangat aneh ketika negeri ini malah menjadi negara yang miskin. Negara ini harus berhutang keluar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Padahal jika melihat usia negara ini yang lebih setengah abad maka ketinggalan jauh dari negara lain yang lebih muda.

Memang sudah jelas jawaban atas melorotnya ekonomi Indonesia. Betapa tidak pasca krisis ekonomi tahun 1997 Indonesia bangkit dengan lambat. Masalah kemiskinan, bahan bakar minyak, teroris, paket bom menghiasi media. Demikian juga dengan panggung politik Indonesia. Sangat amburadul dan sarat kepentingan sesaat dari politisi.

Indonesia mendadak menjadi negara dengan berbagai masalah. Bisa dikatakan kemampuan Indonesia dalam menyelesaikan masalah sangat buruk. Konflik Aceh menjadi satu-satunya masalah sosial yang terselesaikan setelah 32 tahun. Dan semenjak reformasi 1998 menjadi satu-satunya masalah besar yang terselesaikan.

Meski dikabarkan pertumbuhan ekonomi Indonesia naik dalam beberapa  tahun terakhir, namun tercatat jumlah warga miskin tidak mengalami penurunan. Sebuah blunder besar ketika perekonomian Indonesia meningkat karena kesuksesan pialang saham. Peningkatan diatas kertas atau statistik yang meyakinkan namun tidak di nikmati oleh rakyat kecil. Betapa ekonomi makro telah memanjakan negara dan melaratkan rakyat. karena yang menjadi penopang kesejahteraan rakyat adalah geliat dari ekonomi mikro.

Betapa rakyat di negeri yang kaya ini harus kembali menderita. Betapa tidak negara miskin di negeri yang kaya ini lebih memilih mengimpor produk dari luar negeri. Lebih tepatnya dari blog barat dari pada barang negeri. Dan lebih piciknya lagi, pembelian barang dari luar karena saran dari ekonom-ekonom di sekitaran kementrian keuangan. Contoh saja alutsista dari TNI dan POLRI. Betapa produk dalam negeri untuk meriam, senjata mesin, tank, panser bahkan pesawat terbang sudah ada di dalam negeri. Namun dengan saran dari para ekonom negara ini lebih memilih membeli dari Amerika atau kadang Rusia. Tergantung hubungan politik dari masing-masing negara. Efeknya para pabrik senjata di dalam negeri tidak berkembang. Padahal PT DIRGANTARA Indonesia memiliki pesawat herculles yang berkualitas yang selama ini juga di ekspor ke Filipina dan Korea. Pindad harus menjual senjatanya secara diam-diam. PT Pelni yang di kabarkan punya kemampuan membuat kapal selam namun belum bisa menghasilkan kapal selam. Sungguh ironi.

Beberapa pabrik fital di Aceh terpaksa ditutup. sebut saja AAF, PT KKA, Arun LNG dan PT PIM yang pasokan gas nya tersendat-sendat. Dan hampir semua kebijakan yang dikeluarkan berujung pada penjualan aset. Keputusan yang sangat bodoh yang di mulai masa presiden megawati. Yakni penjualan aset negara. Dan Indonesia dicatat pengekpor gas alam cair dan minyak mentah. Namum masih mengimpor minyak olahan. Jual bahan baku dan membeli barang jadi. Bukankah itu sebuah pilihan yang cerdas, dimana yang di timbulkan hanyalah kerugian. Dapat dibayangkan negara penghasil minyak mengalami kelangkaan BBM. Kenaikan BBM bertahap sampai dengan penyaisatan untuk mengurangi subsidi BBM. Indonesia benar telah menjadi negara yang lapar di dalam tumpukan makanan yang semakin hari juga semakin terkuras karena dikuasai orang dari rumah lain.

Solusi atau jalan keluar dari permasalahan Indonesia sekarang hanya satu. Yakni tampuk kepemimpinan di tangan yang tepat. yakni sosok yang tidak terikat dengan berbagai kepentingan politik golongan. Pemimpin yang memfokuskan diri pada masalah kerakyatan. Pemimpin yang menggunakan politik pelayanan sebagai cara dia memimpin. Bukan sibuk dengan berbagai pencitraan dan permasalahan internal yang dibuat oleh segelintir orang di belakang presiden yang menginginkan kekuasaan lebih. Dibutuhkan sosok tegas yang berani mengambil langkah besar keluar dari ketergantungan terhadap negara barat yang sebenarnya tidak terlalu perlu. Lebih tepatnya Indonesia dapat menjadi negara yang mandiri.