Monday, 28 March 2011

Rekonstruksi Peradaban dan Negara Berawal Dari Rekontruksi Diri

Begitu banyak orang bingung. Baik dalam menentukan sikap, ataupun mengambil sebuah keputusan. Merupakan sifat alamiah manusia untuk ragu, khawatir ataupun tidak tahu. Banyak orang yang enggan untuk mulai melakukan atau mengambil sikap.

Ada sebuah wacana besar yang akhir-akhir ini dilempar oleh beberapa organisasi. Ada juga yang menyebut diri mereka sebagai gerakan. Sebut saja seperti KAMMI (Kesaatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Organisasi ini berwacana merekonstruksi peradaban bangsa. Namun yang membingungkan bagi sebagian orang adalah dari mana harus memulai. Sebagian orang menganggap wacana itu terlalu besar hingga tidak mungkin terealisasi. Ada anggapan bahwa wacana merekonstruksi peradaban bangsa terlalu melangit.

Merekonstruksi peradaban bangsa bukanlah hal yang mudah. Wacana mengubah negara adalah wacana besar. Perlu strategi yang benar-benar terukur. Untuk mewujudkan negara yang sesuai dengan harapan, diperlukan sumberdaya yang potensial. Terutama dari sumber daya manusia. Mengubah negara tidak hanya cukup dengan teriakan revolusi semata. Apa lagi teriakan berdasarkan provokasi.

Membangun negara membutuhkan tenaga profesional. Ada beberapa kriteria yang dibutuhkan untuk merekonstruksi kondisi sebuah negara  atau merekonstruksi peradaban. Pertama adalah orang-orang yang memiliki analisis resiko yang cermat. Serta mereka juga bukan kumpulan orang takut mengambil resiko. Mereka adalah orang yang berani bertindak dan mempertanggungjawabkan tindakannya. Dan semua sudah melalui hitung-hitungan. tidak bisa merekonstruksi Peradaban bangsa ataupun negara hanya mengandalkan sistem trial and eror, saja. Dapat dibayangkan jika satu negara mencoba sistem dan terus gagal. Maka negara akan hancur. Hanya perjuangan berdasarkan hitungan yang tepatlah yang akan berhasil. Kegagalan orang yang memiliki analisa yang cermat akan menghasilkan strategi baru yang peluang berhasilnya serta efektifitasnya lebih besar.

Selanjutanya dibutuhkan orang-orang yang memiliki basis ideologi yang mengakar. Hal ini juga menjawab keraguan tentang wacana merekonstruksi negara yang oleh sebagian orang dianggap terlalu melangit. Tepatnya jika ingin memulai untuk menjalankan wacana rekonstruksi negara ataupun peradaban bangsa, maka paling penting adalah membina diri. Memulai merekonstruksi negara haruslah merekonstruksi diri terlebih dahulu. Setelah diri memiliki basis yang mengakar secara ideologis barulah mencoba memberbaiki orang lain. Pada tahapan selanjutnya dari satu orang menjadi dua hingga membentuk mata rantai lingkungan orang-orang yang memiliki basis ideologi yang mengakar. Sebuah matarantai yang tidak akan terputus ketika setiap dari individu mulai merkonstruksi diri dan orang lain. Seorang pemikir islam yang Syaik Sayid Qutbh mengatakan jika ingin mengubah sebuah negara menjadi negara islam maka islamkanlah orang-orang yang ada dalam negara tersebut. Dari perkataan beliau ada dua hal yang dapat di ambil pelajaran. Pertama mengenai islam atau basis ideologi. Kedua orang-orang yakni individu yang harus di tanamkan basis ideologi(islam).

Selanjutnya yang menjadi syarat bagi orang yang berbicara akan merekonstruksi negara atau peradaban bangsa adalah wawasan kenegaraan yang luas dan mendalam. Tidak mungkin mengubah suatu bangsa tanpa mengetahui karakter dari bangsa dalam negara tersebut. Penting untuk mengetahui treath atau ancaman apa yang akan berlaku atau harus dihadapi. Kemudian juga kepentingan apa (oportunity) yang sehingga membuat sebuah keharusan untuk merekonstrusi sebuah negara atau peradaban. Karena omong besar wacana merubah tanpa kepentingan. Setelah memahami kedua aspek dia atas barulah mencari kelemahannya(weakness) ada dimana. Selanjutnya baru melihat kekuatan yang dimiliki apa. Potensinya ada dimana saja. Setelah itu barulah siap untuk melakukan bebagai misi guna mencapai tujuan.

Yang terakhir yang harus dimiliki oleh orang yang berwacana akan merubah peradaban bangsa adalah Agama. Samuel P. Huntington mengemukakan kekhawatiran dari westernizer. Kekhawatiran itu datang baik dari blok konservatif, maupun zionis. Kekhawatiran tentang perkembangan agama yang begitu pesat. Hingga sudah di anggap sebagai ancaman bagi ideologi barat. Huntington mengatakan bahwa barat telah mengalahkan sosialisme. Keruntuhan uni sovyet membuat komunisme dan sosialisme kehilangan negara inti. dan sasaran selanjutnya adalah blok agama. Dia dengan jelas mengatakan ada dua ketakutan dari para westernizer. Yakni konfusianisme dan islam. Kedua agama ini berkembang pesat. Dan dipredikisikann akan menggantikan peradaban barat.

Merekonstruksi peradaban bukanlah sekedar wacana. Namun dia adalah realita. Tinggal saja kemauan untuk memulainya dari diri. Membentuk karakter diri dan menularkan karakter kepada orang lain. Dan ketika individu-individu dengan karakter tersebut sudah banyak maka semuanya harus berkumpul dalam satu gerakan ideal. Karena ketika anak muda bersatu pasti akan selalu ada perubahan yang terjadi. Dan tidak ada salahnya melangit dalam berwacana selama tetap membumi dalam realita.

Saturday, 19 March 2011

Beginilah Cara Baik Bermuka Dua

Orang yang bermuka dua. Sosok yang paling dibenci oleh banyak orang. Hal ini karena terlalu duluan muncul persepsi jelek tentang bermuka dua. Pengertian orang bermuka dua ditafsirkan dengan cara yang salah. Kesalahan penafsiran ini juga disebabkan oleh pemasang muka yang cenderung memasang tampang jelek. Sehingga hal tersebut berimbas pada persepsi orang lain yang salah.

Selama ini orang bermuka dua diartikan sebagai orang yang memiliki karakter licik. Dimana pada kondisi tertentu dia mendukung dan pada kondisi lainya menusuk dari belakang. Orang yang bermuka dua ditafsirkan suka menggunting dalam lipatan. Ketika di depan mengutarakan hal lain dan dibelakang mengutarakan hal lain pula. Dan ini sering karena tujuan dari orang bermuka dua adalah untuk menjilat. Sehingga ada kesan orang bermuka dua adalah orang yang tidak bisa dipegang. suka berkhianat.

Padahal ada kondisi lain dimana seseorang juga harus memainkan dua muka. Saya ingin memberi definisi dari orang bermuka dua adalah orang yang memainkan peran ganda. Terlepas peran ganda yang diambil berupa sikap yang buruk atau baik. Namun ketika memberi label kepada istilah bermuka dua dengan kejahatan maka harus ditinjau dulu maslahatnya. Jadi kurang cocok mengatakan semua muka dua adalah hal yang buruk.

Pada orang bemuka dua, pemberian label jahat adalah lebih kepada kasuistik. Seharusnya persepsi bermuka dua tidak selamanya di tafsirkan jelek. Karena pelabelan seperti itu akan membuat minder orang yang harus memainkan peran tersebut. Dan ketika kebaikan terhalang hanya karena ada batas persepsi yang membentengi. Apalagi benteng itu diawasi secara bersama-sama maka akan ada tembok sosial yang menghalangi kebaikan.

Pada suatu kasus, seorang mengambil peran sebagai penasehat penting bagi orang yang lainnya. Katakanlah peran seorang sekretaris terhadap bos nya. Di depan bos si sekretaris berusaha bersikap sopaan dan baik. Memenuhi segala kebutuhan sang bos tersebut. Selalu ada ketika sang bos memerlukannya dalam kondisi dan keperluan apapun. Hingga ia cepat menerima promosi jabatan dan menerima banyak bonus. Di lain sisi sang sekretaris menjadi pembocor rahasia perusahaan kepada perusahaan lain. Tentu si sekretaris tadi mendapat fee dari bocoran-bocoran yang di sampaikan. Hingga si sekretaris dijuluki sebagai seorang yang bermuka dua hingga tidak dapat di biarkan hidup, atau harus segera di pecat dan dituntut dengan gugatan. Pada kasus ini sang sekretaris mamang benar dapat dikategorikan jahat. Layak mendapat sanksi yang setimpal.

Namun ada kasus lain di mana posisi orang yang bermuka dua ini dimainkan oleh seorang pimpinan. Seorang pimpinan harus menghadapi orang berkarakter berbeda dalam memimpin institusinya. Ketika ada orang berkarakter keras dan sama-sama memiliki ambisi. Keduanya memiliki karakter untuk mendominasi atas rekan yang lainnya. Sehingga kedua orang ini akan sangat sulit untuk disatukan. Ada kalanya karena kapasistas masing-masing mereka harus di tempatkan di jabatan yang menyebabkan keduanya harus berkoordinasi. Tentu ini akan menimbulkan polemik baru.

Sebanarnya ada dua cara untuk menghadapi permasalahan tersebut. Pertama pecat salah satu. Kedua cari lain sebagai pengganti. Namun adalah hal sulit ketika hal tersebut di lakukan. Yakni kondisi emosional yang selama ini di bangun. Kemudaian juga mencari seorang yang berkapasitas dan dapat benar-benar di percayai di tempat tersebut atau dimanapun yang menjadi bagian dari institusi. Hal tersebut bukanlah hal mudah apalagi terkait jabatan strategis di perusahaan.

Untuk menyikapi hal seperti ini maka sang pimpinan mau tidak mau harus jadi penengah dari konflik. Mencoba memberi solusi tanpa menggurui. Dana cara seperti ini hanya dapat dilakukan dengan bermuka dua. Menunjukkan sikap yang berbeda di masing-masing bawahan tadi. Hal ini bertujuan agar program mereka jalan. Pemimpin tersebut harus menunjukkan penghargaan tinggi kepada keduanya dengan mengatakan kepada keduanya merekalah yang pling baik. Sering meminta kepada keduanya untuk jadi salah satu yang mengalah. Kemudian sang pemimpin juga harus merahasiakan sikap terhadap masing-masing pihak demi menjaga perasaan mereka terhadap pimpinan itu sendiri. Hal tersebut harus dilakukan guna menjaga stbilitas kerja dari perusahaan.

Dapat dibayangkan jika stigma negatif dari bermuka dua dilabelkan kepada sang pimpinan. Maka sang pimpinan akan menjadi korban tidak langsung yang senatiasa harus mengurut dada. Pengorbanan besar seorang pemimpin meski secara psikologis dia akan sangat tertekan. Dan ketika si pemimpin tersekat karena label negatif atas muka dua, maka akan banyak kerugian yang timbul. Kinerja institusi akan sangat terganggu. Jika dilakukan pemecatan salah satu maka akan kehilangan satu talenta dan akan sangat sulit menemukan yang baru. Kemudian jika di biarkan terus berkonflik jelas akan merugikan institusi.

Dari beberapa hal diatas sangat penting untuk menilai suatu hal secara menyeluruh. Sekecil apapun, sejelek apapun maka semua harus dipersepsikan positif hingga pada titik jenuhnya harus disebut negatif. Sungguh disayangkan bebagai kerusuhan, kerugian, kemalangan dan juga konflik harus terjadi karena kesalah pahaman saja. Hanya karena persepsi yang salah.

Monday, 14 March 2011

Aliran Sesat di kalangan mahasiswa aceh

Dalam sebuah Hadis, Rasulullah telah mengingatkan ummatnya “Sungguh pada akhir zaman ummat islam akan terpecah kepada beberapa golongan dan yang benar adalah Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Hal tersebut telah ditegaskan oleh Rasulullah dan sudah nampak jelas bahwa hal tersebut kenyataan. Namun, ada hal lain lagi yang lebih menarik yang juga dikhawatirkan Rasulullah dalam Hadis-nya adalah tentang ummat islam yang hanya tahu islam dari kulit luarnya saja.

Berbagai aliran sesat belakangan terus bermunculan. Mulai dari Aliran Ahmad Musadek yang mengaku nabi, sampai millah abraham yang muncul di bireun( di beritakan di beberapa media baik lokal maupun nasional seperti Harian Aceh, Serambi Indonesia, Metro TV). Semua aliran baru yang mengatas namakan islam tersebut sudah sangat meresahkan masyarakat.

Bagaimana tidak, banyak keluarga yang ikut tersesat. Secara sadar masuk aliran tersebut karena merasa aliran itu benar. Hal ini tentu saja karena pengetahuan tentang agama yang kurang. Dan banyak juga kalangan orang berpengetahuan yang cenderung ikut aliran sesat setelah kalah debat secara logika.

Belakangan peristiwa meresahkan tersebut muncul di kampus. Terutama di lingkungan unsyiah dan IAIN. Tentu bukan hal biasa lagi ketika ada kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) yang bermain di kampus. Mereka hanya menggunakan penalaran logika untuk menafsirkan Al-Quran maupun Hadis. Padahal sudah jelas dalam Al-Quran ada perpaduan antara dua hal yakni yang logis dan yang ghaib.

Nah sekarang ada yang lebih nyeleneh lagi. Kali ini muncul di kalangan mahasiswa. Penuturan beberapa saksi kepada penulis mereka juga menggunakan logika semata untuk menafsirkan Al-Quran. Dan yang lebih meresahkan mereka menafikan Hadis. Mereka tidak mau memakai Hadis dengan alasan bahwa dari masa Hadis tersebut sampai sekarang sudah sangat lama. Dan mereka tidak percaya dengan keberadaan hadis tersebut. Dari kondisi tersebut mereka memilih tidak mempercayai Hadis.

Ciri aliran sesat

Menafikan Al Quran dan Hadis, menafikan Muhammad sebagai Rasul, menafikan Allah dalah ciri dari aliran sesat. Dan kepercayaan terhadap hal tersebut adalah sangat fundamental. Hal yang mendasar dari Islam. Al Quran adalah kumpulan dari wahyu Allah yang merupakan inti dari ajaran islam. Al Quran adalah rujukan. Lebih tepatnya lagi sumber hukum bagi tiap muslim.

Hadis adalah semua perkataan serta tingkah laku dan diamnya Rasulullah. Dan hadis ini merupakan sumber hukum juga dalam islam. Dan perkataan siapa lagi yang hendak kita percayai selain perkataan seorang rasul. Allah saja telah percaya kepadanya.

Apa lagi dengan menafikan ke-Rasulan Nabi Muhammad SAW dan menafikan Allah. Hal tersebut pasti sudah sangat jelas sesat. Dan tidak percaya kepada Allah dan Rasulnya berarti telah mengingkari rukun iman. Ketika yang diingkari itu rukun aman, mak sebagai konsekuensi kita menjadi orang yang fasik. Dan fasik itu sendiri dekat kepada kekufuran. Khusus tentang bab pecaya Allah dan Rasulnya adalah sebuah Itikad. Fondasi dasar dari islam. Dan ini merupakan syarat utama untuk menjadi seorang muslim. Syahadat adalah rukun islam yang pertama. Mengenai hal ini maka dapat disimpulkan bahwa tidak mempercayai Allah dan Rasulnya berarti kafir. Dan jelas sesat.

Tidak mengakui hadis

Beberapa informasi yang penulis himpun dari mahsiswa terkait keberadaan aliran baru yang meresahkan di lingkungan kampus. Para pengikut aliran ini mengaku tidak berpegang kepada Hadis. Hal itu di karenakan ada keraguan tentang kebenaran Hadis tersebut. mereka memilih tidak memakai Hadis karena ada kemungkina sang perawi berbohong tentang kebenaran hadis tersebut. lantas kelompok ini hanya menafsirkan Al Quran berdasarkan nalar mereka saja. Dan ini tentu bertentangan dengan begaimana mestinya menafsirkan Al Quran.

Sangat aneh memang ketika para kelompok ini meragukan semua Hadis. Padahal jika dilihat dari pembagian Hadis oleh para perawi sudah sangat kompleks. Semua sudah berdasarkan pada penelitian ilmiah. Mulai dari Hadist sahih sampai hadis yang dhaif (lemah). Apalagi Hadis yang sahih terutama yang di riwatkan Bukhari dan Muslim tidak diragukan lagi karena sanatnya sampai pada Rasulullah. Alur sanad juga jelas dari orang yang dapat di percaya. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak percaya. Apalagi konsekuensi dari berbohong terhadap perkataan Rasulullah adalah kafir. Sangatlah tidak mungkin menuduh para Salafusalih sebagai pembohong. Dan semua yang terlibat dalam penelitian hadis pada masanya di akui kejujurannya. Nah tentu alasan untuk tidak percaya Hadis sangatlah tidak beralasan. Apalagi ada dia antara sahabat yang mencatat sebagian Hadis dari Rasulullah.

Sikap yang seharusnya diambil

Seharusnya ketika ada aliran yang lain dari kebiasaan umumnya maka yang harus di lakukan adalah mengecek dahulu tentang esensi atau kebenarannya seperti apa. Jangan justru menelan menelan mentah-mentah apa yang di terima dari orang lain.

Dalam surat Al Ahzab ayat 21 telah di tegaskan oleh Allah tentang ke istimewaan rasulullah. “sungguh telah ada pada diri rasulullah(muhammad) itu suri teladan yang baik. Satu-satunya cara mengetahui sifat rasulullah adalah dari sirahdan hadis. Meragui hadis sama dengan meragi perkataan rasulullah. Konsekuensi dari pengingkaran terhadap rasul adalah pengingkaran terhadap dua kalimat syahadat (syahadatain). Syahadatain sebagai mana di bahs tadi merukan hal yang fundamental dari islam. Pengingkaran terhadap hal tersebut dapat di artikan sebagai kafir. Dan aliran yang mengingkari keberadaan Hadis maka dapat divonis sesat.

Jika alasan sekarang sudah sangat tidak mungkin melakukan penelitian mendalam terhadap Hadis, bagaimana dengan yang telah diriwayatkan Salafushalih secara turun-temurun dan sanadnya itu sampai kepada Rasulullah. Dan tentu ini tidak dapat di ragukan lagi. Apalagi metode yang di pakai shahih Bukhari. Dengan mendatangi semua sanad yang tercantum dari para sumber Hadis. Semua dari mereka didatangi satu persatu dengan kriteria kejujuran yang sangat tinggi. Bahkan sampai kepada mengamati kehidupan sehari-hari sang narasumber. Jika narasumber tempat informasi Hadis diperoleh pernah mengimingi bayi atau hewan dengan iming-iming kosong saja maka Hadis langsung di nyatakan dhaif atau lemah. Nah bagaimana kriteria kejujuran yang dipakai sang peneliti. Tentu penelitian sampai sedetil itu tidak dapat diragukan lagi.

Sangat disayangkan kondisi kekinian di mana mahasiswa miskin ilmu agama. Bahkan menurut laporan dari Unit Pengembangan Pendamping Program Mata Kuliah Agama Islam(UP3AI) Unsyiah lebih dari 50 persen mahasiswa baru yang masuk universitas tidak dapat membaca Al Quran serta minim tingkat penguasaan materi ke Islaman. Lebih mirisnya lagi materi mengenai hal yang Fundamental sebagai seorang Islam. Hal ini tentu akan sangat mudah untuk disusupi oleh aliran-aliran sesat.

Harapan

Mahasiswa seharusnya lebih cerdas dan bijak. Memahami islam haruslah secara menyeluruh. Pemahaman terhadap penalaran wahyu tidak semuanya menggunakan akal. Ada hal-hal yang tidak masuk akal namun harus di imani. Kebenaran hal yang logis dalam Al-Quran adalah sebagai pembukian bahwa hal ghaib itu benar ada.

Pada akhirnya pada Allahlah kita berserah diri. Mudah-mudahan kita diberi kemampuan untuk mendeteksi dan menangkal perkembangan aliran sesat. Pada Allahlah kita memohon ampun dan berserah diri. Amin.