Thursday, 28 April 2011

Belajar Melatih Diri Dari Bakat Seorang Snipper


Setiap orang memilliki karakter tersendiri. Fitrah manusia untuk berbeda satu dengan lainnya. Baik dari segi tampang, tubuh, lirikan mata hingga pemikiran. Setiap orang juga dilahirkan dengan bakat yang berbeda-beda. 
Kemampuan dapat dilatih. Orang yang sering berlatih akan menuai kesuksesan. Demikian juga dengan bakat. Jika tidak pernah dilatih maka bakat itu akan kering. Namun orang yang tahu potensi dirinya. Memahami bakatnya dan melatihnya maka ia akan memberikan hasil yang sangat luar biasa. Karena bakat alami itu memang berbeda dengan keahlian yang di peroleh belakangan. Karena di ballik bakat itu ada instuisi yang memang secara naluriah bermain. Walaupun instuisi juga dapat di latih. Dan akan berkurang kemampuannya jika tidak digunakan. Insting semakin di asah maka ia akan semakin tajam. Contoh gampangnya antara kucing hutan dan kucing rumah. Instuisi dan daya survive keduanya sangatlah berbeda.

Bakat merupakan hal yang nyentrik. Spesial dan tidak dimiliki oleh orang lain. Contoh lain dari spesialisasi bakat dapat dilihat di dunia militer. Yakni sniper atau penembak jitu. Ada juga yang menyebutnya penembak gelap. Dalam satu batalyon tentara hanya akan ada beberapa orang snipper. Ketika masa pendidikan tidak semua tentara di jadikan snipper dan memegang snipper riffle. Hanya orang dengan bakat, insting membunuh, instuisi yang kuat serta kontrol emosi yang mumpuni yang akan dipilih. Perkara menembakkan peluru tidak hanya perkara membidikkan laras senjata tepat ke sasaran. Bisa jadi arah moncong senjata tidak tepat di dahi jika ingin menembak tepat di dahi. Hal itu karena turbulensi yang di akibatkan oleh angin, berat peluru dan momentum penembakan akan sangat mempengaruhi apakah peluru sampai ke sasaran atau tidak.

Bakat menembak, itulah yang membuat snipper berbeda dari personil lainnya. Seorang snipper harus memiliki insting membunuh yang kuat. Hal ini berkaitan dengan apakah ia akan menarik pelatuknya atau tidak ketika sasaran sudah terkunci. Hal ini berkaitan dengan mental. Kemudian seorang sniper harus bisa merasakan arah dan kecepatan angin. Mengira dengan cermat sudut peluru dengan sasaran. Karena kemungkinan untuk peluru meleset, atau berbelok sekian inci karena angin tidak bisa di abaikan. Dan snipper juga harus bisa mengendap untuk menyelamatkan diri. Berada pada posisi yang tidak di duga oleh lawan. Stamina yang tinggi hingga ia sangat di takuti oleh pasukan yang lain dalam medan perang.

Para snipper juga tidak cukup berbekal bakat saja. Ia harus ikut program pelatihan khusus. Agar dia terbiasa menembak. Snipper dilatih menembak pada jarak tertentu yang terus ditingkatkan ketika dia sudah yakin dapat menembak dengan tepat pada sasaran dengan jaraj tertentu. Dengan kata lain dalam latihan snipper dibiasakan menembak tepat sasaran hingga ia terbiasa menembak dengan baik dan yakin setiap kali menembak.

Lalu apa yang dapat di pelajari dari kisah latihan snipper itu tadi. Bahwa kita memiliki kemapuan yang berbeda yang membuat kita lain. Hanya saja bagaimana kita memahaminya dan melatihnya. Hingga kita terbiasa dan yakin untuk bisa. Tidak terbeban lagi ketika harus mengeksekusi suatu perkerjaan.
Sering orang apatis karena tidak mencoba membiasakan dirinya. Orang berhasil setelah gagal berulang-ulang. Dan ketika gagal tidak menyerah serta terus mencoba akan memberikan latihan tersendiri.

Nah demikian juga dalam hal ikhlas. Kita akan ikhlas ketika dalam mengerjakan apapun saat kita tidak merasa terbebani dengan perkerjaan kita. Sangat sulit untuk ikhlas jika tidak di latih dengan membiasakan diri ikhlas. Meski di awalnya berat, setelah terbiasa maka itu tidak akan lagi jadi hal yang memberatkan. Malah dengan yakin kita akan melakukan perkerjaan yang diamanahkan. Stiap orang memiliki potensi untuk ikhlas, amanah, peka dengan kondisi lingkungan. Karena itu memang sifat alamiah dasar manusia. Hanya saja bagaimana kita membiasakan diri untuk terus seperti itu. Hingga kondisi tersebut menjadi bagian dari kita. Mental dan fisik kita sudah mendukung. Hingga apapun tantangannya akan terhadapi dengan kemampuan semaksimal mungkin dan ikhlas.

Dan dengan menjadi pribadi yang demikianlah kita akan berbeda dengan manusia lainnya yang hidupnya cenderung apatis. Tidak peka lingkungan. Mereka sama dengan tentara pada umumnya. Dan jadilah diri yang berbeda dari lainnya secara kualitas diri dengan berusaha sebaik mungkin dan membiasakan diri untuk berusaha. Karena itulah yang membuat kita berbeda. Dan itulah kunci untuk sukses.

Monday, 25 April 2011

Antara Perang, Terorisme, Amerika dan Sekutunya, serta Minyak.

Terorisme telah  menjadi tren baru dalam beberapa dekade terakhir. Siapa saja dapat berada dalam kondisi terancam keselamatan nyawanya. Bom ada di mana-mana. Siapa saja dapat di tembak, di rampok dan lebih mengerikan lagi di hancurkan dengan bom. Bom ada di mana-mana dan mengancam siapa saja.

Isu perang melawan terorisme pun digulirkan oleh amerika serikat. Negara ini mengklaim dirinya sebagai Polisi Dunia. Dan kampanye perlawanan pun di gulirkan. Amerika berteriak-teriak tentang teroris yang mengancam amerika. Perang melawan teroris pun meletus.

Ada yang mengatakan bahwa perang melawan teroris harus menjadi prioritas. Amerika mengatakan teroris mengancam negara mereka. lalu Pemerintah Amerika mulai menebar perang di negeri orang. lihat saja afganistan, iraq, dan sekarang libia. ada perang disana. lebih merasa aman di manakah anda, di bali indonesia atau di gang-gang di iraq. Lebih aman berjalan kaki di Mahattan atau berada dalam bunker di Iraq. Sekarang NATO menggempur libia dengan alasan hendak menyelamatkan warga sipil, namun siapakan yang mati di perang tersebut. Mayoritas warga sipil yang menjadi korban. sekarang bagi warga libia lebih aman berada di toko senjata di Indianapolis dari pada di dalam rumah mereka sendiri yang mungkin bisa jadi sasaran hantaman dari rudal. Sekarang siapakan yang lebih merasa teracam.

Ada sebuah realita yang menarik. Negara-negara yang di klaim oleh negara Amerika tidak stabil dan ancaman banyak yang tidak terbukti. sungguh kasihan melihat penderitaan rakyat Iraq. Amerika membuat perang, sekaligus menjual senjata canggih. mereka menyerang negara dengan alasan memiliki senjata pemusnah masal, malah tidak bisa mereka membuktikan keberadaan sejata tersebut di Iraq. Sekarang Libia, justru sekarang negari yang dulunya jadi syurga bagi para imigran di Afrika kini menjadi neraka yang siap menumpahkan darah. Dan tidak luput dari perhatian yakni Indonesia. Mulai ada bom-bom dan teroris di Indonesia. Pendapat dari pengamat teroris barat itu karena Islam. Ada orang islam yang akan menyerang orang islam. logiskah, mungkin karena mereka teroris.

Yang jelas setiap Negara yang terkena Dampak dari Terorisme adalah negara dengan kekayaan alam yang besar. Cadangan minyak bumi terbesar, cadangan gas alam terbesar, cadangan uranium terbesar ada di negara-negara tersebut. Lantas apa yang di kejar Amerika Serikat dengan sekutunya itu. Teroris atau minyak, teroris atau gas, teroris atau uranium. Yang jelas bom nuklir terbanyak berada di negara amerika serikat dan sekutunya. Sesuatu yang tidak di miliki oleh negeri islam. Dan negeri islam memiliki apa yang di inginkan oleh siapa saja yang hendak berkuasa 50 tahun kedepan. Yakni sumber energi terbesar. Minyak bumi dan energi nuklir.

Jika perang dingin di anggap telah berakhir, maka amerika seperti telah menyiapkan perangnya sendiri. bersama para sekutu mereka. apa yang mereka cari di timur tengah. Teroris atau minyak. Hentikan perang.

Monday, 18 April 2011

Kerja Profesional atau Kerjasama Tim Profesional

Semua orang pernah berkerja dalam sebuah tim. Baik saya, anda, dan kita semua. Namun bagaimana yang dikatakan kerja sama yang ideal. Dan apa pula itu kerja sama yang profesional. Sering kesalahan dalam mempersepsikan sesuatu menyebabkan banyak orang salah dalam mengambil tindakan. Cukup sering sebuah organisasi  ataupun sebuah perusahaan itu mengalami kerugian akibat adanya lubang yang tidak tertutupi oleh pagawai ataupun pengurusnya. Masing-masing pegawai juga berdalih mereka sudah melakukang tugas masing-masing. Masing-masing beralasan bahwa ini merupakan Kerja profesional, hingga masing-masing cukup menyelesaikan tugas sendiri tanpa perlu memikirkan apa yang dilakukan orang lain dan apakah tugas tersebut adaah beban berat baginya atau bukan.

Lantas apakah yang bagaimana yang disebut dengan kerja profesional. Apakah masing-masing berkerja dan menyelesaikan tugas  masing-masing namun tujuan dari tim atau organisasi ataupun perusahaan tidak tercapai. Atau kejasama yang profesional dimana semua pihak bahu membahu dalam menyukseskan agenda bersama. meraih sebuah gol akhir yang ingin dicapai, dan menikmati keberhasilan secara bersama-sama. Tentu pilihan kedua menjadi pilihan terbaik yang semestinya dipilih. Walau kadang-kadang banyak juga yang memilih nomor satu karena berpendapat demikian. Namun yang memilih nomor satu jarang memikirkan akibat yang akan muncul. Tidak memperhatikan akibat yang harus dilalui bersama. Dan ketika gol yang di capai tidak sesuai target bahkan mengalami kerugian baik materil maupun immateril harus ditanggung oleh seluruh orang dalam kelompok. Orang yang cenderung memilih pilihan pertama cenderung egois dan memikirkan diri sendiri.

Sebuah tim yang baik adalah tim yang memiliki gol atau tujuan bersama yang akan dicapai dan setiap individu yang menjadi bagian dari tim akan berkerja bahu membahu untuk mencapai target bersama dan menyukseskan tim. Bukan terdiri dari individu yang ingin dikenal atau menjadi pahlawan sendiri. Kesuksesan kita dan kesuksesan lembaga atau perusahaan dimana kita berada di dalamnya bukan tergantung dari siapa memegang posisi apa, namun siapa dengan peran apa yang dia ambil.

Sebagai sebuah analogi mari kita mencermati sebuah hal yang dekat dengan kita. yakni tim dalam olahraga sepak bola. Untuk menilai kesuksesan dari kerjasama tim yang profesional mungkin bisa kita pelajari dari olahraga ini. Sebuah tim sepak bola terdiri dari sebelas orang pemain inti, beberapa orang pemain cadangan, pelatih, asisten pelatih, manager, presiden atau ketua club, dan pemilik dari club sepakbola.

Setiap pemain sepak bola memiliki tugas masing serta peran masing-masing. Demikian juga wilayah permainan dari masing-masing berdasarkan tugas dan peran yang diambil. Seorang bek atau defender bertugas mengamankan wilayah pertahanan yang sering di sebut dengan garis tiga. demikian juga dengan gelandang, dia berperan mengamankan lapangan tengah. dan di depan ada penyerang yang bertugas membongkar pertahanan lawan.

Dalam sepakbola tiap pelatih menggunakan strategi dengan menempatkan beberapa pemain untuk mengisi pos-pos tertentu. bisa di bayangkan jika kerja profesionak mereka adalah mengambil dan menyelesaikan tugas masing-masing, maka setiap pemain yang mendapat kan bola akan memainkannya di wilayah masing-masing. dalam kondisi seperti ini kerja sama tim akan rusak dan gol yang menjadi tujuan bersama sangat sulit tercapai.

adapun yang menarik dari sepakbola adalah kesadaran setiap individu yang berada dalam tim adalah bagian dari tim. Lalu ada sebuah sikap dimana masing-masing memainkan peran atas tugas dan posisi yang dia tempati. setiap defender mempertahankan bola agar tidak  sampai penyerang lawan membobol gawang yang dijaga seorang kiper. Tiap defender berusaha agar kiper tidak lelah dalam menangkap bola meski mereka sendiri kelelahan. Dan kiperpun akan merasa bersalah jika dia tidak dapat mengamankan gawang dan sering kiper mengalami depresi karena rasa bersalah menjadi penyebab kekalahan karena tidak bisa mengamankan gawang dengan baik.

Demikian juga dengan gelandang. Penguasa lapangan tengah ini memiliki peran yang yang sangat vital. Dimana ada yang menjadi gelandang bertahan dan gelandang serang. Dan itulah peran yang mereka ambil sebagai gelandang. Gelandang serang akan naik membantu serangan meninggalkan lapangan tengah yang menjadi tugasnya. Namun ketika bola terlebas maka dengan cepat ia akan kembali keposisinya semula. Demikian juga dengan gelandang bertahan. Ketika sedang di gempur oleh lawan maka ia akan ikut berjibaku mengamankan gawang bersama defender dan ketika kemellut usai dan tim mulai membangun serangan maka ia akan kembali fokus mengamankan tengah lapangan karena masing-masing sadar akan tugas dan peran di tim. Ada sebuah kesadaran dari gelandang bertahan mereka harus segera kembali ke lapangan tengah agar para gelandang serang bisa membantu striker di garis depan. Terkadang juga karena jeli melihat peluang seorang defender tidak ragu melakukan overlap dan mencetak gol. Dia tidak khawatir meninggalkan posnya karena akan ada seorang gelandang bertahan yang akan mengisi lubang yang ia tinggalkan. Dan ketika kehilangan peluang biasanya sang defender akan berlari sekuat tenaga kembali kepada posisinya, meski ia tahu akan ada seorang gelandang bertahan yang menggantikan perannya di pos tersebut saat dia mengambil peran yang lainnya. Dan sungguh sebuah keja tim profesional. Semua kelihatan bahu-membahu.

Demikian juga idealnya kita dalam berkerjasama di posisi manapun dan tugas apapun dengan tujuan bersama yang ingin kita capai. Setiap bagian dari tim harus sadar akan posisinya di mana dan juga memiliki pengertian dan pemikiran yang matang terhadap peran yang diambil. Sebuah kerja sama yang indah ketika semua bagian dari tim saling mengisi dan tidak saling meyalahkan atas berbagai kekurangan dan kesalahan yang terjadi. Namun nasehatilah agar dia tidak mengulangi perbuatan yang salah dan mari saling mengisi. Dengan begitu sebuah kerjasama profesional akan terbentuk. Dan inilah esensi dari apa yang dalam islam dikatakan sebagai amal jama'i. Kerja-kerja jama'ah. dan mari kita menentukan peran yang akan kita ambil.

Monday, 11 April 2011

Membedakan Pemimpin dengan Jabatan Tertinggi Managerial


Ada sebuah kisah menarik yang coba saya kutip dari buku Quantum Leadership of King Sulaiman karya Rijalul Imam S. Hum, M. Si. berikut kisahnya.

Sebuah pelajaran menarik ingin penulis suguhkan dalam tulisan yang coba penulis uraikan ini. Seorang Direktur melakukan sebuah hal menarik dalam mengambil putusan di sebuah perusahaan besar di negara maju. Kala itu perusahaannya itu terkena dampak krisis global. Sang Direktur mengumpulkan semua karyawannya dan berkata "kalian semua harus jadi pemimpin". "Dimana seorang pemimpin adalah orang yang cermat melihat persoalan, bertanggung jawab atas keputusan yang di ambil, dan bersedia berkerja sama secara tim".
Penulis tidak ingin menceritakan kisah tersebut secara lengkap, karena dibuku tersebut memang sebegitu saja kisahnya. Jadi tidak ada yang mengarang-ngarang cerita.

Namun mari melihat kepada sosok pemimpin. Apa dan siapakah itu pemimpin. Kemudian siapa itu Direktur, Manager, Ketua, dan Ketua bidang. samakah antara Direktur dengan Ketua. Penulis yakin 70 % anda menjawab "ya". Ketua adalah pemimpin karena dia adalah orang nomor satu di dalam tim, dipilih untuk mengkomandoi semua bawahannya. Timbul pertanyaan di benak penulis. Apakah anda akan sepakat dengan apa yang penulis katakan. Saya tidak merasa yakin namun naluri saya cenderung mengatakan "ya, anda akan sepakat".

Coba anda simak dan resapi kata-kata berikut ini. "Peran perlu dibedakan dengan posisi secara managerial". Apa anda akan sepakat. Saya agak ragu namun ingin memastikan bahwa anda akan tidak menjawab karena ada sedikit ragu dan galau yang menyelimuti hati anda. Namun dengan yakin saya menyarankan anda untuk membedakan antara peran dan posisi managerial.

Saya pun merasa yakin bahwa ada pertanyaan lagi di hati anda, yakni "kenapa". Meskipun saya tidak berani meyakinkan diri saya tentang anda benar akan bertanya.

Mengapa saya menyarankan anda agar membedakan antara peran dengan posisi managerial. Karena saya ingin anda membedakan antara pemimpin dengan ketua atau direktur. Pemimpin adalah kata yang menunjukan objek penderita atau orang yang melakukan kegiatan memimpin.  Memimpin adalah sebuah kegiatan yang menunjukkan peran. Peran dari seseorang di manapun dia diposisikan. Sedangkan jabatan adalah posisi managerial semata. Ketua, direktur, dan posisi apapun bahkan staf sekalipun adalah posisi yang harus diisi oleh seorang pemimpin. Dan masing-masing memimpin pada porsi dan posisi masing-masing. Jadi saya ingin mengajak anda untuk berpikir pemimpin adalah peran. Dan saya mengajak anda untuk mengambil peran tersebut di manapun posisi anda. Sedangakan jabatan anda adalah posisi yang membuat anda memerankan diri anda pada posisi atau jabatan tersebut.

Lebih jelasnya coba anda simak penjelasan berikut. Seorang ketua, direktur, bahkan presiden sekalipun harus memainkan perannya sebagai pemimpin atas beberapa orang ketua bidang, manager, menteri, serta beribu-ribu staf mungkin. Seorang menteri, ketua bidang, manager memiliki bawahan yang harus dipimpin. Sedangakan staf berada pada mohon maaf jika anda tersinggung ingin saya katakan berada pada posisi managerial paling bawah. Namun ia adalah pemimimpin bagi dirinya sendiri. Dan kesadaran akan peran itulah yang membuat si staf dengan ikhlas akan berkerja , dan mencurahkan semua ide yang dia miliki untuk menyukseskan tugas dia sebagai staf. Dia harus memimpin dirinya agar keluar dari rasa bersalah, kecil dan rendah diri agar dapat berkerja secara maksimal. Nah demikian juga dengan seorang ketua bidang atau manager. Dia harus dapat memimpin dirinya agar menjadi bijak dan dapat memimpin bawahannya. Juga  harus dapat memimpin dirinya agar dapat  merespon apapun bentuk intervensi ataupun perintah dari ketua. Ketua bidang atau manager harus dapat memimpin dirinya keluar dari kemelut dan sikap dilematis. Dan memimpin dirinya untuk bersikap profesional dan menyelesaikan tugasnya. Dan pada posisi sebagai ketua atau posisi sebagai direktur maka dia harus dapat memimpin dirinya untuk dapat mengakomodir banyak pihak. Memimipin dirinya untuk membawa tim pada sebuah kesuksesan bersama.

Nah, dari sini akan nampak siapa saja yang berkarakter kepemimpinan. Nampak bukan dari posisi apa yang dia peroleh, namun dari peran apa yang yang dia ambil. Bisakah anda sepakat jika saya menarik konklusi tersebut.

Terserah sepakat atau tidak saya ingin memberikan sebuah ilusrasi lainnya. Saya ingin anda membayangkan sebuah lapangan bola dengan sebelas orang pemain di dalam team. Ada juga seorang pelatih di pinggir lapangan lengkap dengan asistennya. Kelihatan juga pemilik klub berada di tribun serta suporter.

Nah, sekarang coba anda pikirkan formasi apa yang yang cocok untuk klub tersebut. Ok saya menawarkan 442(baca empat-empat-dua). Dikabarkan posisi ini adalah formasi paling ideal dan paling fleksibel. Karena ada 4 orang di posisi bek atau pemain bertahan yang posisi dari mereka  di garis tiga atau pertahanan. Kemudian 4 orang gelandang yang berposisi di garis dua atau lapangan tengah. Dua orang penyerang sebagai line up atai di garis pertama meliputi wilayah pertahanan lawan dan area kiper di penalti area.

Jangan heran kenapa saya mencontohkan dengan permainan bola. hal itu karena menurut saya kerja sama team atau kerja berjamaah untuk kesuksesan bersama  ada di permainan bola.

apakah anda orang yang berpikiran bahwa kerja profesional adalah kerja di bidang masing-masing. atau kerja menurut spesialisais masing-masing. Mari kita kaji bersama-sama secara seksama. Saya mencoba menguraikan dan anda mencari jawabannya.

Jika anda berpikir bahwa kerja profesional adalah menyelesaikan tugas masing-masing, maka coba anda perhatikan ilustasi berikut. Para defender dalam sepak bola berkewajiban mengamankan garis pertahanan. Sedangkan kiper mengamankan gawang. Saya lupa mengantakan bahwa area kiper tidak boleh lewat dari kotak penalti. Jika anda tidak tahu apa itu kotak penalti maka silahkan browse di internet. Ketika dua orang penyerang yang bertugas meng obrak- abrik garis pertahanan lawan maka dua orang  penyerang akan kewalahan untuk menghadapi 4 orang  defender. Jika defender hanya mengamankan wilayahnya di garis 3 maka ketika masuk ke area kiper  dua orang penyerang dapat membuat kiper kencing dan dehidrasi terlebih dahulu sebelum dia mencetak gol pertamanya. Pertarungan yang adil hanya ada di lapangan tengah di mana ada 4 orang gelandang jika kedua tim yang berhadapan menggunakan formasi yang sama. Dan dengan liciknya para striker atau penyerang hanya berdiri di area kiper menunggu suplai bola dari lapangan tengah atau dari para gelandang untuk digolkan. Jika para gelandang berkerja profesional maka juga tidak akan ada gol yang tercapai karena wilayahnya ada di garis dua. Dan kerja sama tim untuk mencapai tujuan bersama tidak akan pernah terjadi.

Jadi saya ingin mengatakan kepada anda bahwa kerja profesional adalah sebuah kerjasama menurut spesialisasi masing-masing guna mencapai tujuan bersama. Jadi bukan berkerja menurut tugas masing-masing. Posisi gelandang adalah tugas sebagai penjaga lapangan tengah. Dan di lapangan tengah ada yang di sebut gelandang bertahan dan gelandang serang. Di mana setelah berusaha mempertahankan bola di lapangan tengah gelandang akan mengoper ke penyerang untuk mencapai apa yang disebut sebagai gol atau tujuan. Tentu penyerang akan kualahan menghadapi 4 defender sekaligus nah gelandang serang akan segera meninggalkan posisinya dari garis dua tengah lapangan untuk naik ke line up dan membantu serangan. Jika ada dua gelandang serang maka pertarungan akan imbang dan kecendrungan mencetak gol sangat besar. Sebalikanya ketika di serang, dengan sadar gelandang bertahan akan turun ke garis tiga membantu defender. Dengan begitu peluang lawan mencapai golnya dapat ditekan pada peluang terendah. Jika berhasil maka bola akan kembali ke lapangan tengah dengan sigap para gelandang bertahan mencoba mengiring bola ke depan dan gelandang serang kembali pada posisinya sebagai gelandang agar kemelut tetap terjadi di lapangan tengah. Di mana jauh dari gawang sendiri dan dekat ke gawang lawan. Dengan kata lain saya ingin membahasakan kepada anda tim dekat kepada kesuksesan, dan lebih jauh dari apa yang disebut kegagalan. Bukankah seperti itu posisi yang aman bagi sebuah tim sepak bola atau tim mana pun bak itu organisasi yang memiliki tujuan bersama.

Bisa di lihat juga terkadang tidak jarang seorang defender melakukan overlaping dan mencetak gol juga demi kemenangan tim. Bukan kemenangan si pencetak gol. Dan kegagalan kiper menangkap bola juga akan menyebabkan kekalahan tim. Bukan kekalahan dari kiper. Dan inilah kerjasama tim yang populer juga dengan sebutan kerja jamaah. Dan saya lupa menjelaskan ketika sang defender yang melakukan overlap kehilangan bola  maka dengan cepat dia berlari ke posisinya semual dengan sekuat tenaga dan sekencang mungkin. Dan dia akan menemukan seorang gelandang bertahan ada di posisinya. Menggantikan perannya. Hingga tim akan merasa aman. Dan si defender tahu betul setiap melakukan overlaping pasti akan ada gelandang bertahan yang akan  menggantikan lubang yang dia tinggalkan namun setiap kehilangan bola dia tidak akan berhenti namun tetap akan berlari keposisinya hingga tim kembali normal. Kerja sama yang sangat indah bukan.

Bagaimana anda masih berpikir tentang apa itu kerja profesional. Dan  anda masih bingung dengan kepemimpinan. Setelah ilustrasi dan penjelasan panjang lebar saya masihkah anda bingung.

Mari mengambil peran sesuai dengan posisi masing-masing dan coba untuk mengisi berbagai ruang kosong demi terciptanya stabilitas dan tercapainya tujuan dari tim. Tidak saling berlepas tangan seolah kesuksesan tim bukan tanggung jawab anda. Anda hanya perlu memastikan kerja anda di posisi anda sukses hingga ada kesan what the hell about the others. Jika anda masih merasa seperti itu maka nilai dari profesionalitas, persaudaraan dan kebersamaan belum hadir dalam diri anda. Dan kita yang seperti itu adalah kita yang belum paham makna dari kepemimpinan. Bukankah seperti itu.

Kadang banyak di antara kita enggan bersuara dan memberikan ide besar karena takut menjadi beban dan tanggung jawab. Namun merasa ide yang diberikan orang lain itu adalah tanggung jawab dia dan tidak ada hubungannya dengan kita. Sadar atau tidak kita sering bersuara “tentang hal itu saya tidak tahu menahu dan itu idenya si fulan. Tidak ada urusan dengan saya”. Adakah seperti itu. Tidak usah di jawab karena saya tidak perlu jawaban anda. Dan betapa kerdilnya pemikiran kita yang bersikap demikian. Enggan memberikan ide dan tidak mau membantu ide dari kawan kita, mungkin staf kita atau ketua kita.
Dan sekali lagi peran itu kita yang ambil. Sedangakan posisi itu diberikan orang lain atau orang yang kasih. Maka wajarlah ketika rasulullah nabi Muhammad SAW dalam hadisnya meminta untuk memilih pemimpin yang terbaik di antara yang terbaik jika tidak ada maka pilihlah yang paling sedikit mudharatnya. Itulah kriteria yang diberi. Bukan pemimpin yang terkuat yang dikriteriakan. Bukan pemimpin yang terpandai yang dikriteriakan. Namun yang terbaik. Artinya sesuai dengan kebutuhan. Bisa jadi yang terbaik itu adalah orang paling lemah diantara kamu hingga kamu yang kuat dengan sepenuh hati mendukung dan membela dia. Menyukseskan semua programnya. Membantunya dalam menyusun program jika kamu seorang yang pandai. Hingga tujuan bersama tercapai. Dan demi itu kamu rela berkorban untuknya.

Dan terbaik itu dapat diartikan orang terkuat jika kamu terdiri dari orang yang lemah. Hingga dia dapat membimbingmu menjadi kuat. Dapat melindungimu dari ganguan. Dan terbaik dapat berarti pintar jika kamu terdiri dari orang-orang bodoh. Hingga dia dapat membimbingmu kepada menjadi  pandai. Mencegahmu ditipu dan dibodohi orang lain. Seperti itulah peran kepemimpinan. Hingga tidak perlu untuk saling menyalahkan apalagi menyalahkan orang lain. Atau dengan licik berusaha agar terlihat tidak bersalah. Namun kesalahan haruslah menjadi pelajaran bagi semua. Saling terbuka dan melengkapi kekurangan. Karena seperti itulah yang terbaik. Satu hal yang ingin kembali penulis katakan yaitu "dimanapun posisi anda mainkanlah peran anda dengan sebaik mungkin". Karena itu yang akan membuat anda lebih berharga.

Saturday, 9 April 2011

Krisis BBM. Indonesia Belum Jadi Negara Mandiri

Indonesia belum mandiri, setidaknya secara Ekonomi. Tidak di ragukan lagi, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang besar. Sangat aneh ketika negeri ini malah menjadi negara yang miskin. Negara ini harus berhutang keluar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Padahal jika melihat usia negara ini yang lebih setengah abad maka ketinggalan jauh dari negara lain yang lebih muda.

Memang sudah jelas jawaban atas melorotnya ekonomi Indonesia. Betapa tidak pasca krisis ekonomi tahun 1997 Indonesia bangkit dengan lambat. Masalah kemiskinan, bahan bakar minyak, teroris, paket bom menghiasi media. Demikian juga dengan panggung politik Indonesia. Sangat amburadul dan sarat kepentingan sesaat dari politisi.

Indonesia mendadak menjadi negara dengan berbagai masalah. Bisa dikatakan kemampuan Indonesia dalam menyelesaikan masalah sangat buruk. Konflik Aceh menjadi satu-satunya masalah sosial yang terselesaikan setelah 32 tahun. Dan semenjak reformasi 1998 menjadi satu-satunya masalah besar yang terselesaikan.

Meski dikabarkan pertumbuhan ekonomi Indonesia naik dalam beberapa  tahun terakhir, namun tercatat jumlah warga miskin tidak mengalami penurunan. Sebuah blunder besar ketika perekonomian Indonesia meningkat karena kesuksesan pialang saham. Peningkatan diatas kertas atau statistik yang meyakinkan namun tidak di nikmati oleh rakyat kecil. Betapa ekonomi makro telah memanjakan negara dan melaratkan rakyat. karena yang menjadi penopang kesejahteraan rakyat adalah geliat dari ekonomi mikro.

Betapa rakyat di negeri yang kaya ini harus kembali menderita. Betapa tidak negara miskin di negeri yang kaya ini lebih memilih mengimpor produk dari luar negeri. Lebih tepatnya dari blog barat dari pada barang negeri. Dan lebih piciknya lagi, pembelian barang dari luar karena saran dari ekonom-ekonom di sekitaran kementrian keuangan. Contoh saja alutsista dari TNI dan POLRI. Betapa produk dalam negeri untuk meriam, senjata mesin, tank, panser bahkan pesawat terbang sudah ada di dalam negeri. Namun dengan saran dari para ekonom negara ini lebih memilih membeli dari Amerika atau kadang Rusia. Tergantung hubungan politik dari masing-masing negara. Efeknya para pabrik senjata di dalam negeri tidak berkembang. Padahal PT DIRGANTARA Indonesia memiliki pesawat herculles yang berkualitas yang selama ini juga di ekspor ke Filipina dan Korea. Pindad harus menjual senjatanya secara diam-diam. PT Pelni yang di kabarkan punya kemampuan membuat kapal selam namun belum bisa menghasilkan kapal selam. Sungguh ironi.

Beberapa pabrik fital di Aceh terpaksa ditutup. sebut saja AAF, PT KKA, Arun LNG dan PT PIM yang pasokan gas nya tersendat-sendat. Dan hampir semua kebijakan yang dikeluarkan berujung pada penjualan aset. Keputusan yang sangat bodoh yang di mulai masa presiden megawati. Yakni penjualan aset negara. Dan Indonesia dicatat pengekpor gas alam cair dan minyak mentah. Namum masih mengimpor minyak olahan. Jual bahan baku dan membeli barang jadi. Bukankah itu sebuah pilihan yang cerdas, dimana yang di timbulkan hanyalah kerugian. Dapat dibayangkan negara penghasil minyak mengalami kelangkaan BBM. Kenaikan BBM bertahap sampai dengan penyaisatan untuk mengurangi subsidi BBM. Indonesia benar telah menjadi negara yang lapar di dalam tumpukan makanan yang semakin hari juga semakin terkuras karena dikuasai orang dari rumah lain.

Solusi atau jalan keluar dari permasalahan Indonesia sekarang hanya satu. Yakni tampuk kepemimpinan di tangan yang tepat. yakni sosok yang tidak terikat dengan berbagai kepentingan politik golongan. Pemimpin yang memfokuskan diri pada masalah kerakyatan. Pemimpin yang menggunakan politik pelayanan sebagai cara dia memimpin. Bukan sibuk dengan berbagai pencitraan dan permasalahan internal yang dibuat oleh segelintir orang di belakang presiden yang menginginkan kekuasaan lebih. Dibutuhkan sosok tegas yang berani mengambil langkah besar keluar dari ketergantungan terhadap negara barat yang sebenarnya tidak terlalu perlu. Lebih tepatnya Indonesia dapat menjadi negara yang mandiri.