Thursday, 28 April 2011

Belajar Melatih Diri Dari Bakat Seorang Snipper


Setiap orang memilliki karakter tersendiri. Fitrah manusia untuk berbeda satu dengan lainnya. Baik dari segi tampang, tubuh, lirikan mata hingga pemikiran. Setiap orang juga dilahirkan dengan bakat yang berbeda-beda. 
Kemampuan dapat dilatih. Orang yang sering berlatih akan menuai kesuksesan. Demikian juga dengan bakat. Jika tidak pernah dilatih maka bakat itu akan kering. Namun orang yang tahu potensi dirinya. Memahami bakatnya dan melatihnya maka ia akan memberikan hasil yang sangat luar biasa. Karena bakat alami itu memang berbeda dengan keahlian yang di peroleh belakangan. Karena di ballik bakat itu ada instuisi yang memang secara naluriah bermain. Walaupun instuisi juga dapat di latih. Dan akan berkurang kemampuannya jika tidak digunakan. Insting semakin di asah maka ia akan semakin tajam. Contoh gampangnya antara kucing hutan dan kucing rumah. Instuisi dan daya survive keduanya sangatlah berbeda.

Bakat merupakan hal yang nyentrik. Spesial dan tidak dimiliki oleh orang lain. Contoh lain dari spesialisasi bakat dapat dilihat di dunia militer. Yakni sniper atau penembak jitu. Ada juga yang menyebutnya penembak gelap. Dalam satu batalyon tentara hanya akan ada beberapa orang snipper. Ketika masa pendidikan tidak semua tentara di jadikan snipper dan memegang snipper riffle. Hanya orang dengan bakat, insting membunuh, instuisi yang kuat serta kontrol emosi yang mumpuni yang akan dipilih. Perkara menembakkan peluru tidak hanya perkara membidikkan laras senjata tepat ke sasaran. Bisa jadi arah moncong senjata tidak tepat di dahi jika ingin menembak tepat di dahi. Hal itu karena turbulensi yang di akibatkan oleh angin, berat peluru dan momentum penembakan akan sangat mempengaruhi apakah peluru sampai ke sasaran atau tidak.

Bakat menembak, itulah yang membuat snipper berbeda dari personil lainnya. Seorang snipper harus memiliki insting membunuh yang kuat. Hal ini berkaitan dengan apakah ia akan menarik pelatuknya atau tidak ketika sasaran sudah terkunci. Hal ini berkaitan dengan mental. Kemudian seorang sniper harus bisa merasakan arah dan kecepatan angin. Mengira dengan cermat sudut peluru dengan sasaran. Karena kemungkinan untuk peluru meleset, atau berbelok sekian inci karena angin tidak bisa di abaikan. Dan snipper juga harus bisa mengendap untuk menyelamatkan diri. Berada pada posisi yang tidak di duga oleh lawan. Stamina yang tinggi hingga ia sangat di takuti oleh pasukan yang lain dalam medan perang.

Para snipper juga tidak cukup berbekal bakat saja. Ia harus ikut program pelatihan khusus. Agar dia terbiasa menembak. Snipper dilatih menembak pada jarak tertentu yang terus ditingkatkan ketika dia sudah yakin dapat menembak dengan tepat pada sasaran dengan jaraj tertentu. Dengan kata lain dalam latihan snipper dibiasakan menembak tepat sasaran hingga ia terbiasa menembak dengan baik dan yakin setiap kali menembak.

Lalu apa yang dapat di pelajari dari kisah latihan snipper itu tadi. Bahwa kita memiliki kemapuan yang berbeda yang membuat kita lain. Hanya saja bagaimana kita memahaminya dan melatihnya. Hingga kita terbiasa dan yakin untuk bisa. Tidak terbeban lagi ketika harus mengeksekusi suatu perkerjaan.
Sering orang apatis karena tidak mencoba membiasakan dirinya. Orang berhasil setelah gagal berulang-ulang. Dan ketika gagal tidak menyerah serta terus mencoba akan memberikan latihan tersendiri.

Nah demikian juga dalam hal ikhlas. Kita akan ikhlas ketika dalam mengerjakan apapun saat kita tidak merasa terbebani dengan perkerjaan kita. Sangat sulit untuk ikhlas jika tidak di latih dengan membiasakan diri ikhlas. Meski di awalnya berat, setelah terbiasa maka itu tidak akan lagi jadi hal yang memberatkan. Malah dengan yakin kita akan melakukan perkerjaan yang diamanahkan. Stiap orang memiliki potensi untuk ikhlas, amanah, peka dengan kondisi lingkungan. Karena itu memang sifat alamiah dasar manusia. Hanya saja bagaimana kita membiasakan diri untuk terus seperti itu. Hingga kondisi tersebut menjadi bagian dari kita. Mental dan fisik kita sudah mendukung. Hingga apapun tantangannya akan terhadapi dengan kemampuan semaksimal mungkin dan ikhlas.

Dan dengan menjadi pribadi yang demikianlah kita akan berbeda dengan manusia lainnya yang hidupnya cenderung apatis. Tidak peka lingkungan. Mereka sama dengan tentara pada umumnya. Dan jadilah diri yang berbeda dari lainnya secara kualitas diri dengan berusaha sebaik mungkin dan membiasakan diri untuk berusaha. Karena itulah yang membuat kita berbeda. Dan itulah kunci untuk sukses.

No comments:

Post a Comment