Saturday, 9 April 2011

Krisis BBM. Indonesia Belum Jadi Negara Mandiri

Indonesia belum mandiri, setidaknya secara Ekonomi. Tidak di ragukan lagi, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang besar. Sangat aneh ketika negeri ini malah menjadi negara yang miskin. Negara ini harus berhutang keluar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Padahal jika melihat usia negara ini yang lebih setengah abad maka ketinggalan jauh dari negara lain yang lebih muda.

Memang sudah jelas jawaban atas melorotnya ekonomi Indonesia. Betapa tidak pasca krisis ekonomi tahun 1997 Indonesia bangkit dengan lambat. Masalah kemiskinan, bahan bakar minyak, teroris, paket bom menghiasi media. Demikian juga dengan panggung politik Indonesia. Sangat amburadul dan sarat kepentingan sesaat dari politisi.

Indonesia mendadak menjadi negara dengan berbagai masalah. Bisa dikatakan kemampuan Indonesia dalam menyelesaikan masalah sangat buruk. Konflik Aceh menjadi satu-satunya masalah sosial yang terselesaikan setelah 32 tahun. Dan semenjak reformasi 1998 menjadi satu-satunya masalah besar yang terselesaikan.

Meski dikabarkan pertumbuhan ekonomi Indonesia naik dalam beberapa  tahun terakhir, namun tercatat jumlah warga miskin tidak mengalami penurunan. Sebuah blunder besar ketika perekonomian Indonesia meningkat karena kesuksesan pialang saham. Peningkatan diatas kertas atau statistik yang meyakinkan namun tidak di nikmati oleh rakyat kecil. Betapa ekonomi makro telah memanjakan negara dan melaratkan rakyat. karena yang menjadi penopang kesejahteraan rakyat adalah geliat dari ekonomi mikro.

Betapa rakyat di negeri yang kaya ini harus kembali menderita. Betapa tidak negara miskin di negeri yang kaya ini lebih memilih mengimpor produk dari luar negeri. Lebih tepatnya dari blog barat dari pada barang negeri. Dan lebih piciknya lagi, pembelian barang dari luar karena saran dari ekonom-ekonom di sekitaran kementrian keuangan. Contoh saja alutsista dari TNI dan POLRI. Betapa produk dalam negeri untuk meriam, senjata mesin, tank, panser bahkan pesawat terbang sudah ada di dalam negeri. Namun dengan saran dari para ekonom negara ini lebih memilih membeli dari Amerika atau kadang Rusia. Tergantung hubungan politik dari masing-masing negara. Efeknya para pabrik senjata di dalam negeri tidak berkembang. Padahal PT DIRGANTARA Indonesia memiliki pesawat herculles yang berkualitas yang selama ini juga di ekspor ke Filipina dan Korea. Pindad harus menjual senjatanya secara diam-diam. PT Pelni yang di kabarkan punya kemampuan membuat kapal selam namun belum bisa menghasilkan kapal selam. Sungguh ironi.

Beberapa pabrik fital di Aceh terpaksa ditutup. sebut saja AAF, PT KKA, Arun LNG dan PT PIM yang pasokan gas nya tersendat-sendat. Dan hampir semua kebijakan yang dikeluarkan berujung pada penjualan aset. Keputusan yang sangat bodoh yang di mulai masa presiden megawati. Yakni penjualan aset negara. Dan Indonesia dicatat pengekpor gas alam cair dan minyak mentah. Namum masih mengimpor minyak olahan. Jual bahan baku dan membeli barang jadi. Bukankah itu sebuah pilihan yang cerdas, dimana yang di timbulkan hanyalah kerugian. Dapat dibayangkan negara penghasil minyak mengalami kelangkaan BBM. Kenaikan BBM bertahap sampai dengan penyaisatan untuk mengurangi subsidi BBM. Indonesia benar telah menjadi negara yang lapar di dalam tumpukan makanan yang semakin hari juga semakin terkuras karena dikuasai orang dari rumah lain.

Solusi atau jalan keluar dari permasalahan Indonesia sekarang hanya satu. Yakni tampuk kepemimpinan di tangan yang tepat. yakni sosok yang tidak terikat dengan berbagai kepentingan politik golongan. Pemimpin yang memfokuskan diri pada masalah kerakyatan. Pemimpin yang menggunakan politik pelayanan sebagai cara dia memimpin. Bukan sibuk dengan berbagai pencitraan dan permasalahan internal yang dibuat oleh segelintir orang di belakang presiden yang menginginkan kekuasaan lebih. Dibutuhkan sosok tegas yang berani mengambil langkah besar keluar dari ketergantungan terhadap negara barat yang sebenarnya tidak terlalu perlu. Lebih tepatnya Indonesia dapat menjadi negara yang mandiri.

No comments:

Post a Comment