Saturday, 21 May 2011

Sedikit Tentang Pikiran dan Pemikiran


Pikiran adalah hasil dari penalaran otak. Dimana setiap informasi masuk di olah hingga menghasilkan sebuah pengetahuan. Orang perlu memutar otak terkadang untuk berpikir. Tergantung dari berat tidaknya masalah yang harus dipecahkan. Dan beban itu sepenuhnya di tanggu otak sebagai pusat informasi. Dan analisa otak di sebuat dengan akal. Manusia hanya dapat berpikir sehat jika masih memiliki akal sehat.

Pisau analisa yang dipakai otak sebagai  landasan dalam mengeluarkan ide-ide atau pikiran-pikiran adalah pemikiran. Jika pikiran sifatnya informasi atau berupa output, pemikiran berada pada posisi alat atau tools. Seseorang akan cenderung berpendapat tentang suatu hal secara objektif ataupun subjektif menurut landasan pemikiran yang di milikinya. Dan hal sepeti ini naluriah terjadi.

Pemikiran itu sendiri juga merupakan buah dari pikiran. Hanya saja pikiran tersebut sudah dipakai menjadi landasan berpikir. Mudahnya seperti ini. Seseorang mengutarakan pikirannya tentang penyebab masalah sosial adalah karena konflik perekonomian, hingga timbul apa yang disebut dengan kesenjangan sosial. Ketika terjadi sebuah konflik antar suku misalnya, orang lain yang menggunakan pikiran tadi di atas sebagai landasan berpikirnya (menjadi sebuah pemikiran) maka orang tersebut akan mengatakan bahwa menurut pendapat dia adanya konflik tersebuat di karena kan adanya ketidak adilan ekonomi antara kedua suku yang menyebabkan kedua belah pihak berseteru memperebutkan keadilan menurut persepsi masing-masing. Dan persepsi dari  masing-masing pihak yang bertika itupun merupakan pikiran yang dilandasi oleh pemikiran masing-masing atas makna dari keadilan.

Pemikiran sering kali menjebak. Begitu banyak juga orang yang terjebak dalam pikirannya sendiri. Faktor penyebabnya itu landasan pemikiran yang di gunakan sebagai pisau analisis itu tadi. Kebanyakan dari kita enggan menerima pikiran orang lain karena berbentur dengan pemikiran yang ada pada diri kita. Hingga kecenderungan bertahan pada posisi tersebut dan mencari alasan untuk tetap pada pikiran kita sendiri. Merasa pikiran tersebut sudah hebat dan itulah yang benar. Namun semua itu alamiah. Karena landasan berpikir sifatnya sangat mengakar dan paradigma berpikir hanya dapat di ubah melalui diskusi dan bisa jadi perdebatan yang alot. Perdebatan yang bisa menghasilkan permusuhan malah, jika otak masih belum dapat berepikir jernih, rasional serta tidak emosional.

Kebenaran dari pemikiran manusia sangatlah relatif. Oleh karenanya sangat tidak benar percaya begitu saja pada satu pemikiran. Setiap kita haruslah mencari ilmu yang banyak untuk landasan pemikiran. Dengan begitu kita akan lebih rasional dan objektif. Karena objektif adalah hasil terbaik dari pkiran-pikiran yang muncul. Jika ingin mengetahui pendapat yang mutlak benar maka jawabannya itu ada pada Al-Quran dan Al Hadist. Untuk saat ini dan selamanya hanya pendapat dari sumber keduanya yang absolut. Karena berasal dari Allah dan Rasul (utusan) Allah. Dan satu-satunya tuhan yang patut untuk di sembah itulah Allah.

Kebanyakan kita terjebak dalam kejumudan. Hingga tidak lagi  mau menerima pemikiran dari orang lain. Sering orang terkukung dalam sempitnya landasan pemikiran yang digunakan oleh dirinya. Mengira sudah berpikir realistis dan menolak kemungkinan lain yang patut diperjuangkan. Melihat contoh dari mayoritas atau bahkan dari minoritas lalu memberikan  justifikasi semua orang itu sama. Padahal ketika kita terkungkung dalam sempitnya pikiran-pikiran kita. Enggan menerima pemikiran orang lain yang mengatakan perubahan sebagai landasan berpikir yang patut diperjuangkan. Maka tanpa kita sadari kita telah tertinggal jauh sedangkan orang lain telah berada pada tempat yang tidak sanggup kita jangkau bahkan dengan pemikiran kita. Dan kesadaran akan seperti itu baru akan terjawab ketika pemikiran dari orang lain tersebut sudah menampakkan hasil yang nyata dan dapat dinikmati. Dan dapat dipastikan orang yang terjebak dalam perasaan sudah berpikir relistis kebanyakan berkarakter pragmatis dan senderung materialis dalam menilai. Tidak melihat dan tahu makna dari sebuah proses. Melulu melihat pada hasil yang instan.

Memiliki banyak referensi pemikiran sebagai dasar pisau analisis sangatlah perlu. Walaupun akhinya satu pemikiran yang cocok dengan kita yang akan kita gunakan. Namun penting untuk mencoba dinamis dalam berpikir. Terkadang tidak mampuan nalar pribadi menyebabkan kita terjebak dengan pendapat  kemustahilan melakukan sesuatu. Suatu hal yang sebenarnya bukan tidakmungkin, hanya saja kita tidak mau percaya atau nalar pikiran kita yang tidak sanggup kearah tersebut. Dan kondisi tersebutlah yang membuat terkukung dan terjebak dalam suatu stigma atau pikiran. Hingga kita menganggap pikiran kitalah yang briliant. Padahal dimata orang-orang yang lebih dinamis pemikiran kita telah ketingalan jauh. Dan orang yang berpikir dinamis tidak pernah meremehkan orang lain kerna orang seperti ini sifatnya pembelajar dan sangat mudah untuk menghormati pendapat lain. Orang yang sombong dan merasa benar hanya berasal dari kalangan orang-orang yang terjebak dalam pemikiran yang sempit.

Berbicara berpikir luas dan logis maka syarat mutlak untuk berada di level tersebut adalah memperbanyak referensi diri. Baik pemikiran dari buah pikir manusia yang relatif, muapun landasan berpikir dari Allah. Keseimbangan antara nalar akal dan wahyu akan membuat kita tidak terjebak dalam sempitnya suatu pemikiran serta tidak pula tersesat terlalu jauh karena kita mengerti batasan-batasan yang menjadi tolak ukur dalam berpikir. Karena apapun ceritanya fakta membuktikan rasionlisasi akal selaras dengan rasionalisasi wahyu(intelektualitas profetik). Hanya saja terkadang akal tersesat jauh ketika tidak mempedomani wahyu sebagai landasan berpikir. Mari kritis dan berpikir lebih dinamis, hingga ada kesempurnaan dalam menghasilkan ide-ide.