Friday, 12 August 2011

Sistem negara ideal, landasan kemajuan bangsa


Berbicara negara maka bebicara sistem. Konsep bagaimana negara di jalankan. Proses organisasi dalam negara. Maka berbicara negara tidak dapat di pisahkan dari ideologi serta pemikiran tentang negara. Konsep yang tepat terhadap sebuah sistem akan menghasilkan pencapaian yang sempurna. Di mana akan ada kemajuan di berbagai bidang ketika sistem yang tepat berlaku dan menjadi sistem positif yang dapat mendukung berbagai aspek pendorong kearah bangsa maju.

Diperlukan sistem yang baik untuk menjadikan negara sebagai prototipe kehidupan yang baik dan madani( civil society). Suatu kondisi di mana kehidupan berbangsa bernegara yang harmonis dalam hubungan bermasyarakat (antar warga negara) dengan mengenyampingkan berbagai macam perbedaan. Kondisi di mana negara tidak perlu lagi mengharap sokongan dari negara lain karena sudah mampu mandiri bahkan menjadi sokoguru peradaban bagi bangsa lain.

Sebuah sistem dalam menjalankan negara sangat menentukan wajah dari negara. Sedangkan sosok pemimpin hanya representasi dari sistem. Seorang pemimpi dapat menjadi otoriter ketika sistem negara tersebut memungkinkannya untuk bersikap demikian. Hal itu karena sifat-sifat  manusia seperti tamak dan serakah atau baik, adil serta zuhud  adalah perwujudan  sikap yang merupakan hal yang alamiah terjadi. Skap tersebut bisa di ambil atau di hindari sesuai dengan kehendak dari pemimpin.

Dari berbagai sistem yang di gunakan banyak kekurangan yang akhirnya menjadikan situasi negara menjadi oligarkhi dengan sistem yang bisa dikatakan kacau balau. Dalam proses perjalanan negara berbagai kondisi negara akan berputar dan mengecap situasi yang berbeda-beda. Hal itu bisa di sebabkan sikap yang di ambil pemimpin atau sebagai sesuatu yang alamiah saat negara mencoba sistem-sistem baru yang di anggap ideal namun belum atas kajian yang sempurna sehingga situasi negara menjadi amburadul.

Diperlukan sistem yang mengutamakan akal pikiran serta intelektualitas yang menyeluruh dalam setiap aspek dan komponen kenegaraan sebagai logika pemikiran para pelaku negara. Sebuah sistem yang  hanya dapat di jalankan ketika semua komponen dalam negara memiliki intelektualitas yang sama dalam menyikapi sistem. Dan di lihat dari proses pembangunan maka inti dari sistem tersebut adalah pemahaman rakyat yang menyeluruh terhadap sistem dan prosesnya di mulai dari membentuk  pemahaman di tengah masyarakat. Sistem tersebut mampu mengatur aspek mulai dari hukum, pendidikan, moral, dan agama sebagai suatu kesatuan universal yang menjadi pilar utama bagi proses berbangsa bernegara. Baik dalam pengambilan sikap politik maupun menyikapi kemajuan pembangunan ekonomi maupun industri dan teknologi.

Sistem yang paling humanis adalah sistem yang mampu mengedepankan intelektualitas sebagai landasan logika berpikir dan bertindak. Dimana yang akan menjadi  patron tidak hanya suara mayoritas, namun suara minoritas juga dapat menjadi patron ideal bahkan suara dari perorangan atau individu dapat menjadi tumpuan bersama ketika pendapat tersebut di anggap paling rasional dan menimbulkan lebih banyak maslahat atau kebaikan. Dan semua orang tidak akan berpendirian pada segala macam bentuk egonya baik secara individual ataupun kolektif karena memiliki tingkat intelektualitas yang sama terhadap sistem dan pemikiran mereka telah terasionalkan sehingga dapat menerima berbagai pendapat dan yang muncul hanya penilaian secara bijak.

Akan berefek jelek ketika sebuah negara yang memakai sistem instan dengan cara mengadopsi karena banyak hal yang seharusnya tidak terjadi namun tidak dapat di antisipasi. Dalam sistem negara monarkhi sangat memungkinkan seorang raja menjadi ambisius dan kecemburuan antara keluarga raja menimbulkan perebutan kekuasaan sehingga rakyat cenderung terkorbankan oleh obsesi sang raja. Obsesi zhalim sang raja serta sistem yang mendukung akan membuat sikap otoriritarian akan teus berlanjut dengan kekuasaan raja yang absolut. Demikian juga dengan sistem demokrasi ketika masyarakat masih buta politik akan menyebabkan sekelompok orang pintar naik tahta merekayasa kondisis sosial dengan bebagai pencitraan dan akan berakibat buruk bagi warga negaranya. Potensi rakyat  di bodoh-bodohi sangat memungkinkan mengingatkan mengingat sistem demokrasi bersifat instan dan di adopsi oleh negara, akan sangat berbahaya dalam kondisi intelektualitas masyarakat yang belum mampu berada dalam sistem.

Seorang negarawan muslim yang juga ulama said hawwa mengatakan” jika ingin membentuk negara islam maka islamkanlah bangsa yang ada dalam negara tersebut. ini menjelaskan sikap beliau dalam membentuk sistem negara islam maka ada tugas memberi pemahaman tentang islam kepada semua masyarakat. Dan sistem akan berjalan ketika semua bangsa dalam negara sudah dalam islam. Maka dalam islam sebagai sebuah sistem yang juga mengatur tata negara dengan sistem tata negara islam dengan aturan dan hukum islam maka ketika semua sudah islam dapat di artikan sebagai masyarakat sudah berada dalam rasionalitas pemikiran dan intelektualitas yang sama dalam berbangsa dan bernegara. Ketika hal tersebut terjadi maka konflik-konflik horizontal (antar warga negara) serta konflik vertikal ( rakyat dengan pemimpin)  dapat di hindari. Dengan sistem yang fleksibel dan seimbang akan membuat rakyatnya hidup dalam kondisi yang aman dalam keadilan dan kesejahteraan, civil societypun dapat menjadi kenyataan dan negara akan menjadi kuat di bawah sistem yang tepat.

Negara sangatlah bergantung pada keberadaan rakayat, namun dalam kondisi tertentu terkadang Negara tidak terlalu di butuhkan. Hal ini terjadi ketika kondisi dalam negara sudah stabil. Seperti masa Umar Bin Abdul Aziz, kepemimpinan beliau meruakan bukti dari sebuah sistem yang tidak instan. Dimana rakyat sudah cukup makmur sampai dalam negaranya sangat sulit menemukan orang yang pantas menerima Zakat. Artinya setiap orang sudah mapan. Pada akhirnya negara berfungsi sebagai penghubung antar beberapa negara. Menjadi identitas yang tidak universal. Dalam sempitnya sebuah nasionalisme kenegaraan.

Kembali kepada  negara yang kondisinya stabil dikarenakan kesadaran warganya terjadi di negara Madinah. Yang di pimpin oleh seorang Rasul bernama Muhammad SAW. Sosok yang telah di nobatkan sebagai pemilik strategi perang  terbaik (memenangi semua peperangan yang ia lalui). Dan juga sebagai pemimpin paling berpengaruh. Tercatat di negara madinah tidak memiliki Bendahara Negara. Namun negara tetap berjalan bahkan jadi pilot project Negara Impian. Betapa tidak semua orang di negara tersebut memiliki jiwa negarawan yang tinggi. Tiap individu menghormati semua perbedaan. Semua individu sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Mereka tidak lagi bergantung pada negara. Bahkan penyebab negara tidak ada pemegang kas adalah karena memang negara madinah tidak memiliki Kas resmi negara. Setiap kebutuhan negara di tanggung oleh individu-individu. Setiap warga negara memiliki kesadaran bernegara yang sangat tinggi. Begitulah bentuk negara ideal. Negara dengan sistem yang di tanam dari grassroot. Buka sekedar copy n paste, lalu mencoba menerapkannya.

Tuesday, 2 August 2011

Provokasi Media Terhadap Islam, Sikapi Dengan Bijak


Globalisasi memang tidak dapat kita bendung lagi. Arusnya begitu kuat menghantam setiap segi kehidupan manusia. Karena kuatnya sehingga tidak mungkin kita bisa menghindar darinya. Secara kasat mata perubahan besar ini sangatlah banyak membawa manfaat bagi kita semua. Mulai dari informasi yang tadinya tersembunyi dapat muncul kepermukaan. Ilmu pengetahuan yang sebelumnya belum banyak diketahui dan belum mengalami perkembangan secara signifikan dapat kita modifikasi dan manipulasi demi kemudahan hidup manusia. Semua perkembangan itu tentu tidak dapat kita pungkiri adalah akibat dari peran besar yang dimainkan oleh media.

Tanpa kita sadari dan tanpa dapat kita tolak keberadaannya. Media menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan globalisasi. Dalam teori politik dikenal tiga pilar negara yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Namun, ternyata media menjadi kekuatan yang disebut-sebut sebagai pilar keempat. Begitu dahsyatnya peran yang dilakoni oleh media, sehingga timbul istilah ‘jika menguasai informasi sama dengan menguasai dunia’. Tentunya istilah ini bukan hanya isapan jempol belaka. Ini jelas terbukti dan dapat kita lihat disekeliling lingkungan kita.

Dunia Islam yang merupakan salah satu bagian dari komunitas dunia ini, juga tidak terlepas dari pengaruh globalisasi. Hal ini dapat kita lihat dari sedikit banyaknya perkembangan Islam sejak 14 abad lalu hingga sekarang. Sekali lagi media memainkan perannya yang tidak kecil. Semua informasi perkembangan seputar dunia Islam dapat kita lihat dan dengar sebagai bagian dari kerja media. Seperti koin yang bermata dua. Media juga mempunyai dua sisi yang saling berlawanan.

Hitam dan putih. Baik dan buruk. Merupakan dua sisi media yang tidak mungkin kita hilangkan. Mengapa dikatakan baik? Karena dengan media dunia, dapat mengetahui Islam sebagai salah satu prinsip hidup yang sangat sempurna dan telah terbukti pada zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Dan juga tidak tertutupi kemungkinan akan berhasil juga pada era modern ini. Lalu bagaimana dengan sisi satu lagi? Mengapa media itu bisa berdampak negatif bagi Islam? Hal ini dibuktikan dengan pemberitaan media yang berat sebelah. Dalam artian media tidak menilai Islam secara keseluruhan, namun keparsialan cara pandang dijadikan rujukan bagi media dalam menilai Islam.

Salah satu contohnya adalah konsep jihad dalam Islam. Media menjadikan konsep ini sebagai tolak ukur untuk menimbang dan menilai Islam, termasuk juga dengan orang-orang yang menjadikan Islam sebagai agamanya. Kekerasan dan perang dikatakan sebagai sarana penyebarannya keseluruh dunia. Begitulah media menilai Islam sebagai agama kekerasan. Agama teroris menjadi label bagi Islam yang diberikan oleh media. Padahal kebenaran dari esensi jihad bukan lah demikian. Tidak seperti yang di beritakan media.

Sebagai bagian kecil dari komunitas pemeluk “Agama Teroris”, sudah selayaknya kita membersihkan hal-hal negatif yang melekat pada Islam. Kemuliaan dan kebanggaan sebagian pemeluk Islam haruslah menjadi bahan bakar diri kita dalam membela Islam. Wajah mulia Islam dicoreng dengan arang hitam didepan mata kita sendiri. Hal ini tentunya tidak dapat kita biarkan begitu saja. Namun juga tidak mungkin kita bertindak melebihi garis yang telah dibuat oleh Allah sebagai pemilik agama ini. Dalam bertindak tentunya tidak terlepas dari syariat-syariat seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Karena islam bukanlah teroris seperti yang merka gambarkan. Hanya saja mereka teralu takut terhadap perkembangan agama yang mulia dan semurna. Dan perlu di ingat dan di catat merka tidak akan senang, serta akan terus melakukan propaganda hingga tiap muslim kembali sesat dan mengikuti ilah meraka.

Bisa di simak bagaimana Anders Behring Breiviks yang membantai 70 orang di Norwegia. Dia adalah seorang fasis kristen dan dia membunuh orang yang bertanggung jawab atas penyebaran islam. Anehnya dalam proses hukum di carikan alibi untuk dinyatakan gila dan tidak dihukum. Padahal dia telah membantai 70 muslim dengan alasan menyelamatkan eropa dari islam. Mereka sedemikian hinanya menjelek-jelekkan islam. Dan terus mendiskreditkan islam. Konpirasi itu terlihatnya.

Sebagai pemuda Islam, seharusnya hal ini menjadi perhatian khusus kita. Sebagai generasi yang membawa perubahan dan pembaharuan tentunya kita tidak akan ridho dengan keadaan ini. Sungguh mereka yang secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi menentang Islam sejatinya belum mengenal Islam secara keseluruhan. Inilah tugas utama kita sebagai generasi muda Islam. Menyadarkan semua manusia tentang hakikat kebenaran Islam.

Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah memberikan keteladanan yang baik terhadap dunia dalam memandang Islam. Sungguh ini adalah hal yang paling utama yang bisa kita lakukan. Karena ini menjadi jendela bagi semua orang untuk merasa dan bahkan mungkin tertarik untuk menjadi salah satu pemeluk Islam. Bagaimana mungkin orang akan tertarik jika tidak ada keteladanan yang baik Islam sendiri.

Tidak usah susah mencari teladan yang layak. Pribadi besarnya sudah diakui oleh para sahabat maupun orang-orang yang dulu menentang ajaran yang dibawanya. Dialah Muhammad saw. Seorang pemuda yang terlahir ditengah kerasnya kehidupan jahiliyah Makkah pada waktu itu. Namun pribadi istimewa ini sedikitpun tidak pernah ternodai dengan segala bentuk kejahiliyahan yang ada. Muhammad bukanlah orang yang dulunya sering melakukan kesalahan dan kemudian kembali ke jalan yang lurus. Disinlah kekuasaan Allah berperan. Allah menjaga keturunan yang mulia ini bersih dari noda jahiliyah.

Jika kita cermati lebih dalam tentang globalisasi sekarang. Maka akan kita temui satu kenyataan. Yaitu tiadanya keteladanan dalam memanajemen perkembangan yang ada. Kerusakan yang ditimbulkan justru menjadi sangat besar ketimbang manfaat yang dapat diambil. Krisis moral mungkin sebutan yang pantas kita berikan pada generasi muda sekarang. Namun jangan sampai hal ini terjadi pada generasi muda muslim. Sangat disayangkan bahwa keteladanan agung itu perlahan menghilang dari pribadi kita. Tersilaukan oleh gemerlap cahaya materialisme dan hedonisme.

Sesungguhnya, Islam adalah agama yang sangat fleksibel disetiap zaman dan waktu. Perkembangan teknologi bukan malah makin mempersempit ruang gerak Islam. Justru dengan menggunakan petunjuk yang secara gamblang dijelaskan dalam al-quran dan sunnah, perkembangan ini dapat kita manfaatkan untuk kebaikan. Begitu juga dengan hal-hal yang pada waktu itu tidak ada namun sekarang ada, Islam tidak menutup mata akan hal ini. Selama masih dalam koridor syariat, maka Islam akan menyambutnya dengan senyum mengembang. Tapi, jangan coba-coba untuk melakukan hal yang diluar syariat. Islam tegas pada siapapun tanpa pandang bulu.

Sudah seharusnya kita sebagai generasi muda Islam berpikir dan bertindak sesuai dengan batas yang telah ditetapkan. Tidak lebih dan tidak kurang. Islam adalah agama perdamaian. Namun tegas terhadap pelanggaran. Islam agama yang turun dari langit. Namun menyentuh nurani manusia. Islam agama persatuan. Namun tidak menafikan perbedaan yang ada. Semuanya telah diatur oleh Allah, disampaikan melalui lisan nabi-Nya dan dicatat dalam kitab-Nya Al-Quran. Agama ini akan terus ada, karena yang menjaganya adalah Allah Sang Maha Menjaga. Cahaya Islam tidak akan pudar. Zamanlah yang mengikuti Islam, bukan sebaliknya. Manusialah yang membutuhkan Islam. Dunialah yang membutuhkan Islam. Islam akan terus ada selama kehendak Allah.

Provokasi Media Terhadap Islam, Sikapi Dengan Bijak


Globalisasi memang tidak dapat kita bendung lagi. Arusnya begitu kuat menghantam setiap segi kehidupan manusia. Karena kuatnya sehingga tidak mungkin kita bisa menghindar darinya. Secara kasat mata perubahan besar ini sangatlah banyak membawa manfaat bagi kita semua. Mulai dari informasi yang tadinya tersembunyi dapat muncul kepermukaan. Ilmu pengetahuan yang sebelumnya belum banyak diketahui dan belum mengalami perkembangan secara signifikan dapat kita modifikasi dan manipulasi demi kemudahan hidup manusia. Semua perkembangan itu tentu tidak dapat kita pungkiri adalah akibat dari peran besar yang dimainkan oleh media.
Tanpa kita sadari dan tanpa dapat kita tolak keberadaannya. Media menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan globalisasi. Dalam teori politik dikenal tiga pilar negara yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Namun, ternyata media menjadi kekuatan yang disebut-sebut sebagai pilar keempat. Begitu dahsyatnya peran yang dilakoni oleh media, sehingga timbul istilah ‘jika menguasai informasi sama dengan menguasai dunia’. Tentunya istilah ini bukan hanya isapan jempol belaka. Ini jelas terbukti dan dapat kita lihat disekeliling lingkungan kita.
Dunia Islam yang merupakan salah satu bagian dari komunitas dunia ini, juga tidak terlepas dari pengaruh globalisasi. Hal ini dapat kita lihat dari sedikit banyaknya perkembangan Islam sejak 14 abad lalu hingga sekarang. Sekali lagi media memainkan perannya yang tidak kecil. Semua informasi perkembangan seputar dunia Islam dapat kita lihat dan dengar sebagai bagian dari kerja media. Seperti koin yang bermata dua. Media juga mempunyai dua sisi yang saling berlawanan.
Hitam dan putih. Baik dan buruk. Merupakan dua sisi media yang tidak mungkin kita hilangkan. Mengapa dikatakan baik? Karena dengan media dunia, dapat mengetahui Islam sebagai salah satu prinsip hidup yang sangat sempurna dan telah terbukti pada zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Dan juga tidak tertutupi kemungkinan akan berhasil juga pada era modern ini. Lalu bagaimana dengan sisi satu lagi? Mengapa media itu bisa berdampak negatif bagi Islam? Hal ini dibuktikan dengan pemberitaan media yang berat sebelah. Dalam artian media tidak menilai Islam secara keseluruhan, namun keparsialan cara pandang dijadikan rujukan bagi media dalam menilai Islam.
Salah satu contohnya adalah konsep jihad dalam Islam. Media menjadikan konsep ini sebagai tolak ukur untuk menimbang dan menilai Islam, termasuk juga dengan orang-orang yang menjadikan Islam sebagai agamanya. Kekerasan dan perang dikatakan sebagai sarana penyebarannya keseluruh dunia. Begitulah media menilai Islam sebagai agama kekerasan. Agama teroris menjadi label bagi Islam yang diberikan oleh media. Padahal kebenaran dari esensi jihad bukan lah demikian. Tidak seperti yang di beritakan media.
Sebagai bagian kecil dari komunitas pemeluk “Agama Teroris”, sudah selayaknya kita membersihkan hal-hal negatif yang melekat pada Islam. Kemuliaan dan kebanggaan sebagian pemeluk Islam haruslah menjadi bahan bakar diri kita dalam membela Islam. Wajah mulia Islam dicoreng dengan arang hitam didepan mata kita sendiri. Hal ini tentunya tidak dapat kita biarkan begitu saja. Namun juga tidak mungkin kita bertindak melebihi garis yang telah dibuat oleh Allah sebagai pemilik agama ini. Dalam bertindak tentunya tidak terlepas dari syariat-syariat seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Karena islam bukanlah teroris seperti yang merka gambarkan. Hanya saja mereka teralu takut terhadap perkembangan agama yang mulia dan semurna. Dan perlu di ingat dan di catat merka tidak akan senang, serta akan terus melakukan propaganda hingga tiap muslim kembali sesat dan mengikuti ilah meraka.
Bisa di simak bagaimana Anders Behring Breiviks yang membantai 70 orang di Norwegia. Dia adalah seorang fasis kristen dan dia membunuh orang yang bertanggung jawab atas penyebaran islam. Anehnya dalam proses hukum di carikan alibi untuk dinyatakan gila dan tidak dihukum. Padahal dia telah membantai 70 muslim dengan alasan menyelamatkan eropa dari islam. Mereka sedemikian hinanya menjelek-jelekkan islam. Dan terus mendiskreditkan islam. Konpirasi itu terlihatnya.
Sebagai pemuda Islam, seharusnya hal ini menjadi perhatian khusus kita. Sebagai generasi yang membawa perubahan dan pembaharuan tentunya kita tidak akan ridho dengan keadaan ini. Sungguh mereka yang secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi menentang Islam sejatinya belum mengenal Islam secara keseluruhan. Inilah tugas utama kita sebagai generasi muda Islam. Menyadarkan semua manusia tentang hakikat kebenaran Islam.
Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah memberikan keteladanan yang baik terhadap dunia dalam memandang Islam. Sungguh ini adalah hal yang paling utama yang bisa kita lakukan. Karena ini menjadi jendela bagi semua orang untuk merasa dan bahkan mungkin tertarik untuk menjadi salah satu pemeluk Islam. Bagaimana mungkin orang akan tertarik jika tidak ada keteladanan yang baik Islam sendiri.
Tidak usah susah mencari teladan yang layak. Pribadi besarnya sudah diakui oleh para sahabat maupun orang-orang yang dulu menentang ajaran yang dibawanya. Dialah Muhammad saw. Seorang pemuda yang terlahir ditengah kerasnya kehidupan jahiliyah Makkah pada waktu itu. Namun pribadi istimewa ini sedikitpun tidak pernah ternodai dengan segala bentuk kejahiliyahan yang ada. Muhammad bukanlah orang yang dulunya sering melakukan kesalahan dan kemudian kembali ke jalan yang lurus. Disinlah kekuasaan Allah berperan. Allah menjaga keturunan yang mulia ini bersih dari noda jahiliyah.
Jika kita cermati lebih dalam tentang globalisasi sekarang. Maka akan kita temui satu kenyataan. Yaitu tiadanya keteladanan dalam memanajemen perkembangan yang ada. Kerusakan yang ditimbulkan justru menjadi sangat besar ketimbang manfaat yang dapat diambil. Krisis moral mungkin sebutan yang pantas kita berikan pada generasi muda sekarang. Namun jangan sampai hal ini terjadi pada generasi muda muslim. Sangat disayangkan bahwa keteladanan agung itu perlahan menghilang dari pribadi kita. Tersilaukan oleh gemerlap cahaya materialisme dan hedonisme.
Sesungguhnya, Islam adalah agama yang sangat fleksibel disetiap zaman dan waktu. Perkembangan teknologi bukan malah makin mempersempit ruang gerak Islam. Justru dengan menggunakan petunjuk yang secara gamblang dijelaskan dalam al-quran dan sunnah, perkembangan ini dapat kita manfaatkan untuk kebaikan. Begitu juga dengan hal-hal yang pada waktu itu tidak ada namun sekarang ada, Islam tidak menutup mata akan hal ini. Selama masih dalam koridor syariat, maka Islam akan menyambutnya dengan senyum mengembang. Tapi, jangan coba-coba untuk melakukan hal yang diluar syariat. Islam tegas pada siapapun tanpa pandang bulu.
Sudah seharusnya kita sebagai generasi muda Islam berpikir dan bertindak sesuai dengan batas yang telah ditetapkan. Tidak lebih dan tidak kurang. Islam adalah agama perdamaian. Namun tegas terhadap pelanggaran. Islam agama yang turun dari langit. Namun menyentuh nurani manusia. Islam agama persatuan. Namun tidak menafikan perbedaan yang ada. Semuanya telah diatur oleh Allah, disampaikan melalui lisan nabi-Nya dan dicatat dalam kitab-Nya Al-Quran. Agama ini akan terus ada, karena yang menjaganya adalah Allah Sang Maha Menjaga. Cahaya Islam tidak akan pudar. Zamanlah yang mengikuti Islam, bukan sebaliknya. Manusialah yang membutuhkan Islam. Dunialah yang membutuhkan Islam. Islam akan terus ada selama kehendak Allah.