Tuesday, 2 August 2011

Provokasi Media Terhadap Islam, Sikapi Dengan Bijak


Globalisasi memang tidak dapat kita bendung lagi. Arusnya begitu kuat menghantam setiap segi kehidupan manusia. Karena kuatnya sehingga tidak mungkin kita bisa menghindar darinya. Secara kasat mata perubahan besar ini sangatlah banyak membawa manfaat bagi kita semua. Mulai dari informasi yang tadinya tersembunyi dapat muncul kepermukaan. Ilmu pengetahuan yang sebelumnya belum banyak diketahui dan belum mengalami perkembangan secara signifikan dapat kita modifikasi dan manipulasi demi kemudahan hidup manusia. Semua perkembangan itu tentu tidak dapat kita pungkiri adalah akibat dari peran besar yang dimainkan oleh media.
Tanpa kita sadari dan tanpa dapat kita tolak keberadaannya. Media menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan globalisasi. Dalam teori politik dikenal tiga pilar negara yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Namun, ternyata media menjadi kekuatan yang disebut-sebut sebagai pilar keempat. Begitu dahsyatnya peran yang dilakoni oleh media, sehingga timbul istilah ‘jika menguasai informasi sama dengan menguasai dunia’. Tentunya istilah ini bukan hanya isapan jempol belaka. Ini jelas terbukti dan dapat kita lihat disekeliling lingkungan kita.
Dunia Islam yang merupakan salah satu bagian dari komunitas dunia ini, juga tidak terlepas dari pengaruh globalisasi. Hal ini dapat kita lihat dari sedikit banyaknya perkembangan Islam sejak 14 abad lalu hingga sekarang. Sekali lagi media memainkan perannya yang tidak kecil. Semua informasi perkembangan seputar dunia Islam dapat kita lihat dan dengar sebagai bagian dari kerja media. Seperti koin yang bermata dua. Media juga mempunyai dua sisi yang saling berlawanan.
Hitam dan putih. Baik dan buruk. Merupakan dua sisi media yang tidak mungkin kita hilangkan. Mengapa dikatakan baik? Karena dengan media dunia, dapat mengetahui Islam sebagai salah satu prinsip hidup yang sangat sempurna dan telah terbukti pada zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Dan juga tidak tertutupi kemungkinan akan berhasil juga pada era modern ini. Lalu bagaimana dengan sisi satu lagi? Mengapa media itu bisa berdampak negatif bagi Islam? Hal ini dibuktikan dengan pemberitaan media yang berat sebelah. Dalam artian media tidak menilai Islam secara keseluruhan, namun keparsialan cara pandang dijadikan rujukan bagi media dalam menilai Islam.
Salah satu contohnya adalah konsep jihad dalam Islam. Media menjadikan konsep ini sebagai tolak ukur untuk menimbang dan menilai Islam, termasuk juga dengan orang-orang yang menjadikan Islam sebagai agamanya. Kekerasan dan perang dikatakan sebagai sarana penyebarannya keseluruh dunia. Begitulah media menilai Islam sebagai agama kekerasan. Agama teroris menjadi label bagi Islam yang diberikan oleh media. Padahal kebenaran dari esensi jihad bukan lah demikian. Tidak seperti yang di beritakan media.
Sebagai bagian kecil dari komunitas pemeluk “Agama Teroris”, sudah selayaknya kita membersihkan hal-hal negatif yang melekat pada Islam. Kemuliaan dan kebanggaan sebagian pemeluk Islam haruslah menjadi bahan bakar diri kita dalam membela Islam. Wajah mulia Islam dicoreng dengan arang hitam didepan mata kita sendiri. Hal ini tentunya tidak dapat kita biarkan begitu saja. Namun juga tidak mungkin kita bertindak melebihi garis yang telah dibuat oleh Allah sebagai pemilik agama ini. Dalam bertindak tentunya tidak terlepas dari syariat-syariat seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Karena islam bukanlah teroris seperti yang merka gambarkan. Hanya saja mereka teralu takut terhadap perkembangan agama yang mulia dan semurna. Dan perlu di ingat dan di catat merka tidak akan senang, serta akan terus melakukan propaganda hingga tiap muslim kembali sesat dan mengikuti ilah meraka.
Bisa di simak bagaimana Anders Behring Breiviks yang membantai 70 orang di Norwegia. Dia adalah seorang fasis kristen dan dia membunuh orang yang bertanggung jawab atas penyebaran islam. Anehnya dalam proses hukum di carikan alibi untuk dinyatakan gila dan tidak dihukum. Padahal dia telah membantai 70 muslim dengan alasan menyelamatkan eropa dari islam. Mereka sedemikian hinanya menjelek-jelekkan islam. Dan terus mendiskreditkan islam. Konpirasi itu terlihatnya.
Sebagai pemuda Islam, seharusnya hal ini menjadi perhatian khusus kita. Sebagai generasi yang membawa perubahan dan pembaharuan tentunya kita tidak akan ridho dengan keadaan ini. Sungguh mereka yang secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi menentang Islam sejatinya belum mengenal Islam secara keseluruhan. Inilah tugas utama kita sebagai generasi muda Islam. Menyadarkan semua manusia tentang hakikat kebenaran Islam.
Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah memberikan keteladanan yang baik terhadap dunia dalam memandang Islam. Sungguh ini adalah hal yang paling utama yang bisa kita lakukan. Karena ini menjadi jendela bagi semua orang untuk merasa dan bahkan mungkin tertarik untuk menjadi salah satu pemeluk Islam. Bagaimana mungkin orang akan tertarik jika tidak ada keteladanan yang baik Islam sendiri.
Tidak usah susah mencari teladan yang layak. Pribadi besarnya sudah diakui oleh para sahabat maupun orang-orang yang dulu menentang ajaran yang dibawanya. Dialah Muhammad saw. Seorang pemuda yang terlahir ditengah kerasnya kehidupan jahiliyah Makkah pada waktu itu. Namun pribadi istimewa ini sedikitpun tidak pernah ternodai dengan segala bentuk kejahiliyahan yang ada. Muhammad bukanlah orang yang dulunya sering melakukan kesalahan dan kemudian kembali ke jalan yang lurus. Disinlah kekuasaan Allah berperan. Allah menjaga keturunan yang mulia ini bersih dari noda jahiliyah.
Jika kita cermati lebih dalam tentang globalisasi sekarang. Maka akan kita temui satu kenyataan. Yaitu tiadanya keteladanan dalam memanajemen perkembangan yang ada. Kerusakan yang ditimbulkan justru menjadi sangat besar ketimbang manfaat yang dapat diambil. Krisis moral mungkin sebutan yang pantas kita berikan pada generasi muda sekarang. Namun jangan sampai hal ini terjadi pada generasi muda muslim. Sangat disayangkan bahwa keteladanan agung itu perlahan menghilang dari pribadi kita. Tersilaukan oleh gemerlap cahaya materialisme dan hedonisme.
Sesungguhnya, Islam adalah agama yang sangat fleksibel disetiap zaman dan waktu. Perkembangan teknologi bukan malah makin mempersempit ruang gerak Islam. Justru dengan menggunakan petunjuk yang secara gamblang dijelaskan dalam al-quran dan sunnah, perkembangan ini dapat kita manfaatkan untuk kebaikan. Begitu juga dengan hal-hal yang pada waktu itu tidak ada namun sekarang ada, Islam tidak menutup mata akan hal ini. Selama masih dalam koridor syariat, maka Islam akan menyambutnya dengan senyum mengembang. Tapi, jangan coba-coba untuk melakukan hal yang diluar syariat. Islam tegas pada siapapun tanpa pandang bulu.
Sudah seharusnya kita sebagai generasi muda Islam berpikir dan bertindak sesuai dengan batas yang telah ditetapkan. Tidak lebih dan tidak kurang. Islam adalah agama perdamaian. Namun tegas terhadap pelanggaran. Islam agama yang turun dari langit. Namun menyentuh nurani manusia. Islam agama persatuan. Namun tidak menafikan perbedaan yang ada. Semuanya telah diatur oleh Allah, disampaikan melalui lisan nabi-Nya dan dicatat dalam kitab-Nya Al-Quran. Agama ini akan terus ada, karena yang menjaganya adalah Allah Sang Maha Menjaga. Cahaya Islam tidak akan pudar. Zamanlah yang mengikuti Islam, bukan sebaliknya. Manusialah yang membutuhkan Islam. Dunialah yang membutuhkan Islam. Islam akan terus ada selama kehendak Allah.

No comments:

Post a Comment