Friday, 12 August 2011

Sistem negara ideal, landasan kemajuan bangsa


Berbicara negara maka bebicara sistem. Konsep bagaimana negara di jalankan. Proses organisasi dalam negara. Maka berbicara negara tidak dapat di pisahkan dari ideologi serta pemikiran tentang negara. Konsep yang tepat terhadap sebuah sistem akan menghasilkan pencapaian yang sempurna. Di mana akan ada kemajuan di berbagai bidang ketika sistem yang tepat berlaku dan menjadi sistem positif yang dapat mendukung berbagai aspek pendorong kearah bangsa maju.

Diperlukan sistem yang baik untuk menjadikan negara sebagai prototipe kehidupan yang baik dan madani( civil society). Suatu kondisi di mana kehidupan berbangsa bernegara yang harmonis dalam hubungan bermasyarakat (antar warga negara) dengan mengenyampingkan berbagai macam perbedaan. Kondisi di mana negara tidak perlu lagi mengharap sokongan dari negara lain karena sudah mampu mandiri bahkan menjadi sokoguru peradaban bagi bangsa lain.

Sebuah sistem dalam menjalankan negara sangat menentukan wajah dari negara. Sedangkan sosok pemimpin hanya representasi dari sistem. Seorang pemimpi dapat menjadi otoriter ketika sistem negara tersebut memungkinkannya untuk bersikap demikian. Hal itu karena sifat-sifat  manusia seperti tamak dan serakah atau baik, adil serta zuhud  adalah perwujudan  sikap yang merupakan hal yang alamiah terjadi. Skap tersebut bisa di ambil atau di hindari sesuai dengan kehendak dari pemimpin.

Dari berbagai sistem yang di gunakan banyak kekurangan yang akhirnya menjadikan situasi negara menjadi oligarkhi dengan sistem yang bisa dikatakan kacau balau. Dalam proses perjalanan negara berbagai kondisi negara akan berputar dan mengecap situasi yang berbeda-beda. Hal itu bisa di sebabkan sikap yang di ambil pemimpin atau sebagai sesuatu yang alamiah saat negara mencoba sistem-sistem baru yang di anggap ideal namun belum atas kajian yang sempurna sehingga situasi negara menjadi amburadul.

Diperlukan sistem yang mengutamakan akal pikiran serta intelektualitas yang menyeluruh dalam setiap aspek dan komponen kenegaraan sebagai logika pemikiran para pelaku negara. Sebuah sistem yang  hanya dapat di jalankan ketika semua komponen dalam negara memiliki intelektualitas yang sama dalam menyikapi sistem. Dan di lihat dari proses pembangunan maka inti dari sistem tersebut adalah pemahaman rakyat yang menyeluruh terhadap sistem dan prosesnya di mulai dari membentuk  pemahaman di tengah masyarakat. Sistem tersebut mampu mengatur aspek mulai dari hukum, pendidikan, moral, dan agama sebagai suatu kesatuan universal yang menjadi pilar utama bagi proses berbangsa bernegara. Baik dalam pengambilan sikap politik maupun menyikapi kemajuan pembangunan ekonomi maupun industri dan teknologi.

Sistem yang paling humanis adalah sistem yang mampu mengedepankan intelektualitas sebagai landasan logika berpikir dan bertindak. Dimana yang akan menjadi  patron tidak hanya suara mayoritas, namun suara minoritas juga dapat menjadi patron ideal bahkan suara dari perorangan atau individu dapat menjadi tumpuan bersama ketika pendapat tersebut di anggap paling rasional dan menimbulkan lebih banyak maslahat atau kebaikan. Dan semua orang tidak akan berpendirian pada segala macam bentuk egonya baik secara individual ataupun kolektif karena memiliki tingkat intelektualitas yang sama terhadap sistem dan pemikiran mereka telah terasionalkan sehingga dapat menerima berbagai pendapat dan yang muncul hanya penilaian secara bijak.

Akan berefek jelek ketika sebuah negara yang memakai sistem instan dengan cara mengadopsi karena banyak hal yang seharusnya tidak terjadi namun tidak dapat di antisipasi. Dalam sistem negara monarkhi sangat memungkinkan seorang raja menjadi ambisius dan kecemburuan antara keluarga raja menimbulkan perebutan kekuasaan sehingga rakyat cenderung terkorbankan oleh obsesi sang raja. Obsesi zhalim sang raja serta sistem yang mendukung akan membuat sikap otoriritarian akan teus berlanjut dengan kekuasaan raja yang absolut. Demikian juga dengan sistem demokrasi ketika masyarakat masih buta politik akan menyebabkan sekelompok orang pintar naik tahta merekayasa kondisis sosial dengan bebagai pencitraan dan akan berakibat buruk bagi warga negaranya. Potensi rakyat  di bodoh-bodohi sangat memungkinkan mengingatkan mengingat sistem demokrasi bersifat instan dan di adopsi oleh negara, akan sangat berbahaya dalam kondisi intelektualitas masyarakat yang belum mampu berada dalam sistem.

Seorang negarawan muslim yang juga ulama said hawwa mengatakan” jika ingin membentuk negara islam maka islamkanlah bangsa yang ada dalam negara tersebut. ini menjelaskan sikap beliau dalam membentuk sistem negara islam maka ada tugas memberi pemahaman tentang islam kepada semua masyarakat. Dan sistem akan berjalan ketika semua bangsa dalam negara sudah dalam islam. Maka dalam islam sebagai sebuah sistem yang juga mengatur tata negara dengan sistem tata negara islam dengan aturan dan hukum islam maka ketika semua sudah islam dapat di artikan sebagai masyarakat sudah berada dalam rasionalitas pemikiran dan intelektualitas yang sama dalam berbangsa dan bernegara. Ketika hal tersebut terjadi maka konflik-konflik horizontal (antar warga negara) serta konflik vertikal ( rakyat dengan pemimpin)  dapat di hindari. Dengan sistem yang fleksibel dan seimbang akan membuat rakyatnya hidup dalam kondisi yang aman dalam keadilan dan kesejahteraan, civil societypun dapat menjadi kenyataan dan negara akan menjadi kuat di bawah sistem yang tepat.

Negara sangatlah bergantung pada keberadaan rakayat, namun dalam kondisi tertentu terkadang Negara tidak terlalu di butuhkan. Hal ini terjadi ketika kondisi dalam negara sudah stabil. Seperti masa Umar Bin Abdul Aziz, kepemimpinan beliau meruakan bukti dari sebuah sistem yang tidak instan. Dimana rakyat sudah cukup makmur sampai dalam negaranya sangat sulit menemukan orang yang pantas menerima Zakat. Artinya setiap orang sudah mapan. Pada akhirnya negara berfungsi sebagai penghubung antar beberapa negara. Menjadi identitas yang tidak universal. Dalam sempitnya sebuah nasionalisme kenegaraan.

Kembali kepada  negara yang kondisinya stabil dikarenakan kesadaran warganya terjadi di negara Madinah. Yang di pimpin oleh seorang Rasul bernama Muhammad SAW. Sosok yang telah di nobatkan sebagai pemilik strategi perang  terbaik (memenangi semua peperangan yang ia lalui). Dan juga sebagai pemimpin paling berpengaruh. Tercatat di negara madinah tidak memiliki Bendahara Negara. Namun negara tetap berjalan bahkan jadi pilot project Negara Impian. Betapa tidak semua orang di negara tersebut memiliki jiwa negarawan yang tinggi. Tiap individu menghormati semua perbedaan. Semua individu sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Mereka tidak lagi bergantung pada negara. Bahkan penyebab negara tidak ada pemegang kas adalah karena memang negara madinah tidak memiliki Kas resmi negara. Setiap kebutuhan negara di tanggung oleh individu-individu. Setiap warga negara memiliki kesadaran bernegara yang sangat tinggi. Begitulah bentuk negara ideal. Negara dengan sistem yang di tanam dari grassroot. Buka sekedar copy n paste, lalu mencoba menerapkannya.

No comments:

Post a Comment