Thursday, 8 March 2012

Deislamisasi, Peninggalan Imperialisme yang Masih Mengakar


Dalam sejarah kita mengenal tiga tujuan dari ekspansi kaum imperialis, yakni gold, glory dan gospel. Selain mencari kekayaan yang diibaratkan dengan emas atau gold, juga  mendapatkan kejayaan atau glory. Kejayaan ini dilihat dari segi kemakmuran dan kemenangan perang kaum imperialis, tanpa memerhatikan nasib dari bangsa jajahan. Dan  satu lagi adalah  misi keagamaan atau gospel. Misi salib yang di tetapkan Paus, guna menyebarluaskan kepercayaan Kristen. Misi kristenisasi merupakan misi utama hingga dalam sejarah imperialism belanda di Indonesia, kita dapat memperhatikan pemaksaan untuk merubah keyakinan menjadi Kristen, serta pembedaan pendidikan, dimana orang yang beragama Kristen mendapatkan tempat pendidikan khusus di sekolah dengan fasilitas layak. Lain dengan nasib masyarakat dari golongan muslim, terjajah dan tidak di fasilitasi pendidikan yang layak. Namun perlawanan serta kegigihan para ulama menjadikan pendidikan bagi masyarakat muslim tidak putus, meski dengan fasilitas seadanya(baca Ahmad Mansur Surya Negara(Api Sejarah)).
Dalam mengukuhkan kekuasaannya di Indonesia, Belanda sadar betul, bahwa satu-satunya peran yang harus di hapus di tengah masyarakat adalah ulama. Dalam kehidupan bangsa Indonesia, ulama memegang peranan penting dalam menentukan arah dari geopolitik dan kultur sosial. Perlawanan memerdekakan diri dari bangsa penjajah, merupakan semangat ke-islaman yang bebas dan merdeka. Semangat untuk tidak hidup terjajah apa lagi oleh bangsa bukan islam. Dan ulamalah yang berperan dalam menggerakkan perlawanan terhadap imperialism belanda. Meniadakan ulama sama dengan meniadakan perlawanan rakyat, sama dengan Imperialism Belanda atas Indonesia tidak akan mengalami gangguan yang berarti.
Kesadaran akan pentingnya peran ulama itulah yang membuat Belanda berusaha melakukan deislamisasi politik serta Sosial budaya. Belanda berusaha menjauhkan islam dari masyarakat dengan menjauhkan mereka dari ulama. Namun usaha ini gagal, akhirnya Belanda menggunakan taktik pecah belah, dengan mengangkat isu furu’ atau cabang untuk di perdebatkan sesama islam. Kaum imperialis juga mengirim orang—orang Orientalis untuk menghasut masayaakat, hingga banyak pemahaman keislaman yang salah beredar di masyarakat. Efek dari politik Devide et Impera yang diterapkan Belanda agaknya berhasil mengurangi peran ulama dari segi politik, namun secara tidak sadar ulama tetap memainkan peran dalam geopolitik Indonesia saat itu. Buktinya Indonesia akhinya merdeka.
Diantara banyaknya propaganda yang dibuat para orientalis, hampir semua masih berbekas dan menjadi semacam tradisi bagi muslim yang ada di Indonesia. Terutama berkaitan dengan pengkultusan ritual adat menjadi  ibadah, dan penjauhan peran islam atau ulama dari politik. Menyibukkan perdebatan permasalahan cabang dalam agama, serta perdebatan masalah fikih. Terutama dalam pemisahan antara politik dalam agama efeknya sangat terasa. Bahkan sangat disayangkan sebagian pesantren dan ulama terpengaruh kuat dengan hal ini. Kesan politik kotor dan patut dijauhi berhasil di tamam para orientalis dan nampaknya tumbuh subur.
Dalam islam masalah negara, kesejahteraan ummat atau rakyat, kemakmuran, hukum atau syariah, masalah penegakan agama hingga pada kebangkitan islam merupakan hal yang sangat penting. Hal-hal tersebut merupakan masalah utama dan diatur dengan apa yang disebut siyasah syar’iyah. Faktor deislamisasi yang dilakukan oleh kaum orientalis yang dibonceng oleh negara-negara imperialis menyebabkan pergeseran nilai yang cukup integral. Masalah sedemikian luas dan penting berhasil di sempitkan. Tidak ada lagi masalah politik, yang ada hanya masalah fikih dan ritual ibadah semata. Padahal itu hanyalah bagian dari islam. Islam sangat syumul atau sempurna. Pengikisan terhadap hal tersebut membuat masyarakat berpandangan berpolitik adalah haram, bahkan mengecam ulama yang melibatkan diri dalam politik dan pemerintahan. Padahal jika ulama tidak memberikan warna dalam perpolitikan negeri ini maka sungguh yang memimpin adalah orang jauh dari agama, dan selama pemimpin adalah orang jauh dari agama maka kezhalimanlah yang akan berlaku.
Bebagai anggapan miring terhadap politik dan pandangan jelek terhadap ulama yang mengurus masalah pemerintahan menandakan betapa sudah jauhnya kita dari islam dan dari ulama. Sekarang keterlibatan ulama dalam politik hanya penghias kampanye semata, atau pendongkrak elektabilitas calon dengan menggandeng ulama. Sangat berbeda dengan ulama zaman dahulu yang langsung terlibat dalam pemerintahan, mengontrol kesalahan dari pemimpin dan ulama menggerakkan rakyat ketika kezhaliman berlaku.
Dampak dari deislamisasi politik sangat nyata terasa, bahkan sejarahpun dikotak-katikan. Peran ulama dalam geopolitik Indonesia sengaja dihapus, di samping ulama sendiri yang kurang menulis sejarahnya, juga Belanda yang menulis sengaja diasalahkan. Hingga sangatlah wajar ketika kita belajar sejarah tidak dari pandangan pelaku sejarah namun dari sudut pandang penulis sejarah. Sama-sama kita tahu bahwa sejarah Indoneisa berdasarkan pandangan sejarawan dengan aliran Nerlando sentris, artinya sejarah bangsa ini dicatat berdasarkan pandangan bangsa penjajah. Tentu saja tulisannya akan menguntungkan para penjajah.
Kesadaran politik masyarakat patut digugah, dan sudah saatnya ulama mengambil peran sesungguhanya dalam mengatur islam, negara dan ummat. Hingga cita-cita hidup makmur dan cita-cita kebangkitan islam tecapai.

2 comments:

  1. dalam konsep syaikh Abdul Qadir Jailani, ada 3tahap perubahan ummat :
    1. membangun semangat belajar umat dan membangkitkan kepahaman mereka
    2. menggugah kesadaran umat akan pentingnya kebangkitan dan bahayanya kekafiran&kedzaliman serta segala kamuflase nya..
    3. Membangkitkan semangat pergerakan dan Ishlah yang dimulai dengan mengkaji persoalan (tidak dimulai dari kulit/isu yang berkembang sahaja)
    salam super..

    ReplyDelete
    Replies
    1. dai hal tersebut sagat penting, mengunggah kesadaran akan kebangkitan, dan memperjuangkan jalan menuju kebangkitan. sangat rugi saat ada hal besar dan kita hanya sibuk dengan masalah perdebatan furu'. apalagi perdebatan itu di hasud para orentalis.

      salam super kembali.

      Delete