Monday, 26 March 2012

Kita Terlalu Sehat dan Sempurna Untuk Tidak Bersyukur

rasa syukur jadi tauladan
dalam lingkaran merah, memperlihatkan seorang dengan keterbatasannya, tidak lantas membuat ia enggan untuk bersyukur akan nikmat tuhannya dengan jalan shalat berjamaah, Maha Besar Allah.(photo from facebook, uploads by Yusibar Nyak Gam, by Mobile uploads)
Sungguh sangat menginspirasi, gambar yang dishare teman saya melalui account Facebooknya. Betapa hari ini kebanyakan manusia lengah. Hidup tanpa arah dan tujuan pasti, hidup di bawah bayang-bayang palsu tujuan semu. Betapa manusia terlalu fokus pada tujuan dunianya, hingga ia lupa akan akhiratnya. Betapa ia fokus pada tujuan manusiannya, hingga ia lupa tujuan akhirnya yang semestinya ia rengkuh adalah ridha sang khalik.
Shalat adalah perwujudan rasa syukur, ibadah yang menuntut pelaksananya untuk disiplin dan komitmen terhadap waktu pelaksanaannya. Ibadah yang diperintahkan Allah melalui wahyu yang diturunkan langsung kepada Rasulullah Muhammad SAW tanpa hijab. Perjalanan isra’mikraj yang menakkjubkan merupakan rangkaian peristiwa yang ditempuh oleh Rasulullah guna memperoleh perintah shalat.  Sungguh sebuah nikmat besar dapat menikmati ibadah yang diturnkan langsung.
Kembali kepada gambar yang dishare kawan saya, maka sungguh menakjjubkan. Seorang manusia dengan kekurangannya masih tetap semangat, serta memiliki azam yang penuh guna bersyukur akan nikmat tuhannya. Keterbatasn fisik tidak menyurutkan langkahnya untuk tidak salat berjamaah, tidak membuatnya merasa minder untuk berada diantara barisan mereka yang sehat fisiknya.
Semangat seperti ini adalah semangat yang patut membuat salut. Semangat yang menjadi contoh, ketika banyak diantara kita manusia yang masih lupa dengan nikmat tuhan kita. Allah telah memberikan kita tubuh yang sehat, fisik yang kuat, setidaknya lebih lengkap dari seorang hamba Allah yang ada di foto. Alangkah buruknya perangai kita ketika masih menjadi manusia yang lupa akan tuhannya, tidak menaati perintahnya.
Hukum salat berjamaah itu sendiri merupakan sunnah muaakd, atau sunnah yang dkuatkan pengerjaannya. Dalam banyak kesempatan Rasul sendiri sering menekankan agar ummatnya memenuhi panggilan shalat dan melakukan salat secara berjamaah. Ini terbukti dari hadist-hadist terhadap shalat yang rasul ingin agar dilakukan dengan berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda: “Demi dzat yang jiwaku ada ditanganNya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat dan aku tidak berjamaah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama’ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka”(HR. Bukhari-Muslim).
Dalam hadist yang lain, “Seorang buta mendatangi Nabi  dan berkata: “wahai Rasulullah aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid”. Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk boleh shalat dirumah. Lalu beliau memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan nabi langsung Rasulullah memanggilnya dan bertanya: “apakah anda mendengar panggilan adzan shalat? Dia menjawab: “ya”. Lalu beliau berkata: “penuhilah!”.(HR. Muslim)
Rasulullah juga menegaskan posisi shalat berjamaah yang tinggi dalam hadistnya Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendiri sebanyak 27 derajat” (HR. Bukhari & Muslim)
Tidaklah perlu menyombongkan diri dengan fisik yang kuat, jika untuk melaksanakan hal yang disukai Allah saja, kita harus kalah dengan mereka yang kondisi fisiknya kalah dibandingkan kita yang sehat. Sungguh tidak pantas untuk kita mengeluh dan pantang untuk tidak bersyukur ketika Orang yang lemah sedemikian hingganya saja dapat meakukan kewajibannya dengan sempurna, maka secara kasat mata sungguh ia yang cacat fisiknya lebih mulia dari kita dihadapan Allah. Pada dasarnya kita manusia sama, tidak peduli ia sehat atau sakit, sempurna atau cacat, karena Allah hanya melihat perbedaan akan kondisi keimanan kita kepada-Nya, dan sungguh itulah yang menjadi pembeda kualitas kita manusia di hadapan Allah.
Sungguh Allah, dengan segala keagungan dan kebesarannya memberikan banyak contoh kepada kita. Hanya saja kita banyak lalai dan kurang belajar. Betapa motivasi besar untuk kita yang sehat ketika melihat komitmen mereka yang serba kekurangan dibandingkan dengan kondisi kita. Betapa mulia cara Allah mendidik dan  memberikita pelajaran, hanya saja kita tidak mengetahui. Kita terlalu bodoh dan naïf hingga tidak bias merasakan nikmat tuhan, sedangkan orang lain yang dengan serba kekurangannya lebih bias memaknai nikmat yang diberikan tuhannya dan lantas ia kekurangannya tidak membua ia lupa atau enggan untuk bersyukur. Maka tidaklah patut kita yang sehat dengan segala kelebihan kita malah melalaikan diri.

No comments:

Post a Comment