Thursday, 14 June 2012

Ibrah Kisah Inspiratif, perankan diri dengan sebaik mungkin

Saya teringat sebuah kisah, dimana kisah ini terjdi di zaman dahulu. Terserah ini fiksi atau bukan, namun saya yakin ini diceritakan untuk diambil ibrahnya.

Alkisah seorang raja mengadakan sayembara. Sayembara tersebut meminta warganya mengumpulkan madu, yang akan digunakan untuk kemshlahatan kerajaan. Syahdan seorang rakyat yang teramat miskin, bersedih hati karena tidak memiliki madu untuk disumbang. Setelah berpikir, dari pada menanggung malu, akhirnya ia memutuskan mengisi kendinya dengan air. Menurutnya tidaklah akan ketahuan jika salah satu kendi ternyata berisi air. Jikapun tahu tidak akan terlacak itu kendinya.

Syahdan sayembara berlangsung. Sang raja meminta agar semua rakyat yang membawa madu mengumpulkannya dalam sebuah kendi besar milik kerajaan. Betapa terkejutnya ketika hasil sayembara diumumkan ternyata semua kendi berisi air, kendi besar kerajaan penuh dengan air, tanpa ada ciri unsur madu. Maka menangislah sang raja. Dalam ibanya ia berkata, tidak adakah lagi kejujuran pada diri rakyatku. Atau ketidak jujuranku yang ditiru mereka. Syahdan raja tersebut terkanal adil dan jujur, namun kondisi kerajaannya yang memang sedang morat-marit.

Selidik punya selidik ternyata, antara orang miskin dan orang yang culas itu berpikiran sama. Jika mereka sendiri yang curang pasti tidaklah akan ketahuan. Syahdan seluruh rakyat melakukan hal yang sama.

Ibrahnya jangan hanya mengandalkan persepsi dalam melakukan tugas, baik itu tugas dakwah, maupun tugas sebagai anggota masyarakat. Selalulah berusaha melakukan yang terbaik, semampu yang sanggup dilakukan tentunya. Jangan sekali-kali mengharap pekerjaan itu terselesaikan oleh orang lain, jika itu tugas atau agenda bersama. Partisipasi walau secuil apapun akan lebih berharga.

Nilai dari komitmen sebenarnya tertanam pada diri kita, dan komitmen itulah yang menjadikan persepsi kita manusia terhadap suatu hal sama. Memang manusia di ciptakan dengan kepala yang berbeda hingga perbendaan terhadap satu hal yang sama itu lumrah. Namun ia juga tidak menampik kesamaan persepsi, meski ia tidak direncanakan duluan. Hal ini sesuai dengan kebiasaan dari sikap yang kita ambil dalam berinteraksi.

Mari kita lihat orang yang salat berjamaah, jika orang yang salat berjamaah terikat komitmen untuk tepat waktu dan sesuai dengan dengan gerakan imam, maka itu adalah komitmen yang dibentuk berdasarkan taat akan aturan. Namun komitmen langsung ke mesjid atau majelis salat jamaah lainnya ketika azan adalah sesuatu yang tidak pernah kita sepakati sebelumnya. Kepala orang berbeda, jadi ketika panggilan azan tiba maka berbeda pula cara menanggapinya. Namun ada sebuah kesamaan persepsi penanggapan, yakni sama2 langsung ke mesjid bagi yang sudah terbiasa ke mesjid, dan ada juga yang sama-sama tidak mengindahkan panggilan azan. Nah, kesamaan prilaku ini karena kebiasaan atau komitmen yang ada pada diri. Semuanya dilakukan tanpa ada penyepakatan. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada semua jamaah salat subuh, ketika azan adakah mereka berkumpul dan membuat kesepakatan untuk kemesjid, jawabnya tidak, namun mereka semua telah di mesjid dan salat berjamaah. Jangan karena sudah ada yang salat maka kita tidak ke mesjid. karena keberadaan kita di sana mewakili diri kita sendiri.

Demikian juga dalam agenda-agenda kita sehari-hari, komitmen kita baik itu terhadap suksesnya agenda, tepat tidaknya waktu, tergantung kebiasaan dan sejauh mana komitmen pada diri kita. bukan hal mustahil kita sama-sama berpikir “alah, yang lain pun telat datangnya”, hingga kita sama2 telat menghadiri majlis. “alah, kan yang lain udah datang, saya gak datang kan gak ada ngaruhnya sama sekali”, akhirnya semua pada tidak datang.

Apa lagi dalam dakwah, keberhasilan kita dalam berdakwah, adalah keberhasilan kita semua para aktifis dakwah, namun kontribusi yang kita berikan untuk dakwah maka itu adalah mewakili diri kita sendiri, amalan kita, yang tidak akan pernah menjadi atau terwakili untuk orang lain. Ketika kita sama2 berkerja maka sama2 sukses, ketika kita tidak berkerja maka itu kesuksesan orang lain.

lalu mari kita tanamkan sebuah persepsi untuk berkerja, melakukan, menyelesaikan, tepat waktu, dan usaha semampunya dalam diri kita, hingga secara tidak sadar, kita menjadi sebuah gerakan yang bagus secara bersama. Semua itu mungkin, dan komitmen itu ada pada diri kita.

Jangan sampai karena kita semua berpikir sudah dikerjakan orang lain, lantas masing-masing kita semua tidak mengerjakan. Hingga tidak ada yang terselesaikan. Jangan karena berpikir sudah ada orang lain yang berdakwah, kita tidak berdakwah, hingga tidak adalagi orang yang berdakwah. Sungguh kiamat itu salah satu tandanya islam diangkat kembali ke langit oleh Allah, hingga islam tidak ada lagi dibumi. Sungguh islam ini akan tetap ada di bumi selama masih ada orang yang berdakwah.
Nah semua kembali berpulang pada komitmen diri kita masing-masing. Wallahualam bisshawab

No comments:

Post a Comment