Tuesday, 12 June 2012

Saat Memutuskan Untuk berhenti, Maka Sebuah Keputusan Untuk Gagal dibuat

Sebuah usaha tidak dinilai dari hasil, namun proses. Nilai dari usaha dapat dilihat melalui indikator dari suksesnya sebuah usaha, yakni hasil yang didapat. Ada banyak teori yang mencoba menjelaskan makna dari usaha. Ada yang melihatnya dari sisi teologis, dengan memasukkan efek campur tangan tuhan. Ada juga yang materialis, yakni dari hasil yang didapat. Namun tidak semua teori tersebut benar. Kebenarannya sangat relatif, tergantung dimana tempatnya, dan apa teori yang dibutuhkan. Sifatnya sangatlah kondisional.

Usaha adalah daya upaya yang dikerahkan untuk mencapai sebuah tujuan. Indikator berhasilnya adalah sejauh mana tujuan tersebut dapat dicapai berdasarkan tenggat waktu. Dan hasil tersebut yang menjadi indikator suksesnya. Usaha adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Usaha membutuhkan perencanaan yang matang,  membutuhkan budgeting (penganggaran) yang efektif, membutuhkan hitung-hitungan resiko yang tepat dan cermat. Usaha membutuhkan kesungguh-sungguhan. Ketiga hal tersebut adalah mutlak perlu. Ada sebuah istilah yang mengatakan seperti ini lebi kurang, "ketika kita tidak miliki rencana untuk mempersiapkan diri agar tampil sukses, maka kita sedang merencanakan kegagalan itu sendiri. dengan kata lain sukses yang dalam perencanaan, adalah sama dengan gagal yang sudah dipersiapkan. Tidak memiliki persiapan diri untuk sukses, sama artinya dengan sedang menyiapkan diri untuk sebuah kegagalan". Ya, setidaknya lebih kurang seperti itu.

Usaha tidak membutuhkan keputusasaan. Usaha tidak memerlukan ketidakgigihan. Usaha tidak mengenal yang namanya menyerah, malas, sudah tidak memiliki harapan. Usaha hanya mengenal dua kata sebagai hasil, yakni berhasil dan gagal. Kedua kata tersebut tidak dapat bersanding dalam waktu yang bersamaan, namun jawabannya merupakan pilihan. Berusaha, lalu lihat hasilnya. Adakah ia berhasil atau gagal.

Usaha adalah suatu hal yang tidak dapat dilepaskan dari hal lainnya bernama tantangan. Tantangan itu baik tantangan untuk melakukan usaha, atau tantangan ketika melakukan usaha. Tantangan untuk melakukan usaha merupakan masalah individu. Terlalu personal dan sentimental. Ia merupakan sebuah rasa yang ada pada diri, seperti takut untuk berusaha, malas, minder, hingga menyebabkan selalu menunda sebuah usaha. Termasuk lalai dengan hal yang tidak bermanfaat. Tantangan yang seperti ini cenderung membunuh karakter seseorang, menghentikan sebuah usaha yang bahkan untuk memulainya saja belum. Kalah sebelum bertanding, mundur teratur sebelum berperang. Untuk tantangan jenis ini dibutuhkan motivasi yang besar. Motivasi agar mau bergerak, dan berusaha. Kadar motivasi dapat besar atau kecil, tergantung betapa akutnya penyakit yang membuat seseorang berada pada fase tidak berusaha, bahkan tidak memulai apa-apa. Maka orang yang sukses melewati tantangan pertama ini harus pandai memotivasi diri, minimal mencari motivasi untuk diri.

Kemudian tantangan ketika melakukan usaha. Nah, yang satu ini terkait erat dengan proses. Melewati tantangan ini tidak kalah sulitnya dengan tantangan pertama. Karena kendala pada tantangan kedua ini juga bisa memicu kendala pada tantangan yang pertama.

Ketika melakukan usaha, muncul banyak masalah yang menuntut sebuah penyelesaian. Sebut saja hal seperti kekurangan sumber daya, baik itu finansial, sumberdaya alam dan sumber daya manusia. Proses sangat sering berjalan tidak sesuai harapan, hingga memberikan sebuah pandangan kedepan, atau dengan kata lain sebuah prediksi terhadap hasil yang didapat. Masalah seperti ini menuntut sebuah solusi tepat, apakah itu agar dapat mengurangi resiko kegagalan, atau meniadakan resiko gagal itu sama sekali. Namun semua usaha tentu tidak ada yang tidak beresiko. Maka solusi untuk masalah seperti ini adalah orang dengan karakter bisa menganalisa resiko dengan cermat, dan tidak takut mengambil resiko.

Perlu diingat bahwa tidak ada masalah yang tidak memiliki solusi. Hanya saja apakah dengan kemampuan yang kita miliki, apakah jawaban atas masalah itu akan teratasi. Dengan kata lain apakah kita memiliki solusi. Pada dasarnya suatu hal menjadi masalah ketika kita tidak memiliki ilmu untuk menyelesaikan persoalan, lain halnya ketika kita memiliki ilmu untuk menyelesaikan, atau menjawab sebuah persoalan, maka hal tersebut tidak akan jadi masalah, dengan kata lain bukan sebuah masalah. Maka diperlukan untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Pada dasarnya hasil yang didapat selalu berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan. Termasuk dalam menghadapi tantangan itu sendiri. Berkerja dalam kondisi yang tersedia SDM, tercukupi SDA, adalah sangat mudah. Namun ketika kondisi serba kekurangan, maka dibutuhkan ide-ide untuk memecahkan masalah agar usaha tetap berlangsung, dan selalu pada jalur menuju sukses. Usaha dalam keadaan yang ideal tidak memiliki tantangan, dan tidak menimbulkan pembelajaran. Kita akan banyak belajar justru dari masalah yang muncul karena kondisi yang serba tidak ideal. Kondisi dimana menuntut kita untuk kreatif, kita senantiasa diajak untuk berpikir. Dan yang terpenting harus diingat, adalah jangan sampai keterbatasan tersebut membuat kita berhenti berusaha. Gagal itu sendiri terjadi karena kita berhenti berusaha. Jadi pilihannya adalah jangan berhenti sebelum berhasil, agar tidak gagal.

Perlu dicatat, usaha pada kondisi idealpun memerlukan kecerdasan, agar kondisi ideal yang bisa disebut sebagai peluang itu tidak sia-sia. Jika tidak, bukan hal mustahil, seseorang bisa gagal dalam kondisi yang sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak sukses. Ibaratnya ayam mati dalam lumbung gandum, penyebabnya adalah ayam tidak tahu cara mematuk gandum. Jadi hanya mengais-ngais, lalu mati kelaparan. Sekali lagi gagal dan sukses adalah pilihan, namun gagal bukanlah untuk dipilih, melainkan resiko yang harus diminimalisir. Untuk itu perlu diperhatikan ritme dari usaha agar ia meningkat baik, dan selalu pada jalur menuju sebuah keberhasilan. Sekali lagi, untuk makanan yang sudah terhidang sekalipun perlu usaha untuk menyuap, mengunyah dan menelan, baru makanan itu sukses membuat kenyang.

gagal adalah saat di mana kita berhenti berusaha. Untuk itu dibutuhkan motivasi, atau dorongan jiwa untuk terus berusaha. Dibutuhkan pikiran-pikiran untuk sukses, seperti kata-kata mujarab yang memberikan kekuatan dan motivasi. Kata itu tidak akan pernah berupa mantra atau jampi, melainkan ia adalah doa. Doa yang tulus dari seorang hamba kepada tuhannya agar ia menjadi orang yang sukses, menjadi orang yang tidak berhenti berusaha. Pertolongan tuhan itu pasti, tidak harus dengan hal tertentu. Pertolongan tuhan selalu dari jalan yang tidak pernah kita duga. Dan doa akan terkabul, pertolongan akan diberikan ketika kita pada titik tertinggi, atau batas maksimal dalam berusaha.

“Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu merubah nasibnya sendiri”(QS Ar Rad .11). Maka berusahalah untuk mengubanya, maka Allah akan memberikan perubahan pada diri kita. “(yaitu) bagi siapa saja di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”( Al-Qur’an, Surat Al-Muddatstsir: 37 – 38). Maka teruslah maju, manuju keberhasilan, maka itu yang akan kita peroleh. “Bekerjalah untuk duniamu seakan – akan kamu hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan – akan kamu mati esok”(Hadits Riwayat Turmudzi).

Kita adalah apa yang kita usahakan dan kita lakukan. Apa yang kita peroleh selalu sama dengan usaha. “Dan bagi masing – masing orang memperoleh derajat – derajat ( seimbang ) dengan apa yang dikerjakannya”(Al-Qur’an, Surat Al An’aam : 132). Untuk itu, terus  teruslah berusaha dan jangan pernah berhenti.

5 comments: