Tuesday, 31 July 2012

kata, suara, tindakan

berkata saja tidaklah cukup, namun harus melakukan aksi nyata. demikianlah kata yang sering tergaung. pemanis telinga yang jarang menjadi sesuatu yang benar dilakukan.

berkata hanya akan sampai pada telinga saja. berkata kontribusi hanya di mulut. dibutuhkan lebih dari sekedar kata, dibutuhkan lebih dari sekedar suara.

pada dasarnya hal terbaik adalah ketika kita berkerja dengan tangan dan kaki, demikian lebih nyata. dari sekedar mengeluarkan suara. namun bersuara juga bukan berarti tidak boleh.

tidak perlu bingung dengan apa yang sudah tertulis diatas. karena berikutnya akan ada sebuah penjelasan yang mungkin juga akan sedikit membingungkan, namun kita harap semoga tidak.

"jika memiliki sebuah rasa, yang ingin kita sebut itu kepedulian, maka tunjukan rasa peduli itu. bantu dengan apa yang bisa dibantu, kerjakan apa saja yang bisa untuk menolong. berkata saya peduli adalah noktah ketika sikap, tingkah laku, dan perbuatan kita tidak menunjukkan demikian. berkata saja namun tidak mengerjakan. itu hanya sebuah dusta. dengan bahasa lain mengetakan yang tidak ada".

membantu adalah kata kerja. membantu adalah kata yang bisa dilafalkan dengan suara, namun perwujudannya itu adalah nyata. kata bantu memiliki makna perbuatan atau melakukan sesuatu. berkata saya bantu pada dasarnya hanya memberi harapan saja bagi pendengar. jika tidak dilakukan maka akan mengecewakan. jika ingin membantu sisingkan lengan baju dan mulai mengerjakan apa yang seharusnya dilakukan untuk membantu.

partisipasi aktif maupun pasif sangat diharapkan. ketika aktif maka kerja-kejanya nyata. jika berkata saja maka itu sifatnya pasif. lalu bagaimana cara menafsirkan bantuan yang bersifat pasif, selain dari tidak membantu apa-apa.

ketika kita akan membatu seorang teman, maka yang harus kitakerjakan adalah apa yang hendak kita bantu, dan itu bisa apa saja. jika berkata saya akan bantu itu akan membuat senang, jika tidak dikerjakanakan membuat kecewa, dan itu manusiawi. dan berkata saja sebenarnya tidak membantu apa-apa.

wujud kepedulian misalnya, pada kasus yang lebih tinggi tingkatan, berkaitan erat dengan kontribusi dan fenomena pada tataran sosial. misal aksi demontrasi, aksi simpatik, membuka posko informasi, menggalang dukungan dan lain sebagainya. hal tersebu merupakan hal yang harus dilakukan denga tindakan nyata, bukan denga bicara. efeknya bisa orang mengetahui apa yang angkat sebagai wujud kepedulian kita. jika hanya berbicara saja maka efeknya hanya ada pada diri namun tidak luas.

terkadang berbicara juga kontribusi, karena dari pembicaraan orang akan tahu. namun berbicara saja jika dibandikan dengan aksi seperti demo, galang dukungan, simpatik, peng advokasian, maka berbicara saja adalah selemah-lemahnya kepedulian, selemah-lemah konstribusi.

jadi kepedulian ditunjukkan dengan berkerja, dengan aksi dan aksi riil, bukan dengan berbicara saja. wallahualam.

Friday, 13 July 2012

Instrospeksi Diri, Cari Akar Masalah, Bukan Menyalahkan

adakah yang tahu, sampai mana batas dari pengorbanan, kesabaran.
ada yang bilang tidak ada batasnya, benarkah. namun segalanya itu punya batasan. karena keterbatasan adalah sifat alamiah manusia. manusia punya batas dari keterpaksaan. jika batas itu dilewati, maka yang akan mucul adalah perlawanan, pemberontakan. tidak salah jika ada yang mengatakan mereka yang memberontak, adalah mereka yang tidak sanggup untuk bersabar, mereka yang sudah lelah untuk berkorban.

namun sekali lagi penilaian itu relatif. karena kita adalah manusia. tidak ada penilaian yang rigid atas suatu fenomena sosial. menilai prilaku manusia tidak seperti angka dalam ilmu pasti. kehidupan manusia adalah dinamis. kehidupan manusia berputar, seperti roda, seperti bumi pada porosnya. kadang diatas, kadang dibawah, kadang disisi terangya, kadang disisi gelapnya.

kita semua bisa menjadi penyebab dari apa saja. kepedulian adalah hal yang kita semua tidak memiliki daya sense yang sama terhadapnya. dalam kebersamaan, daya tanggap terhadap sesama adalah hal yang utama. itu demi menjaga kebersamaan. ada kata "saling" yang harus diperhatikan agar kebersamaan itu tidak pudar. hingga tidak perlu ada domba yang terpisah dari kawanan.

ya, orang yang memberontak atau memutuskan untuk berhenti sama ibaratnya seperti domba yang terlepas dari kawanan. namun jangan hanya menyalahkan domba yang larinya lambat hingga ia terseleksi oleh alam, lihat juga domba lain yang kencang larinya, yang lebih hebat dan lebih kuat berlari kencang meninggalkannya. hingga yang tidak mampu mengimbangi kecepatan rata-rata akan tersingkir. pertanyaannya haruskah ia tersingkir, atau ia adalah korban untuk memperlambat singa.

semua berpotensi salah, karena itu pilihan sikap tidak pernah dapat disalahkan, yang dapat dipertimbangkan hanyalah baik atau buruk dari pilihan sikap. yang membuat jadi salah adalah ketika pilihan itu berakibat buruk. dan baik buaruknya tentu dinilai dari segi norma yang menjadi rujukan kita dalam menanggapi berbagai fenomena sosial. jika kita islam maka kita memiliki nilai akhlak. sebagai warga negara juga kita memiliki nilai pancasila sebagai garis dari apa yang dijadikan falsafah bangsa.

lalu yang harusnya dilakukan adalah menginstrospeksi diri, bukan menyalahkan. pertanyaan yang harus dijawab adalah apa yang saya lakukan hingga dia seperti itu. apakah itu terhadap kita yang melihat orang lain tersisihkan, atau kita sendiri yang merasa disisihkan. salahnya tidak melulu pada sisi orang, melainkan pada sisi diri sendiripun akan memiliki salah.

ibarat siput yang meninggalkan sungai yang tercemar, jangan salahkan siput yang pergi, tapi kenapa sungai tercemar hingga siput tak lagi sanggup hidup disana. lalu jangan salahkan sungai yang tercemar karena pasti ada yang membuatnya tercemar. penyebab itulah yang harus ditemukan, hingga semua menjadi bersih dan kembaliseperti sediakala.

sama seperti kita, ketika ada teman yang meniggalkan kita maka mari instrospeksi diri kenapa dia menjauh, dan ketika kita menjauhi orang lain lantas kenapa?. lalu mari meilihat sisi negatif dan positifnya hingga sikap yang diambil adalah yang terbaik pada saatnya. persoalan ada yang kecewa adalah alamiah, namun bukan kekecewaan orang yang menjadi titk poin melainkan maslahat. hal yang harus benar ditemukan adalah akar masalah untuk diselesaikan, bukan saling menyalahkan.