Friday, 5 April 2013

Tekad yang Kuat itu bernama Azzam

Begitu banyak orang yang tahu hukum. Begitu banyak  pelanggar hukum. Begitu banyak orang yang tahu jika suatu hal itu beresiko, namun begitu banyak juga orang yang mau mengambil resiko. Banyak orang tahu kebaikan, namun tidak berbuat kebaikan. Banyak orang tahu kejahatan itu tidak boleh dilakukan, namun banyak yang melakukan.

Begitulah proses hidup yang dialami manusia. Antara percaya atau tidak, kadang tindakan sudah terlaksana. Semua berlalu begitu saja. Terkadang ada yang menyesal, ada juga yang tanpa penyesalan tanpa rasa. Terkadang ada yang senang karena telah melakukan. Dan baik buruk tindakan adalah hal yang dikesampingkan.

Tidak peduli baik atau buruk, sebagian orang bisa jadi senang mengerjakannya. Bisa jadi juga menyesal kemudian karena telah melakukannya. Semua apapun itu adalah pekerjaan yang harus dilakukan. Ia cerminan sikap dari si empunya tindakan.

Bayangkan saja betapa orang suka melanggar lalu lintas. Masuk ke jalur busway. Parkir di pinggir jalan yang sembarangan. Semua itu adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Semua orang tahu itu dilarang. Bahkan semua orang terganggu karena orang lain berbuat hal yang dilarang. Dan sering kedepan yang terganggu juga jadi penganggu, yang tidak senang melihat orang lain melanggar juga jadi pelanggar.

Begitulah realitas. Seperti permainan lubang yang tidak punya akhir. Setiap orang bisa melakukan kesalahan. Setiap orang bisa melakukan apa saja terlepas dari sadar atau tidak, tahu atau tidak tentang apa yang ia perbuat. Tidak peduli salah atau benar.

Betapa banyak orang yang melakukan hal yang dilarang secara sadar. Dan betapa banyak orang yang enggan, bahkan tidak menjalankan perintah.dalam setiap situasi, juga dalam setiap kondisi. Baik itu aturan agama,atau aturan lainnya yang dibuat untuk menjadikan hidup manusia lebih beradab.


Masalah pokok

Adalah sebuah masalah, ketika banyak orang tahu, namun tidak mau berbuat. Mengerti seluk-beluk perintah, namun tetap melanggar. Tahu larangan, namun tidak mematuhinya. Berkerja seenaknya dan melakukan sesuka hati.

Lalu apa yang membuat manusia cenderung demikian. Sebenarnya ini adalah sifat alamiah manusia. Manusia diberi dua hal yang  tidak ada pada makhluk lain. Yakni akal dan nafsu. Lalu lainnya manusia memiliki otak dan hati. Lainnya lagi manusia memiliki kebebasan untuk memilih diantara dua pilihan dikarenakan kemampuan yang dimilikinya. Dan kecenderungan itu ditentukan oleh banyak hal.

Ia adalah pertimbangan akal. Dimana otak dan hati harus selaras. Adanya pengetahuan yang memadai, dan juga adanya semangat untuk melakukan. Azzam yang tinggi untuk terus berbuat, itulah hal yang akan mempengaruhi siapa saja untuk menentukan pilihan dalam bersikap atau bertindak.
Seorang mengetahui, jika bangun tengah malam, lalu shalat berpahala.

Pada kenyataannya hal yang demikian tidak semua orang mampu melakukan. Dibutuhkan azzam yang kuat. Dibutuhkan tekad yang lebih dari sekedar keinginan atau perencanaan belaka. Tekad atau azzam itulah yang akan membuat bangun. Akan membuat seseorang pergi membasuh tangan, mencuci mulut, mengusap muka dengan air, menyuci tangan, kepala, hingga membasuh kakinya ditengah malam yang mungkin sangat dingin.

Azzam dan tekad untuk patuhlah, yang membuat seorang tidak melanggar lalu-lintas. Meski jalan dalan kondisi kosong. Tak peduli tidak ada satu mobilpun tetap tidak akan melanggar. Tanpa azzam atau tekad untuk tetap patuh, dipastikan seseorang akan melanggar. Dan tekad atau azzam ini yang akan membuat seseorang terus melakukan suatu hal. Hingga ia menjadi kebiasaan, menjadi karakter, menjadi sifat yang melekat.

Azzam dan tekad yang kuat itulah yang akan menjadi motivasi bagi setiap manusia untuk melakukan yang terbaik. Melakukan yang terburuk, dan yang lebih buruk tidak melakukan apa-apa. Bahkan diam termasuk pilihan sikap bukan. Kadang bisa jadi ia terbaik bisa jadi ia terburuk. Yang tidak mau bersikap kecenderungan akan menghindar. Melarikan diri dari kenyataan.

Setiap orang bisa menjadi apa saja selama ada tekad kuat di hatinya. Dapat melakukan apa saja selama semangat untuk tidak menyerah itu ada. Karena jika dalam diri sudah terazzam, maka pasti akan dipermudah jalan untuk menempuhnya.

Wednesday, 20 March 2013

hubungan antara lada dan keberhasilan

Troh kapai meu baroe pula lada
itulah istilah yang sering diungkapkan orang Aceh. Istilah untuk menyampaikan pendapat terhadap seorang yang terlambat dalam bersikap. Terlambat dalam mengambil kebijakan hingga pada tahapan sudah sampai tenggat waktu yang mustahil berhasil.

Oleh karena itu sering orang tua menasehati dengan kata-kata bek oh trok kapai meubaro jak pula lada. Itu adalah peringatan untuk jangan lalai. Jangan menunda perkerjaan. Kerjakan selagi waktu memungkinkan untuk selesai.

Adapun makna dari kata 'troh kapai meu baro jak pula lada' jika di indonesiakan berarti 'ketika kapal sampai barulah mulai menanam lada'. Pertanyaannya akankah lada dimuat ketika kapal berlayar kembali. Tentu saja tidak. Tidak mungkin kapal menunggu lada panen dulu baru berangkat. Hal tersebut akan membuat lada yang sudah dimuat membusuk. Nah mustahilkan. Makanya nasehatnya juga 'bek oh trok kapai baro meujak pula lada' ' jangan ketika kapal datang baru mulai menanam lada'. Ini adalah pengingat yang cukup bijak.

Kata-kata mutiara tersebut, yang dalam bahasa Aceh dikenal dengan hadih maja adalah pengingat. Ia menjelaskan antara perencanaan dan pelaksanaan haruslah sesuai dengan target. Jangan terlalu asik membuat perencanaan dan malah lupa melaksanakannya. Al hasil ketika sudah kepepet deadline, baru pusing bagaimana agar rencana sukses dan berjalan lancar.

Perencanaan matang memang perlu, namun jangan larut dalam perencanaan. Asik berdialektika dan akhirnya hanya menimbulkan kinerja pasif. Apakah berkerja secara pasif akan berhasil, jika tidak ada tenaga yang berkerja secara aktif. Tentu tidak.

Contohnya merencanakan makan tidak akan membuat anda kenyang. Memiliki uang tidak akan membuat perut anda terisi. Yang membuat kenyang dan perut terisi adalah dengan makan. Bukankah seperti. Dan inilah yang dinamakan realitas.

Keterlambatan memilih sikap. Serta perisiapan yang tidak matang akan berbuah kegagalan. Seperti kata perdana menteri Cao-Cao dalam film Ced Cliff. Karena lupa memasang satu paku sepatu kuda, sepatu bisa lepas, jika sepatu kuda lepas, maka ia tidak dapat berlari, jika kuda tidak dapat berlari, pengantar pesan akan terlambat, penggantar pesan terlambat, akibatnya kalah perang.

Sebegitulah pentingnya persiapan yang matang dan perencanaan yang bagus. Namun asik membahas perencanaan bukanlah hal yang tepat. Jika pengantar pesan asik memikirkan bagaimana cara efektif mengantar pesan, juga akan membuat ia terlambat. Bisa jadi perang sudah dimulai, pengantar pesan masih memikirkan rencana. Hasilnya juga kalah perang.

Jadi mari menanam lada, mari memasang sepetu kuda dari sekarang. Agar ketika kapal datang, lada sudah dalam karung. Ia siap bongkar muat. Lihat deadline kapal, dan mulai membagi waktu, antara berapa lama waktu untuk mematangkan rencana, dan berapa lama waktu untuk mematangkan persiapan. Berapa lama waktu yang akan dihabiskan untuk mengerjakan semua agar selesai dengan sempurna tepat pada waktunya. Perlu apa yang dikenal dengan manajemen yang bagus. Agar fokus pada masing-masing tahapan. Bukan malah sibuk atau hanya terfokus pada satu tahapan saja, hingga larut, atau malah berlarut-larut didalamnya.

Friday, 8 March 2013

Apa Yang Harus dilakukan Dan Apa Yang Ingin dilakukan


Hidup didunia yang tidak sempurna membuat manusia harus memenuhi keinginannya. Hal tersebut membuat manusia “melakukan banyak hal untuk memenuhi keinginannya”. Untuk mendapatkan kebutuhannya manusia dihadapkan pada “melakukan sesuatu”. Semacam real action untuk memenuhi apa yang kurang.
]
Secara alamiah manusia melengkapi apa yang kurang. Kekayaan, teman, harta, ilmu pengetahuan, agama, dan banyak hal. Tak terkira apa yang bisa menjadikan itu semua cukup. Maka tidak salah jika Muhammad SAW dalam salah satu sabda mengatakan, “manusia itu jika diberikan satu gunung Uhud emas, maka ia akan meminta dua”. Itulah kenyataan manusia. Tidak pernah puas. Mungkin hanya syukur yang bisa membuat manusia serba berkecukupan. Jika tidak maka yang ada hanyalah serba kekurangan.

Manusia punya banyak keinginan. Keinginan tersebut membuatnya merasa harus malakukan sesuatu. Saya harus makan, saya harus minum, saya harus punya mobil, saya harus punya rumah, saya harus punya uang, saya harus punya istri, saya harus membahagiakan orang tua, saya harus menyingkirkan semua lawan saya, saya harus berkuasa, saya harus bisa apa saja, mendapatkan apa saja.

Lalu adakah beda dengan saya ingin makan, saya ingin minum, saya ingin punya mobil, saya ingin punya rumah, saya ingin punya uang, saya ingin punya istri, saya ingin membahagiakan orang tua, saya ingin menyingkirkan semua lawan saya, saya ingin berkuasa, saya harus bisa apa saja, mendapatkan apa saja.
Saya ingin berkerja untuk memenuhi kebutuhan saya, saya harus berkerja untuk memenuhi kebutuhan saya. Adakah beda dari kedua kata tersebut.

Ya semua orang tahu kata tersebut memiliki arti yang berbeda, walau tidak beda jauh. Namun sebenarnya benang merahnya besar. Jika disandingkan kata saya harus, artinya mau tidak mau itu harus dilakukan karena itu adalah hal terbaik untuk dilakukan pada saat itu. Jika tidak dilakukan maka akibatnya akan buruk secara realitas. Tidak hanya buruk secara perasaan. Buruk secara perasaan adalah karena kita merasakan hal yang buruk, meski tidak ada hal yang buruk menimpa. Begitullah kita-kira, semoga tidak bingung.

Ketika yang disandingkan adalah kata ingin, maka maknanya itu sarat ambisi. Sarat cita-cita, harapan, kemauan. Ia lebih mengedepankan perasaan individu. Nafsu yang mendorong untuk seperti itu. Membuat siapa saja merasa buruk karena tidak dapat memenuhi apa yang disebut dengan keinginan. Sekalipun hal buruk sebenarnya tidak menimpa, namun perasaan itu akan terus ada. Hal ini dikarenakan ketidak nyamanan jiwa atas apa yang terjadi. Atas apa yang tidak dapat dipenuhi dari keinginannya.

Seorang harus makan ketika lapar, jika tidak maka konsekuensinya akan kelaparan, terbaiknya adalah sakit, terburuknya tentu saja mati kelaparan. Namun ketika makanan enak tersaji, yang muncul adalah keinginan untuk makan, tergiur dan memancing untuk melahap makanan yang ada. Jika seseorang lainnya mengambil makanan yang ingin dimakan mungkin akan kelihatan buruk, merasa hal buruk telah terjadi. Padahal tidak hanya tidak nyaman kerena tidak bisa makan, hal yang lezat yang ingin untuk dimakan tentunya. Akan berbeda jika seseorang sudah seminggu tidak makan, lalu menemukan seekor ikan untuk dipanggang. Pasti akan enak dan menyelamatkan jiwa. Namun seekor kucing menghabiskan ikan tersebut tanpa permisi. Hal buruk pasti akan menimpa. Jelas didepan mata jika peluang mati kelaparan bertambah persentasenya.

Keinginan bisa membuat orang berkerja. Keinginan yang kuat, kerja dengan sukarela untuk meraih apa yang diinginkan. Keharusan bisa membuat orang berkerja, dihadapkan pada tidak adanya pilihan kecuali berkerja memenuhi baik sukarela atau terpaksa. Jika keinginan kuat bisa memiliki power untuk orang secara sadar atau tidak berkerja dengan sukarela, keharusan memaksa orang untuk melakukan apa saja untuk bertahan. Sungguh keduanya adalah kekuatan yang luar biasa jika diarahkan kepada hal yang bagus.

Sayang beribu sayang

Yang sangat disayangkan adalah kebanyakan kita terjebak antara keinginan dan keharusan. Ketika perasaannya membuncah, namun berhadapan. Ketika harus memilih menuruti keingan atau mengerjakan apa yang disebut dengan keharusan. Sering keinginan itu teranggap sebagai sebuah keharusan. Hal yang perlu dilakukan, walaupun sebenarnya tidak.

Sulit memang menghadapi realitas, jika akal tidak matang. Jika memiliki apa yang perlu untuk membedakan mana yang benar dan yang salah. Tidak, lebih dari itu, mana yang lebih benar diantara dua hal yang salah. Tidak hanya baik dan buruk, namun yang baik diantara yang buruk-buruk itu. Hanya hal seperti yang dapat membantu seseorang untuk tidak terjebak.

Ketika kita ingin agar program kita yang dilaksanakan, maka tak peduli siapapun, dan apapun maka hal tersebut harus tercapai. Demikian juga tentang program yang seharusnya berjalan, hingga mau tidak mau program itu harus berjalan dan terpaksa mengerjakan.

Kadang timbul keinginan untuk melakukan sesuatu. Berharap itu akan jadi yang terbaik. Penuh ambisi serta keyakinan inilah kebaikan. Padahal itu hanya sebuah persepsi bodoh dan picik dari apa yang disebut ketidak bijakan. Sebuah perasaan yang cukup naïf. Pada kasus yang lebih berat maka tentu saja tidak hanya analogi saya ingin makan karena tergoda, atau saya harus makan atau saya mati. Pada keinginan maka sebungkus mie goreng terlihat lezat dan menggoda. Pada kasus keharusan makan, maka sepotong roti yang telah berjamur sekalipun adalah berkah. Sebuah differensiasi kondisi yang sungguh mencolok.

Masalahnya jika dihadapkan makan mie goreng atau roti bongkrek adalah hal yang mudah. Jika keinginan dan keharusan itu yang bertentangan. Yang susah adalah untuk tidak makan mie goreng agar makannya terkontrol, atau melepas roti bongkrek begitu saja untuk seseorang yang laparnya sama dengan kita atau malah lebih. Pertanyaannya adalah bukan sanggup tidak sanggup atau mau tidak mau. Namun melepas begitu saja makanan enak yang sangat ingin kita makan, pernahkah merasakannya. Atau harus berbagi sepotong roti busuk dengan orang lain padahal kita sudah merasakan lapar yang menedekati kematian. Adanya keinginan untuk tidak berbagi karena meresa diri ini juga butuh makan jika tidak akan mati. Maka seharusnya diri ini tidak membagi. Meresa seharusnya, padahal hanya keinginan belaka. Lebih parah lagi merasa harus berbagi, namun tidak bisa. Padahal rasa itulah hal yang seharusnya dilakukan. Itu terbersit dari nurani ketika rasa kemanusiaan tersentuh. Namun perasaan sering menjebak. Manakah yang keinginan, atau keharusan.

Demikianlah tabiat dari keinginan dan keharusan. Keduanya bisa menjadi pilihan. Satu diantara keduanya. Keduanya juga bisa menjadi kolaborasi unik. Keharusan berkerja karena ada keinginan untuk dipenuhi. Sungguh bagai ikatan dua kata rantai yang salingmenguatkan. Tidak melakukan sesuatu yang diinginkan demi hasil terbaik, hingga melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Sungguh merupakan pengorbana terhadap perasaan diri.

Pada akhrirnya kecerdasan akal, kebijaksanaan dibalik pikiranlah yang akan memberi jawaban. Untuk tahu bagaimana seharusnya bersikap. Bukan semata ingin bersikap seperti apa. Atau bagaimana seharunya bersikap, karena ingin sesuatu. Keduanya memeiliki kekuatan. Bersandarkan pada relatifitas pengartian dan penggunaan. Lalu pertanyaanya apa yang akan kita lakukan ? semoga yang terbaik pada waktunya harus melakukan sesuatu.

Wednesday, 30 January 2013

Alam Menuntut Keselarasan

Alam memiliki keselarasan tersendiri
Sadar atau tidak alam diciptakan dalam keadaan tidak seimbang. Alam diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lainnya. Maka dari situ, keseimbangan akan kita dapat terjadi di alam semesta. Karenanya tidak ada hanya siang saja, namun juga malam. Lalu mari kita perhatikan penciptaan makhluk hidup. Adakah kita perhatikan bahwa makhluk hidup diciptakan berpasangan. Ia tidak hanya satu jenis saja. kenapa agar ia dapat menyeimbangkan diri. Hanya dengan begitulah keselarasan dalam hidup bisa didapat.

Mungkin kita dapat melihat bagai mana seekor mantis bersembunyi dibalik dedaunan hijau. Hijau yang diberikan kepadanya selaras dengan alam tempat dia hidup. Dengan begitu ia aman dari musuh yang lebih besar. Namun burung memiliki penglihatan yang lebih tajam, hingga seperti apapun mantis bersembunyi ia akan ketahuan. sama seperti antara  mantis dan pohon, mata burung dengan kemampuan mantis juga memiliki keselarasan. Sederhananya mantis perlu bertahan hidup dan burung perlu bertahan hidup. Mantis berlindung balik warna dan ketangkasannya, sedangkan burung dengan matanya yang tajam. Yang satu perlu bertahan dari pemangsa, sedangkan yang satunya lagi memerlukan pandangan tajam untuk menangkap mangsanya. Burung perlu makanan untuk tidak mati kelaparan dan ia perlu berburu mantis. Demikian juga mantis tidak sulit baginya menemukan jenis belalang lain yang juga sama dengan dirinya hidup di pepohonan.

Lalu bagaimana dengan nasib belalang lainnya, faktanya burung memakan mantis dan belalang. Seekor burung mungkin  memerlukan 4 sampai 6 mantis atau belalang untuk kenyang, sedangkan mantis hanya berlu satu belalang untuk kenyang.Belalang makanan baginya melimpah dan tidak pernah melakukan perlawanan. Mereka makan tumbuhan. Masing-masing diatas antara tumbuhan, belalang, mantis, burung seolah mereka saling mengontrol agar tidak ada yang berlebihan, atau kekurangan. Ketidak seimbangan semua mereka akan berujung pada penderitaan yang menyengsarakan.

Jika saja pohon musnah, maka semua akan mati perlahan dimulai dari belalang, lalu mantis dan burung. jika burung mati maka mantis dan belalang membludak, pepohonan tidak cukup sebagai makanan lalu semua menderita lalu mati. Jika mantis mati, belalang lambat laun membludak, burung banyak makanan,  populasi burung tambah banyak akhirnya. Jalu pohon akan habis karena belalang, dan belalang akan mati kelaparan sambil terus  diburu oleh burung. Setelah semua habis maka burung akhirnya akan mati kelaparan. Lalu setelah semua mati tumbuhan akan mulai tumbuh  dan mulai siklus baru kemampuan yang dikenal sebagai daya lenting lingkungan

Keselarasan itu nampak dari mantis dan belalang yang berwarna hijau, seolah hijau daun itu melindungi mereka. Lalu burung dengan matanya yang tajam. Mari kita perhatikan semuanya semuanya bahkan pohon juga menjadi tempat bagi burung untuk bersarang. Itu semua adalah mata rantai yang tidak akan pernah putus kecuali keadaan menjadi tidak seimbang.

kembali kepada kita sebagai manusia. Peran manusia sangat besar dalam pengaruhnya terhadap keseimbangan. Manusia bisa berfungsi  sebagai pihak penyeimbang atau perusak keseimbangan. Dengan kemampuan itu manusia bisa menjadikan hidup lebih baik, bisa membawa malapetaka. Manusia memiliki kemampuan semua itu. Pertanyaannya adalah apakah kita selaku manusia akan lebih memilih berbuat kerusakan atau melakukan perbaikan. Mata rantai hanya bisa diputus oleh tangan manusia dan menciptakan ketidak selarasan.

Keselarasan adalah anugerah yang patut disyukuri oleh semua ummat manusia. Manusia juga harus menyelaraskan diri. Kesalarasan ini adalah keadilan terhakiki dan manusiawi. laki-laki pasangannya  itu perempuan. Jika laki-laki dengan laki-laki, atau perempuan dengan perempuan maka itu adalah kerusakan yang bertentangan dengan keselarasan alam. Jelas ini adalah perilaku menyimpang yang seharusnya tidak diperagakan oleh manusia. Oleh karenanya manusia harus menolak perilaku seperti ini. Yang berbuat hal yang tidak selaras dengan harmoni alam ini adalah mereka yang telak rusak atau hendak merusak harmonisasi kehidupan.

Dalam setiap pengetahuan kita menemukan titik tekan pada keselarasan. Seperti yin dan yang pada keyakinan Cina. Yakni faktor keseimbangan setiap elemen penyusun kehidupan. Keselarasan antara diri dengan lingkungan dimana kekuatan besar akan diperoleh dari keseimbangan dan keselaras dalam hidup. Jika unsur-unsur atau elemen dalam kehidupan itu tidak dapat diselaraskan maka hidup akan timpang dan pertanda kehancuran akan datang.

Lalu juga dalam  berbagai keyakinan lainnya. Dalam islam berkali-kali alquran membuat perbandingan antara siang dan malam. Alam juga di ciptakan agar kita manusia belajar. Lalu dalam islam dilarang berbuat kerusakan. Artinya harmonisasi alam ini harus dijaga. dan tugas manusia adalah sebagai penjanga keseimbangan tersebut. Allah memerintahkan manusia sebagai khalifah dimuka bumi dengan perintah mutlak untuk tidak berbuat kerusakan. Keselarasan tersebut adalah hal yang harus dicapai, dan ini merupakan sebuah keagungan  pengetahuan. Islam dalam ajarannya telah lebih dahulu menimbang keselarasan alam. dimana segala yang kita butuhkan telah tersedia  dan Allah memerintahkan dalam alquran agar kita manusia menjaga keseimbangan tersebut.

Sungguh Allah telah menganugerahkan tempat yang layak untuk kita hidup. Lalu tugas kita tidak hanya untuk hidup saja. Namun kita perlu menjaga lingkungan ini, menjaga alam sekitar kita agar kita bisa bertahan didalamnya. Dengan begitu kita dapat dikatakan sebagai hamba  yang bersyukur.