Friday, 8 March 2013

Apa Yang Harus dilakukan Dan Apa Yang Ingin dilakukan


Hidup didunia yang tidak sempurna membuat manusia harus memenuhi keinginannya. Hal tersebut membuat manusia “melakukan banyak hal untuk memenuhi keinginannya”. Untuk mendapatkan kebutuhannya manusia dihadapkan pada “melakukan sesuatu”. Semacam real action untuk memenuhi apa yang kurang.
]
Secara alamiah manusia melengkapi apa yang kurang. Kekayaan, teman, harta, ilmu pengetahuan, agama, dan banyak hal. Tak terkira apa yang bisa menjadikan itu semua cukup. Maka tidak salah jika Muhammad SAW dalam salah satu sabda mengatakan, “manusia itu jika diberikan satu gunung Uhud emas, maka ia akan meminta dua”. Itulah kenyataan manusia. Tidak pernah puas. Mungkin hanya syukur yang bisa membuat manusia serba berkecukupan. Jika tidak maka yang ada hanyalah serba kekurangan.

Manusia punya banyak keinginan. Keinginan tersebut membuatnya merasa harus malakukan sesuatu. Saya harus makan, saya harus minum, saya harus punya mobil, saya harus punya rumah, saya harus punya uang, saya harus punya istri, saya harus membahagiakan orang tua, saya harus menyingkirkan semua lawan saya, saya harus berkuasa, saya harus bisa apa saja, mendapatkan apa saja.

Lalu adakah beda dengan saya ingin makan, saya ingin minum, saya ingin punya mobil, saya ingin punya rumah, saya ingin punya uang, saya ingin punya istri, saya ingin membahagiakan orang tua, saya ingin menyingkirkan semua lawan saya, saya ingin berkuasa, saya harus bisa apa saja, mendapatkan apa saja.
Saya ingin berkerja untuk memenuhi kebutuhan saya, saya harus berkerja untuk memenuhi kebutuhan saya. Adakah beda dari kedua kata tersebut.

Ya semua orang tahu kata tersebut memiliki arti yang berbeda, walau tidak beda jauh. Namun sebenarnya benang merahnya besar. Jika disandingkan kata saya harus, artinya mau tidak mau itu harus dilakukan karena itu adalah hal terbaik untuk dilakukan pada saat itu. Jika tidak dilakukan maka akibatnya akan buruk secara realitas. Tidak hanya buruk secara perasaan. Buruk secara perasaan adalah karena kita merasakan hal yang buruk, meski tidak ada hal yang buruk menimpa. Begitullah kita-kira, semoga tidak bingung.

Ketika yang disandingkan adalah kata ingin, maka maknanya itu sarat ambisi. Sarat cita-cita, harapan, kemauan. Ia lebih mengedepankan perasaan individu. Nafsu yang mendorong untuk seperti itu. Membuat siapa saja merasa buruk karena tidak dapat memenuhi apa yang disebut dengan keinginan. Sekalipun hal buruk sebenarnya tidak menimpa, namun perasaan itu akan terus ada. Hal ini dikarenakan ketidak nyamanan jiwa atas apa yang terjadi. Atas apa yang tidak dapat dipenuhi dari keinginannya.

Seorang harus makan ketika lapar, jika tidak maka konsekuensinya akan kelaparan, terbaiknya adalah sakit, terburuknya tentu saja mati kelaparan. Namun ketika makanan enak tersaji, yang muncul adalah keinginan untuk makan, tergiur dan memancing untuk melahap makanan yang ada. Jika seseorang lainnya mengambil makanan yang ingin dimakan mungkin akan kelihatan buruk, merasa hal buruk telah terjadi. Padahal tidak hanya tidak nyaman kerena tidak bisa makan, hal yang lezat yang ingin untuk dimakan tentunya. Akan berbeda jika seseorang sudah seminggu tidak makan, lalu menemukan seekor ikan untuk dipanggang. Pasti akan enak dan menyelamatkan jiwa. Namun seekor kucing menghabiskan ikan tersebut tanpa permisi. Hal buruk pasti akan menimpa. Jelas didepan mata jika peluang mati kelaparan bertambah persentasenya.

Keinginan bisa membuat orang berkerja. Keinginan yang kuat, kerja dengan sukarela untuk meraih apa yang diinginkan. Keharusan bisa membuat orang berkerja, dihadapkan pada tidak adanya pilihan kecuali berkerja memenuhi baik sukarela atau terpaksa. Jika keinginan kuat bisa memiliki power untuk orang secara sadar atau tidak berkerja dengan sukarela, keharusan memaksa orang untuk melakukan apa saja untuk bertahan. Sungguh keduanya adalah kekuatan yang luar biasa jika diarahkan kepada hal yang bagus.

Sayang beribu sayang

Yang sangat disayangkan adalah kebanyakan kita terjebak antara keinginan dan keharusan. Ketika perasaannya membuncah, namun berhadapan. Ketika harus memilih menuruti keingan atau mengerjakan apa yang disebut dengan keharusan. Sering keinginan itu teranggap sebagai sebuah keharusan. Hal yang perlu dilakukan, walaupun sebenarnya tidak.

Sulit memang menghadapi realitas, jika akal tidak matang. Jika memiliki apa yang perlu untuk membedakan mana yang benar dan yang salah. Tidak, lebih dari itu, mana yang lebih benar diantara dua hal yang salah. Tidak hanya baik dan buruk, namun yang baik diantara yang buruk-buruk itu. Hanya hal seperti yang dapat membantu seseorang untuk tidak terjebak.

Ketika kita ingin agar program kita yang dilaksanakan, maka tak peduli siapapun, dan apapun maka hal tersebut harus tercapai. Demikian juga tentang program yang seharusnya berjalan, hingga mau tidak mau program itu harus berjalan dan terpaksa mengerjakan.

Kadang timbul keinginan untuk melakukan sesuatu. Berharap itu akan jadi yang terbaik. Penuh ambisi serta keyakinan inilah kebaikan. Padahal itu hanya sebuah persepsi bodoh dan picik dari apa yang disebut ketidak bijakan. Sebuah perasaan yang cukup naïf. Pada kasus yang lebih berat maka tentu saja tidak hanya analogi saya ingin makan karena tergoda, atau saya harus makan atau saya mati. Pada keinginan maka sebungkus mie goreng terlihat lezat dan menggoda. Pada kasus keharusan makan, maka sepotong roti yang telah berjamur sekalipun adalah berkah. Sebuah differensiasi kondisi yang sungguh mencolok.

Masalahnya jika dihadapkan makan mie goreng atau roti bongkrek adalah hal yang mudah. Jika keinginan dan keharusan itu yang bertentangan. Yang susah adalah untuk tidak makan mie goreng agar makannya terkontrol, atau melepas roti bongkrek begitu saja untuk seseorang yang laparnya sama dengan kita atau malah lebih. Pertanyaannya adalah bukan sanggup tidak sanggup atau mau tidak mau. Namun melepas begitu saja makanan enak yang sangat ingin kita makan, pernahkah merasakannya. Atau harus berbagi sepotong roti busuk dengan orang lain padahal kita sudah merasakan lapar yang menedekati kematian. Adanya keinginan untuk tidak berbagi karena meresa diri ini juga butuh makan jika tidak akan mati. Maka seharusnya diri ini tidak membagi. Meresa seharusnya, padahal hanya keinginan belaka. Lebih parah lagi merasa harus berbagi, namun tidak bisa. Padahal rasa itulah hal yang seharusnya dilakukan. Itu terbersit dari nurani ketika rasa kemanusiaan tersentuh. Namun perasaan sering menjebak. Manakah yang keinginan, atau keharusan.

Demikianlah tabiat dari keinginan dan keharusan. Keduanya bisa menjadi pilihan. Satu diantara keduanya. Keduanya juga bisa menjadi kolaborasi unik. Keharusan berkerja karena ada keinginan untuk dipenuhi. Sungguh bagai ikatan dua kata rantai yang salingmenguatkan. Tidak melakukan sesuatu yang diinginkan demi hasil terbaik, hingga melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Sungguh merupakan pengorbana terhadap perasaan diri.

Pada akhrirnya kecerdasan akal, kebijaksanaan dibalik pikiranlah yang akan memberi jawaban. Untuk tahu bagaimana seharusnya bersikap. Bukan semata ingin bersikap seperti apa. Atau bagaimana seharunya bersikap, karena ingin sesuatu. Keduanya memeiliki kekuatan. Bersandarkan pada relatifitas pengartian dan penggunaan. Lalu pertanyaanya apa yang akan kita lakukan ? semoga yang terbaik pada waktunya harus melakukan sesuatu.

No comments:

Post a Comment