Wednesday, 20 March 2013

hubungan antara lada dan keberhasilan

Troh kapai meu baroe pula lada
itulah istilah yang sering diungkapkan orang Aceh. Istilah untuk menyampaikan pendapat terhadap seorang yang terlambat dalam bersikap. Terlambat dalam mengambil kebijakan hingga pada tahapan sudah sampai tenggat waktu yang mustahil berhasil.

Oleh karena itu sering orang tua menasehati dengan kata-kata bek oh trok kapai meubaro jak pula lada. Itu adalah peringatan untuk jangan lalai. Jangan menunda perkerjaan. Kerjakan selagi waktu memungkinkan untuk selesai.

Adapun makna dari kata 'troh kapai meu baro jak pula lada' jika di indonesiakan berarti 'ketika kapal sampai barulah mulai menanam lada'. Pertanyaannya akankah lada dimuat ketika kapal berlayar kembali. Tentu saja tidak. Tidak mungkin kapal menunggu lada panen dulu baru berangkat. Hal tersebut akan membuat lada yang sudah dimuat membusuk. Nah mustahilkan. Makanya nasehatnya juga 'bek oh trok kapai baro meujak pula lada' ' jangan ketika kapal datang baru mulai menanam lada'. Ini adalah pengingat yang cukup bijak.

Kata-kata mutiara tersebut, yang dalam bahasa Aceh dikenal dengan hadih maja adalah pengingat. Ia menjelaskan antara perencanaan dan pelaksanaan haruslah sesuai dengan target. Jangan terlalu asik membuat perencanaan dan malah lupa melaksanakannya. Al hasil ketika sudah kepepet deadline, baru pusing bagaimana agar rencana sukses dan berjalan lancar.

Perencanaan matang memang perlu, namun jangan larut dalam perencanaan. Asik berdialektika dan akhirnya hanya menimbulkan kinerja pasif. Apakah berkerja secara pasif akan berhasil, jika tidak ada tenaga yang berkerja secara aktif. Tentu tidak.

Contohnya merencanakan makan tidak akan membuat anda kenyang. Memiliki uang tidak akan membuat perut anda terisi. Yang membuat kenyang dan perut terisi adalah dengan makan. Bukankah seperti. Dan inilah yang dinamakan realitas.

Keterlambatan memilih sikap. Serta perisiapan yang tidak matang akan berbuah kegagalan. Seperti kata perdana menteri Cao-Cao dalam film Ced Cliff. Karena lupa memasang satu paku sepatu kuda, sepatu bisa lepas, jika sepatu kuda lepas, maka ia tidak dapat berlari, jika kuda tidak dapat berlari, pengantar pesan akan terlambat, penggantar pesan terlambat, akibatnya kalah perang.

Sebegitulah pentingnya persiapan yang matang dan perencanaan yang bagus. Namun asik membahas perencanaan bukanlah hal yang tepat. Jika pengantar pesan asik memikirkan bagaimana cara efektif mengantar pesan, juga akan membuat ia terlambat. Bisa jadi perang sudah dimulai, pengantar pesan masih memikirkan rencana. Hasilnya juga kalah perang.

Jadi mari menanam lada, mari memasang sepetu kuda dari sekarang. Agar ketika kapal datang, lada sudah dalam karung. Ia siap bongkar muat. Lihat deadline kapal, dan mulai membagi waktu, antara berapa lama waktu untuk mematangkan rencana, dan berapa lama waktu untuk mematangkan persiapan. Berapa lama waktu yang akan dihabiskan untuk mengerjakan semua agar selesai dengan sempurna tepat pada waktunya. Perlu apa yang dikenal dengan manajemen yang bagus. Agar fokus pada masing-masing tahapan. Bukan malah sibuk atau hanya terfokus pada satu tahapan saja, hingga larut, atau malah berlarut-larut didalamnya.

No comments:

Post a Comment