Wednesday, 12 March 2014

Prasangka

Malam ini begitu spesial. Ini adalah malam di mana saya di ajarkan soal prasangka. Sungguh halus cara saya mendapatkan pelajaran tersebut. Ibrah yang dapat saya ambil adalah jangan suka mengecap orang lain hanya dari bagaimana kamu bertemu dia pertama kali. Perlu untuk selami dulu orang lain, baru nge judge orang lain.

Cerita malam ini, berhubungan erat dengan perjalanan saya pada malam lainnya. Saat itu saya dalam perjalanan menuju Blang Pidie, Aceh Barat daya. Saya menghubungi seorang yang menyediakan angkutan. Dia langganan seorang teman. Dia menyanggupi dan menyediakan ankutan guna saya berangkat. Karena mobil miliknya sudah penuh, dia mengirim seorang lainnya dengan angkutan serupa.

Mungkin saya perlu menjelaskan jika angkutan umum di aceh seperti bersaing memberikan kenyamanan bagi penumpang. Mungkin karena orang aceh suka memilih angkutan yang nyaman, tanpa mempermasalahkan harga yang sedikit lebih mahal. Walaupun tawar menawar tetap.

Kembali ke inti masalah, malam itu perjalanan cukup menyenangkan. Hanya ada tiga orang penumpang. Jadi kami berempat dengan sopir di dalam mobil. Sangat nyaman, karena normalnya tujuh orang plus dengan supir. Yaaa, mobil sekelas kijang innova, cukup nyaman untuk perjalanan jauh.

Ketika perjalanan hampir sampai, kami ganti mobil. Hal itu terpaksa dilakukan karena mobil lain dari angkutam yang sama kena musibah. Di mobil yang kena musibah ada lima penumpang, karyawan sebuah bank yang harus ke Banda Aceh. Hasil koordinasi antar supir, kami dinaikkan ke mobil lain. Mobil yang kami naiki tadi balik arah untuk menjemput yang kena musibah, sedang kami melanjutkan perjalanan ke Blang Pidie.

Setelah sampai tujuan, saya turun di daerah bernama susoh. Saya bertanya pada supir yang baru, apakah abg supir tadi menitipkan uang kembalian untuk saya. Sopir baru tadi berkata tidak, hanya barang saja yang dipindahkan dari mobil pertama tadi.

Saya yang pergi dengan uang pas-pasan merasakan betapa berharganya uang kembalian tersebut. Tega abang supir tadi tidak mengembalikan. Saya sempat berprasangka buruk, mengenai abang supir yang mengambil kesempatan dalam kesempatan yang lapang. Akhirnya saya bisa menahan diri, untuk ikhlas. Toh perjalanan kami layak dihargai demikian. Ini karena penumpang abang supir tadi tidak sampai target, namun dia tetap berangkat pada waktu harusnya ia berangkat. Tidak ada delay buat mencari penumpang tambahan.

Menakjubkan, malam ini saya berangkat ke Aceh Selatan. Saya menghubungi supir lainnya lagi. Namun ternyata yang menjemput supir yang saya anggap mencurangi uang kembalian. Saya sebenarnya sudah melupakan kejadian itu. Bahkan tidak ingat jika supir kali ini adalah abang curang, hehe.

Yang membuat saya salut sekaligus malu pada diri abang sopir ini duluan menyapa. "Hai bg jodoh kita bg. Ini abang yang kemaren ke Blang Pidie kan. Memang jodoh kita bg, siapa sangka saya lagi yang menjemput abang malam ini. Ketika ke Blang Pidie saya tidak sempat mengembalikan uang kembalian. Memang jodoh kita bang. Saya minta maaf"; sapa abang supir ramah.

Saya tertegun, dia menandai saya. Saya sudah salah sangka dengan abang sopir. Saya harus angkat salut dengan abang sopir. Bahkan prasangka saya terlalu buruk mengira dia mengambil kesempatan. Ternyata dia sangat baik hati dan jujur.

Allah sungguh maha bijaksana. Cara Allah sungguh berbeda, ketika Allah hendak memberikan pada kita selaku hambanya pelajaran. Malam ini saya mendapat pelajaran, apapun kondisinya cobalah dulu berbaik sangka, hingga hal yang buruk yang kita anggap ada dapat dibuktikan. Jangan larut dalam prasangka dan akhirnya asik disibukkan dengan mengecap orang lain tidak benar.