Saturday, 10 May 2014

Dapatkah Kamu Pelangi Dikala Hujan

Hidup ini terkadang berat. Ragam cobaan datang menerpa. Hidup bagaikan awan mendung yang mengguyur hujan lebat. Sedangkan raga tiada tempat untuk berteduh. Tiada payung sekalipun dari pelepah pisang. Tiada atap sekalipun gubuk reot.

Kadang kita tidak sadar, hanya ketika hujan lebatlah pelangi terlihat. Indahnya bukan kepalang tayang. Melengkung sempurna menghias kelabunya langit. Kadang kita hanya bisa takjub, saat melihat warna-warni dilangit kelam.

Rasa-rasanya tidaklah mengapa berbasah kuyup, jika indahnya pelangi melenakan mata. Dingin yang membuat tubuh bergetar, menghangat kala pelangi menyapa. tempat berteduh hanya menjadi penghalang pandang terhadap indahnya pelangi.

Terlihatkah pelangi

Apakah setiap hujan pelangi akan muncul? Tentu saja jawabannya ia, setiap hujan pelangi akan muncul. Kecuali jika hujannya dimalam hari. Saat gelap gulita,  yang jangankan matahari, rembulanpun tidak memancarkan cahayanya yang redup.

Pelangi akan selalu menghiasi langit dikala hujan, hanya saja pertanyaan yang tepat  adalah apakah kita dapat melihat indahnya pelangi? jawabannya tergantung pada posisi kita. Bukan masalah beruntung atau tidak untuk melihat pelangi, melainkan posisi kita dari arah datangnya cahaya.

Jika berada pada posisi yang salah tentu saja pelangi tidak terlihat. Namun begitu bukan berarti pelangi tidak ada, ia tetap ada. Catatan yang perlu diingat adalah berada pada posisi yang tepat. Posisi yang memungkinkan mata melihat bias cahaya yang membentuk pelangi.

Jika kita berada pada posisi yang salah, maka tidak mungkin bagi mata melihat pelangi. Namun perlu diingat juga tidak mungkin bukan berarti mustahil. Kita hanya butuh usaha lebih untuk berada di posisi yang tepat. Kita hanya perlu menyesuaikan posisi dengan arah datangnya cahaya.

Kadang payung hanya menghalangi pandang, tempat berteduh hanya membuat kita tidak sadar. Diluar sana, ada pelangi yang cukup indah. Hingga kita lena berteduh dan melewatkan indahnya pelangi.

Demikianlah hidup. Semua sudah dalam skenario besar. Awal yang pahit, adalah ajang latihan untuk manis yang akan dipetik. Kita tidak akan pernah tahu terang, jika tidak ada gelap sebagai pembanding. Kita tidak akan tahu senang jika tak merasa bagaimana yang dinamakan susah. Tak akan tahu keindahan jika tidak ada pembanding dengan yang tidak indah.

Pertanyaannya lagi, sudahkah kita pada posisi yang tepat. Ibarat melihat pelangi, adakah kita belajar dari cobaan yang menimpa. Hingga pelangi yang muncul dapat kita rasa indahnya. Atau kita hanya jadi orang yang berlindung dibalik payung, hingga tidak sadar pelangi telah memberi senyum terindahnya.

Sekali lagi, kita perlu berada pada posisi yang tepat. Telah terbekal dengan segala yang perlu, untuk menyambut indahnya hidup. Kita perlu belajar dari pengalaman pahit, agar lain tidak lupa diri ketika manis terengguk.

Jika pahit mengajarkan kita bersyukur akan rasa manis, maka gagal akan mwngajarkan kita untuk memperbaiki diri. Dengan begitu keindahan akan kita rengkuh. Sebuah keberhasilan yang penuh makna.

Yang patut disayangkan adalah yang tidak mau belajar. Hingga tidak pernah tahu cara melihat pelangi. Hanya berfikir jika itu hanya keberuntungan semata. Padahal nyatanya tidaklah demikian, pelangi selalu ada kala hujan. Dan pada akhirnya merugi karena ketidaktahuan.

No comments:

Post a Comment