Friday, 4 July 2014

Keahlian Sang Wayang

Tulisan ini lahir akibat pengamatan. Semoga menjadi nasehat bagi kita semua. Karena sangat penting untuk terus mengevaluasi diri. Meningkatkan kapasitas guna meraih apa yang disebut dengan keberhasilan yang hakiki.

Wayang sejatinya mati. Digerakkan oleh dalang. Wayang tidak bisa apa-apa. Wayang hanya bergerak sebagaimana digerakkan sang dalang. Wayang tidak pernah punya inisiatif untuk melakukan sesuatu apapun.

Wayang tidak pernah berfikir. Tidak pernah ptotes. Tidak pernah wayang memiliki pemikiran baru. Gerakan wayang lebih menyedihkan dari pada seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, lalu dihalau dengan cemeti.

Dalam dunia perdalangan dikenal adanya pakem. Alur yang harus dipatuhi oleh setiap dalang. Jalan cerita atau skenario yang menjadi karakter juga nantinya bagi tiap wayang. Pakem ini tidak boleh dilanggar oleh tiap dalang. Karena akan merubah alur cerita hingga karakter tokoh.

Yang namanya wayang sejatinya seperti tokoh tanpa karakter. Akan sangat mudah bagi dalang mengatur karakter wayangnya. Hal tersebut karena wayang tidak pernah berfikir yang mana benar atau mana salah.

Wayang tidak protes ketika dalang melanggar pakem. Demikian juga ketika sang dalang menabalkan karakter lain kepada sang wayang. Bahkan wayang tidak pernah tahu atau mau tahu tentang apa yang terjadi dengan dirinya. Ia terus bergerak sebagaimana kehendak dalang. Wayang tidak peduli sama sekali apa maksud, atau apa yang hendak dalang lakukan. Tak berfikir kearah konsekuensi atau akibat dari sebuah tindakan.

Wayang tidak akan bisa menjawab pertanyaan kenapa. Wayang tidak pernah berfikir bagaimana nantinya. Wayang hanya akan menjadi wayang. Sebentuk karakter semu yang hanya tahu patuh, namun tidak memiliki pemahaman.

Sebagai manusia, memiliki karakter seperti wayang tidak bagus. Sifat kritis sebagai manusia terbunuh. Padahal manusia harus berpikir kritis. Manusia telah di anugerahkan akal untuk berfikir.

Manusia diberikan kemampuan untuk menimbang baik atau buruk. manusia diberi kemampuan untuk terus belajar. Dari masa lalu manusia bisa menentukan langkah baik untuk kedepan. Kecuali orang yang tidak mau berfikir. Dan wayang, bukankah wayang tidak pernah berfikir.

Seekor sapi yang di cucuk hidungnya, diarahkan dengan cemeti sekalipun akan melenguh. Ketika di cambuk dia akan menggeliat. Meski tidak kuasa untuk melawan dan hanya bisa patuh, kerbau bisa protes ketika mendapat perlakuan tidak adil. Memberontak jika diperlakukan secara salah. Tak jarang penjinak kerbau harus berakhir di tanduk kerbau. Kerbau yang dicucuk hidung sekalipun menunggu kesempatan untuk lepas, lalu melawan jika diperlakukan secara salah.

Bahkan kerbau yang tercucuk hudungnya, memiliki karakter berbeda dengan wayang yang hanya tahu kata patuh. Kerbau tidak memiliki kesempatan melawan, meski itu kesalahannya. Namun bukan berarti ia tidak memiliki kekuatan. Kerbau akan melawan pada satu waktu dan kesempatan. Sedangkan wayang, tanpa hidung yang tercucuk, lebih bebas,  tidak berfikir untuk melawan hal yang buruk, tidak berfikir untuk membenarkan yang salah.

Untuk itu jangan seperti wayang. jadilah manusia yang memahami dimana ia berada. Yang sehat akalnya, serta menggunakan akal sehatnya. Bisa memisahkan yang baik dengan yang buruk. Dapat membedakan hal yang benar atau salah. Bukan menjadi orang yang hanya patuh tanpa berfikir.

No comments:

Post a Comment