Thursday, 31 July 2014

Mercon dan Hari Raya

Mercon adalah alat ledak dengan daya yang sangat kecil. Mercon dapat dikatakan sebagai bahan peledak dalam kadar yang tidak berbahaya. Mercon digunakan untuk memeriahkan acara. suara menggelegar dan memberi efek kejut ini disukai oleh sebagian orang. Banyak yang berkata mercon adalah lambang kemeriahan. Sebagian orang lainnya mengatakan tanpa mercon perayaan apapun nampak akan sunyi.           

Namun kemeriahan yang diharap, akhir-akhir ini malah berubah menjadi petaka. Contohnya di desa kampung halaman saya, telah terjadi kebakaran hebat.kebakaran tersebut membutuhkan kekuatan hingga enam mobil pemadam kebakaran untuk mengalahkan api. Beruntung air mudah didapat karena dilewati saluran irigasi. Penyebab kebakaran adalah mercon berjenis kembang api. Mercon ini ditembakkan ke arah atas dan menyebabkan kilatan api warna-warni disertai ledakan. Ternyata mercon tersebut menyebabkan kebakaran hebat. Berutung tidak ada korban jiwa atau harta benda dalam kejadian tersebut. Yang terbakar hanya lahan yang tidak dihuni penduduk. Tetap disayangkan karena lahan tersebut adalah hutan, atau wilayah hijau desa.

Berita kebakaran dikota Lhokseumawe yang menghanguskan hingga enam rumah. Kejadian tersebut adalah kejadian yang sangat disayangkan. Memang ini adalah sebuah musibah yang bermakna cobaan bagi korban. Sangat disayangkan adalah penyebab kebakaran lagi-lagi akibat mercon. Kesenangan atau hura-hura bagi sebagian kecil orang yang berakibat petaka atau musibah bagi orang lain.

Sebenarnya mercon itu sendiri bukanlah bagian dari adat, tradisi, apalagi syariat dalam memeriahkan hari raya. Mekanisme perayaan dua hari raya dalam islam adalah dengan meneriakkan takbir, tahlil, dan tahmid. Bersama kita mengagungkan kebesaran Allah. Kita semua akan larut dalam bahagia karena mengingat Allah, bukan kesenangan sesaat ketika mercon meledak.

Terlalu jelas sudah nampak, bagi ummat muslim belakangan posisi takbir hampir digantikan oleh mercon. Bahkan ada orang yang seperti tidak tahu aturan, ketika azan, dimejid dilaksanakan shalat berjamaah, di ikuti takbir hari raya setelah salat, orang tersebut malah menyalakan kembang api atau hingga suaranya menggelegar ke udara. Kejadian seperti ini tentu sangat miris, dalam merayakan lebaran, tidak salat lima waktu dan malah meledakkan mercon yang suaranya tentu akan mengganggu orang yang sedang lebaran.

Mercon sendiri sebenarnya identik dengan perayaan cina. Hari raya cina atau Imlek sering dimeriahkan dengan ledakan petasan. Pada perayaan tersebut memang cirikhasnya demikian. Orang jepang juga punya hari khusus dimana ada perayaan kembang api. Tentu kedua tradisi diatas berbeda dengan tradisi muslim. Hari raya muslim telah di jelaskan aturan mainnya. Ciri yang khas dari perayaan hari raya adalah takbir yang menggema memenuhi jagad raya. 

Asimilasi budaya bukanlah hal yang perlu ditakutkan memang, namun jika itu sifatnya mengikis suatu budaya yang khas dan sudah ada, sebaiknya tidak diteruskan. Ada perayaan yang memang memiliki ciri khas tersendiri dan tidak perlu dicampur dengan tradisi dari budaya lain. Hal ini akan mengikis keberagaman budaya sebenarnya, hingga tidak ada perayaan yang khas lagi ketika dua hari raya. bukankah akan lebih indah jika masing-masing perayaan punya tema dan cara sendiri. khususnya bagi ummat muslim hari raya di isi dengan takbir adalah ciri khas. Jangan sampai generasi anak-anak muslim berikutnya tidak lagi mengenal takbir, hanya mengenal mercon setiap malam hari raya. Apalagi mercon adalah mainan yang lebih banyak bahayanya, dari pada manfaatnya.

No comments:

Post a Comment