Monday, 1 December 2014

Protes Kopi Pahit Itu Kesalahan

Tulisan ini terinspirasi dari postingan kawan saya di fb dia. Membuat saya berkomentar di sana. Kurang lebih " mungkin karena gula, hingga orang tak tahu rasa kopi itu sebenarnya pahit " begitulah komentar saya. kalau tidak percaya cek aja, paling nggak ada kekurangan sana - sini dalam pengutipan. Hehe.

Kembali ke serius, memang kita tak sadar. Kita marah, protes terkadang. Sering terucap "kopi macam apa pahit begini, cuih". Ini adalah orang yang tidak tahu rasa sebenarnya dari kopi. Ia terbiasa minum kopi dengan gula atau susu.

Sejatinya kopi itu pahit. Maka sewajarnya adalah minum kopi itu coba menikmati pahitnya. Rasa pahit adalah normal pada kopi. Malah kopi manis artinya sudah tercemar oleh pemanis seperti gula dan sejenisnya.

Maka seharusnya yang aneh adalah pencaci kopi pahit. Karena ia mencaci hal yang seharusnya. Mencaci hal yang wajar. Tanda dari sebuah kebodohan. Namun naifnya itu, banyak orang yang tidak mencerca pahitnya kopi, ketimbang mencoba menikmati.

Salah kaprah, dilakukan banyak orang. Bahkan yang mengaku penikmat kopi marah kopinya pahit. Wujud ketidak tahuan bagaimana kebenaran dari kopi. Lalu dapatkah orang yang tidak tahu rasa original segelas kopi disebut penggemar kopi. Ngaku-ngaku sih ok.

Mari kita ibaratkan kopi ini hidup. Menikmati kopi adalah menikmati kehidupan. Pelajaran apa yang kita dapat. Sungguh kita telah ditipu oleh pemanis. Hingga kita tidak tahu lagi makna dari sejatinya kita hidup.

Menikmati hidup berarti menikmati tiap prosesnya. Bukan mencaci sisi yang tidak kita senangi saja. Bukan mencerca pahitnya, namun pahit itu didalamnya ada kenikmatan. Hanya saja yang tidak tahu bagaimana hidup sejatinya.

Atau kebanyakan kita hanya tahu hidup ini manis. Hingga ketika pemanis habis, hidup menampakkan kecutnya. Cacian, makian, sumpah serapah lebih mudah keluar.

Padahal sejatinya menikmati hidup seperti menikmati segelas kopi panas. Diseruput pelan, penuh syukur dan sabar. Tidak mungkin menenggak segelas kopi panas sekaligus. Begitu pula cara menikmati hidup. Dengan penuh rasa syukur dan kesabaran. Bukan dengan cacian dan sumpah serapah.

No comments:

Post a Comment