Thursday, 28 April 2016

Pentingya Jalur Tengah Aceh

PEMBANGUNAN jalan tembus memang kerap menimbulkan kontroversi, terutama dalam kaitannya dengan kelestarian lingkungan. Kerusakan lingkungan yang memang sudah parah akan bertambah ketika jalan dibangun. Dapat dipastikan jika ruas badan jalan dikerjakan, maka hutan akan ditebang selebar dan luas badan jalan di sepanjang jalur yang akan dibuat. Belum lagi alasan lainnya, seperti prediksi atas bertambahnya kegiatan illegal logging karena jalur transpor sudah tembus.
Terlepas dari kekhawatiran tersebut, satu hal yang mesti diakui bahwa pembangunan sarana dan prasarana transportasi, seperti membangun jalan tembus itu adalah satu keharusan bagi upaya membuka isolasi dan memperlancar perekonomian daerah. Dalam konteks ini, upaya membuka dan meningkatkan kualitas jalan di jalur tengah Aceh mendesak dilakukan, guna membuka akses hubungan antara wilayah pedalaman yang masih tertinggal dengan wilayah pesisir yang sudah lebih maju.
Mari sejenak, misalnya, kita mengalihkan perhatian kita kepada masyarakat di Kecamatan Leuser, Aceh Tenggara. Ada berapa desa di sana, seperti Bunbun Indah, Poncenali, Bunbun Alas, dan beberapa desa lainnya yang total ada tujuh desa, yang terisolir setiap musim hujan. Tidak ada jalan yang layak menuju ke kecamatan itu, selain jalan setapak yang dipaksa lewat mobil. Pada musim hujan, mobil tidak akan bisa menembus daerah tersebut karena kondisi jalan becek serta banyaknya pendakian dan turunan lereng gunung.

 Tidak bisa dipasarkan
Daerah yang berada dekat dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) tersebut merupakan penghasil komoditas perkebunan dan pertanian, seperti karet, kemiri, coklat, dan jagung. Pada musim hujan semua komoditas tersebut tidak bisa dipasarkan ,hingga berpengaruh terhadap income dari masyarakat. demikian juga dengan aliran sembako daerah tersebut tersebut, akan terhenti di musim penghujan. Masyarakat terpaksa bertahan dengan kondisi seadanya.
Hal tersebut membuktikan betapa vitalnya peran transpotasi yang menjangkau, dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Alasan kekhawatiran akan merusak lingkungan kerap menjadi penyebab terhentinya pembangunan jalan tembus. Pemerintah sering harus mengubah dan menghentikan program pembangunan jalan tembus atas desakan pihak-pihak tertentu yang khawatir akan merusak kelestarian hutan.

Namun, menurut penulis, ada beberapa alasan yang terkesan tidak logis menurut pemikiran penulis. Terkait alasan penolakan pembangunan dikarenakan faktor lingkungan. Kerusakan pada sebuah pembangunan adalah resiko yang harus diambil, untuk masa depan lebih baik dan menguntungkan semua pihak. Memang masalah AMDAL kadang menghalangi, namun kerusakan yang dibuat karena pembangunan badan jalan tidaklah separah illegal logging yang dilakukan cukong kayu.

Lalu alasan akan bertambah maraknya illegal loging jika hutan semakin mudah diakses adalah ketakutan yang tidak beralasan. Hal tersebut dikarenakan mudah diakses, maka akan memudahkan pengawasan, hingga pencegahan terhadap illegal loging semakin mudah. Salah satu kesulitan mencegah penebangan liar selama ini adalah karena alasan medan yang sulit dijangkau. Jika merujuk pada alasan ini, maka penulis tahu betul jika cukong lebih memilih tidak ada jalan menuju tempat illegal logging yang layak, hingga tidak ada pengawasan dan ia lebih leluasa.

Jalan yang semakin dapat menembus ke daerah pelosok bukan ancaman bagi hutan, melainkan memudahkan perlindungan, dengan semakin mudahnya diakses ke lokasi illegal logging. Seperti kejadian di Kecamatan Loser juga, menurut warga di sana, masyarakat tidak pernah menebang kayu, melainkan perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi sejak era Orde Baru. Masyarakat sekitar membagi antara hutan yang diambil manfaat untuk kebun dengan hutan jatah Loser. Hal itu guna menjaga kelestarian lingkungan.

Menurut keterangan yang penulis peroleh dari Kepala Desa Bubun Indah dalam satu peninjauan ke lokasi, masyarakat takut melanggar hutan yang menjadi jatah Loser (gunung Leuser) dikarenakan bisa menimbulkan bahaya banjir, jika Lawe (sungai) Alas meluap saat musim hujan. Selama jatah Loser tidak diganggu maka masyarakat akan aman dari banjir. Namun yang sangat disesalkan warga disana adalah kenapa jalan yang layak, bagus dan beraspal tidak dibangun ke daerah kecamatan mereka.

Sama halnya dengan kejadian banjir Tangse, yang mana ekosistem Ulumasen yang kabarnya belum bisa diakses dengan mudah, namun sudah rusak. Oleh kerena itu bukan alasan tepat jika jalan yang memadai sampai kepelosok, sampai proyek jalan tembus yang diwacanakan pemerintah dapat menjadi penyebab kerusakan lingkungan yang bertambah parah, justru pengawasan juga dapat dilakukan dengan lebih baik. Hanya saja berapa kuat kita mengawal pemerintah agar melakukan pengawasan yang serius terhadap lingkungan.

 Meminimalisir kerusakan
Dalam pembangunan, memang selalu dibutuhkan pengorbanan. Termasuk mengorbankan lingkungan. Tidak mungkin membangun sesuatu tanpa harus merusak sesuatu yang sudah ada. Namun yang benar adalah meminimalisir kerusakan. Ada sebuah nilai yang harus diperhatikan dalam melakukan pembangunan, yakni besar maslahat yang diberikan daripada kerusakan yang dibuat. Tentu ada tingkat dari resiko yang dapat diterima dalam melakukan suatu perkerjaan.

Demikian juga dalam melakukan pembangunan yang harus bersinggungan dengan kerusakan alam. Hal yang harus jadi perhatian kita adalah berapa manfaat yang akan diterima masyarakat pedalaman dari dibangunnya jalan. Tentu lebih besar manfaatnya. Jalan tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk kemudahan akomodasi masyarakat. dibandingkan saja dengan kerusakan akibat ulah cukong kayu yang saban hari hutan kita makin gundul.
Kita harus bijak dalam menilai, jangan dikarenakan ingin menyelamatkan sesuatu yang juga penting malah merusak hal lain yang lebih penting. Setiap masalah itu memiliki resiko dan solusi untuk meminimalisir akibat. Demikian juga efek yang diberikan lingkungan sebagai akibat dari pembangunan.

Kita berharap agar jalan yang dibangun, serta pembangunan lainnya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Kita harus bijak dalam menimbang, hingga semua dapat menang dan tidak ada yang harus terkorbankan. Manusia yang tinggal di daerah terpencil juga berhak atas jalan yang layak pakai. Jangan lantas kita yang sudah senang hidup di kota melarang pembangunan jalan di daerah terpencil karena resiko kerusakan lingkungan. Terlebih pembangunan dan peningkatan jalan jalur tengah Aceh, saat ini penting dan mendesak dilakukan. Wallahualam

Tulisan ini pernah di muat di Serambi Indonesia.http://aceh.tribunnews.com/2012/09/25/pentingnya-jalur-tengah

Analisis Kegagalan Revolusi Mesir

Revolusi Mesir hanya berjalan seumur jagung. Saya mengira Revolusi di sana adalah yang terpendek dalam sejarah Revolusi dunia. Hanya berumur setahun sebelum mengalami Revolusi tahap dua, begitu saya ingin menyebutkannya. Saya tidak tahu ntah saya yang kurang baca sejarah, atau memang sayanya yang tidak tahu kalau ada Revolusi yang lebih pendek dari satu tahun. Kalau ada silahkan koreksi di komentar. Saya ikhlas Dan redho.

Baik kita masuk paragraf serius setelah ini. Dalam teori Rekayasa Sosial (Sosial Enginering) kita tahu ada 4 metode. Pertama metode evolusi sosial, atau yang dikenal dengan teori darwinisme sosial. Kedua kita juga telah akrab dengan istilah Revolusi, yakni melakukan perubahan yang radikal, sporadic dan memangkas satu generasi pelaku, mengganti perangkat hingga sistem. 

Lalu kita diakrabkan dengan istilah reformasi, yakni mengganti yang tidak dibutuhkan dengan yang dibutuhkan, baik itu meliputi perangkat, maupun pelaku hingga sistem. Keempat kita diperkenalkan dengan istilah metamorfosis sosial, yakni perubahan terstruktur, terukur, dengan tahapan dan jangka waktu tertentu (dapat ditarget).

Mari kita lihat yang terjadi di Mesir. Perjuangan Revolusi yang memakan waktu, korban dan darah hanya berlangsung sesaat, seperti manis permen di mulut. Effort sedemikian hingga menjadi pupus ketika Presiden Mursi di kudeta oleh  As Sisi. Memang perjuangan tidak akan sia-sia, dan setiap proses terhitung pahala dari segi agama (aspek religious). Namun begitu tidak ada salahnya kita coba melakukan analisa-analisa terhadap peristiwa bersejarah tersebut. Dengan begitu akan ada manfaat yakni pelajaran bagi kita-kita yang mau mengetahui.

Pertama kita lihat dari segi cara yang dipilih warga Mesir saat menurunkan Husni Mubarak. Para aktifis Mesir diberitakan Melakukan Revolusi, dengan kata lain itulah metode yang mereka pilih. Sama seperti people power di Thailand, menggunakan kekuatan massa yang banyak. Mencitrakan keberadaan mayoritas masyarakat agar pemerintahan lama lengser beserta dengan sistem-sistemnya.


People power yang dilakukan rakyat Mesir adalah efek dari ketidak tahanan masyarakat terhadap gaya diktator yang dipraktikkan saat itu. Rakyat Mesir beranggapan pemerintahan Husni Mubarak tidak lagi memberikan solusi bagi mereka. Ada keinginan besar untuk mempraktikkan demokrasi yang sebenarnya. Ini adalah perubahan yang tidak dapat direncanakan atau dikembalikan oleh pemerintah Mesir saat itu. Hal ini adalah dampak dari pengekangan yang dilakukan pemerintah.
Rakyat akhirnya memutuskan untuk melakukan perubahan sosial. Melawan tatanan yang coba di berlakukan atas mereka oleh pemerintah. Rakyat Mesir memutuskan turun ke jalan. Gerakan yang disimbolkan dengan tangan 4 jari dan hastag #rabia dimasifkan. Akhirnya gerakan ini berhasil membuat sang penguasa selama 30 tahun turun tahta. Sebuah kegembiraan luar biasa yang disambut suka cita.


Pemilu demokratis berjalan di Mesir, dan rakyat Mesir melakukan pesta demokrasi. Mereka memilih anggota parlemen, memilih presiden. Pemilu ini  oleh para aorganisasiwanul Muslimin. Demikian juga presiden terpilih juga aktifis organisasi yang sama. Dikabarkan di media ada perubahan dasar pada Negara Mesir mulai dari perkembangan ekonomi, sosial, hingga ke tahapan konstitusional. Sayangnya mursi tidak pemerintah terlalu lama. 
Revolusi tahap dua kembali berlangsung dibawah komando Jendral As Sisi. Mursi pan para politisi yang berasal dari ikhwanul muslimin ditangkap. Generasi politisi IM ditangkap Dan dipenjarakan. Hampir semua aktifis IM menjadi orang yang dicari dengan tuduhan sebagai gerakan makar dan terorisme. Bahkan presiden Muhammad Mursi yang secara legitimate menjadi orang nomor satu Mesir melalui Pemilu demokratis di negara tersebut, tidak diketahui keberadaan nya.


Perbedaan metode 


Ada hal yang bertolak belakang antara cara IM (Ikhwanul Muslimin) Dan rakyat Mesir melakukan Revolusi Mesir, dengan metode yang digunakan jenderal militer As Sisi. Jika militer menggunakan sistem pangkas generasi IM yang sedang pemerintah, maka IM setelah menyenangkan pemilu tidak memangkas generasi (loyalis) mantan presiden terlama Mesir Housni Mubarak.
Sebagai hukum sebab-akibat, berakhirnya pemerintahan IM (Mursi) hanyalah tinggal menunggu waktu. Tidak akan mungkin loyalis bertahun-tahun hidup dengan pola yang sesuai dengan gaya Dan ideologi mereka aka menerima perubahan spontan meski dengan jabatan. Apalagi kondisi dulu lebih nyaman untuk segala kepentingan generasi dahulu.


Revolusi mesir ala IM dan rakyat mesir adalah revolusi semu. Tidak akan ada hasil yang nyata, dengan kata lain tidak akan sukses menggulingkan rezim, meski berhasil menggulingkan Presiden Husni Mubarak. Hal tersebut terjadi Karena pasri akan ada bagian dari sisa generasi yang seangkatan serta satu pemikiran dan cara dengan Husni yang akan melakukan usaha kudeta balik.


Letak kesalahan IM adalah tidak memangkas habis generasi Husni. Mereka menyisakan eksekutif, serta panglima militer dari angkatan tersebut. Ini adalah kesalahan yang sangat besar dalam revolusi. Ibaratnya seperti rusa yang mengalahkan raja rimba, namun menyiasakan para punggawanya. Seperti lupa para rusa, soal para punggawa raja rimba adalah harimau juga. Inilah akibat dari menggunakan metode (manhaj) revolusi secara setengah-setengah.

Beda dengan revolusi militer ala As Sisi. Dia membabat habis para aktifis IM. Semua yang berkenaan dengan Mursi Dan IM ditangkap dan dipenjarakan. Para punggawa tidak boleh disisakan. Hal ini dapat di asumsikan dengan pengetahuan militer tentang akibat menyiasakan pasukan musuh secara sengaja dalam satu kamar. Hanya menunggu waktu untuk terkena hunjaman pisau yang membelah perut hingga ulu hati.


Oleh Karena itu sangat wajar, pemerintahan mursi (rezim IM) hanya berlangsung sebentar. Ibaratnya seumur jagung yang mati sebelum sempat berbunga. Belum lagi kita katakan berbuah. Oleh Karena itu jangan setengah-setengah dalam menghalalkan sebuah metode, tak peduli sekeras, atau seberat apapun. Jangan sisakan bom waktu didalam kantong, apalagi kalau  remot ada sama lawan.

Saturday, 23 April 2016

Menyikapi Belajar Gender di Gereja

Oleh Agus Fajri
PEMBERITAAN di media dalam beberapa hari terakhir, terkait mahasiswi berjilbab yang belajar di gereja menuai banyak sikap dari masyarakat. Terutama sekali dari para netizen. Atas inisiatif dari seorang dosen, para mahasiswa dari UIN Ar Raniry tersebut belajar soal gender perspektif Kristen. Pengajarnya seorang pendeta yang merupakan teman dari dosen tersebut. Kegiatan tersebut dilakukan di sebuah gereja berlokasi di Banda Aceh.

Apa yang diperbuat oleh dosen tersebut menimbulkan reaksi berupa pro dan kontra. Ada yang membenarkan atau  dengan kata lain tidak menganggap ini sebagai suatu yang salah. Ada juga yang menganggap ini sebagai sebuah tindakan yang salah kaprah. Banyak orang yang tidak dapat menerima hal tersebut.

Sebagian orang menganggap ini sebagai bukan masalah. Alasannya bukan masalah mengambil ilmu di mana pun dan dari siapa pun. Semua dapat belajar dimana saja. Ditambah lagi yang mereka pelajari soal gender dalam perspektif agama Kristen. Maka gereja sebagai tempat dimana agama Kristen berpusat adalah tempat yang tepat untuk belajar masalah tersebut.

 Tempat shalat

Faktanya juga di luar negeri, nonmuslim minoritas bahkan menyewa gereja sebagai tempat melakukan shalat. Ini karena di tempat mereka tinggal merupakan Negara yang tidak membenarkan bagi muslim untuk mendirikan masjid. Akibatnya terpaksa umat muslim di sana menyewa lapangan, aula, gedung bahkan gereja untuk melakukan shalat yang diutamakan berjamaah seperti shalat Id dan shalat Jumat.

Tujuan dari para mahasiswa ini ke gereja adalah murni masalah belajar. Bukan untuk melakukan peribadatan. Jadi bukan masalah karena tidak ada niatan dari para mahasiswa atau dosen ini untuk keluar dari islam. Ini adalah kegiatan bermotif akademik. Menunjukkan para mahasiswa Aceh bahkan yang berasal dari kampus sekaliber UIN bisa menerima kondisi plural dalam beragama.

Pihak yang kontra juga memiliki alasan yang cukup kuat. Ada pihak yang khawatir terhadap upaya pendangkalan akidah. Pembiasan batas dalam bertoleransi terhadap keyakinan beragama. Pengaburan batas antara dua keyakinan yang berbeda yang menjurus pada misi terselubung.

   
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Sejarah membuktikan sejak sebelum zaman penjajahan misi pendangkalan akidah telah terjadi di Aceh. Berbagai upaya telah dilakukan dari semenjak Snouck Hurgronye didatangkan ke Aceh. Misi Gospel adalah salah satu dari tiga misi besar yang dilakukan bangsa Kristiani Eropa. Diwakili oleh Belanda dan Inggris, bangsa Eropa membawa misi Gold, Glory dan Gospel.

Perkembangan terkini juga menunjukkan Aceh menjadi sasaran dari pemurtadan dan pendangkalan akidah. Berdasarkan apa yang sudah terjadi, maka sangat wajar jika muncul rasa was-was. Ketika ada hal yang nyeleneh yang menyentuh sisi akidah maka secara otomatis akan ada penolakan. Hal ini terjadi karena kesadaran memproteksi keyakinan beragama.

Ada pihak yang menilai ini sudah menjurus kepada hal yang bertentangan secara akidah. Melanggar batas-batas toleransi yang dibenarkan dalam islam. Islam jelas menganjurkan toleransi dalam beragama. Ini terbukti dalam surat Al Kafirun. Dalam surat ini jelas dibahas tentang toleransi dalam beragama. Namun tidak dibenarkan mencampur adukkan hal-hal yang ada dalam agama berbeda.

Toleransi dimaksud adalah kebebasan menganut agama masing-masing. Saling menghormati dengan cara menjalankan keyakinan masing-masing tanpa mengganggu keyakinan orang lain. Tidak dibenarkan jika pada hari Minggu, misalnya, sama-sama ke gereja atau pada Jumat sama-sama ke masjid. Namun tetaplah pada keyakinan masing-masing tanpa saling mengganggu.

Ketika ada kegiatan yang mengganggu keyakinan, maka sangat wajar masyarakat menjadi resisten. Apa yang dilakukan oleh dosen dan sejumlah mahasiswa UIN tersebut telah melewati batas. Masyarakat juga telah cukup lelah dan diresahkan oleh segala kasus pemurtadan dan pendangkalan akidah. Apalagi ini dilakukan oleh dosen yang mengajar di sebuah kampus Islam terbesar di Aceh.

 Era perang pemikiran

Mungkin kita bisa melihat sebagian perang telah berakhir. Kecuali antara Israel dengan Palestina peperangan karena landasan kepercayaan hampir berakhir. Namun bukan berarti peperangan tersebut murni telah selesai. Peperangan masih berlanjut. Yang selesai hanya peperangan yang menggunakan senjata.

Konfrontasi secara fisik tidak lagi dilakukan. Karena ini bertentangan dengan semangat kemanusiaan. Manusia semakin sadar akan bahaya perang dan membuat kesepakatan mengakhiri perang. Walaupun dalam faktanya agresi militer juga dilakukan untuk memperpanjang kekuasaan, minimal perang itu sendiri perlu diketahui yang masih terjadi hari ini adalah perang secara pemikiran.

Orang-orang mencoba berebut pengaruh melalui perkembangan pengetahuan sosial. Berbagai macam cara dilakukan agar buah pemikirannya menjadi suatu yang dianut secara universal. Oleh karena itu tiap keyakinan harus memiliki benteng untuk melindungi akidahnya. Demikian juga dengan umat Islam. Benteng akidah harus diperkuat dari segala arah. Hanya dengan begitu segala pengaruh yang mengancam akidah bisa ditanggulangi.

Agus Fajri, Sekjend Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PW KAMMI) Aceh. Email: agusfajribinnajamuddin@gmail.com

Tulisan ini dimuat Serambi Indonesia
http://aceh.tribunnews.com/2015/01/10/menyikapi-belajar-gender-di-gereja

Friday, 22 April 2016

Panama Papers dan Kejahatan Korporasi

Korporat atau para pengusaha, dengan perusahaannya (Korporasi). Mereka adalah orang-orang yang memiliki peranan penting dalam kehidupan bernegara. Sering kebijakan negara bisa terpengaruh oleh kelompok ini. Alasannya sederhana, karena perputaran uang yang besar ditangan mereka.


Sangat sering kebijakan negara diusahakan tidak membuat kalangan korporat menjadi alergi. Malah kebijakan dibuat agar kalangan ini senang. Mereka diundang dengan iming-iming jaminan negara untuk keamanan, ketersediaan sumber daya, Kemudahan usaha, hingga bahkan kebijakan pajak dan upah yang cenderung menguntungkan mereka. 


Keberpihakan negara kepada kalangan korporat ini membuat pihak lain malah teranaktirikan. Bisa dilihat dari kenyataan demo buruh untuk kenaikan UMR (Upah Minimum Regional) guna mendapatkan kehidupan yang layak. Kalangan rakyat proletar (meminjam istilah orang sosialis) sering termarginalkan karena keberadaan para korporat dan korporasi.

Mereka adalah para investor dan pelaku usaha besar. Mereka membayar pajak dalam jumlah besar, menggaji banyak orang guna menjalankan usaha mereka. Akhirnya mereka juga memegang peranan penting dalam kehidupan khalayak banyak. mereka benar-benar menguasai sisi perekonomian dan sangat besar pengaruhnya.


Letak Kejahatan


berbicara Indonesia sebagai negara yang sangat menggantungkan devisa dari hasil pajak, maka pajak dari para pengusaha besar ini sangat dibutuhkan. Kekurangan cadangan devisa membuat negara ini terhambat pembangunannya. Membuat hutang luar negeri menjadi satu-satunya opsi bagi kebijakan fiskal jika hendak melanjutkan roda pemerintahan.


Tingkah para pengusaha yang menghindari pajak adalah contoh kelakuan buruk pengusaha kita. Apalagi berbicara menyembunyikan aset dari negara, bahkan keluar negeri untuk bisa menghindari pajak. Hal ini adalah kejahatan besar dan dapat digolongkan kepada White collar crime (kejahatan berkerah putih). Benar-benar jauh dari kesan cinta tanah air, bela negara, juga semangat memajukan martabat dan kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang sering didengungkan oleh para korporat tersebut.


White Collar Crime adalah kejahatan yang dilakukan oleh kalangan korporat, atau oleh Korporasi. keduanya termasuk kedalam orang (persoon) atau badan hukum (rechtspersoon) yang diberikan hak dan kewajiban sebagai subjek hukum. 


Setiap orang atau badan hukum dibenarkan menuntut hak, dan juga dapat dituntut kewajibannya. Setiap nama orang dan badan hukum yang melanggar kewajibannya bisa diberikan sanksi. Dalam hal mencoba mengakali agar tidak perlu melaksanakan kewajibannya dapat diartikan dengan sengaja menghindar, bukan karena kealpaan, maka disini baik orang maupun badan hukum telah melakukan kejahatan.


Baik korporat maupun korporasi adalah subjek hukum. Berusaha menyembunyikan aset demi menghindari pajak adalah kejahatan. Tindakan ini jelas merugikan negara. sengaja menyembunyikan aset dapat diartikan dengan sengaja membuat negara rugi. Kejahatan ini sama seperti pejabat negara yang korupsi. Pencurian terhadap yang seharusnya menjadi hak negara, atau kewajiban dari para pelaku usaha dan juga perusahaannya.


Skandal Mengejutkan


Ada ribuan nama pengusaha dari Indonesia, yang melakukan usaha di Indonesia, nama perusahaan yang berada dan melakukan usaha di Indonesia yang diunggah bersamaan dengan sekitar 2 terrabite data lainnya. Kumpulan data yang dinamakan dengan The Panama Papers oleh pengunggahnya. sedemikian besar data melebihi dari yang diunggah oleh live leaks, bahkan wiki leaks.


file yang berisi berbagai dokumen, nama, alamat lengkap, aset yang disembunyikan dari negaranya milik para korporat dan korporasi. Tak hanya kalangan pengusaha, bahkan hingga para atlet. Sebut saja nama seperti Lionel Messi bahkan masuk dalam daftar untuk luar Indonesia.


untuk indonesia sendiri nama korporasi besar seperi Agung Sedayu, Podomoro, Freeport, Ciputra masuk dalam daftar. juga nama-nama pengusaha besar yang sering muncul dan kelihatan memiliki visi seperti Sandiaga Uno, Chairul Tanjung, dan ribuan nama lainnya.


ada 2.961 nama dari indonesia, dan 803 nama adalah Warga Negara Indonesia (WNI). ini jug fakta mengejutkan, bahwa negara kita ditipu oleh ribuan korporat dan korporasi asing. juga persentase WNI yang memiliki korporasi besar dengan aset triliunan. Para penjahat yang terlalu tamak dengan apa yang harusnya bukan hak mereka.


kita berharap pemerintah, khususnya Dirjen Pajak atau Direktorat Jenderal Pajak. Data  yang beredar inj ditelusuri, guna menemukan uang negara yang mereka sembunyikan. Bila perlu penjarakan saja para Korporat dan korporasi Jahat tersebut. Terutama yang milik asing sita saja asetnya dan usir mereka dari indonesia. Negara ini akan hancur jika mereka para benalu seperti itu terus dibiarkan. Wallahualam.

Monday, 18 April 2016

Tujuan Dan Motivasi

Lama tidak menulis di blog sendiri, membuat diri merasa tidak ter-manajemen dengan baik. Buat apa juga buat blog kalau tidak diisi dengan tulisan. Tekad awal mau mengisi dengan apa saja yang bisa dituliskan dan bermanfaat, akhirnya membuat Blog sampai detik ini jadi terbengkalai Dan kurang manfaatnya. Saya menolak fikiran sendiri untuk menuliskan kata "blog ini tidak bermanfaat" khawatir bertolak belakang. Terpenting saya coba mengapresiasi apa saja yang sudah saya gores, coret, ketik, tulis di blog pribadi saya.

Ntah kenapa tulisan di paragraf pertama terbaca seperti ocehan saja. Semacam curhatan orang galau karena blognya tak terisi dan efeknya sepi pengunjung. Namun tolong abaikan saja paragraf kedua ini karena tidak bermanfaat. Tulisan disini hanya membuat saya seperti menggerutu. Apa Pula urusan protes diri terhadap apa yang keluar dari ujung jari sendiri di tuts keypad, lalu terpancar di monitor smartphone tempat saya mengeluarkan apa yang ada di kepala.

Baiklah coba untuk jujur,  akhirnya saya tahu apa sebab paceklik berbulan-bulan. Saya kehilangan suatu hal yang membuat saya tak menjentikkan kemari di keyboard atau keypad. Bingung apakah itu tujuan atau motivasi yang membuat saya menjentikkan jemari. Atau keduanyakah ? Atau salah satu diantara keduanya yang mana yang sebenarnya.

Namun begitu tidaklah sampai pada ayat memetik bunga dari kebun lalu menghitung bak perempuan galau di film-film seperti telenovela atau sinetron Dan cookies eftivi. Tujuan - motivasi - tujuan - motivasi sampai semua kelopak bunga habis, lalu tak sesuai dengan harapan cari bunga lain yang sesuai harapan dan mulai menghitung kembali.

Ya, saya coba ulas saja apa yang saya fikir iya dan terjadi, biar sahabat yang memutuskan. Saya sebut saudara, kisanak, dro neu, kamuh, elo, atau apalah sebagai sahabat, Karena bersedia membaca paragraf demi paragraf tulisan yang kalau kata orang jawa ngalor-ngidul  ntah kemana. Kalau orang Aceh mungkin akan komentar "hana jeulaih, abeh broh putoh ji ratoh inoe (silahkan cari sanak saudara, teman, atau siapa saja dari Aceh untuk mengartikan atau menafsirkan).

Maaf jika tulisan ini kepanjangan dan tanpa kesimpulan, bikin lelah tiada guna. Maklum mengalir begitu saja dari otak ke jemari, tertekanlah tombol-tombol hingga terseraklah aneka huruf dilayar komputer, gadget, atau handphone sahabat. Saya janji kalau kepanjangan, akan saya jadikan dua part tulisan ini. Part satu dan part dua. Haha becanda. Gak lucu ya, ketawa aja. Hahahaha hahahaha. Ketawa kan?

Rupanya saya jadi malas ngetik-ngetik. Pas ambil smartphone lalu mau buka aplikasi office, malah ketekan crunchyroll dan berakhir dengan nonton online naruto hingga waktu habis dan beranjak ketempat lain atau lupa atau apa hingga tak ada satu kata pun terketik. Jangan kan kata ah huruf, ah aplikasi office word saja tak terbuka. Atau saat depan computer, setelah Ms word terbuka tak ada huruf yang terketik, lalu malah snipper elite atau  call of duty  jadi penyelesaian tanpa akhir. Menyedihkan.

Awal-awalnya saya bukanlah orang yang pandai menulis. Bahkan sampai sekarang juga Bukan. Tulisan tangan saya jelek, lalu juga cepat lelah ketika menulis. Menulis catatan adalah hal yang tidak saya lakukan dari semasa sekolah hingga kuliah. Guru menyuruh Kelas menulis catatan, saya menggambar di buku tulis. Sungguh keterlaluan. 

Akhirnya saya menemukan sebuah tujuan yang membuat saya menulis. Melihat kenyataan cara satu-satunya untuk menyebarluaskan pemikiran adalah dengan menulis. Saya tidak bisa menulis. Kemudian saya menemukan teman-teman yang berilmu tinggi, namun enggan menulis. Saya mencoba membuat mereka jadi mau menulis. Tiba-tiba saja itu jadi sebuah obsesi.

Membuat teman-teman mau menulis lantas menjadi tujuan saya. Tentu saja gagal dan tidak mendapat perhatian. Malah ada yang berani sekali, lancang dia bilang saya saja tidak menulis, namun asik meminta orang lain menulis. Lalu terpengaruh kata teman yang tak tahu diri itu membuat saya berfikir, "hmmmm ia juga ya, lucu juga ya" hahaha.

Dari situ timbul semangat untuk menulis dalam diri. Mencoba membuat blog pribadi dengan tujuan bisa menulis. Rasanya tak pantas mengajak orang menulis, sedangkan diri seperti pada para kuncinya. Dengan malu-malu juga harus jujur itu adanya yang pada saat itu. Kalian mengertikan maksudku. Kembali ke topik termotivasi, saat itu termotivasi masuk Koran. Berlangsung dalam tentang waktu yang cukup lama menulis tanpa dimuat. Semangatlah yang membuatnya selama itu, sampai akhirnya semua terkubur oleh bosan. Bosan datang mengikis tiap sudut inspirasi, hingga ide-ide itu kering kerontang ibaratnya gurun Sahara dimusim kering (hei bukankah Sahara kering sepanjang tahun).

Sepanjang tahun itulah musim paceklikku datang. Tak terbayang berapa tulisan gagal. Motivasi hanya khayalan di awang-awang yang datang sebentar menipu, lalu bilang lagi dikekeringan ide. Bahkan sang inspirator tak lagi memberikan inspirasi, apalagi konon katanya batu yang katanya juga bisa jadi sumber inspirasi. Ia hanya dapat dijadika anak ketapel kali ini.

Akhirnya seorang teman, Teuku Zulkhairi namanya, mengajak menulis di media online yang coba ia kembangkan. Suara Aceh namanya, terbaca keren oleh mata, Dan terdengar asik oleh telinga. Motivasi kembali hadir, membawa hujan di Sahara, atau mau lebay membawa salju ke Sahara seperti khayalnya anggun dalam lirik Snow on Sahara  hahaha. Akhirnya anak ketapel tadi kupungut kembali karena ia sudah seperti gudang inspirasi. Sang inpirator kelihatannya tak dibutuhkan lagi untuk menjadikan pengarah dalam mencari inspirasi.

Semangat teman saya, membuat saya sadar bahwa saya kehilangan sesuatu yang membuat saya termotivasi dari awal. Sesuatu yang membuat saya bisa mengetik walau sedang bosan. Sesuatu yang membuat saya terus menulis hingga blog saya pribadi ini agak terisi jadinya. Lalu ada satu dua atau tiga empat tulisan bisa diandalkan untuk meluluhkan editor Koran-koran tadi. Bangga Bukan kepalang ketika suatu pagi ada teman-teman yang telfon dan SMS, bilang "selamat EEE tulisan qe masuk Koran". Saya hanya bisa terbatuk(beneran serius pura-pura batuk) dan bilang oh ya, Alhamdulillah.

Sesuatu itu bukan sesuatu yang ada dihatimu seperti lagunya si yang ngaku-ngakunya princes (Syahri ni), melainkan ia adalah kata penuh makna yang dibaca tujuan. Sesuatu yang membuat tangan yang biasa mengguratkan garis-garis tak keruan menjadikan gambar jelek, menjadi menggambarkan huruf-huruf kecil di atas secarik kertas, atau dihalaman-halaman buku tulis. Bahwasanya tujuan membuat tangan ini terpaku didepan keyboard mata mengahadap layar monitor karena ketiadaan inspirasi, sampai akhirnya ia datang secuil demi secuil, sepatah demi sepatah kata yang menjadi paragraf.

Tujuanlah yang membuat tulisan ini kembali terketik Dan terposting di blog ini agar menjadi manfaat bagi kita sendiri dan sahabat-sahabat. Menjadikan saya bertahan dikegiatan membosankan yang tidak saya senang semenjak dari awal. Kalau boleh kau tahu wahai kawan, mungkin tujuan terhadap keberadaan karya tulis yang ada pada saya, yang membuat saya jadi terus menulis, meski tak dimuat media. Terus menulis, meski tak dikomentari pembaca. Dan tahukah kau kawan, dalam menulis aku tak pernah lebih senang dari pada tulisanku dibaca orang.

Kalau ada hal lain yang membuat aku senang di dunia (menulis) ini adalah ketika temanku terpengaruh untuk mulai menulis. Ok ide saya mandeg, sekian dulu. Kalau nanti ada inspirasi disekitar soal ini, akan kujadikan dia Part Dua. Haha.