Saturday, 23 April 2016

Menyikapi Belajar Gender di Gereja

Oleh Agus Fajri
PEMBERITAAN di media dalam beberapa hari terakhir, terkait mahasiswi berjilbab yang belajar di gereja menuai banyak sikap dari masyarakat. Terutama sekali dari para netizen. Atas inisiatif dari seorang dosen, para mahasiswa dari UIN Ar Raniry tersebut belajar soal gender perspektif Kristen. Pengajarnya seorang pendeta yang merupakan teman dari dosen tersebut. Kegiatan tersebut dilakukan di sebuah gereja berlokasi di Banda Aceh.

Apa yang diperbuat oleh dosen tersebut menimbulkan reaksi berupa pro dan kontra. Ada yang membenarkan atau  dengan kata lain tidak menganggap ini sebagai suatu yang salah. Ada juga yang menganggap ini sebagai sebuah tindakan yang salah kaprah. Banyak orang yang tidak dapat menerima hal tersebut.

Sebagian orang menganggap ini sebagai bukan masalah. Alasannya bukan masalah mengambil ilmu di mana pun dan dari siapa pun. Semua dapat belajar dimana saja. Ditambah lagi yang mereka pelajari soal gender dalam perspektif agama Kristen. Maka gereja sebagai tempat dimana agama Kristen berpusat adalah tempat yang tepat untuk belajar masalah tersebut.

 Tempat shalat

Faktanya juga di luar negeri, nonmuslim minoritas bahkan menyewa gereja sebagai tempat melakukan shalat. Ini karena di tempat mereka tinggal merupakan Negara yang tidak membenarkan bagi muslim untuk mendirikan masjid. Akibatnya terpaksa umat muslim di sana menyewa lapangan, aula, gedung bahkan gereja untuk melakukan shalat yang diutamakan berjamaah seperti shalat Id dan shalat Jumat.

Tujuan dari para mahasiswa ini ke gereja adalah murni masalah belajar. Bukan untuk melakukan peribadatan. Jadi bukan masalah karena tidak ada niatan dari para mahasiswa atau dosen ini untuk keluar dari islam. Ini adalah kegiatan bermotif akademik. Menunjukkan para mahasiswa Aceh bahkan yang berasal dari kampus sekaliber UIN bisa menerima kondisi plural dalam beragama.

Pihak yang kontra juga memiliki alasan yang cukup kuat. Ada pihak yang khawatir terhadap upaya pendangkalan akidah. Pembiasan batas dalam bertoleransi terhadap keyakinan beragama. Pengaburan batas antara dua keyakinan yang berbeda yang menjurus pada misi terselubung.

   
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Sejarah membuktikan sejak sebelum zaman penjajahan misi pendangkalan akidah telah terjadi di Aceh. Berbagai upaya telah dilakukan dari semenjak Snouck Hurgronye didatangkan ke Aceh. Misi Gospel adalah salah satu dari tiga misi besar yang dilakukan bangsa Kristiani Eropa. Diwakili oleh Belanda dan Inggris, bangsa Eropa membawa misi Gold, Glory dan Gospel.

Perkembangan terkini juga menunjukkan Aceh menjadi sasaran dari pemurtadan dan pendangkalan akidah. Berdasarkan apa yang sudah terjadi, maka sangat wajar jika muncul rasa was-was. Ketika ada hal yang nyeleneh yang menyentuh sisi akidah maka secara otomatis akan ada penolakan. Hal ini terjadi karena kesadaran memproteksi keyakinan beragama.

Ada pihak yang menilai ini sudah menjurus kepada hal yang bertentangan secara akidah. Melanggar batas-batas toleransi yang dibenarkan dalam islam. Islam jelas menganjurkan toleransi dalam beragama. Ini terbukti dalam surat Al Kafirun. Dalam surat ini jelas dibahas tentang toleransi dalam beragama. Namun tidak dibenarkan mencampur adukkan hal-hal yang ada dalam agama berbeda.

Toleransi dimaksud adalah kebebasan menganut agama masing-masing. Saling menghormati dengan cara menjalankan keyakinan masing-masing tanpa mengganggu keyakinan orang lain. Tidak dibenarkan jika pada hari Minggu, misalnya, sama-sama ke gereja atau pada Jumat sama-sama ke masjid. Namun tetaplah pada keyakinan masing-masing tanpa saling mengganggu.

Ketika ada kegiatan yang mengganggu keyakinan, maka sangat wajar masyarakat menjadi resisten. Apa yang dilakukan oleh dosen dan sejumlah mahasiswa UIN tersebut telah melewati batas. Masyarakat juga telah cukup lelah dan diresahkan oleh segala kasus pemurtadan dan pendangkalan akidah. Apalagi ini dilakukan oleh dosen yang mengajar di sebuah kampus Islam terbesar di Aceh.

 Era perang pemikiran

Mungkin kita bisa melihat sebagian perang telah berakhir. Kecuali antara Israel dengan Palestina peperangan karena landasan kepercayaan hampir berakhir. Namun bukan berarti peperangan tersebut murni telah selesai. Peperangan masih berlanjut. Yang selesai hanya peperangan yang menggunakan senjata.

Konfrontasi secara fisik tidak lagi dilakukan. Karena ini bertentangan dengan semangat kemanusiaan. Manusia semakin sadar akan bahaya perang dan membuat kesepakatan mengakhiri perang. Walaupun dalam faktanya agresi militer juga dilakukan untuk memperpanjang kekuasaan, minimal perang itu sendiri perlu diketahui yang masih terjadi hari ini adalah perang secara pemikiran.

Orang-orang mencoba berebut pengaruh melalui perkembangan pengetahuan sosial. Berbagai macam cara dilakukan agar buah pemikirannya menjadi suatu yang dianut secara universal. Oleh karena itu tiap keyakinan harus memiliki benteng untuk melindungi akidahnya. Demikian juga dengan umat Islam. Benteng akidah harus diperkuat dari segala arah. Hanya dengan begitu segala pengaruh yang mengancam akidah bisa ditanggulangi.

Agus Fajri, Sekjend Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PW KAMMI) Aceh. Email: agusfajribinnajamuddin@gmail.com

Tulisan ini dimuat Serambi Indonesia
http://aceh.tribunnews.com/2015/01/10/menyikapi-belajar-gender-di-gereja

No comments:

Post a Comment