Monday, 18 April 2016

Tujuan Dan Motivasi

Lama tidak menulis di blog sendiri, membuat diri merasa tidak ter-manajemen dengan baik. Buat apa juga buat blog kalau tidak diisi dengan tulisan. Tekad awal mau mengisi dengan apa saja yang bisa dituliskan dan bermanfaat, akhirnya membuat Blog sampai detik ini jadi terbengkalai Dan kurang manfaatnya. Saya menolak fikiran sendiri untuk menuliskan kata "blog ini tidak bermanfaat" khawatir bertolak belakang. Terpenting saya coba mengapresiasi apa saja yang sudah saya gores, coret, ketik, tulis di blog pribadi saya.

Ntah kenapa tulisan di paragraf pertama terbaca seperti ocehan saja. Semacam curhatan orang galau karena blognya tak terisi dan efeknya sepi pengunjung. Namun tolong abaikan saja paragraf kedua ini karena tidak bermanfaat. Tulisan disini hanya membuat saya seperti menggerutu. Apa Pula urusan protes diri terhadap apa yang keluar dari ujung jari sendiri di tuts keypad, lalu terpancar di monitor smartphone tempat saya mengeluarkan apa yang ada di kepala.

Baiklah coba untuk jujur,  akhirnya saya tahu apa sebab paceklik berbulan-bulan. Saya kehilangan suatu hal yang membuat saya tak menjentikkan kemari di keyboard atau keypad. Bingung apakah itu tujuan atau motivasi yang membuat saya menjentikkan jemari. Atau keduanyakah ? Atau salah satu diantara keduanya yang mana yang sebenarnya.

Namun begitu tidaklah sampai pada ayat memetik bunga dari kebun lalu menghitung bak perempuan galau di film-film seperti telenovela atau sinetron Dan cookies eftivi. Tujuan - motivasi - tujuan - motivasi sampai semua kelopak bunga habis, lalu tak sesuai dengan harapan cari bunga lain yang sesuai harapan dan mulai menghitung kembali.

Ya, saya coba ulas saja apa yang saya fikir iya dan terjadi, biar sahabat yang memutuskan. Saya sebut saudara, kisanak, dro neu, kamuh, elo, atau apalah sebagai sahabat, Karena bersedia membaca paragraf demi paragraf tulisan yang kalau kata orang jawa ngalor-ngidul  ntah kemana. Kalau orang Aceh mungkin akan komentar "hana jeulaih, abeh broh putoh ji ratoh inoe (silahkan cari sanak saudara, teman, atau siapa saja dari Aceh untuk mengartikan atau menafsirkan).

Maaf jika tulisan ini kepanjangan dan tanpa kesimpulan, bikin lelah tiada guna. Maklum mengalir begitu saja dari otak ke jemari, tertekanlah tombol-tombol hingga terseraklah aneka huruf dilayar komputer, gadget, atau handphone sahabat. Saya janji kalau kepanjangan, akan saya jadikan dua part tulisan ini. Part satu dan part dua. Haha becanda. Gak lucu ya, ketawa aja. Hahahaha hahahaha. Ketawa kan?

Rupanya saya jadi malas ngetik-ngetik. Pas ambil smartphone lalu mau buka aplikasi office, malah ketekan crunchyroll dan berakhir dengan nonton online naruto hingga waktu habis dan beranjak ketempat lain atau lupa atau apa hingga tak ada satu kata pun terketik. Jangan kan kata ah huruf, ah aplikasi office word saja tak terbuka. Atau saat depan computer, setelah Ms word terbuka tak ada huruf yang terketik, lalu malah snipper elite atau  call of duty  jadi penyelesaian tanpa akhir. Menyedihkan.

Awal-awalnya saya bukanlah orang yang pandai menulis. Bahkan sampai sekarang juga Bukan. Tulisan tangan saya jelek, lalu juga cepat lelah ketika menulis. Menulis catatan adalah hal yang tidak saya lakukan dari semasa sekolah hingga kuliah. Guru menyuruh Kelas menulis catatan, saya menggambar di buku tulis. Sungguh keterlaluan. 

Akhirnya saya menemukan sebuah tujuan yang membuat saya menulis. Melihat kenyataan cara satu-satunya untuk menyebarluaskan pemikiran adalah dengan menulis. Saya tidak bisa menulis. Kemudian saya menemukan teman-teman yang berilmu tinggi, namun enggan menulis. Saya mencoba membuat mereka jadi mau menulis. Tiba-tiba saja itu jadi sebuah obsesi.

Membuat teman-teman mau menulis lantas menjadi tujuan saya. Tentu saja gagal dan tidak mendapat perhatian. Malah ada yang berani sekali, lancang dia bilang saya saja tidak menulis, namun asik meminta orang lain menulis. Lalu terpengaruh kata teman yang tak tahu diri itu membuat saya berfikir, "hmmmm ia juga ya, lucu juga ya" hahaha.

Dari situ timbul semangat untuk menulis dalam diri. Mencoba membuat blog pribadi dengan tujuan bisa menulis. Rasanya tak pantas mengajak orang menulis, sedangkan diri seperti pada para kuncinya. Dengan malu-malu juga harus jujur itu adanya yang pada saat itu. Kalian mengertikan maksudku. Kembali ke topik termotivasi, saat itu termotivasi masuk Koran. Berlangsung dalam tentang waktu yang cukup lama menulis tanpa dimuat. Semangatlah yang membuatnya selama itu, sampai akhirnya semua terkubur oleh bosan. Bosan datang mengikis tiap sudut inspirasi, hingga ide-ide itu kering kerontang ibaratnya gurun Sahara dimusim kering (hei bukankah Sahara kering sepanjang tahun).

Sepanjang tahun itulah musim paceklikku datang. Tak terbayang berapa tulisan gagal. Motivasi hanya khayalan di awang-awang yang datang sebentar menipu, lalu bilang lagi dikekeringan ide. Bahkan sang inspirator tak lagi memberikan inspirasi, apalagi konon katanya batu yang katanya juga bisa jadi sumber inspirasi. Ia hanya dapat dijadika anak ketapel kali ini.

Akhirnya seorang teman, Teuku Zulkhairi namanya, mengajak menulis di media online yang coba ia kembangkan. Suara Aceh namanya, terbaca keren oleh mata, Dan terdengar asik oleh telinga. Motivasi kembali hadir, membawa hujan di Sahara, atau mau lebay membawa salju ke Sahara seperti khayalnya anggun dalam lirik Snow on Sahara  hahaha. Akhirnya anak ketapel tadi kupungut kembali karena ia sudah seperti gudang inspirasi. Sang inpirator kelihatannya tak dibutuhkan lagi untuk menjadikan pengarah dalam mencari inspirasi.

Semangat teman saya, membuat saya sadar bahwa saya kehilangan sesuatu yang membuat saya termotivasi dari awal. Sesuatu yang membuat saya bisa mengetik walau sedang bosan. Sesuatu yang membuat saya terus menulis hingga blog saya pribadi ini agak terisi jadinya. Lalu ada satu dua atau tiga empat tulisan bisa diandalkan untuk meluluhkan editor Koran-koran tadi. Bangga Bukan kepalang ketika suatu pagi ada teman-teman yang telfon dan SMS, bilang "selamat EEE tulisan qe masuk Koran". Saya hanya bisa terbatuk(beneran serius pura-pura batuk) dan bilang oh ya, Alhamdulillah.

Sesuatu itu bukan sesuatu yang ada dihatimu seperti lagunya si yang ngaku-ngakunya princes (Syahri ni), melainkan ia adalah kata penuh makna yang dibaca tujuan. Sesuatu yang membuat tangan yang biasa mengguratkan garis-garis tak keruan menjadikan gambar jelek, menjadi menggambarkan huruf-huruf kecil di atas secarik kertas, atau dihalaman-halaman buku tulis. Bahwasanya tujuan membuat tangan ini terpaku didepan keyboard mata mengahadap layar monitor karena ketiadaan inspirasi, sampai akhirnya ia datang secuil demi secuil, sepatah demi sepatah kata yang menjadi paragraf.

Tujuanlah yang membuat tulisan ini kembali terketik Dan terposting di blog ini agar menjadi manfaat bagi kita sendiri dan sahabat-sahabat. Menjadikan saya bertahan dikegiatan membosankan yang tidak saya senang semenjak dari awal. Kalau boleh kau tahu wahai kawan, mungkin tujuan terhadap keberadaan karya tulis yang ada pada saya, yang membuat saya jadi terus menulis, meski tak dimuat media. Terus menulis, meski tak dikomentari pembaca. Dan tahukah kau kawan, dalam menulis aku tak pernah lebih senang dari pada tulisanku dibaca orang.

Kalau ada hal lain yang membuat aku senang di dunia (menulis) ini adalah ketika temanku terpengaruh untuk mulai menulis. Ok ide saya mandeg, sekian dulu. Kalau nanti ada inspirasi disekitar soal ini, akan kujadikan dia Part Dua. Haha.

4 comments:

  1. Bagus, cukup provokatif membuat saya menulis.

    Sekurangnya, komen ini.

    Mantap bro Agus Fajri :)

    ReplyDelete
  2. bereh... (y).. roh tebaca chiet.. hehe

    ReplyDelete