Friday, 3 November 2017

Sejarah yang Sombong Tidak Terobati Alquran Hingga Doa

Terinspirasi dari kisah pada zaman Rasulullah. Pada masa awal kerasulan yang mana Islam masih didakwahkan secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah mengundang keluarganya, kerabat, Dan orang-orang terdekatnya dalam halaqah-halaqah kecil.

Mereka dijamu dengan makanan, lalu Rasulullah mengajak mereka memeluk Agama yang sedang disebarkan olehnya. Seperti yang diberitakan dalam sirah, respon para undangan tidaklah beragam. Terkumpul kedalam dua kelompok besar yakni menerima dan menolak dakwah yang disampaikan.

Kelompok yang menolak juga terkumpul dalam dua blok besar. Pertama yang menolak keras dan memerangi dakwah. Kedua kelompok yang menolak, namun tidak mengganggu (bahkan ada juga yang ikut membantu).
Kelompok pertama adalah komplotan seperti Abu Lahab, Abu Jahal, dan rekan- rekan. Kelompok ini aktif mengganggu kegiatan dakwah, sampai kepada menghalangi kegiatan dakwah. Misalnya pada saat Nabi Muhammad, SAW mengumpulkan penduduk dan bertanya soal kuda dibalik bukit. Seluruh hadirin yakin jika apa yang disampaikan Rasulullah benar. Alasan sederhananya adalah sosok Al Amin tidak pernah berbohong.

Hingga Abu Lahab yang menyanggahnya dengan berkata "untuk inikah kau kumpulkan kami di sini, celakalah kamu wahai Muhammad". Sanggahan yang membuat Nabi kita tercinta terdiam tidak bisa membalas. Pada saat itulah turun Surat Al Lahab.

Kedua adalah umumnya para Bani Hasyim. Meski tidak berislam, mereka menunjukkan Solidaritas kepada Muhammad, SAW. Ketika Boikot kepada ummat Islam, mereka ikut berjuang bersama sebagai anggota dari keturunan Hasyim.

Sosok menarik dalam kisah ini ada tiga. Mereka seperti tesis dan antitesis. Perbandingan yang tepat untuk menilai bagaimana sombong itu menjadi penyakit hati akut. Seperti kanker hati yang bisa membunuh pengidapnya. Sulit untuk disembuhkan. Dua orang tersebut adalah Abu Lahab, Abu Jahal, dan Umar Ibnu Khattab.

Sebenarnya Abu Lahab sangat menyenangi Al Quran. Selalu kagum dengan bacaannya ketia dia mendengar. Pernah dia bersama rekannya menuduhkan perkataan sihir, namun tetap takjub dan berkata ini (Quran) bukan perkataan manusia. Lalu komplotan ini berjanji satu sama lain untuk tidak mendengarnya, mencegah dari pengaruh sihirnya.

Lalu dikisahkan jika komplotan ini saling mecoba mencuri dengar bacaan Al Quran secara sembunyi-sembunyi. Pada satu waktu tidak sengaja mereka berpas-pasan Hingga saling memergoki keingkaran mereka terhadap janjinya. Pada saat itulah mereka saling mengakui agungya Alquran.
Masalahnya meski mengakui, takjub, kagum dengan Al Quran, Abu Lahab tidak mau berislam. Ia malah makin serius memerangi keponakan dan Agama yang dibawanya. 

Ternyata Al Quran saja tidak bisa mengislamkan Abu Lahab. Tahukah apa penyebab dia tidak mau berislam. Dalam riwayat dikatakan Abu Lahab enggan berislam karena tidal mau menjadi pengikut keponakannya. Dia merasa dirinya lebih hebat dan memiliki pengaruh cukup kuat dikalangan penduduk kota mekkah. Kesomombongannya yang menyebabkan ia enggan berislam, meski sedemikian hingganya dia terhadap Al Quran yang dia dengar.

Lalu selanjutnya Umar Bin Khattab yang marah ketika tahu saudara perempuannya telah berislam. Dia datang dengan amarah dan diriwayat memukul saudaranya karena membaca Alquran. Lalu Umar menemukan tulisan yang ternyata isinya Al Quran surat Ta Ha. Ia terkagum dengan Al Quran, lalu meminta diantarkan kepada. Rasulullah. Begitulah, dihadapan Rasulullah Umar Berislam, mengucapkan dua kalimat syahadat.

Amarah dan kemurkaan Umar terobati dengan Al Quran. Hatinya menjadi lembut dan terang dengan cahaya Allah. Berbeda dengan Abu Lahab yang telah tertutup hatinya dengan sifat sombong. Kekagumanya kepada Alquran (sampai sembunyi-sembunyi ia mendengarkan bacaannya). Sama sekali tidak dapat menjadi obat.

Begitu juga dengan Abu Jahal. Ia adalah manusia yang hebat. Bahkan masuk kedalam doa Rasulullah, agar Allah memuliakan islam dengan kehadiran Abu Jahal bin Hisyam. Namun sama seperti Abu Lahab yang karena kesombongan jugalah menyebabkan is enggan berislam. Bahkan doa Rasulullah tidal bisa menjadi obat baginya. 

Diungkapkan oleh khabab ketika is melihat keislaman Umar, bahwa dalam doa tersebut Ada dua nama yakni Umar sebagai salah satunya.
“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”.
Doa ini diungkapkan oleh Khabbab kepada Umar setelah melihat Umar yakin akan ke Esaan Allah di rumah saudarinya. Half ini menjadi penguat hati Umar untuk memantapkan dirinya mengucap dua kalimat syahadat.

Umar seperti mendapat dua resep obat paten atas penyakit hatinya. Kebenciannya terhadap Muhammad dan agama baru yang dibawa sirna dengan *_doa*_ dan *_Quraan_*. Sedangkan kesombongan Abu Lahab dan Abu Jahal tidak terobati. Masing-masing resep gagal kepada mereka. Meski merek meminum obatnya, namun penyakit sombong tidak mau disembuhkan.

Oleh karena bahayanya sombong,  Allah dalam Alquraan mengingatkan Kita. Demikian juga Rasulullah dalam hadistnya.
Allah berfirman,
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ  {18}
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)
Allah  berfirman,
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)
Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853)

Oleh karena itu mari kita menjauhkan diri dari menyombongkan diri. Merasa diri Superior (lebih hebat) dari yang lain. Tanpa kita sadari sifat ini membuat kita seperti kacang lupa dengan kulit. Kita jadi gila hormat, berharap terus dipuji dan sedikit berkonstribusi.

Umar Bin Khattab pernah ditegur Rasulullah karena perasaan berlebihan terhadap dirinya sendiri. Ketika itu Rasulullah bertanya perihal kecintaan Umar kepadaNya.
“*_Ya Rasulullah, engkau adalah orang yang paling aku cintai dari segalanya, kecuali dari diriku*_,” *_ demikian*_ Umar bin Khattab mengungkapkan kedalaman cintanya kepada Rasulullah. Rasulullah merespon, “*_Bukan begitu wahai Umar, demi jiwaku dalam genggaman-Nya hingga engkau mencintai diriku melebihi cintamu kepada dirimu.*_” Saat itu juga *_Umar langsung mengatakan*_, “Sekarang, demi Allah engkau lebih aku cintai daripada diriku._” “ _Itulah yang benar wahai Umar._” kata Rasulullah.

Mari introspeksi diri. Jauhilah sifat yang tidak Ada obatnya.

Tuesday, 23 May 2017

Sastra : Kutipan Puisi Panglima TNI

Berikut puisi lengkap *'Tapi Bukan Kami Punya'* yang dibacakan Jenderal Gatot di Rapimnas Golkar di Balikpapan 22/5/2017
_Sungguh Jaka tak mengerti_
_Mengapa ia dipanggil polisi_
_Ia datang sejak pagi_
_Katanya akan diinterogasi_
_Dilihatnya Garuda Pancasila_
_Tertempel di dinding dengan gagah_
_Terpana dan terdiam si Jaka_
_Dari mata burung garuda_
_Ia melihat dirinya_
_Dari dada burung garuda_
_Ia melihat desa_
_Dari kaki burung garuda_
_Ia melihat kota_
_Dari kepala burung garuda_
_Ia melihat Indonesia_
_Lihatlah hidup di desa_
_Sangat subur tanahnya_
_Sangat luas sawahnya_
_TAPI BUKAN KAMI PUNYA_
_Lihat padi menguning_
_Menghiasi bumi sekeliling_
_Desa yang kaya raya_
_TAPI BUKAN KAMI PUNYA_
_Lihatlah hidup di kota_
_Pasar swalayan tertata_
_Ramai pasarnya_
_TAPI BUKAN KAMI PUNYA_
_Lihatlah aneka barang_
_Dijual belikan orang_
_Oh makmurnya_
_TAPI BUKAN KAMI PUNYA_
_Jaka terus terpana_
_Entah mengapa_
_Menetes air mata_
_Air mata itu IA YANG PUNYA_
-000-
_Masuklah petinggi polisi_
_Siapkan lakukan interogasi_
_Kok Jaka menangis?_
_Padahal ia tidak bengis?_
_Jaka pemimpin demonstran_
_Aksinya picu kerusuhan_
_Harus didalami lagi dan lagi_
_Apakah ia bagian konspirasi?_
_Apakah ini awal dari makar?_
_Jangan sampai aksi membesar?_
_Mengapa pula isu agama_
_Dijadikan isu bersama?_
_Mengapa pula ulama?_
_Menjadi inspirasi mereka?_
_Dua jam lamanya_
_Jaka diwawancara_
_Kini terpana pak polisi_
_Direnungkannya lagi dan lagi_
_Terngiang ucapan Jaka_
_Kami tak punya sawah_
_Hanya punya kata_
_Kami tak punya senjata_
_Hanya punya suara_
_Kami tak tamat SMA_
_Hanya mengerti agama_
_Tak kenal kami penguasa_
_Hanya kenal para ulama_
_Kami tak mengerti_
_Apa sesungguhnya terjadi_
_Desa semakin kaya_
_Tapi semakin banyak saja_
_Yang BUKAN KAMI PUNYA_
_Kami hanya kerja_
_Tapi mengapa semakin susah?_
_Kami tak boleh diam_
_Kami harus melawan_
_Bukan untuk kami_
_Tapi untuk anak anak kami_
-000-
_Pulanglah itu si Jaka_
_Interogasi cukup sudah_
_Kini petinggi polisi sendiri_
_Di hatinya ada yang sepi_
_Dilihatnya itu burung garuda_
_Menempel di dinding dengan gagah_
_Dilihatnya sila ke lima_
_Keadian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia_
_Kini menangis itu polisi_
_Cegugukan tiada henti_
_Dari mulut burung garuda_
_Terdengar merdu suara_
_Lagu Leo kristi yang indah_
_Salam dari Desa_
_Terdengar nada:_
_"Katakan padanya padi telah kembang_
_Tapi BUKAN KAMI PUNYA"_

Thursday, 18 May 2017

Hukum : Arti Penting Pasal 156 dan 156a KUHP

“Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan sesuatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat, asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata Negara” (pasal 156 KUHP)

“Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan :
a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa (pasal 165a KUHP)”.

kutipan diatas adalah pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang belakangan minta dihapuskan. Hal tersebut merupakan efek dari dijeratnya Basuki Cahaya Purnama atau Ahok yang dijatuhi pidana penjara selama dua tahun. Tidak hanya dari dalam negeri, dari luar negeri terdapat pemberitaan mengenai permintaaan revisi pasal penodaan agama.

Dalam berita kompas.com (Mei/10) lembaga seperti Amnesti Internasional dan Dewan HAM PBB bereaksi terkait dihukumnya Ahok dengan menggunakan pasal tentang penistaan agama. Mereka menuntut revisi pasal 165 dan 165a KUHP karena tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang toleran dan pluralis. Banyak pihak yang beranggapan bahwa sekaranglah momentum penghapusan kedua pasal ini.

Tidak dapat dibenarkan

Penghapusan pasal tentang penodaan atau penistaan terhadap agama tidak dapat dibenarkan. Karena kejahatan serupa dapat menimbulkan kejahatan lainnya. Efek akan berantai dari orang yang merasa dirugikan, atau terhina agamanya. Ketika tidak ada jalan mendapatkan keadilan, maka akan muncul tindakan hakim sendiri yang akan bertentangan dengan pasal lain dalam KUHP. Hal tersebut akan bertentangan dengan tujuan hukum.

(Van Apeldorn :1958) tujuan dari hukum ialah mengatur pergaulan hidup manusia secara damai. Hukum menghendaki perdamaian. Perdamaian diantara manusia dipertahankan oleh hukum dengan melindungi kepentingan manusia seperti kehormatan, kemerdekaan, jiwa, harta benda dari pihak-pihak yang merugikan.

Kerugian, sakit hati, terhina yang dirasakan oleh golongan tertentu karena tindakan golongan lain tidak dapat dibiarkan. Konflik horizontal antar suku, ras, penganut agama tidak dapat dihindarkan ketika salah satu menistakan atau menodai satu sama lain.

Harus ada hukum yang absolute untuk menghentikan terjadinya hal tersebut. Oleh karena itu keberadaan pasal 156 dan 156a sangat krusial dalam menjaga dan menghindarkan orang-orang dari potensi terpecah belah.

Benteng Persatuan dan Kesatuan

Pasal 165 dan 165a KUHP merupakan langkah preventif terhadap potensi hancurnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adanya aturan yang meberikan sanksi secara langsung pada tingkat individu akan mencegah segala tindakan atau upaya provokatif yang dapat merusak hubungan antar golongan dalam masyarakat. 

Potensi konflik besar dapat langsung dimatikan pada akar masalah.
Saling ejek, penghinaan, penistaan serta tindakan penodaan terhadap orang atau golongan adalah awal dari permusuhan. Pada kasus antar golongan maka konflik besar akan terjadi jika tidak mampu dipadamkan ketika belum membesar.
Pasal 165 dan 165a KUHP langsung menjerat individu yang melakukan penistaan terhadap agama. Akar masalah langsung bisa diselesaikan, dan pihak yang terganggu mendapatkan keadilan.

Bangsa Indonesia khususnya harus berterimakasih kepada keberadaan kedua pasal tersebut dalam hukum positif yang berlaku. Karena Indonesia adalah negara yang berlandaskan agama bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal ini akan menjaga sila pertama dari Pancasila yang menjadi falsafah hidup bangsa.

Penghilangan pasal ini akan menyebabkan melemahnya pancasila, karena provokasi terhadap nilai agama dan ketuhanan sangat rentan menimbulkan konflik. Hal ini akan menyebab orang terarah kepada pemikiran tanpa agama untuk menghindari konflik. Tentu saja ateisme bertentangan dengan nilai luhur yang telah lama hidup dan diyakini secara luas di Indonesia.

Perbedaan karakter Hukum Indonesia dengan DUHAM.

Kita perlu ingat bahwa Hukum bertujuan melindungi kepentingan orang atau masyarakat (Jeremy Bentham). Kepentingan umum (masyarakat) selalu lebih besar dari pada kepentingan pribadi (Individual) sehingga tidak dapat terjadi pemaksaan kehendak individu yang bisa merusak perdamaian ditengah masyarakat. Demikian juga masyarakat umun tidak dapat mengganggu berkaitan dengan hak individu seperti yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang.

Berbeda dengan karakter dari DUHAM yang mengedepankan hak individu, bahkan sampai pada mengorbankan kepentingan umum. Hal ini sangat tidak cocok dengan nilai yang ada di Indonesia. Dalam kultur masyarakat, kita terbiasa dengan keseimbangan antara hak individu dengan kepentingan umum. Segala sikap atau prilaku yang terkesan sebagai bentuk egoisme dan tidak menghargai orang lain tidak dapat dibenarkan.

Oleh karena itu kebebasan yang liar tanpa ada hukum yang membatasi tidak cocok dengan gaya hidup bangsa Indonesia yang mejemuk.
Meski Indonesia menjadi negara yang meratifikasi DUHAM, namun tidak bisa semua ditelan mentah-mentah tanpa memperhatikan efek kebaikan atau potensi kejahatan yang muncul dalam masyarakat.
Termasuk dengan adanya pasal 156 dan 156a yang dianggap bertentangan dengan HAM pada asas kebebasan berpendapat. Jika dicermati mencela, mengejek, menghina, menodai bukanlah kebebasan berpendapat yang konstruktif, melainkan hasrat atau nafsu yang bersifat destruktif.

Usulan penghapusan pasal penistaan dan penodaan terhadap agama jelas ide prematur yang terlalu dipaksakan. Hanya berdasarkan keinginan bebas tanpa batas, tanpa memperhatikan akibat dari dari penghilangan pasal ini dimasa akan datang.
Penilaian dari satu sisi yang tidak sempurna menyebabkan penghapusan ini harus ditolah demi perdamaian dan ketentraman yang ingin diwujudkan dengan adanya tata hukum.

Pancasila adalah pengejawantahan terhadap aspek kehidupan bangsa Indonesia. Sebuah intisari dari berbagai nilai konstruktif yang ada dalam masyarakatnya. Konstituante menjaring aspirasi ini berdasarkan aspek nilai dan norma yang telah mengakar. Sebuah pemikiran yang lebih murni dan tepat untuk Indonesia daripada nilai yang terkandung dalam Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia.

Oleh karena itu, seandainya KUHP yang berlaku positif hendak diganti dengan rancangan baru yang lebih sempurna, maka pasal tentang penistaan dan penodaan terhadap berbagai golongan yang hidup di wilayah hukum NKRI harus tetap dimasukkan. Karena ia adalah ruh yang berfungsi menjaga kebhinnekaan agar tetap tunggal ika.

*Agus Fajri, Pengurus Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Indonesia Cabang Aceh

Tuesday, 16 May 2017

Opini : Pengurangan Jumlah Hutan Lindung sama dengan melegalkan ilegal loging

Cukup menakjubkan, rekomendasi dari legislative Aceh mengenai pengurangan  jumlah hutan lindung di Aceh. Bahkan angkanya mendekati  50 persen. Yakni dengan hanya menyisakan 52 persen hutan lindung. Setidaknya itu yang dikatakan Adnan Beuransyah mengenai Qanun RT-RW yang sedang digodok oleh DPR Aceh. Ini adalah upaya legalisasi terhadap pengrusakan lingkungan Hidup.

Jika pak Adnan berbicara tentang pemfokusan pelindungan hutan tanpa memikirkan warga menjadikan seolah kita lebih mementingkan satwa dari pada manusia adalah salah. Jika ingin memperhatikan manusia hutan harus dijaga. Pemanfaatan hutan tepat guna lebih efektif dibandingkan dengan menambah kuota hutan yang harus dirambah.

Bohong besar memperhatikan lingkungan dengan alasan menciptakan hutan produksi yang lebih seimbang, jika luas hutan yang dieksploitasi bertambah. Ini akan menjadi musibah besar di kemudian hari.

Rangkaian Musibah

Pernahkah kita bertanya pada diri kita, tentang musibah yang kerap menimpa Aceh. Lalu adakah kita mencoba lebih cermat musibah apa yang paling sering melanda Aceh tercinta setelah gempa, dan paling dahsyat setelah tsunami.

Benar Aceh tidak luput dari musibah beruntun. Musibah demi musibah telah meluluh-lantakkan segi kehidupan dan perekonomian masyarakat Aceh. Tanah longsor, Banjir, Kebakaran, dan sederet musibah lainnya bergiliran dialami masyarakat Aceh.

Diantara semua musibah ada dua musibah yang kerap dirasa masyarakat Aceh dalam kurun waktu  empat tahun terakhir. Pertama adalah musibah banjir, yang kedua tanah longsor.

Banjir adalah musibah yang paling sering terjadi di Aceh belakangan. Banjir di Tangse sudah dua kali dalam kurun waktu dua tahun. Banjir Aceh Tenggara juga sudah terjadi lebih dari dua kali dalam tiga tahun terakhir.

Lalu banjir di Aceh Utara beberapa waktu lalu. Aceh Besar juga tidak luput dari banjir. Lalu daerah Langsa dan Aceh Timur, siapa yang lupa bagaimana banjir melanda daerah tersebut.

Di Aceh Jaya berkali-kali penyeberangan rakit dan jalur tidak menggunakan rakit putus total hingga berhari-hari karena banjir.  Hal tersebut masih dirasa hingga akhir 2010 dimana jembatan belum selesai dan masyarakat masih bergantung pada rakit. Sungguh banjir telah menyusahkan masyarakat.

Kemudian tanah longsor. Berkali-kali transportasi putus dikarenakan tanah longsor. Hal ini kerap melanda daerah jalur tengah. Sebut saja jalur Takengon-Bireuen, jalur Aceh Tengah-Gayo Lues, jalur Blang Kejeren-Kutacane, dan jalur menujur Tangse-Geumpang. Daerah tersebut merupakan jalur yang rawan longsor, kerap putus dan sangat membahayakan pengguna lalu-lintas di daerah tersebut. Terutama saat musim hujan tiba.

Akar masalah

Banjir dan longsor adalah musibah musiman. Saat hujan terjadi dengan intensitas tertentu, bisa memicu terjadinya banjir dan longsor.

Tentu saja hujan bukanlah penyebab banjir dan longsor itu sendiri. Karena intensitas hujan biasa sesuai dengan karakter wilayah. Seperti hujan tropis, atau hujan di daerah safana dan stepa. Perbendaan jenis hujan ini dikarenakan iklim. Jadi tidak tepat menyalahkan hujan.

Yang menjadi akar masalah dari tanah longsor dan banjir adalah kesiapan lingkungan. Kemampuan lingkungan menampung air, serta daya tahan tanah atau batuan dari rekahan akibat kikisan air hujan.

Banjir dan longsor akan terjadi jika lingkungan tidak lagi dapat mendukung  segala beban yang ada. Pada kasus longsor dan banjir, maka air tidak mampu dikuasai oleh lingkungan yang ada.

Daya tahan lingkungan terhadap tekanan dan kerusakan adalah bentuk alami dari sistem pertahanan lingkungan. Hal yang sering disebut dengan daya lenting lingkungan ini adalah hal yang terbentuk alamiah berdasarkan wilayah, iklim, curah hujan dan hutan, dan faktor  lainnya yang mempengaruhi.

Segala faktor tersebut telah tersusun rapi dan harmonis. Dengan begitu pada dasarnya lingkugan sudah siap dengan segala kemungkinan.

Lebih tepatnya kita katakan musibah terjadi karena lingkungan kehilangan sistem  pertahanannya. Kehilangan daya lenting yang menjadikan alam tetap bisa bertahan atau survive.  Alam tidak akan pernah rusak dengan sendirinya. Alam rusak dikarenakan adanya intervensi dari luar.

Ada yang mengganggu keseimbangan yang ada. Hal tersebutlah yang menjadikan musibah datang. Yakni ada yang berbuat kerusakan dimuka bumi.

Tindakan salah

Kesimpulan yang dapat diambil dari analisa terhadap dampak lingkungan hidup adalah jangan merusak lingkungan. Oleh karenanya dalam hukumpun sebelum diberi izin atau keputusan terhadap suatau perkara yang berhubungan  dengan Alam maka wajib memiliki AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan).

Sebelum sebuah perusahaan diizinkan beroperasi, lahan baru dibuka maka semua wajib memiliki AMDAL. Jika tidak maka izin tidak dapat diberikan oleh pejabat berwenang.

Pengurangan hutan sampai mendekati angka 50 persen sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup. Keberadaan hutan yang hanya lima puluh persen dapat diartikan lingkungan telah rusak. Ditambah lagi dengan kenyataan hutan Aceh yang memang sudah rusak parah dikarenakan illegal logging. Dan kebijakan 75 persen yang dibuat mantan Gubernur Irwandi Yusuf tidak menyelematkan lingkungan hidup.

Upaya me-regulasi kebijakan tentang pengurangan luas wilayah hutan lindung adalah kebijakan yang tidak masuk akal. Salah jika dikatakan kebijakan itu dikerenakan lebih memikirkan kehidupan manusia daripada marga satwa. Karena kenyataaanya manusia tidak dapat bertahan sendiri. Kerusakan hutan yang sudah ada juga telah menyebabkan manusia sendiri yang menderita.

Maraknya illegal logging memang bukan lagi rahasia. Yang menjadi kabar burung dan sekaligus rahasia umum adalah adanya backup, atau illegal longing yang mendapat backing dari oknum pejabat.

Khawatir jika upaya pengurangan jumlah hutan lindung ini menjadi sarana legalisasi terhadap Ilegal loging yang telah merusak alam Aceh. Kita khawatir pejabat dibutakan matanya oleh uang yang dihasilkan dari penebangan hutan. Padahal dana yang mengalir ke Aceh sudah cukup banyak.

Bagaimanapun ceritanya hutan dan lingkungan yang lestari adalah wujud kepedulian sebenarnya terhadap kelangungan hidup manusia. Karena terbukti berkurangnya hutan telah menyebabkan kabupaten dan kota di Aceh kebanjiran, longsor hingga menyebabkan masyarakatnya menderita.

Kita berharap pemerintahan Aceh benar-benar open mind and eyes untuk permasalahan ini. Jangan menggunakan alibi politik dan kekuasaan untuk berbuat kerusakan. Sudah cukup penderitaan masyarakat Aceh karena musibah. Wallahualam.

Mengomentari Insiden Pemukulan di UNSYIAH

Anarkisme sepertinya masih menjadi jawaban atas problematika mahasiswa Unsyiah. Sepertinya memang ini kelasnya, sehingga pemukulan masih terjadi di kalangan mahasiswa. Terlalu banyak kepentingan dan seperti terlalu rumit masalah mereka, sehingga emosi menjadi tidak terjaga. Hilanglah akal, hikmah dan ilmu.

Sedih saya mendengar cerita seorang mahasiswi Fakultas Hukum Raudiah namanya. Ada tangan kuat mahasiswa unsyiah yang berani melayangkan pukulannya ke arah perempuan. Lalu masih ada nama lain seperti Miftah, Dewi yang juga tak luput dari perlakuan kasar para pria Unsyiah yang tergabung dalam Dewan Perwakilan Mahasiswa Unsyiah (DPMU).

Sungguh mereka mahasiwa sejati. Lelaki perkasa dan pilihan mahasiswa untuk mejadi perwakilan mereka di tingkat Fakultas dan Universitas. Tidak semua lelaki berani seperti mereka, memukul perempuan. Karena yang lain masih memiliki secuil rasa malu. Karena akhlak mereka memberitahukan agar melindungi perempuan.

Pemimpin adalah cerminan rakyatnya, maka dikampus mereka cerminan mahasiswanya. Mereka adalah cerminan dari konstituen mereka. kecenderungan memilih selalu yang sekufu, secara style dan pemikiran. Maka tak heran jika kampus hasilnya melahirkan tokoh yang tidak bisa mengurus Aceh. Karena kampus adalah laboratorium, maka kondisi kampus hari ini adalah gambaran Aceh sepuluh tahun yang akan datang.

Kita dapat melihat bukti bahwa aktifis pada masa sepuluh hingga lalu minimal, pada tahun ini telah memegang peranan penting di Pemerintahan Aceh. Bukan hal mustahil sepuluh tahun lagi adalah wajah-wajah tukang pukul Unsyiah ini yang akan mulai memegang peranan di Aceh. Dengan begitu, saya mulai bekesimpulan tidak ada harapan untuk Aceh dari Unsyiah. Karena yang akan menjadi politisi dan memegang perintah adalah mereka yang aktif bersaing di labolatorium kampus.

Mereka para tukang pukul adalah kriminal. Pemukulan adalah tindakan yang menyakiti dan menganiaya. Ini adalah tindakan pidana yang seharusnya dilaporkan kepada kepolisian. Apa lagi dilakukan secara bersama-sama seperti pengeroyokan. Maka tindakan ini menandakan mereka adalah pelaku pidana yang tidak layak menjadi perwakilan mahasiswa. Keberadaannya hanya menambah rentetan cerita buruk bagi sejarah dan keberadaan Dewan Perwakilan Mahasiswa.

Saya malah berfikir, bagaimana pelajaran akidah akhlak, dan sense moral dari pendidikan kewarga-negaraan harus ditanam lagi secara mendalam ke kepala mereka. Dengan demikian, mereka bisa belajar bagaimana memperlakukan perempuan. Apakah ini tanggung jawab semua dosen, rektor, dekan, biro akademik, MKU, atau UP3AI. Jelasnya apa yag sudah di Ajarkan sepertinya belum cukup untuk  mencerdaskan para politisi kampus ini.

Entah sampai kapan tradisi barbarisme ini terus dipertahankan. Warisan budaya masa lalu yang tidak berguna. Jika semua diselesaikan dengan mekanisme serangan fisik, maka apa beda antara prilaku manusia yang beradab dengan prilaku ala hewan non politik lainnya. Tentunya kita sudah tidak boleh lagi menyelesaikan forum berpengetahuan dan terhormat dengan prilaku yang demikian.

Semoga para pelaku instrospeksi diri dan meminta maaf, lalu menyelesaikan forum musyawarah dengan bermusyawarah. Atau para korban juga jangan tinggal diam diperlakukan seperti itu. Pidanakan saja mereka, agar jadi pelajaran. Mereka itu mahasiswa, seharusnya bertindaklah selayaknya mahasiswa.

Berita : PAHAM Indonesia Cabang Aceh dan BEM FH UNMUHA lakukan diskusi hukum

PAHAM Aceh berkerja sama dengan BEM FH Universitas Muhammdiyah Aceh mengadakan DIKTUM. Acara tersebut merupakan tempat untuk mahasiswa mendiskusikan berbagai macam polemik hukum. DIKTUM merupakan akronim dari Diskusi Konsultatif Topik Hukum.

Menyikapi Mahkamah Konstitusi (MK) yang- menetapkan Putusan No 137/PUU-XIII/2015 terkait penghapusan norma wewenang pembatalan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten/Kota oleh Menteri Dalam Negeri.

Kami coba mengupas sejauh mana putusan tersebut mengikat. Karena selama ini banyak yang salah menafsirkan jangkauan putusan MK tersebut. Ada yang berfikir semua tingkat pemerintahan berlaku putusan tersebut, nah dalam DIKTUM ini kita coba mengupas putusan tersebut; penjelasan Basri Effendi, S.H, M.H, M.Kn.

Hadir sebagai pembicara bapak H. M Daud Yusuf, S.H, M.H. Dosen FH Unmuha dan pernah menjabat Wakil Rektor Satu Universitas Muhammdiyah Aceh. Pembicara kedua bapak Irwansyah, S.T selaku anggota DPRK Banda Aceh Komisi A yang membidangi Hukum dan Pemerintahan. Bertindak sebagai moderator ketua BEM FH Unmuha Hamdani.

Menurut Pak Daud Yusuf, seharusnya mendagri memang tidak boleh membatalkan Perda. Karena proses pembentukan Perda sama dengan Undang-undang. Dikerjakan bersama antara eksekutif dan legislative. Seharusnya Mahkamah Agung sebagai lembaga yang berhak mengadili Perda atau qanun.

Sedangkan Irwansyah menyebutnya, kewenangan membatalkan Perda bagi eksekutif itu merupakan kekuasaan yang terlalu besar bagi mendagri. Tidak mungkin kebutuhan akan Peraturan atas kemajemukan bangsa Indonesia.

Sementara itu, dalam sambutannya ketua PAHAM Indonesia Cabang Aceh mengatakan sangat ingin untuk budaya diskusi hukum dikalangan mahasiswa terjadi tidal hanya bagi mahasiswa fakultas hukum saja. Karena semua orang itu harus mengerti hukum.

Wakil dekan 3 FH Unmuha bapak M. Heikal Daudy, S.H, M.H saat membuka diskusi menharapka diskusi hukum menjadi tradisi akademis bagi mahasiswa. Ngobrol soal hukum harus dibudayakan dimana saja agar semua orang melek Hukum.

Monday, 1 May 2017

Kemanusiaan : Breuh Si Cupak Untuk Somalia

Panas dan kekeringan melanda Somalia. Tak kurang dari seribu orang meninggal dunia setiap harinya dikarenakan kelaparan. Setelah menahan setiap lapar dan haus yang mungkin telah membunuh nafsu mereka sebelumnya.

Bencana Somalia sudah sepatutnya jadi perhatian internasional. Hanya saja beritanya tak semarak berita pilkada Jakarta. Atau tak secepat tanggapan aktifis HAM negeri sama dicambuknya dua makhluk pelanggar hukum terburuk dan menjijikkan yang ditangkap di Darussalam.

Kadang saya terfikir, ada orang yang bisa membiarkan orang kelaparan, seolah it bukan hak yang asasi. Malah mereka lebih memilih membela para pelanggar hukum, ketimbang membangun solidaritas.

Kembali ke bencana yang menimpa Somalia. In cobaan buat dunia, cobaan buat semua manusia. Saya fikir dunia berdosa jika mengabaikan mereka. Mereka dicoba dengan lapar dan haus, kita dicoba dengan batas rasa sosial dan kemanusiaan.

Akan menjadi bencana besar atas moralitas dan solidaritas jika kita diam. Diam kita untuk Somalia, sama dengan membiarkan mereka mati. Membiarkan orang lain mati karena lalainya kita adalah kriminal. Kita pembunuh.

Sekarang banyak lembaga kemanusiaan mulai menggalang rasa kemanusiaan kita. Menyentuh hati kaya yang siap menderma. Tidak perlu banyak, sicupak saja. Sicupak it sama dengan sepuluh ribu.

Tidak akan kita lapar dan mati hanya karena menahan sekali makan nasi bungkus yang harganya melebihi sicupak beras. Atau sama seperti dua galon air RO yang harganya serious satu galon. Bisa juga kita samakan dengan dua botol air mineral ukuran besar.

Tidak sulit untuk membantu. Hanya saja kita may atau tidak. Kits bisa berkampanye, mengajak banyak orang menyisihkan sedikit beras untuk saudara kita. Menngalang bantuan secara individual, untik sama-sama menyerahkan ke lembaga yang kompatible untuk menyalurkan bantuan kita.

Sebut saja lembaga seperti KRC (Korps Reaksi Cepat) KAMMI, ACT (Aksi Cepat , PKPU (Pos Keadilan Peduli Umat). Untuk Informasi soal mereka dan programnya silahkan di googling aja. Yuk kita bantu. Kalau kita bantu orang, yakin orang akan bantu kita, tsunami buktinya. Nah, lebih mulia lagi Allah bantu kita.

Sungguh Allah akan membantu siapa saja yang may membantu meringankan permasalahan saudaranya.

Tuesday, 25 April 2017

Pesona Bahari : Ujung Pancu, Lhok Mata Ie

Tidak ada banana boat, tidak ada hotel, tidak ada cafe dan kedai-kedai. Alami, begitulah adanya. Namun bukan berarti tempat ini belum terjamah tangan manusia. Tapi tempat favorit malam mingguan bagi jiwa-jiwa petualang.

Bagi yang suka kegiatan outdoor, seperti camping, atau tracking, Lhok Mata Ie menjadi tempat menantang yang mudah di jangkau. Dekat dengan kota Banda Aceh, namun memberikan suasana alam yang cukup liar.

Pada malam minggu atau hari libur, pantai kecil diantara tebing dan perbukitan itu penuh sesak dengan manusia dan tenda. Seperti pasar malam saja. Akan lebih tenang dan nyaman kalau malam-malam biasa.

Maklum, kalau malam minggu bisa-bisa gak kebagian tempat buat bermalam atau pasang-pasang tenda. Akhirnya mesti dinyaman-nyamanin begitu. Lain cerita malam biasa, cocok buat mencari ketenangan.

Lhok Mata Ie benar-benar potensi alami dari alam. Ikannya beraneka ragam, banyak pemancing datang kemari. Sekedar fishing, atau spear fishing sama-sama asik. Tentu spear fishing lebih menarik dengan hasil lebih memuaskan.

Selain itu, keong batu juga banyak dan beragam. Tinggal pilih yang besar-besaran biar puas. Langsung aja direbus pakai air laut, rasanya manis banget. Tapi jangan minum kuah air lautnya ya, karena tetap asin.

Atau kalau mau dipanggang juga enak banget. Taburi garam sedikit dimulut cangkangnya, juga setetes asam jeruk nipis, lalu letakkan saja diatas bara api. Tunggu sampai air mendidih keluar dari cangkang, yang bermakna udah matang.

Oya keongnya jangan dalam posisi terlungkup ya, pastikan mulut cangkang ke atas, atau masakanmu bakal gak jadi. Hahahaha.

Treknya itu terdiri dari perbukitan, jadi kadang menanjak, kadang menurun, melewati kebun warga hingga agak sedikit masuk hutan dan keluar di pantai.

Lalu mata akan dimanjakan dengan pemandangan laut dan gugusan beberapa pulau kecil. Sore hari, sunset dari titik ini juga sangat menyenangkan.

Selain itu sumber air tawar juga dekat, keluar dari celah batu pegunungan. Oya bukit yang ku cerita tadi itu lebih bisa ta bilang rantai atau anak-anak mungilnya bukit barisan. Jadi airnya bisa diminum langsung juga.

Airnya segar banget, dan pengalaman kami minum, gak pernah ada yang sakit perut. Anak manja aja kami bawa, bisa pulang sehat wal afiat. Meski gak kami kasih tahu kalau kami kasih air mentah.

Oh ya airnya awet, meski kemarau. Tapi debitnya kecil banget. Jadi penting untuk kalian yang berkunjung menjaga sumber air ini. Agar bisa terus dinikmati generasi camping dan tracking masa depan.

Kesimpulan akhir, pokoknya asiklah, berpetualang. Untuk acara kayak outbond atau kemah pramuka juga asik. Datang aja dan rasakan sensasi kepengen kembali.

Monday, 24 April 2017

Ngopi Ala Orang Aceh

Pesan segelas kopi, lalu kamu dapat bonus segudang isnpirasi. (Agus Fajri |duek pakat warkop)

Bagaimana cara orang tempat kalian ngopi. Tentu ada yang unik. Sebuah kebiasaan atau rutinitas minum kopi. Pasti ada, karena kopi adalah minuman yang tak bisa lepas dari mulut orang Indonesia.

Tak berbicara soal soal filosofis, tapi kajian kali ini secara Sosiologis. Ada ditengah masyarakat dan selalu dilakukan. Dia seperti kebiasaan yang menjadi hukum tanpa sanksi, namun terus saja dipatuhi.

Berawal dari pertanyaan sederhana, yakni " berapa kali kalian minum kopi dalam sehari ? " Ada satu, ada dua, tiga, empat, lima. Tergantung aktfitas, kadang jumlah kopi yang masuk tidak terkontrol.

Nah saya mau cerita bagaimana kami di kampung ngopi atau "jep kupi". Umum terjadi di Aceh dan unik sekali. Kedekatan orang Aceh dengan kopi adalah "sesuatu". Sangat melekat.

Bayangkan saja seorang teuku Umar dalam menggelorakan jihad melawan Penjajah Belanda mengatakan " Singoh beungoh geutanyoe jep kupi di keudee Meulaboh atawa ulon syahid".

Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia maknanya menjadi " besok pagi kita ngopi di kota Meulaboh, atau saya syahid. Kalimat ini disampaikan dalam sebuah keberangkatan menuju medan perang.

Kembali ke berapa kali, atau bagaimana kami di kampung " jep kupi" (ngopi aka minum kopi). Silahkan kalian ambil kesimpulan. Saya hanya akan bercerita, sedangkan kalian akan menyimak. Jadi konsentrasi (haha, serius amat yak).

Kebanyakan dari kami bangun kala subuh, lalu salat subuh. Setelah salat sarapan. Minum kopi adalah kepastian. Baik itu kopi racikan abang barista di warung kopi, atau racikan bunda tercinta di rumah sendiri.

Lalu berangkat melakukan banyak aktifitas, sampai akhirnya seperempat pagi berlalu menuju siang. Bekerja, di kantor, PNS, Kuli panggul, Kuli batu, bertani dan banyak lagi lainnya (tentu saja saya gak bakal mengetik semua, bedagok kayak trisep ama bisep pindah ke jempol (ketahuan ngetik pake smartphone, hehe)).

Di ukur dari jam subuh itu jam lima pagi WIBPB (Waktu Indonesia Bagian Paling Barat), hehe, maka jam sepuluh adalah break time. Ini maknanya coffee break. Jam istirahat yang sering kami lakukan dengan "jep kupi " dan "pajoh kueh".

Ya, ngopi dan makan kue ala kadar, energi baru untuk melanjutkan aktifitas. Gak lama, palingan 10 hingga lima belas menit. Menghilangkan lelah dan mengembalikan mood. Coffee is the best mood booster, I'm alright.

Lalu kembali kerja sampai jam makan siang. Setelah siang dan shalat dhuhur, lanjut dengan aktifitas. Sampai jam salat ashar. Nah disini juga kadang ada jam "jep kupi" lagi. Kalau ini jadi kopi sore.

Ada yang udah selesai kerja seharian, ada juga sekedar buat "mood boosters" lalu lanjut kerja sampai benar-benar sore. Jam enam lah, lalu baru semua selesai karena udah menjelang magrib.

Nah lelah kerja seharian, malam adalah waktu santai dan bersosialita (cek ilee). Jam nongkrong dan kumpul-kumpul buat mereka yang sampai magrib full aktifitas. Malam jumpa kawan, atau berkumpul sesama warga desa.

Jelas sekali, warung kopi jadi pilihan. Duduk santai, ngobrol ringan hingga berat. Nonton tivi atau nyari sinyal Wi-Fi di era modern. Baru jelang larut malam pulang untuk istirahat total. Tidur untuk menyongsong pagi, bangun subuh Dan lanjut aktifitas lagi.

Kalau mau tahu kelanjutan, silahkan dibaca lagi dari awal. Gal jauh beda. Setidaknya paragraf ke delapan, hehe. Udah dulu ya udah jam 08.00. masuk kerja dulu. Oya ini juga saya ketik sambilan sarapan, di warung kopi.

Kopi pagi ini, segelas robusta penuh isnpirasi.

Saturday, 22 April 2017

Buku Kartini : Door Duisternis Tot Licht : Dari Gelap Menuju Cahaya

Gambar K. H. Sholeh Darat dan Raden Ajeng Kartini

Door Duisternis Tot Licht. Sebuah kalimat dalam bahasa Belanda. Artinya lebih kurang adalah "dari gelap kepada cahaya". Kata tersebut adalah judul sebuah buku yang disusun oleh J.H. Abendanon, seorang berkebangsaan Belanda. Penulis sebenarnya adalah seorang wanita berkebangsaan Indonesia, bernama Raden Ajeng Kartini.

Banyak kalangan yang memandang Kartini sebelah mata. Menurut mereka tidak cocok Kartini menjadi tokoh wanita yang diperingati harinya. Dijadikan simbol perjuangan atau emansipasi wanita, hanya karena tulisannya kepada sahabat penanya di eropa. Menurut kalangan ini ada nama lain seperti Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Sultanah Sri Safiatuddin yang perjuangan dan kerjanya sebagai perempuan melebihi apa yang dilakukan oleh laki-laki.

Kembali kepada Door Duisternis Tot Licht, sebuah kalimat yang diarrtikan dengan "habis gelap terbitlah terang oleh Armijn Pane. Ada fakta menarik soal dari mana inspirasi kata ini berasal. Jika Abendanon mengambil judul tersebut berdasarkan kalimat yang dianggapnya menginspirasi Kartini, karena sangat banyak pengulangan dalam berbagai surat yang dikirimnya.

Menariknya adalah dari mana Kartini memperoleh insparasi tersebut. Tidak disangka is terinspirasi dari Surat Al Baqarah ayat 257 yang berbunyi " Allahu waliyyullazi na aamanu yukhrijuhum minadh dhulumaati ilan nur". Artinya adalah "Allah pelindung orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya".

Ayat ini mengingatkan dirinya sendiri dalam proses memperoleh hidayah. Karena (Didasari artikel yang berasal dari cerita Ny. Fadhilah Shaleh, cucu dari K. Shaleh Darat) pada masa Kartini hidup penyebaran dakwah Islam tabu oleh Belanda. Juga kurangnya tafsir Al Quran kepada bahasa Jawa yang umum digunakan disana (termasuk Kartini). Juga pengalaman buruk yang dialaminya saat bertanya arti ayat Quran kepada guru mengaji. Cukup untuk membuat dia bingung dengan agama yang diwarisinya dari keluarga yakni Islam.

Hal itu tertulis dalam suratnya kepada Stella. Dalam suratnya ia mengatakan " manalah boleh aku cinta agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh aku mengenalnya. Al Quran terlalu suci untuk diterjemahkan ke dalam bahasa mana juapun. Di sini tidak ada yang tahu bahasa Arab. Orang diajarkan membacanya, tapi tidak diajarkan makna yang dibaca".

Sangat jelas, gambaran kondisi Islam dan dakwah pada masa tersebut. Bagaimana kekeliruan pandangan terhadap agama sangat memprihatinkan. Pemahaman tidak ada karena tidak diajarkan. Transfer ilmu terputus hingga pada tahapan terjadinya pewarisan ilmu yang salah. Kekeliruan yang berbuah keraguan dari pemeluk agama terhadap agama itu sendiri. Sebuah kondisi yang membuat Hamka dalam sebuah tulisannya menyayangkan kondisi tersebut.

Pertemuan dengan Kyai Soleh Darat pada sebuah pengajian yang membahas tafsir Al Fatihah membuka mata dari Kartini. Sehingga ia memberi usul kepada Kyai untuk membuat terjemahan Al Quran kedalam bahasa jawa, bahasa yang ia dan orang lainnya pakai sehari-hari. Terjemahan ini diberi judul Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an Dan menjadi terjemahan pertama Al Quran dalam bahasa jawa dengan menggunakan aksara Arab Pegon ( tulisan jawa menggunakan huruf Arab, semisal Arab Jawie).

Dari perjumpaan dengan Kyai Soleh Darat, tafsr Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an inilah banyak pelajaran tentang bagaimana Islam, yang Kartini menyebutnya sebagai agama nenek moyangnya itu dia pelajari. Dan dari situ juga ia menjumpai ayat 257 dalam Surat Al Baqarah yang sangat berkesan baginya. Suatu keterangan yang ia alami sendiri dan ditemukan ada dalam Al Quran. Sepertinya ini adalah suatu pembuktian tentang apa yang selama ini Kartini rasakan.

Hal tersebut tercermin dalam percakapannya dengan Kyai Saleh Darat.
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah.

Penterjemahan "habis gelap terbitlah terang" oleh Armijn Pane sendiri oleh beberapa kalangan penulis menilai telah menggerus makna asli dari kata "door Duisternis Tot Licht" yang seharusnya bermakna dari kegelapan kepada cahaya. Paling fatalnya ialah sangat menjauhkan dari sumber inspirasi darimana kalimat itu ditemukan ( kalimat "minadh dhulumaati ilan nur" yang sangat menginspirasi Kartini).

Sangat disayangkan jika Kartini sebagai wanita jawa, yang memiliki semangat kepada Al Quran dan Pemahaman terhadap pemikiran Islam di jadikan simbol kaum feminist yang malah menggiring wanita Indonesia jauh dari sumber cahaya yang penulis yakini ini "diyakini dan dipelajari oleh Kartini'.

Hal tersebut terlihat jelas ketika ia risau soal tidak bisa cinta dengan agamanya karena tidak tahu, serta tidak boleh mencari tahu. Kesimpulan yang sangat pelik yang muncul dari pengajar yang tidak sempurna ilmunya soal agama islam (kondisi guru mengaji Kartini tahu mengajarkan cara membaca aksara Arab, namun tidak bisa berbahasa Arab atau mengerti apa yang arti dari ayat Al Quran).

Ada kesimpulan unik bahwa terputusnya dakwah, atau pengajaran tentang bagaimana sebenarnya Islam dan tafsir Al Quran yang menyebabkan kecintaan Kartini terhadap Islam hampir pupus. Tentunya ini juga menjadi akar masalah yang sama pada tiap generasi yang kita jumpai telah terjadi penurunan kadar cinta terhadap Islam. Masalah puncanya adalah pengetahuan yang tidak memadai.

Dalam cerita Kartini, pertanyaanyan terhadap Kyai Soleh Darat seperti menggugahnya soal bagaimana menjaga keberlangsungan transfer ideologi Islam. Ini menginspirasi beliau, dimana menurut Ny. Fadilah Saleh, saat itu Kyai hanya bisa diam dan mengucap Subhanallah. Dan tentunya Jawaban menakjubkan dari Sang Kyai ketika menghadiahkan tafsir Al Quran karyanya sendiri tersebut. Tentu in menjadi jawaban terindah dari sang Kyai.

Tuesday, 18 April 2017

Travelling : Rujak Krung Raya dan Teluk Sabang

Rujak Krueng Raya, dengan latar teluk Sabang
Kamu sering travelling, maka sabang pastilah harus masuk ke salah satu list tunggu tempat yang harus didatangi. Bagi yang udah tahu sabang pasti udah ngerti bagaimana. Kalau yang belum tahu, sini saya bisikan "Sabang itu indah, unik, asik".

Kali ini saya mau bagi-bagi pengalaman, salah satu spot menarik dengan apa yang khas di sana. Nah kali ini saya mau cerita-cerita soal satu spot kuliner sabang, sekaligus tempat asik yang wajib kamu singgah di sana.

Nama spotnya desa krung raya. Lokasinya di jalan raya menuju ke Kilometer Nol. Namun belum seberapa jauh dari kota sabangnya, ya guys. Sekitar lima menitan lah, atau bisa jadi kurang lebih bergantung pada kecepatan motor.

Apa yang menarik dari desa Krueng Raya ini, yuk kita bahas satu persatu. Pertama andalan mereka yakni kuliah, eh salah ah, kuliner, hehehe. Ada satu kuliner yang jangan sampai kamu ketinggalan, alias gak sempat kamu nikmati lezatnya.

Nama menunya adalah "Rujak". Nah loh, kok rujak, itukan umum banget yaa. Koktailnya orang Indonesia. Eitss, tunggu dulu. Jangan salah. Kuliner itu bicara rasa. Kamu akan tahu uniknya menu Rujak Krueng Raya dari mengetes langsung dengan kepala lidahmu sendiri.

Potongan aneka jenis buah-buahan disiram saus kacang pedas manis. Benar-benar campuran aneka rasa sempurna. Seperti tidur dengan berbagai jenis buah diselimuti rasa pedas cabai dan gurihnya kacang dalam manisnya gula aren. Semua diaduk menjadi satu hidangan dalam satu piring.

Kedua tempat. Jelas banget guy's. Tempatnya indah banget. Terhampar teluk sabang dengan airnya yang tenang. Pulau-pulau kecil menambah kesan eksotis yang benar-benar memanjakan mata.

Penampakan kota bawah dan kota atas, perbukitan semua menyatu dalam satu bingkai foto selfie yang instagramable kata mereka yang gemar selfie. Ditambah tangan yang megang rujak, maka jadilah foto bercita rasa buah-buahan, hehe. Gal lah, serius saya mau bilang itu "selfie cita rasa Indonesia"

Ketiga suasananya guy's. Kalau siang cocok banget buat ngadem. Angin laut menerpa, memanjakan. Pohon besar nan rindang menjaga kulit mulusmu (bagi cewek) dari sinar matahari. Pohon rindang itu surga di daerah tropis yang panas.

Sore hari lain lagi cerita. Sinyar jingga dari matahari terbenam lembut menyusuri kulit. Sinarnya menyeruak diantara pemandangan yang "instagramable", diantara angin laut yang beraroma garam. 

Ah benar-benar sebuah romansa indah buat kamu yang butuh me time, atau pengen berdua dikeramaian.
Jangan biarkan semua sensasi itu terlewatkan dari petualanganmu. Atau tak tertangkap kamera milikmu.

 Jangan biarkan ia terlewatkan, tak tertulis dalam kisah romantis cinta halalmu. Seperti kisah anak muda sabang yang Aman mengajak pasangannya untuk makan rujak meski hanya sepiring berdua.

Jika hidupmu crowded banget, maka kesini buat ngadem, meredam eh gak mengeluarkan semua stress. Biar di menguap dilembutnya mentari dan diterbangkan angin laut. Dikubur ke balik bukit, dipendam ke dasar teluk yang dalam.

Lalu pedas manisnya rujak akan membuatmu lupa sejenak kalau ini dunia yang sedang kacau. Terlintas di fikiran, ah, dimana ini, eh ini surga.

Menteri Susi Ikut Paket C

Screen shot dari berita jawapos soal kartu ujian menteri Susi.


Mentri Susi Puji Astuti memang Paling unik. Selain menteri yang terpilih karena kinerja, bukan ijasah seperti kebanyakan yang terjadi di Indonesia. Tak Lulus SMA jadi menteri. Saya kagum dengan kemampuannya.

Kali ini saya juga terperangah. Dapat kabar dari Jawa Pos, ada nama Susi di kartu Ujian Paket C. Wah udah jadi menteri tak malu daftar paket C. Padahal orang Indonesia banyak yang menyepelekan paket C. Mungkin karena mereka tidak ngerti.

Ya meski bu Susi akan membolos, atau bisa dipastikan tidak bisa hadir pada hari tersebut. Namun tetap saja menurut saya ini adalah hal yang jarang dilakukan oleh orang dengan power sedemikian besar di Indonesia.

Biasanya kan kita suka dengar sekonyong dah naik pangkat. Tiba-tiba sudah jadi master atau doktor saja. Apa sih yang tidak bisa dengan kekuasaan ditangan. Inilah coreng muka rahasia umum kita-kita.

Namun lain dengan Menteri  Susi. Meski sudah sering jadi pembicara dikampus luar negeri seperti Harvard University, dapat doktor HC yang sejajar pendidikan formal, dan masih daftar paket C. Ini menempatkan menteri Susi sebagai menteri yang lain dari yang lain.

Salut but menteri.

Sunday, 16 April 2017

Fakta Sejarah Sebelum Imperialisme dan Kolonialisme Barat

Ada banyak yang berubah di dunia pasca imperilisme yang di usung Belanda, dan Kolonialisme oleh Inggris. Faktanya masyarakat juga menderita pada zaman tersebut.

Berikut sejarah unik sebelum imperialism dan Kolonialism menjajah dan mengubah banyak hal di dunia.

1. Titik Nol Meridian

Pertama kalinya titik Nol Meridian adalah kota Mekkah Al Mukarramah. Kiblat dijadikan sebagai pusat, dan setelah itu baru membagi belahan dunia menjadi barat, timur, selatan, utara dan sesuai arah penjuru mata angin.

Hal ini disebabkan oleh banyaknya peta yang dibuat oleh ahli geografi muslim. Baru setelah muncul ahli geografi barat, mereka bersepakat menjadikan Greenwich, London sebagai titik Nol Meridian. Ini dilakukan oleh Kerajaan Protestant Angelikan Inggris.

2. Samudra Persia Adalah Samudra Hindia

Pada peta yang berkembang pada abad ke 9 Masehi hingga 10 Masehi, Lautan Hindia belum dikenal. Waktu itu namanya adalah Samudra Persia. Persia Saat itu salah satu kekuatan Imperium Persia yang kuat. Persia sendiri adalah wilayah yang sekarang kita tahu sebagai Iraq dan Iran.

Ketika imperialism barat di mulai dan akhirnya mereka berkuasa, nama Samudra Persia diubah. Nama barunya adalah yang kita kenal dalam peta terbaru. Itu adalah Samudra Hindia.

3. Sumatra Dulu Bernama Andalusia

Pernahkah mendengar Andalusia. Tepat is adalah nama dari daratan eropa yang indah dan subur, yang sekarang kita kenal dengan spanyol. Nah dulu para pengembara dari Europe (barat) Arab (West Bank) juga mengenal Andalusia from the East.

Tahukah kalian bahwa Andalusia from the East adalah Sumatra. Mereka menamai pulau ini dengan Andalusia karena faktor kesamaan kondisi Alam. Keindahan dan kesuburan tanahnya seperti Andalusia di benua eropa.

Mungkin sekarang kita hanya tahu Pulau Sumatra memiliki julukan sebagai tanah Andalas. Atau mendengarnya sebagai julukan pulau Sumatra. Paling menyedihkan adalah pernah dengar kalau semen andalas ditambang di Sumatra (Lhoknga, Aceh Besar).

3. Maluku itu Jazirah Al Mulk

Jazirah bermakna daratan yang dikelilingi oleh lautan. Kita mengenal, atau sering mendengar istilah Jazirah Arab. Mungkin tidak sedikit yang mengira Jazirah sebutan untuk wilayah yang terdiri dari padang pasir. Padahal tidak demikian.

Para penjelajah atau pengembara Arab telah mengenal Maluku dengan nama Jazirah Al Mulk. Mereka menyebutnya Jazirah karena daratan ink dikelilingi lautan. Begitulah mereka menamainya. Begitulah dulu Maluku dikenal.

4. Laksamana Malahayati itu Bajak Laut

Ini adalah tuduhan keji penulis sejarah barat. Panglima angkatan laut perempuan dari Aceh ini dituduh sebagai perompak. Padahal dia melaksanakan tugas negara untuk mengamankan Lautan Selat Malaka.

Dia dituduh menyerang kapal dagang milik VOC. Padahal kapal tersebut ditumpas karena membawa angkatan bersenjata untuk mensukseskan monopoli perdagangan dan penjajahan.

Itu dulu ya, lain kali akan kita bahas lebih banyak lagi.

Tahukah Kita : Islam Masuk Indonesia Pada Abad ke Tujuh Masehi

Banyak penulis sejarah mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ketiga belas masehi. Menurut beberapa sejarawan lainnya, Hal ini merupakan kekeliruan.

Dalam buku "Api Sejarah" Ahmad Mansur Surya Negara menuliskan hal tersebut diatas adalah sebuah kesalahan. Setidaknya menurut R. K. H. Abdullah bin Nuh dalam buku yang sama, is mengatakan seharusnya Islam masuk ke Asia Tenggara jauh lebih lama.

Islam lebih tepat datang ke Indonesia pada pada abad pertama hijriah atau abad ketujuh Masehi. Setidaknya setidaknya 7 abad atau 6 abad lebih cepat dari disangka oleh sejarawan lainnya.

Hal ini diperkuat dalam buku T. W Arnold "the pearching of Islam". Dalam buku tersebut dikatakan abad ke dua Hijriah pedagang Arab dan dakwah Islam telah menguasai Sailan atau Srilanka.

Masih dalam buku "Api Sejarah" pendapat ini diberitahukan diperkuat lagi oleh Prof. Dr. B. H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi dalam buku "Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia".

Tentu fakta sejarah ini menjadi jawaban atas pertanyaan kapan masuknya Islam ke Asia Tenggara. Karena jauh sebelumnya pedagang Arab berniaga hingga ke Cina.

Sabang sebagai pintu masuk Asia Tenggara saat itu memegang kunci penting dalam penyebaran Islam ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Karena di Sabang, Aceh merupakan pelabuhan international yang menjadi pintu laut dari dan menuju ke wilayah Asia Pacific atau menuju West Bank.

Pedagang Muslim Arab membawa dua misi dalam perjalannnya. Pertama adalah  dakwah atau penyebaran agama Islam. Kedua berdagang untuk mengumpulkan kekayaan. Bangsa Arab telah diterima dengan baik sebagai mitra bisnis di kalangan masyarakat Indonesia.

Bahkan sampai ke Timur Indonesia seperti Maluku. Islam masuk secara bersamaan melalui dakwah secara kultural. Pasar menjadi gerbang asimilasi dan interaksinya. Bahkan Jaziral Al Muluk adalah nama yang diberikan oleh orang Arab terhadap Pulau Maluku.

Hal ini berbeda dengan gaya kedatangan bangsa eropa yang memiliki tiga misi yakni Gold, Glory, Gospel yang dijalankan dengan praktik kejam perang dan penjajahan terhadap pribumi.

Mereka datang dengan tipu muslihat dan percobaan monopoli. Hal ini menyebabkan pedagang barat kurang diterima. Apalagi VOC (persatuan datang barat) datang membawa angka bersenjata. Sungguh cara yang jauh dari kata "makluk sosial" atau "manusia yang beradab".

Saturday, 15 April 2017

Keren : Ada Azan di Warung​ Kopi Satu Ini


Setelah hari grand opening, beberapa kali saya sempat singgah ke Duek Pakat Warkop. Tentu saja saya talk mau dilabel dengan pencicip spesialis Grand Opening, alias nyari yang gratisan.

Sebenarnya alasan utama saya balik kesitu, karena ajakan ngopi kesana oleh teman-teman meningkat. Baik itu buat sekedar "sitting n doing nothing" alias nongkrong. Atau membahas agenda lainnya, karena banyak hal bisa terjadi di warung kopi.

Saya tidak menuliskan jika tidak berkesan. Kali ini ada kesan berbeda, karena sampai waktu salat dhuhur tiba. Terdengar teriakan "salat-salat". 

Saya kenal betul itu suaranya Bg Deni, salah satu pengelola bisnis yang juga mengelola Duek Pakat bersama Bg Munardi. Beliau juga dikenal sebagai pengusaha Laundry. Mereka berdua menjadi pentolan jalannya duek pakat.

Setelah itu barista n waiter's hilang dari peredaran. Uniknya lagi terdengar Azan dari lantai dua. WoW (harus bold dan miring, memang. Pen). Baru kali ini saya mendengar Azan di musala sebuah warung kopi. Dan ini menjadi sisi menarik bagi saya. Belum pernah saya temui di tempat lain.

Ternyata manajemen menerapkan istirahat, setidaknya begitu terdengar oleh saya (pas salah seorang manajemen ditanyai pengunjung, hehe. Ketahuan nguping).

Saya memutuskan salat di situ, dan jadi pengalaman pertama salat berjamaah di sebuah warung kopi yang itu di koordinasikan oleh orang warung kopi. Karena biasanya di warung palingan jamaahnya inisiatif. Karena biasannya pelanggan memilih untuk salat sendiri-sendiri.

Entah memang selalu begitu, atau karena ada moment acara sebuah partai politik yang terkenal religious dan suka salat berjamaah. Jelasnya ini pengalaman pertama dan unik. 

Semoga tetap dipertahankan dan jadi identitas.

Well done.

Thursday, 13 April 2017

Masa Sulit Lahirkan Pemimpin Kuat

Pemimpin kuat adalah orang dengan kapasitas dan integritas kelas dunia. Mereka bisa berbicara sebanding dengan siapapun didunia. Ketika kepentingannya tidak sampai, tidak menguntungkan bagi siapa yang ia pimpin.

Pemimpin yang kuat ibarat intan. Hasil dari pembakaran tingkat tinggi, ditempa dengan tekan dahsyat sehingga unsur karbon berubah jadi intan. Intan tidak lahir dari pembakaran rendahan tanpa tekanan. Versi lain karbon pada jenis ini adalah arang.

Samurai yang tajam, berkaitan juga ditempa dalam panas tinggi, dipukul dan dipalu, di asah hingga jadilah ia sebilah pedang pemotong yang kuat dan bertepi tajam.

Setelah sekian lama dijajah, Indonesia merdeka melalui tangan tokoh besar. Muhammad Natsir, Ir Soekarno, Hatta adalah tokoh yang lahir pada masa hard time Nya Indonesia.

Mungkin diantara kita ada yang kenal Jengis Khan. Raja besar bangsa Mongol yang kekuatannya hampir saja mengobrak-abrik imperium Kekhalifahan Islam.

Tahukah kita bagaimana Jengis Khan tertempa hingga ia mampu memimpin seluruh suku di Mongol dan mengekspansi bangsa lain.

Jengis kecil adalah orang yang diburu banyak orang. Semua suku bahkan sukunya sendiri memburu Jengis untuk dibunuh. Dia diikat dan ditunggu sampai setinggi roda untuk dibunuh.

Namun Jengis tidak mati disitu. Dia lari namun tetap terus di kejar. Hidup di Alam liar dan diburu selama 40 tahun. Dia tertempa menjadi tidak takut dengan Alam. Bahkan tidak takut dengan apa yang paling ditakuti oleh orang Mongol. Apa itu, dan itu salah petir.

Tidak takut kepada petir menjadikan semua orang takut padanya. Sehingga dia menjadi pemimpin bagi semua suku yang ada di Mongol, bahkan menjadi raja besar yang terkenal kejam.

Nah maka wajar setelah 70 tahun lebih Indonesia merdeka. Pemimpin yang lahir mulai lemah. Terbuai dengan janji-janji manis dan euforia merdeka, lupa membangun bangsa.

Hasilnya Pemerintahan sekarang yang bisa dikatakan dipimpin oleh karakter lemah. Ini terciri dari banyaknya masalah yang bermunculan. Masalah semua itu adalah masa sulit. Masa yang akan menempa pemimpin kuat lainnya.

Masa itu akan terus berputar, dan bergilir melahirkan pemimpin sesuai masanya. Karakter akan terbentuk. Masalahnya adalah berapa lama lagi ? Apakah harus menunggu 40 tahun lagi seperti Jengis Khan.

Polda Metro, Netizen dan Jilbab Online

Hal paling konyol yang pernah saya dengar abad ini adalah persaingan bisnis online jilbab dan gamis bisa membuat orang menggunakan kekerasan. Seperti siraman air keras terhadap keluarga pebisnis.

Hal yang paling tolol yang pernah saya dengar abad ini adalah Ketua KPK disiram air keras gara-gara persaingan bisnis jilbab online istrinya.

Sungguh paradoks (harus bold) dengan kejadian di film-film Hollywood. Kenapa film Hollywood, karena mereka benar-benar bisa membuat kita seperti sedang menyaksikan realita dalam film aksi Mafia yang mereka buat. Semua kedengaran logis meski semua hanya cerita.

Kali ini kita mendengar cerita paling aneh sejagad dari seorang kapolda dan itu Metro Jaya. Orang penting di sebuah institusi negara disiram air keras karena istrinya jualan jilbab online. Oi oiii

Kalau versi Hollywood, maka saya yakin ceritanya bakal seperti ini " seorang perempuan penjual jilbab dan gamis disiram air keras". " Polisi menduga sebagai ancaman terhadap suaminya yang ketua KPK". Begini terlihat lebih logis. Setidaknya bagi saya. Setidaknya alur di film-film Hollywood demikian.

Al hasil kini netizen terbagi dalam dua kegiatan. Pertama berkelakar soal jualan jilbab dan gamis online. Kedua karena jilbab dan gamis lagi viral, mereka mengambil peluang ini. Sebenarnya masih ada faksi ketiga yang menggabungkan antara keduanya. Dan begitulah netizen.

Yaaaa, kita para netizen hanya tahu mencemooh. Mungkin anggapan ini terselip difikiran mereka yang lupa atau tidak tahu siapa kita para netizen. Bukankah kita adalah smart citizens yang cukup ilmu soal skenario demikian dari film Hollywood dan Korea.

Lantas apa skenario ajaib ala Pak Kapolda akan laku, tentu saja ia, mutlak melahirkan cemoohan dan sindiran. Mungkin yang buat skenario kurang nonton film Korea dan Hollywood. Jadi script-nya kurang menggigit.

Yaaa kita semua paham, kita semua sama kondisinya. Tahu bagaimana dagelan dinegeri kita dilakoni oleh pelakon amatir. Hingga kita menertawakan apa yang kita tonton, lalu merasakan gundah karena ini bukan film.

Mungkin mereka tidak tahu kalau kita Ada yang cerdas, atau bukan kita yang disasar. Ada orang lain yang bukan netizen, yang aksesnya tak sehebat kita. Dan kita juga belum bisa berbuat banyak.

Al Fatihah untuk negeri yang kita cintai ini.

Wednesday, 12 April 2017

Pilkada Jakarta : Pilihlah Anis-Sandi Atau Anda Akan Menyesal

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno

Saya tidak menuliskan soal Pilkada Aceh dan Banda Aceh. Padahal saya terlibat aktif didalamnya. Namun, untuk saudara saya di Jakarta, saya fikir inilah bantuan yang bisa saya berikan.

Kenapa demikian, ya jelas. Saya di Aceh, berKTP Aceh, tidak memiliki hak pilih di Jakarta. Lalu apa pula bagi saya memaksakan menggaruk kaki yang tidak gatal.

Saya kasian dengan media mainstream yang terlalu menyerang Anies-Sandi Dan lemah lembut dengan yang lainnya. Jadi biarlah saya dengan blog pribadi yang tak seberapa ini mencoba mengutarakan pikiran saya yang berbeda dengan media tersebut.

Jadi, Jawaban sebenarnya adalah agar warga Ibukota nantinya tidak menyesal. Bukankah ada diantara kita menyesal memilih Gubernur Jakarta yang akhirnya menjadi presiden yang disesali.

Tidak sempat membereskan Jakarta, dia maju ke pusat. Setelah itu banyak orang yang mulai menyesal telah memilih, lalu mengeluarkan pendapat soal betapa negeri telah salah urus.

Dalam pendapat pribadi saya; "kita telah menyerahkan negeri ini pada orang yang salah. Pada akhirnya Pajak, BBM, TDL semua naik tanpa di iringi pelayanan publik yang baik pula.

Pelayanan yang saya maksud adalah peningkatan daya beli dalam masyarakat masih stagnan, dan nilai jual rupiah terhadap dolar terus merosot. Bukankah ketika dihubungkan dengan kebijakan tadi, hasilnya kita menderita dua kali lipat.

Nah, bukankah di Jakarta, untuk yang kita orang kecil merasakan janji kampanye pasangan periode yang lalu tidak tepat. Gusur menggusur, serta ganti rugi yang tidak setimpal. Pembangunan yang dibela-bela adalah milik para cukong, dan orang super kaya (Reklamasi).

Tidakkah warga menjadi terpecah belah dan sentimen mulai muncul. Muslim tidak boleh takbiran di perayaan hari besarnya, sedangkan tahun baru Dan natal dirayakan besar-besaran. Bukankah ini diskriminatif.
Juga berkaitan dengan kasus penistaan terhadap agama Islam dan terakhir kampanye vidoe yang juga mengandung unsur fitnah. 

Tentu normalnya kita sebagai manusia yang humanis akan bertanya "apakah ia benci dengan agama Islam, atau memang dia rasis ?"

Para ahli hukum ada yang penasaran dan heran dengan sinetronisasi sidang kasus penistaan agama. Bahkan sampai Ada cerita penegak hukum mengintervensi proses peradilan.

Bukankah seharusnya kita semua sama dihadapan hukum. Kenapa Ada satu orang yang bedanya tidak biasa. Bahkan berbeda dengan ketidak adilan lainnya yang pernah terjadi di lembaga peradilan. Apa yang membuat dia seperti seorang yang berlaku atasnya "lex Specialist".

Mari Membuka Mata dan Hati

Jangan karena kita punya tanah di Jakarta, belum pernah tergusur, lalu kita melupakan yang digusur. Jangan karena uang untuk listrik, air PDAM, BBM cukup kita lupa dengan yang tidak mampu.

Saya tidak ingin bicara soal penggadaian Iman, tapi yang menghindar dari kewajiban Pajak juga mereka orang super kaya. Yang kekayaannya lebih dari cukup untuk kapling tempat di proyek Reklamasi.
Kasihan nelayan kita, menjadi korban Reklamasi. 

Kasihan orang yang tidak bayar Pajak bukan karena lari, namun memang karen hasil kerja dan banting tulang bahkan untuk beli buku anak sekolah saja masih harus ngutang.

Salah urus tidak akan terjadi, jika kita tidak salah dalam memilih orang yang akan kita tugaskan mengurusi kita. Dalam tiap coblosan dan suara, kita sedang memilih siapa yang akan menyelesaikan masalah kita. Bukan malah kitanya yang diselesaikan.

Mari suara kita berikan kepada orang yang bisa menyelesaikan permasalahan kota Jakarta. Jadi beri kesempatan Anies-Sandi untuk mengurus Jakarta pada periode kali ini.

Bagi saya ini penting, karena kota kalian adalah ibu bagi kami, ibu bagi kota-kota dan kabupaten serta provinsi lainnya.

Coffee Reviews : Rebbe Coffee Gayo Arabica

Ngopi di Rebbe Coffee

Hey guys, pada kesempatan kali ini gue Ma ngasih tahu elo soal salah satu kedai kopi gayo tempat aku dan temenku sering ngopi. Nama kedainya Rebbe Coffee Gayo Arabica.
Kami sering nyebutnya rebbe aja. Yaa semisal bilang "haiii, kek mana, sore ini ke Rebbe yuuk" buat ajakan ngopi. Wajar sih kalau kami bilang "kita adalah pelanggan" karena kalau pengen menikmati racikan arabica, kami belum move on dari rebbe Coffee.

Kalau gak percaya, tanya aja sama aku, Bg Gun, Tgk. Mahmudi, BG Mulya, Putra, Rahmat, BG Anshar. Bisa juga tanya sama barista nya langsung, BG Miko Dan tentu Peracik favorit kami Rieky.

Kami ngikutin perkembangan rebbe (tepatnya sih ngopi disitu, hehe) sejak kios di Simpang BPKP guys. Lanjut saat mereka pindah ke kawasan Lampineung, depan Hotel Hermes Palace. Dan sekarang di lamteh, tepat depan mesjid lamteh.

Menunya ok punya, mereka nge brewing Arabica. Mereka tipe barista modern dengan mesin-mesin pembuat kopi. Nih aku bahas satu-satu kopi nikmat ala Rebbe Coffee yang pernah dan/atau sering kupesan.

Sanger Arabica
Secangkir Sanger Arabica


Ini menurutku andalan mereka seharusnya. Paling enak ya racikan Rieky. Sangernya mantap banget, enak banget. Aku selalu minta kopinya agak kental. Biar pas sama selera.

Ice long black
Segelas Penuh ice long black


Kalau ini kesukaanku. Racikan Miko menurutku paling pas dengan seleraku. Segarnya long black selalu membuat hari kembali ceria.

Espresso


Dihidangkan dengan gula aren, espresso adalah selingan. Ketika aku benar-benar ingin berdua saja dengan kopi. Tanpa Ada unsur lain dalam mulut. Hanya berdua saja. Dan gula aren kubiarkan jadi sisa, atau ku emut ketika hendak pulang.

Sanger espresso
Secangkir Sanger Arabica (lengkap presentasi susu, belum diaduk soalnya)

Nah yang ini espresso yang diracik ala sanger. Tentu lebih kuat dari pada sanger Arabica. Aku memilih memesan ini jika ingin mendapat sensasi segitiga antara aku, kopi dan susu.

Affogato
Affogato, perpaduan nikmat kopi dan lembutnya eskrim


Espresso dan eskrim. Sebenarnya bukan paduan yang aku sukai, meski rasanya enak. Aku menyebutnya minuman buat anak sma. Gal cocok dengan umurku. Barakallah cocok dengan umurmu.
Yaa affogato itu Italiano, hehe.

Es Sanger Arabica

Aku akan memilih shake ketimbang blend. Serius enak, namun aku lebih suka ice long black karena lebih murni. Kecuali aku perlu tambahan mood dari sekedar kafein, namun aku lebih menemukan sensasi dalam long black.

Milk shake
Milk shake (abaikan cek in, salah tekan Dan malas edit) ini original rebbe punya)

Menu bukan kopi yang paling kusukai. Terutama racikan siapa saja di Rebbe. Manisnya susu cukup untuk membuat suasana santai menjadi lebih santai.

Es krim
Eskrim ala Rebbe Coffee
Kalau ini, cukup gambar saja yaa. Diliat aja, karena tampilan ini apa adanya, dan rasanya sesuai kelihatannya. Gak pake bohong.

Tentu Ada menu lain, namun aku enggan membahas karena belum ku coba. Udah dulu ya guys.

Tuesday, 11 April 2017

Coffee Review : Sanger Si Kopi Original Karya Barista Aceh

Sanger Dingin atau Es Sanger
Penasarandenger kata Sanger. Apalagi bicara ulasan  kopi. Apa lagi ini judul.

Ya bagi orang luar Aceh, bisa maklumi kalau kurang tahu sanger. Untuk Aceh sendiri saja hanya barista Banda Aceh yang mengerti bagaimana meracik sanger. Jika tidak, bisa jadi kopi susu. Tentu saja rasanya beda jauh.

Jujur, saya saja kenal sanger ketika mulai pindah ke Banda Aceh. Saya berkenalan di warung kopi Solong, Ulee Kareng. Dan Kopi Sanger ini memang diperkenalkan oleh para barista kopi Ulee Kareng.

Sanger memiliki cita rasa yang unik. Susah dijelaskan, untuk tahu harus dengan mencobanya. Oleh karena itu saya berani mengatakan "Sanger adalah 100 persen kopi khas Aceh".

Bagaimana tidak, selain hanya dikuasai detail racikan oleh barista Aceh, namun tidak lantas semua barista Aceh mengerti bagaimana meracik sanger ini. Kalau gak pas, bukan sanger namanya.

Di Aceh Sanger menjadi menu yang diminati disamping kopi hitam atau black coffee. Atau menjadi andalan yang tidak kalah dengan kopi mocha, latte, atau cappuccino yang semua itu kreasi barista luar negeri.

Sanger biasa menggunakan kopi robusta. Karena memang kreator sanger adalah kedai kopi dengan menu robusta. Ini murni kreasi barista tradisional Aceh yang cara penyajiannya itu dikenal dengan kupi sareng (Kopi Saring).

Ada cerita unik dari lahirnya menu Sanger. Bermula dari mahasiswa yang mesan kopi suka asal. Yaa.. karena isi kantong yang pas-pasan, namun pengen minum kopi enak. Akhrinya ya mesannya olah-olah sikit.

"Bang, kopi susu, tapi susunya sedikit aja, dan gula sedikit. Nah tujuannya kopi manis dan ada susunya, kalau langsung me kopi susu kemahalan untuk kantong.

Nah setelah lama dan ramai yang mesan, nama Sanger mulai dipopulerkan. Arti Sanger adalah "sama-sama ngerti". Nah kata ini disingkat dan taaaaadaaaa, satu nama untuk menu kopi muncul.

Nah ternyata barista Aceh kreatif, menemukan formula kopi dengan sedikit gula dan sedikit susu (kopinya dominan) yang pas dan malah menjadi sajian kopi lezat dengan cita rasa kopi yang kuat.

Akhirnya dengan cita rasa tersebut, kelas sanger terangkat menjadi suatu menu tersendiri yang lebih nikmat dari sekedar kopi susu. Jelas kopi susu kalah alias tidak bisa dibandingkan dengan sanger.

Mohon maaf, Sanger bukan cuma campuran kopi dengan susu, apalagi kopi dengan gula. Karena persentase gula dan susu benar-benar sedikit saja. Soal bagaimana sebenarnya langsung aja me kedai kopi dengan sanger yang lezat.

Kalau saran saya sih, jika kamu masuk ke daftar pecinta robusta, datang aja me Solong Premium alias SolPrem. Biar kamu ngerasa seperti apa Dan bagaimana kopi Sanger.

Nah banggakan dengan karya barista Aceh yang satu ini. Akhirnya Ada kopi kreasi original Indonesia yang rasanya mendunia. Bagaimana tidak mereka yang mencoba pasti bakal bilang level rasanya gak kalah dengan kopi kreasi barista luar yang udah dipelajari semua pembuat kopi (kayak kopi latte, mocha, dan lainnya).
Udah dulu ya..


Sunday, 9 April 2017

Pemberitaan aneh : Cara Media Menggoreng Berita



Coba perhatikan gambar screen shot yang saya ambil. Mengispirasi saya untuk menghasilkan tulisan nasihat ini. Semoga menjadi renungan bagi kita semua. Lihat, dapatkah pembaca sekalian menemukan keanehan.

Ya, jelas sekali ada dua media mainstream dengan satu berita yang sama, kejadian yang sama, objek penderitanya sama, yang berbeda hanya judul beritanya saja.

Salah satu dari dua media tersebut memberitakan bagaimana tegarnya seorang wanita yang membacakan berita kematian suaminya sendiri. Kebetulan so wanita berprofesi sebagai pembaca berita.

Sedangkan satu media lagi memberitakan dengan judul yang menohok, tajam, menarik, namun ada fakta yang berbeda. Dimana si wanita pembaca berita menertawakan berita kematian suaminya tanpa sadar.

Bagi kita pembaca, jika hanya membaca salah satu media sebagai rujukan, maka kita akan percaya saja. Ketika membaca keduanya, kita jadi bingung soal mana yang benar. Muncul pertanyaan soal siapa yang memberitakan kebenaran.

Maka ada benarnya juga apa kata pepatah. Lain lubuk lain ikannya, kata pencari ikan. Lain barista lain pula racikan kopinya, kata penikmat kopi. Lain media lain juga cara penyajian beritanya.

Sungguh saya tulis ini dalam kondisi miris dan sedih. Perkembangan media masa kini yang menempatkan rating diatas kebenaran. Demi menarik minat pembaca, hingga ke pemasukan persekian kali klik Dan pemasangan Iklan.

Biasanya pengguna akun Blogspot seperti saya kena tuduhan, meski saya belum. Asal comot berita tak peduli valid sumber atau cuma hoax. Demi dolar AdSense yang menggiurkan.

Hal ini menjadikan saya hendak beritanya, bagaimana dengan media informasi yang membuat berita salah. Parahnya lagi berita benar, namun di beritakan secara salah.
Berita digoreng sedemikan hingga, tapi salah. 

Tidak valid sumber, padahal media terkemuka. Paling penting judulnya bombastic, soal lainnya urusan ke seratus dua puluh sekian.

Pembaca disesatkan dengan informasi yang salah. Apakah layak media yang tidak memiliki etika, kita tuntut di pengadilan ? Lalu siap yang berani melakukannya ?
Semoga tulisan ini jadi pengingat bagi para penulis judul berita, mari kita tuliskan kebenaran walau langit runtuh.

Saturday, 8 April 2017

Ulee Kareng : Surganya Penikmat Kopi

Aceh dan Somalia : Mati Lampu dan Air PDAM vs Bencana Kekeringan


Aceh|Part 1
Keluh kesah di dunia maya menyeruak. Mengalir deras sederas aliran krueng Aceh. Sebuah sungai yang alirannya tajam. Tajamnya hingga kota Banda Aceh terbelah menjadi dua.

Demikian juga komentar tajam kepada PLN membelah jagad maya. Kekesalan kepada pemadaman listrik menjadi sebab musabab serapah di facebook dan semacamnya.

Wajar saja, karena semua orang membayar tanpa pelayanan. Semua adalah akumulasi kekecewaan yang jika disampaikan kemana saja, seperti berbicara pada tembok. Tiada tanggapan pun didengarkan.

Demikian juga matinya air PDAM. Semua itu karena pembangunan flyover. Pipa PDAM hanyalah korban. Namun sebelum itu semua terjadi, pelayanan perusahaan plat merah ini terlanjur mengecewakan. Istilahnya sudah kecewa dari awal.

Air keluar pipa lebih parah dari kencing orang prostate. Kenapa tidak, untuk menarik air yang sudah kita bayar perlu menambah tagihan listrik untuk pompa air listrik. Tanpa tarikan "sanyo" air enggan keluar dari pipa.

Akhirnya "tembok" Facebook jadi tempat sumpah serapah, curhatan, hingga protes keras. Ya setidaknya di "wall" Ada yang like atau komentar. Ini lebih bisa menjadi pelipur lara dari pada bicara pada "tembok" pura-pura. Karena "dia" manusia.

Dari dunia maya kita bisa membaca bagaimana "kita" kesusahan. Ketiadaan air dan listrik. Seolah dunia hendak kiamat. Semua seperti terhenti dan tidak bermanfaat.

Mau tidur tidak bisa, AC mati Dan kipas angin tiada menjadi solusi. Bahkan may buang "air(hehehe) besar" saja tidak bisa, air di bak kosong. Ternyata sangat menyulitkan. Cobaan digilirnya mati lampu dan tersendatnya air PDAM.

Ya, kita semua bersepakat sulit.

Somalia|part 2


Eh, apa hubungannya antara Aceh dan Somalia. Kok dibawa-bawa ke acara mati lampu dan keringnya air PDAM ala Aceh. Eits, hubungannya sangat dekat dan erat. Berbicara apa yang kita rasa dan juga mereka mengalami.

Hanya saja mereka mengalami sedikit lebih parah dari kita. Saat air PDAM mati, air Krueng Aceh masih melimpah. Hanya saja kita bergantung pada lubang kecil dipenghujung pipa.

Di sana bahkan sungaipun membutuhkan air. Hmmmm, ah tidak, bahkan mata airpun membutuhkan seorang dermawan. Jangan bayangkan manusianya, yang memerlukan kedermawanan tanpa pamrih dari mata air.

Sumur-sumur kering, tak lagi mampu memeras air dari tanah yang juga sudah mengering. Sama kerontangnya dengan kualitas dan tukang saudara kita yang tiap harinya meninggalkan kita dalam kecukupan. Mereka mati kelaparan Dan kehausan.

Apa yang kita keluhkan, mungkin take sampai satu persen dari sulit yang mereka alami. Dan kita sudah merasa kesusahan, seperti kita yang paling susah.

Tidakkah Allah sedang mengetuk hati kita, membangunkan jiwa sosial kita yang mungkin sedang tidur. Ah, tsunami memberitahukan kita betapa sulitnya kehilangan harapan, dan betapa uluran tangan saudara kita dari segala penjual menjadi secercah harapan.

Mari kita sedikit bermuhasabah dengan membandingkan kondisi kita dan mereka. Bukankah mati lampu dan tersumbatnya air PDAM adalah cara indah dari Allah dalam mengingatkan kita.

Di sana ada saudara yang membutuhkan uluran tangan kita. Secercah harapan yang menguatkan. Suatu yang dulu pernah kita dapatkan. Ah, tidak tahu kita bagaimana dulu ketika tsunami melanda, hati mereka jadi terketuk.

Maka, mari kita jawab ketukan itu dengan salam hangat infaq dan sedekah kita. Melalui setiap lembaga kemanusian yang telah memutuskan untuk menjadi bahkan dari penyambung ulur tangan kita ke Somalia sana.

Mari kita ringankan cobaan yang menerpa saudara kita, seperti mereka juga pernah melakukannya kepada kita. Kita regular indahnya persaudaraan dengan menjadikan misi kemanusian pribadi kita untuk menggugah perasaan saudara kita yang lain. Agar kita peka dengan kondisi saudara kita yang lain di belahan dunia sana.


Semoga mereka lebih tabah, dan pada kenyataannya mereka benar-benar tabah dan bersabar.