Tuesday, 25 April 2017

Pesona Bahari : Ujung Pancu, Lhok Mata Ie

Tidak ada banana boat, tidak ada hotel, tidak ada cafe dan kedai-kedai. Alami, begitulah adanya. Namun bukan berarti tempat ini belum terjamah tangan manusia. Tapi tempat favorit malam mingguan bagi jiwa-jiwa petualang.

Bagi yang suka kegiatan outdoor, seperti camping, atau tracking, Lhok Mata Ie menjadi tempat menantang yang mudah di jangkau. Dekat dengan kota Banda Aceh, namun memberikan suasana alam yang cukup liar.

Pada malam minggu atau hari libur, pantai kecil diantara tebing dan perbukitan itu penuh sesak dengan manusia dan tenda. Seperti pasar malam saja. Akan lebih tenang dan nyaman kalau malam-malam biasa.

Maklum, kalau malam minggu bisa-bisa gak kebagian tempat buat bermalam atau pasang-pasang tenda. Akhirnya mesti dinyaman-nyamanin begitu. Lain cerita malam biasa, cocok buat mencari ketenangan.

Lhok Mata Ie benar-benar potensi alami dari alam. Ikannya beraneka ragam, banyak pemancing datang kemari. Sekedar fishing, atau spear fishing sama-sama asik. Tentu spear fishing lebih menarik dengan hasil lebih memuaskan.

Selain itu, keong batu juga banyak dan beragam. Tinggal pilih yang besar-besaran biar puas. Langsung aja direbus pakai air laut, rasanya manis banget. Tapi jangan minum kuah air lautnya ya, karena tetap asin.

Atau kalau mau dipanggang juga enak banget. Taburi garam sedikit dimulut cangkangnya, juga setetes asam jeruk nipis, lalu letakkan saja diatas bara api. Tunggu sampai air mendidih keluar dari cangkang, yang bermakna udah matang.

Oya keongnya jangan dalam posisi terlungkup ya, pastikan mulut cangkang ke atas, atau masakanmu bakal gak jadi. Hahahaha.

Treknya itu terdiri dari perbukitan, jadi kadang menanjak, kadang menurun, melewati kebun warga hingga agak sedikit masuk hutan dan keluar di pantai.

Lalu mata akan dimanjakan dengan pemandangan laut dan gugusan beberapa pulau kecil. Sore hari, sunset dari titik ini juga sangat menyenangkan.

Selain itu sumber air tawar juga dekat, keluar dari celah batu pegunungan. Oya bukit yang ku cerita tadi itu lebih bisa ta bilang rantai atau anak-anak mungilnya bukit barisan. Jadi airnya bisa diminum langsung juga.

Airnya segar banget, dan pengalaman kami minum, gak pernah ada yang sakit perut. Anak manja aja kami bawa, bisa pulang sehat wal afiat. Meski gak kami kasih tahu kalau kami kasih air mentah.

Oh ya airnya awet, meski kemarau. Tapi debitnya kecil banget. Jadi penting untuk kalian yang berkunjung menjaga sumber air ini. Agar bisa terus dinikmati generasi camping dan tracking masa depan.

Kesimpulan akhir, pokoknya asiklah, berpetualang. Untuk acara kayak outbond atau kemah pramuka juga asik. Datang aja dan rasakan sensasi kepengen kembali.

Monday, 24 April 2017

Ngopi Ala Orang Aceh

Pesan segelas kopi, lalu kamu dapat bonus segudang isnpirasi. (Agus Fajri |duek pakat warkop)

Bagaimana cara orang tempat kalian ngopi. Tentu ada yang unik. Sebuah kebiasaan atau rutinitas minum kopi. Pasti ada, karena kopi adalah minuman yang tak bisa lepas dari mulut orang Indonesia.

Tak berbicara soal soal filosofis, tapi kajian kali ini secara Sosiologis. Ada ditengah masyarakat dan selalu dilakukan. Dia seperti kebiasaan yang menjadi hukum tanpa sanksi, namun terus saja dipatuhi.

Berawal dari pertanyaan sederhana, yakni " berapa kali kalian minum kopi dalam sehari ? " Ada satu, ada dua, tiga, empat, lima. Tergantung aktfitas, kadang jumlah kopi yang masuk tidak terkontrol.

Nah saya mau cerita bagaimana kami di kampung ngopi atau "jep kupi". Umum terjadi di Aceh dan unik sekali. Kedekatan orang Aceh dengan kopi adalah "sesuatu". Sangat melekat.

Bayangkan saja seorang teuku Umar dalam menggelorakan jihad melawan Penjajah Belanda mengatakan " Singoh beungoh geutanyoe jep kupi di keudee Meulaboh atawa ulon syahid".

Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia maknanya menjadi " besok pagi kita ngopi di kota Meulaboh, atau saya syahid. Kalimat ini disampaikan dalam sebuah keberangkatan menuju medan perang.

Kembali ke berapa kali, atau bagaimana kami di kampung " jep kupi" (ngopi aka minum kopi). Silahkan kalian ambil kesimpulan. Saya hanya akan bercerita, sedangkan kalian akan menyimak. Jadi konsentrasi (haha, serius amat yak).

Kebanyakan dari kami bangun kala subuh, lalu salat subuh. Setelah salat sarapan. Minum kopi adalah kepastian. Baik itu kopi racikan abang barista di warung kopi, atau racikan bunda tercinta di rumah sendiri.

Lalu berangkat melakukan banyak aktifitas, sampai akhirnya seperempat pagi berlalu menuju siang. Bekerja, di kantor, PNS, Kuli panggul, Kuli batu, bertani dan banyak lagi lainnya (tentu saja saya gak bakal mengetik semua, bedagok kayak trisep ama bisep pindah ke jempol (ketahuan ngetik pake smartphone, hehe)).

Di ukur dari jam subuh itu jam lima pagi WIBPB (Waktu Indonesia Bagian Paling Barat), hehe, maka jam sepuluh adalah break time. Ini maknanya coffee break. Jam istirahat yang sering kami lakukan dengan "jep kupi " dan "pajoh kueh".

Ya, ngopi dan makan kue ala kadar, energi baru untuk melanjutkan aktifitas. Gak lama, palingan 10 hingga lima belas menit. Menghilangkan lelah dan mengembalikan mood. Coffee is the best mood booster, I'm alright.

Lalu kembali kerja sampai jam makan siang. Setelah siang dan shalat dhuhur, lanjut dengan aktifitas. Sampai jam salat ashar. Nah disini juga kadang ada jam "jep kupi" lagi. Kalau ini jadi kopi sore.

Ada yang udah selesai kerja seharian, ada juga sekedar buat "mood boosters" lalu lanjut kerja sampai benar-benar sore. Jam enam lah, lalu baru semua selesai karena udah menjelang magrib.

Nah lelah kerja seharian, malam adalah waktu santai dan bersosialita (cek ilee). Jam nongkrong dan kumpul-kumpul buat mereka yang sampai magrib full aktifitas. Malam jumpa kawan, atau berkumpul sesama warga desa.

Jelas sekali, warung kopi jadi pilihan. Duduk santai, ngobrol ringan hingga berat. Nonton tivi atau nyari sinyal Wi-Fi di era modern. Baru jelang larut malam pulang untuk istirahat total. Tidur untuk menyongsong pagi, bangun subuh Dan lanjut aktifitas lagi.

Kalau mau tahu kelanjutan, silahkan dibaca lagi dari awal. Gal jauh beda. Setidaknya paragraf ke delapan, hehe. Udah dulu ya udah jam 08.00. masuk kerja dulu. Oya ini juga saya ketik sambilan sarapan, di warung kopi.

Kopi pagi ini, segelas robusta penuh isnpirasi.

Saturday, 22 April 2017

Buku Kartini : Door Duisternis Tot Licht : Dari Gelap Menuju Cahaya

Gambar K. H. Sholeh Darat dan Raden Ajeng Kartini

Door Duisternis Tot Licht. Sebuah kalimat dalam bahasa Belanda. Artinya lebih kurang adalah "dari gelap kepada cahaya". Kata tersebut adalah judul sebuah buku yang disusun oleh J.H. Abendanon, seorang berkebangsaan Belanda. Penulis sebenarnya adalah seorang wanita berkebangsaan Indonesia, bernama Raden Ajeng Kartini.

Banyak kalangan yang memandang Kartini sebelah mata. Menurut mereka tidak cocok Kartini menjadi tokoh wanita yang diperingati harinya. Dijadikan simbol perjuangan atau emansipasi wanita, hanya karena tulisannya kepada sahabat penanya di eropa. Menurut kalangan ini ada nama lain seperti Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Sultanah Sri Safiatuddin yang perjuangan dan kerjanya sebagai perempuan melebihi apa yang dilakukan oleh laki-laki.

Kembali kepada Door Duisternis Tot Licht, sebuah kalimat yang diarrtikan dengan "habis gelap terbitlah terang oleh Armijn Pane. Ada fakta menarik soal dari mana inspirasi kata ini berasal. Jika Abendanon mengambil judul tersebut berdasarkan kalimat yang dianggapnya menginspirasi Kartini, karena sangat banyak pengulangan dalam berbagai surat yang dikirimnya.

Menariknya adalah dari mana Kartini memperoleh insparasi tersebut. Tidak disangka is terinspirasi dari Surat Al Baqarah ayat 257 yang berbunyi " Allahu waliyyullazi na aamanu yukhrijuhum minadh dhulumaati ilan nur". Artinya adalah "Allah pelindung orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya".

Ayat ini mengingatkan dirinya sendiri dalam proses memperoleh hidayah. Karena (Didasari artikel yang berasal dari cerita Ny. Fadhilah Shaleh, cucu dari K. Shaleh Darat) pada masa Kartini hidup penyebaran dakwah Islam tabu oleh Belanda. Juga kurangnya tafsir Al Quran kepada bahasa Jawa yang umum digunakan disana (termasuk Kartini). Juga pengalaman buruk yang dialaminya saat bertanya arti ayat Quran kepada guru mengaji. Cukup untuk membuat dia bingung dengan agama yang diwarisinya dari keluarga yakni Islam.

Hal itu tertulis dalam suratnya kepada Stella. Dalam suratnya ia mengatakan " manalah boleh aku cinta agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh aku mengenalnya. Al Quran terlalu suci untuk diterjemahkan ke dalam bahasa mana juapun. Di sini tidak ada yang tahu bahasa Arab. Orang diajarkan membacanya, tapi tidak diajarkan makna yang dibaca".

Sangat jelas, gambaran kondisi Islam dan dakwah pada masa tersebut. Bagaimana kekeliruan pandangan terhadap agama sangat memprihatinkan. Pemahaman tidak ada karena tidak diajarkan. Transfer ilmu terputus hingga pada tahapan terjadinya pewarisan ilmu yang salah. Kekeliruan yang berbuah keraguan dari pemeluk agama terhadap agama itu sendiri. Sebuah kondisi yang membuat Hamka dalam sebuah tulisannya menyayangkan kondisi tersebut.

Pertemuan dengan Kyai Soleh Darat pada sebuah pengajian yang membahas tafsir Al Fatihah membuka mata dari Kartini. Sehingga ia memberi usul kepada Kyai untuk membuat terjemahan Al Quran kedalam bahasa jawa, bahasa yang ia dan orang lainnya pakai sehari-hari. Terjemahan ini diberi judul Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an Dan menjadi terjemahan pertama Al Quran dalam bahasa jawa dengan menggunakan aksara Arab Pegon ( tulisan jawa menggunakan huruf Arab, semisal Arab Jawie).

Dari perjumpaan dengan Kyai Soleh Darat, tafsr Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an inilah banyak pelajaran tentang bagaimana Islam, yang Kartini menyebutnya sebagai agama nenek moyangnya itu dia pelajari. Dan dari situ juga ia menjumpai ayat 257 dalam Surat Al Baqarah yang sangat berkesan baginya. Suatu keterangan yang ia alami sendiri dan ditemukan ada dalam Al Quran. Sepertinya ini adalah suatu pembuktian tentang apa yang selama ini Kartini rasakan.

Hal tersebut tercermin dalam percakapannya dengan Kyai Saleh Darat.
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah.

Penterjemahan "habis gelap terbitlah terang" oleh Armijn Pane sendiri oleh beberapa kalangan penulis menilai telah menggerus makna asli dari kata "door Duisternis Tot Licht" yang seharusnya bermakna dari kegelapan kepada cahaya. Paling fatalnya ialah sangat menjauhkan dari sumber inspirasi darimana kalimat itu ditemukan ( kalimat "minadh dhulumaati ilan nur" yang sangat menginspirasi Kartini).

Sangat disayangkan jika Kartini sebagai wanita jawa, yang memiliki semangat kepada Al Quran dan Pemahaman terhadap pemikiran Islam di jadikan simbol kaum feminist yang malah menggiring wanita Indonesia jauh dari sumber cahaya yang penulis yakini ini "diyakini dan dipelajari oleh Kartini'.

Hal tersebut terlihat jelas ketika ia risau soal tidak bisa cinta dengan agamanya karena tidak tahu, serta tidak boleh mencari tahu. Kesimpulan yang sangat pelik yang muncul dari pengajar yang tidak sempurna ilmunya soal agama islam (kondisi guru mengaji Kartini tahu mengajarkan cara membaca aksara Arab, namun tidak bisa berbahasa Arab atau mengerti apa yang arti dari ayat Al Quran).

Ada kesimpulan unik bahwa terputusnya dakwah, atau pengajaran tentang bagaimana sebenarnya Islam dan tafsir Al Quran yang menyebabkan kecintaan Kartini terhadap Islam hampir pupus. Tentunya ini juga menjadi akar masalah yang sama pada tiap generasi yang kita jumpai telah terjadi penurunan kadar cinta terhadap Islam. Masalah puncanya adalah pengetahuan yang tidak memadai.

Dalam cerita Kartini, pertanyaanyan terhadap Kyai Soleh Darat seperti menggugahnya soal bagaimana menjaga keberlangsungan transfer ideologi Islam. Ini menginspirasi beliau, dimana menurut Ny. Fadilah Saleh, saat itu Kyai hanya bisa diam dan mengucap Subhanallah. Dan tentunya Jawaban menakjubkan dari Sang Kyai ketika menghadiahkan tafsir Al Quran karyanya sendiri tersebut. Tentu in menjadi jawaban terindah dari sang Kyai.

Tuesday, 18 April 2017

Travelling : Rujak Krung Raya dan Teluk Sabang

Rujak Krueng Raya, dengan latar teluk Sabang
Kamu sering travelling, maka sabang pastilah harus masuk ke salah satu list tunggu tempat yang harus didatangi. Bagi yang udah tahu sabang pasti udah ngerti bagaimana. Kalau yang belum tahu, sini saya bisikan "Sabang itu indah, unik, asik".

Kali ini saya mau bagi-bagi pengalaman, salah satu spot menarik dengan apa yang khas di sana. Nah kali ini saya mau cerita-cerita soal satu spot kuliner sabang, sekaligus tempat asik yang wajib kamu singgah di sana.

Nama spotnya desa krung raya. Lokasinya di jalan raya menuju ke Kilometer Nol. Namun belum seberapa jauh dari kota sabangnya, ya guys. Sekitar lima menitan lah, atau bisa jadi kurang lebih bergantung pada kecepatan motor.

Apa yang menarik dari desa Krueng Raya ini, yuk kita bahas satu persatu. Pertama andalan mereka yakni kuliah, eh salah ah, kuliner, hehehe. Ada satu kuliner yang jangan sampai kamu ketinggalan, alias gak sempat kamu nikmati lezatnya.

Nama menunya adalah "Rujak". Nah loh, kok rujak, itukan umum banget yaa. Koktailnya orang Indonesia. Eitss, tunggu dulu. Jangan salah. Kuliner itu bicara rasa. Kamu akan tahu uniknya menu Rujak Krueng Raya dari mengetes langsung dengan kepala lidahmu sendiri.

Potongan aneka jenis buah-buahan disiram saus kacang pedas manis. Benar-benar campuran aneka rasa sempurna. Seperti tidur dengan berbagai jenis buah diselimuti rasa pedas cabai dan gurihnya kacang dalam manisnya gula aren. Semua diaduk menjadi satu hidangan dalam satu piring.

Kedua tempat. Jelas banget guy's. Tempatnya indah banget. Terhampar teluk sabang dengan airnya yang tenang. Pulau-pulau kecil menambah kesan eksotis yang benar-benar memanjakan mata.

Penampakan kota bawah dan kota atas, perbukitan semua menyatu dalam satu bingkai foto selfie yang instagramable kata mereka yang gemar selfie. Ditambah tangan yang megang rujak, maka jadilah foto bercita rasa buah-buahan, hehe. Gal lah, serius saya mau bilang itu "selfie cita rasa Indonesia"

Ketiga suasananya guy's. Kalau siang cocok banget buat ngadem. Angin laut menerpa, memanjakan. Pohon besar nan rindang menjaga kulit mulusmu (bagi cewek) dari sinar matahari. Pohon rindang itu surga di daerah tropis yang panas.

Sore hari lain lagi cerita. Sinyar jingga dari matahari terbenam lembut menyusuri kulit. Sinarnya menyeruak diantara pemandangan yang "instagramable", diantara angin laut yang beraroma garam. 

Ah benar-benar sebuah romansa indah buat kamu yang butuh me time, atau pengen berdua dikeramaian.
Jangan biarkan semua sensasi itu terlewatkan dari petualanganmu. Atau tak tertangkap kamera milikmu.

 Jangan biarkan ia terlewatkan, tak tertulis dalam kisah romantis cinta halalmu. Seperti kisah anak muda sabang yang Aman mengajak pasangannya untuk makan rujak meski hanya sepiring berdua.

Jika hidupmu crowded banget, maka kesini buat ngadem, meredam eh gak mengeluarkan semua stress. Biar di menguap dilembutnya mentari dan diterbangkan angin laut. Dikubur ke balik bukit, dipendam ke dasar teluk yang dalam.

Lalu pedas manisnya rujak akan membuatmu lupa sejenak kalau ini dunia yang sedang kacau. Terlintas di fikiran, ah, dimana ini, eh ini surga.

Menteri Susi Ikut Paket C

Screen shot dari berita jawapos soal kartu ujian menteri Susi.


Mentri Susi Puji Astuti memang Paling unik. Selain menteri yang terpilih karena kinerja, bukan ijasah seperti kebanyakan yang terjadi di Indonesia. Tak Lulus SMA jadi menteri. Saya kagum dengan kemampuannya.

Kali ini saya juga terperangah. Dapat kabar dari Jawa Pos, ada nama Susi di kartu Ujian Paket C. Wah udah jadi menteri tak malu daftar paket C. Padahal orang Indonesia banyak yang menyepelekan paket C. Mungkin karena mereka tidak ngerti.

Ya meski bu Susi akan membolos, atau bisa dipastikan tidak bisa hadir pada hari tersebut. Namun tetap saja menurut saya ini adalah hal yang jarang dilakukan oleh orang dengan power sedemikian besar di Indonesia.

Biasanya kan kita suka dengar sekonyong dah naik pangkat. Tiba-tiba sudah jadi master atau doktor saja. Apa sih yang tidak bisa dengan kekuasaan ditangan. Inilah coreng muka rahasia umum kita-kita.

Namun lain dengan Menteri  Susi. Meski sudah sering jadi pembicara dikampus luar negeri seperti Harvard University, dapat doktor HC yang sejajar pendidikan formal, dan masih daftar paket C. Ini menempatkan menteri Susi sebagai menteri yang lain dari yang lain.

Salut but menteri.

Sunday, 16 April 2017

Fakta Sejarah Sebelum Imperialisme dan Kolonialisme Barat

Ada banyak yang berubah di dunia pasca imperilisme yang di usung Belanda, dan Kolonialisme oleh Inggris. Faktanya masyarakat juga menderita pada zaman tersebut.

Berikut sejarah unik sebelum imperialism dan Kolonialism menjajah dan mengubah banyak hal di dunia.

1. Titik Nol Meridian

Pertama kalinya titik Nol Meridian adalah kota Mekkah Al Mukarramah. Kiblat dijadikan sebagai pusat, dan setelah itu baru membagi belahan dunia menjadi barat, timur, selatan, utara dan sesuai arah penjuru mata angin.

Hal ini disebabkan oleh banyaknya peta yang dibuat oleh ahli geografi muslim. Baru setelah muncul ahli geografi barat, mereka bersepakat menjadikan Greenwich, London sebagai titik Nol Meridian. Ini dilakukan oleh Kerajaan Protestant Angelikan Inggris.

2. Samudra Persia Adalah Samudra Hindia

Pada peta yang berkembang pada abad ke 9 Masehi hingga 10 Masehi, Lautan Hindia belum dikenal. Waktu itu namanya adalah Samudra Persia. Persia Saat itu salah satu kekuatan Imperium Persia yang kuat. Persia sendiri adalah wilayah yang sekarang kita tahu sebagai Iraq dan Iran.

Ketika imperialism barat di mulai dan akhirnya mereka berkuasa, nama Samudra Persia diubah. Nama barunya adalah yang kita kenal dalam peta terbaru. Itu adalah Samudra Hindia.

3. Sumatra Dulu Bernama Andalusia

Pernahkah mendengar Andalusia. Tepat is adalah nama dari daratan eropa yang indah dan subur, yang sekarang kita kenal dengan spanyol. Nah dulu para pengembara dari Europe (barat) Arab (West Bank) juga mengenal Andalusia from the East.

Tahukah kalian bahwa Andalusia from the East adalah Sumatra. Mereka menamai pulau ini dengan Andalusia karena faktor kesamaan kondisi Alam. Keindahan dan kesuburan tanahnya seperti Andalusia di benua eropa.

Mungkin sekarang kita hanya tahu Pulau Sumatra memiliki julukan sebagai tanah Andalas. Atau mendengarnya sebagai julukan pulau Sumatra. Paling menyedihkan adalah pernah dengar kalau semen andalas ditambang di Sumatra (Lhoknga, Aceh Besar).

3. Maluku itu Jazirah Al Mulk

Jazirah bermakna daratan yang dikelilingi oleh lautan. Kita mengenal, atau sering mendengar istilah Jazirah Arab. Mungkin tidak sedikit yang mengira Jazirah sebutan untuk wilayah yang terdiri dari padang pasir. Padahal tidak demikian.

Para penjelajah atau pengembara Arab telah mengenal Maluku dengan nama Jazirah Al Mulk. Mereka menyebutnya Jazirah karena daratan ink dikelilingi lautan. Begitulah mereka menamainya. Begitulah dulu Maluku dikenal.

4. Laksamana Malahayati itu Bajak Laut

Ini adalah tuduhan keji penulis sejarah barat. Panglima angkatan laut perempuan dari Aceh ini dituduh sebagai perompak. Padahal dia melaksanakan tugas negara untuk mengamankan Lautan Selat Malaka.

Dia dituduh menyerang kapal dagang milik VOC. Padahal kapal tersebut ditumpas karena membawa angkatan bersenjata untuk mensukseskan monopoli perdagangan dan penjajahan.

Itu dulu ya, lain kali akan kita bahas lebih banyak lagi.

Tahukah Kita : Islam Masuk Indonesia Pada Abad ke Tujuh Masehi

Banyak penulis sejarah mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ketiga belas masehi. Menurut beberapa sejarawan lainnya, Hal ini merupakan kekeliruan.

Dalam buku "Api Sejarah" Ahmad Mansur Surya Negara menuliskan hal tersebut diatas adalah sebuah kesalahan. Setidaknya menurut R. K. H. Abdullah bin Nuh dalam buku yang sama, is mengatakan seharusnya Islam masuk ke Asia Tenggara jauh lebih lama.

Islam lebih tepat datang ke Indonesia pada pada abad pertama hijriah atau abad ketujuh Masehi. Setidaknya setidaknya 7 abad atau 6 abad lebih cepat dari disangka oleh sejarawan lainnya.

Hal ini diperkuat dalam buku T. W Arnold "the pearching of Islam". Dalam buku tersebut dikatakan abad ke dua Hijriah pedagang Arab dan dakwah Islam telah menguasai Sailan atau Srilanka.

Masih dalam buku "Api Sejarah" pendapat ini diberitahukan diperkuat lagi oleh Prof. Dr. B. H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi dalam buku "Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia".

Tentu fakta sejarah ini menjadi jawaban atas pertanyaan kapan masuknya Islam ke Asia Tenggara. Karena jauh sebelumnya pedagang Arab berniaga hingga ke Cina.

Sabang sebagai pintu masuk Asia Tenggara saat itu memegang kunci penting dalam penyebaran Islam ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Karena di Sabang, Aceh merupakan pelabuhan international yang menjadi pintu laut dari dan menuju ke wilayah Asia Pacific atau menuju West Bank.

Pedagang Muslim Arab membawa dua misi dalam perjalannnya. Pertama adalah  dakwah atau penyebaran agama Islam. Kedua berdagang untuk mengumpulkan kekayaan. Bangsa Arab telah diterima dengan baik sebagai mitra bisnis di kalangan masyarakat Indonesia.

Bahkan sampai ke Timur Indonesia seperti Maluku. Islam masuk secara bersamaan melalui dakwah secara kultural. Pasar menjadi gerbang asimilasi dan interaksinya. Bahkan Jaziral Al Muluk adalah nama yang diberikan oleh orang Arab terhadap Pulau Maluku.

Hal ini berbeda dengan gaya kedatangan bangsa eropa yang memiliki tiga misi yakni Gold, Glory, Gospel yang dijalankan dengan praktik kejam perang dan penjajahan terhadap pribumi.

Mereka datang dengan tipu muslihat dan percobaan monopoli. Hal ini menyebabkan pedagang barat kurang diterima. Apalagi VOC (persatuan datang barat) datang membawa angka bersenjata. Sungguh cara yang jauh dari kata "makluk sosial" atau "manusia yang beradab".

Saturday, 15 April 2017

Keren : Ada Azan di Warung​ Kopi Satu Ini


Setelah hari grand opening, beberapa kali saya sempat singgah ke Duek Pakat Warkop. Tentu saja saya talk mau dilabel dengan pencicip spesialis Grand Opening, alias nyari yang gratisan.

Sebenarnya alasan utama saya balik kesitu, karena ajakan ngopi kesana oleh teman-teman meningkat. Baik itu buat sekedar "sitting n doing nothing" alias nongkrong. Atau membahas agenda lainnya, karena banyak hal bisa terjadi di warung kopi.

Saya tidak menuliskan jika tidak berkesan. Kali ini ada kesan berbeda, karena sampai waktu salat dhuhur tiba. Terdengar teriakan "salat-salat". 

Saya kenal betul itu suaranya Bg Deni, salah satu pengelola bisnis yang juga mengelola Duek Pakat bersama Bg Munardi. Beliau juga dikenal sebagai pengusaha Laundry. Mereka berdua menjadi pentolan jalannya duek pakat.

Setelah itu barista n waiter's hilang dari peredaran. Uniknya lagi terdengar Azan dari lantai dua. WoW (harus bold dan miring, memang. Pen). Baru kali ini saya mendengar Azan di musala sebuah warung kopi. Dan ini menjadi sisi menarik bagi saya. Belum pernah saya temui di tempat lain.

Ternyata manajemen menerapkan istirahat, setidaknya begitu terdengar oleh saya (pas salah seorang manajemen ditanyai pengunjung, hehe. Ketahuan nguping).

Saya memutuskan salat di situ, dan jadi pengalaman pertama salat berjamaah di sebuah warung kopi yang itu di koordinasikan oleh orang warung kopi. Karena biasanya di warung palingan jamaahnya inisiatif. Karena biasannya pelanggan memilih untuk salat sendiri-sendiri.

Entah memang selalu begitu, atau karena ada moment acara sebuah partai politik yang terkenal religious dan suka salat berjamaah. Jelasnya ini pengalaman pertama dan unik. 

Semoga tetap dipertahankan dan jadi identitas.

Well done.

Thursday, 13 April 2017

Masa Sulit Lahirkan Pemimpin Kuat

Pemimpin kuat adalah orang dengan kapasitas dan integritas kelas dunia. Mereka bisa berbicara sebanding dengan siapapun didunia. Ketika kepentingannya tidak sampai, tidak menguntungkan bagi siapa yang ia pimpin.

Pemimpin yang kuat ibarat intan. Hasil dari pembakaran tingkat tinggi, ditempa dengan tekan dahsyat sehingga unsur karbon berubah jadi intan. Intan tidak lahir dari pembakaran rendahan tanpa tekanan. Versi lain karbon pada jenis ini adalah arang.

Samurai yang tajam, berkaitan juga ditempa dalam panas tinggi, dipukul dan dipalu, di asah hingga jadilah ia sebilah pedang pemotong yang kuat dan bertepi tajam.

Setelah sekian lama dijajah, Indonesia merdeka melalui tangan tokoh besar. Muhammad Natsir, Ir Soekarno, Hatta adalah tokoh yang lahir pada masa hard time Nya Indonesia.

Mungkin diantara kita ada yang kenal Jengis Khan. Raja besar bangsa Mongol yang kekuatannya hampir saja mengobrak-abrik imperium Kekhalifahan Islam.

Tahukah kita bagaimana Jengis Khan tertempa hingga ia mampu memimpin seluruh suku di Mongol dan mengekspansi bangsa lain.

Jengis kecil adalah orang yang diburu banyak orang. Semua suku bahkan sukunya sendiri memburu Jengis untuk dibunuh. Dia diikat dan ditunggu sampai setinggi roda untuk dibunuh.

Namun Jengis tidak mati disitu. Dia lari namun tetap terus di kejar. Hidup di Alam liar dan diburu selama 40 tahun. Dia tertempa menjadi tidak takut dengan Alam. Bahkan tidak takut dengan apa yang paling ditakuti oleh orang Mongol. Apa itu, dan itu salah petir.

Tidak takut kepada petir menjadikan semua orang takut padanya. Sehingga dia menjadi pemimpin bagi semua suku yang ada di Mongol, bahkan menjadi raja besar yang terkenal kejam.

Nah maka wajar setelah 70 tahun lebih Indonesia merdeka. Pemimpin yang lahir mulai lemah. Terbuai dengan janji-janji manis dan euforia merdeka, lupa membangun bangsa.

Hasilnya Pemerintahan sekarang yang bisa dikatakan dipimpin oleh karakter lemah. Ini terciri dari banyaknya masalah yang bermunculan. Masalah semua itu adalah masa sulit. Masa yang akan menempa pemimpin kuat lainnya.

Masa itu akan terus berputar, dan bergilir melahirkan pemimpin sesuai masanya. Karakter akan terbentuk. Masalahnya adalah berapa lama lagi ? Apakah harus menunggu 40 tahun lagi seperti Jengis Khan.

Polda Metro, Netizen dan Jilbab Online

Hal paling konyol yang pernah saya dengar abad ini adalah persaingan bisnis online jilbab dan gamis bisa membuat orang menggunakan kekerasan. Seperti siraman air keras terhadap keluarga pebisnis.

Hal yang paling tolol yang pernah saya dengar abad ini adalah Ketua KPK disiram air keras gara-gara persaingan bisnis jilbab online istrinya.

Sungguh paradoks (harus bold) dengan kejadian di film-film Hollywood. Kenapa film Hollywood, karena mereka benar-benar bisa membuat kita seperti sedang menyaksikan realita dalam film aksi Mafia yang mereka buat. Semua kedengaran logis meski semua hanya cerita.

Kali ini kita mendengar cerita paling aneh sejagad dari seorang kapolda dan itu Metro Jaya. Orang penting di sebuah institusi negara disiram air keras karena istrinya jualan jilbab online. Oi oiii

Kalau versi Hollywood, maka saya yakin ceritanya bakal seperti ini " seorang perempuan penjual jilbab dan gamis disiram air keras". " Polisi menduga sebagai ancaman terhadap suaminya yang ketua KPK". Begini terlihat lebih logis. Setidaknya bagi saya. Setidaknya alur di film-film Hollywood demikian.

Al hasil kini netizen terbagi dalam dua kegiatan. Pertama berkelakar soal jualan jilbab dan gamis online. Kedua karena jilbab dan gamis lagi viral, mereka mengambil peluang ini. Sebenarnya masih ada faksi ketiga yang menggabungkan antara keduanya. Dan begitulah netizen.

Yaaaa, kita para netizen hanya tahu mencemooh. Mungkin anggapan ini terselip difikiran mereka yang lupa atau tidak tahu siapa kita para netizen. Bukankah kita adalah smart citizens yang cukup ilmu soal skenario demikian dari film Hollywood dan Korea.

Lantas apa skenario ajaib ala Pak Kapolda akan laku, tentu saja ia, mutlak melahirkan cemoohan dan sindiran. Mungkin yang buat skenario kurang nonton film Korea dan Hollywood. Jadi script-nya kurang menggigit.

Yaaa kita semua paham, kita semua sama kondisinya. Tahu bagaimana dagelan dinegeri kita dilakoni oleh pelakon amatir. Hingga kita menertawakan apa yang kita tonton, lalu merasakan gundah karena ini bukan film.

Mungkin mereka tidak tahu kalau kita Ada yang cerdas, atau bukan kita yang disasar. Ada orang lain yang bukan netizen, yang aksesnya tak sehebat kita. Dan kita juga belum bisa berbuat banyak.

Al Fatihah untuk negeri yang kita cintai ini.

Wednesday, 12 April 2017

Pilkada Jakarta : Pilihlah Anis-Sandi Atau Anda Akan Menyesal

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno

Saya tidak menuliskan soal Pilkada Aceh dan Banda Aceh. Padahal saya terlibat aktif didalamnya. Namun, untuk saudara saya di Jakarta, saya fikir inilah bantuan yang bisa saya berikan.

Kenapa demikian, ya jelas. Saya di Aceh, berKTP Aceh, tidak memiliki hak pilih di Jakarta. Lalu apa pula bagi saya memaksakan menggaruk kaki yang tidak gatal.

Saya kasian dengan media mainstream yang terlalu menyerang Anies-Sandi Dan lemah lembut dengan yang lainnya. Jadi biarlah saya dengan blog pribadi yang tak seberapa ini mencoba mengutarakan pikiran saya yang berbeda dengan media tersebut.

Jadi, Jawaban sebenarnya adalah agar warga Ibukota nantinya tidak menyesal. Bukankah ada diantara kita menyesal memilih Gubernur Jakarta yang akhirnya menjadi presiden yang disesali.

Tidak sempat membereskan Jakarta, dia maju ke pusat. Setelah itu banyak orang yang mulai menyesal telah memilih, lalu mengeluarkan pendapat soal betapa negeri telah salah urus.

Dalam pendapat pribadi saya; "kita telah menyerahkan negeri ini pada orang yang salah. Pada akhirnya Pajak, BBM, TDL semua naik tanpa di iringi pelayanan publik yang baik pula.

Pelayanan yang saya maksud adalah peningkatan daya beli dalam masyarakat masih stagnan, dan nilai jual rupiah terhadap dolar terus merosot. Bukankah ketika dihubungkan dengan kebijakan tadi, hasilnya kita menderita dua kali lipat.

Nah, bukankah di Jakarta, untuk yang kita orang kecil merasakan janji kampanye pasangan periode yang lalu tidak tepat. Gusur menggusur, serta ganti rugi yang tidak setimpal. Pembangunan yang dibela-bela adalah milik para cukong, dan orang super kaya (Reklamasi).

Tidakkah warga menjadi terpecah belah dan sentimen mulai muncul. Muslim tidak boleh takbiran di perayaan hari besarnya, sedangkan tahun baru Dan natal dirayakan besar-besaran. Bukankah ini diskriminatif.
Juga berkaitan dengan kasus penistaan terhadap agama Islam dan terakhir kampanye vidoe yang juga mengandung unsur fitnah. 

Tentu normalnya kita sebagai manusia yang humanis akan bertanya "apakah ia benci dengan agama Islam, atau memang dia rasis ?"

Para ahli hukum ada yang penasaran dan heran dengan sinetronisasi sidang kasus penistaan agama. Bahkan sampai Ada cerita penegak hukum mengintervensi proses peradilan.

Bukankah seharusnya kita semua sama dihadapan hukum. Kenapa Ada satu orang yang bedanya tidak biasa. Bahkan berbeda dengan ketidak adilan lainnya yang pernah terjadi di lembaga peradilan. Apa yang membuat dia seperti seorang yang berlaku atasnya "lex Specialist".

Mari Membuka Mata dan Hati

Jangan karena kita punya tanah di Jakarta, belum pernah tergusur, lalu kita melupakan yang digusur. Jangan karena uang untuk listrik, air PDAM, BBM cukup kita lupa dengan yang tidak mampu.

Saya tidak ingin bicara soal penggadaian Iman, tapi yang menghindar dari kewajiban Pajak juga mereka orang super kaya. Yang kekayaannya lebih dari cukup untuk kapling tempat di proyek Reklamasi.
Kasihan nelayan kita, menjadi korban Reklamasi. 

Kasihan orang yang tidak bayar Pajak bukan karena lari, namun memang karen hasil kerja dan banting tulang bahkan untuk beli buku anak sekolah saja masih harus ngutang.

Salah urus tidak akan terjadi, jika kita tidak salah dalam memilih orang yang akan kita tugaskan mengurusi kita. Dalam tiap coblosan dan suara, kita sedang memilih siapa yang akan menyelesaikan masalah kita. Bukan malah kitanya yang diselesaikan.

Mari suara kita berikan kepada orang yang bisa menyelesaikan permasalahan kota Jakarta. Jadi beri kesempatan Anies-Sandi untuk mengurus Jakarta pada periode kali ini.

Bagi saya ini penting, karena kota kalian adalah ibu bagi kami, ibu bagi kota-kota dan kabupaten serta provinsi lainnya.

Coffee Reviews : Rebbe Coffee Gayo Arabica

Ngopi di Rebbe Coffee

Hey guys, pada kesempatan kali ini gue Ma ngasih tahu elo soal salah satu kedai kopi gayo tempat aku dan temenku sering ngopi. Nama kedainya Rebbe Coffee Gayo Arabica.
Kami sering nyebutnya rebbe aja. Yaa semisal bilang "haiii, kek mana, sore ini ke Rebbe yuuk" buat ajakan ngopi. Wajar sih kalau kami bilang "kita adalah pelanggan" karena kalau pengen menikmati racikan arabica, kami belum move on dari rebbe Coffee.

Kalau gak percaya, tanya aja sama aku, Bg Gun, Tgk. Mahmudi, BG Mulya, Putra, Rahmat, BG Anshar. Bisa juga tanya sama barista nya langsung, BG Miko Dan tentu Peracik favorit kami Rieky.

Kami ngikutin perkembangan rebbe (tepatnya sih ngopi disitu, hehe) sejak kios di Simpang BPKP guys. Lanjut saat mereka pindah ke kawasan Lampineung, depan Hotel Hermes Palace. Dan sekarang di lamteh, tepat depan mesjid lamteh.

Menunya ok punya, mereka nge brewing Arabica. Mereka tipe barista modern dengan mesin-mesin pembuat kopi. Nih aku bahas satu-satu kopi nikmat ala Rebbe Coffee yang pernah dan/atau sering kupesan.

Sanger Arabica
Secangkir Sanger Arabica


Ini menurutku andalan mereka seharusnya. Paling enak ya racikan Rieky. Sangernya mantap banget, enak banget. Aku selalu minta kopinya agak kental. Biar pas sama selera.

Ice long black
Segelas Penuh ice long black


Kalau ini kesukaanku. Racikan Miko menurutku paling pas dengan seleraku. Segarnya long black selalu membuat hari kembali ceria.

Espresso


Dihidangkan dengan gula aren, espresso adalah selingan. Ketika aku benar-benar ingin berdua saja dengan kopi. Tanpa Ada unsur lain dalam mulut. Hanya berdua saja. Dan gula aren kubiarkan jadi sisa, atau ku emut ketika hendak pulang.

Sanger espresso
Secangkir Sanger Arabica (lengkap presentasi susu, belum diaduk soalnya)

Nah yang ini espresso yang diracik ala sanger. Tentu lebih kuat dari pada sanger Arabica. Aku memilih memesan ini jika ingin mendapat sensasi segitiga antara aku, kopi dan susu.

Affogato
Affogato, perpaduan nikmat kopi dan lembutnya eskrim


Espresso dan eskrim. Sebenarnya bukan paduan yang aku sukai, meski rasanya enak. Aku menyebutnya minuman buat anak sma. Gal cocok dengan umurku. Barakallah cocok dengan umurmu.
Yaa affogato itu Italiano, hehe.

Es Sanger Arabica

Aku akan memilih shake ketimbang blend. Serius enak, namun aku lebih suka ice long black karena lebih murni. Kecuali aku perlu tambahan mood dari sekedar kafein, namun aku lebih menemukan sensasi dalam long black.

Milk shake
Milk shake (abaikan cek in, salah tekan Dan malas edit) ini original rebbe punya)

Menu bukan kopi yang paling kusukai. Terutama racikan siapa saja di Rebbe. Manisnya susu cukup untuk membuat suasana santai menjadi lebih santai.

Es krim
Eskrim ala Rebbe Coffee
Kalau ini, cukup gambar saja yaa. Diliat aja, karena tampilan ini apa adanya, dan rasanya sesuai kelihatannya. Gak pake bohong.

Tentu Ada menu lain, namun aku enggan membahas karena belum ku coba. Udah dulu ya guys.

Tuesday, 11 April 2017

Coffee Review : Sanger Si Kopi Original Karya Barista Aceh

Sanger Dingin atau Es Sanger
Penasarandenger kata Sanger. Apalagi bicara ulasan  kopi. Apa lagi ini judul.

Ya bagi orang luar Aceh, bisa maklumi kalau kurang tahu sanger. Untuk Aceh sendiri saja hanya barista Banda Aceh yang mengerti bagaimana meracik sanger. Jika tidak, bisa jadi kopi susu. Tentu saja rasanya beda jauh.

Jujur, saya saja kenal sanger ketika mulai pindah ke Banda Aceh. Saya berkenalan di warung kopi Solong, Ulee Kareng. Dan Kopi Sanger ini memang diperkenalkan oleh para barista kopi Ulee Kareng.

Sanger memiliki cita rasa yang unik. Susah dijelaskan, untuk tahu harus dengan mencobanya. Oleh karena itu saya berani mengatakan "Sanger adalah 100 persen kopi khas Aceh".

Bagaimana tidak, selain hanya dikuasai detail racikan oleh barista Aceh, namun tidak lantas semua barista Aceh mengerti bagaimana meracik sanger ini. Kalau gak pas, bukan sanger namanya.

Di Aceh Sanger menjadi menu yang diminati disamping kopi hitam atau black coffee. Atau menjadi andalan yang tidak kalah dengan kopi mocha, latte, atau cappuccino yang semua itu kreasi barista luar negeri.

Sanger biasa menggunakan kopi robusta. Karena memang kreator sanger adalah kedai kopi dengan menu robusta. Ini murni kreasi barista tradisional Aceh yang cara penyajiannya itu dikenal dengan kupi sareng (Kopi Saring).

Ada cerita unik dari lahirnya menu Sanger. Bermula dari mahasiswa yang mesan kopi suka asal. Yaa.. karena isi kantong yang pas-pasan, namun pengen minum kopi enak. Akhrinya ya mesannya olah-olah sikit.

"Bang, kopi susu, tapi susunya sedikit aja, dan gula sedikit. Nah tujuannya kopi manis dan ada susunya, kalau langsung me kopi susu kemahalan untuk kantong.

Nah setelah lama dan ramai yang mesan, nama Sanger mulai dipopulerkan. Arti Sanger adalah "sama-sama ngerti". Nah kata ini disingkat dan taaaaadaaaa, satu nama untuk menu kopi muncul.

Nah ternyata barista Aceh kreatif, menemukan formula kopi dengan sedikit gula dan sedikit susu (kopinya dominan) yang pas dan malah menjadi sajian kopi lezat dengan cita rasa kopi yang kuat.

Akhirnya dengan cita rasa tersebut, kelas sanger terangkat menjadi suatu menu tersendiri yang lebih nikmat dari sekedar kopi susu. Jelas kopi susu kalah alias tidak bisa dibandingkan dengan sanger.

Mohon maaf, Sanger bukan cuma campuran kopi dengan susu, apalagi kopi dengan gula. Karena persentase gula dan susu benar-benar sedikit saja. Soal bagaimana sebenarnya langsung aja me kedai kopi dengan sanger yang lezat.

Kalau saran saya sih, jika kamu masuk ke daftar pecinta robusta, datang aja me Solong Premium alias SolPrem. Biar kamu ngerasa seperti apa Dan bagaimana kopi Sanger.

Nah banggakan dengan karya barista Aceh yang satu ini. Akhirnya Ada kopi kreasi original Indonesia yang rasanya mendunia. Bagaimana tidak mereka yang mencoba pasti bakal bilang level rasanya gak kalah dengan kopi kreasi barista luar yang udah dipelajari semua pembuat kopi (kayak kopi latte, mocha, dan lainnya).
Udah dulu ya..


Sunday, 9 April 2017

Pemberitaan aneh : Cara Media Menggoreng Berita



Coba perhatikan gambar screen shot yang saya ambil. Mengispirasi saya untuk menghasilkan tulisan nasihat ini. Semoga menjadi renungan bagi kita semua. Lihat, dapatkah pembaca sekalian menemukan keanehan.

Ya, jelas sekali ada dua media mainstream dengan satu berita yang sama, kejadian yang sama, objek penderitanya sama, yang berbeda hanya judul beritanya saja.

Salah satu dari dua media tersebut memberitakan bagaimana tegarnya seorang wanita yang membacakan berita kematian suaminya sendiri. Kebetulan so wanita berprofesi sebagai pembaca berita.

Sedangkan satu media lagi memberitakan dengan judul yang menohok, tajam, menarik, namun ada fakta yang berbeda. Dimana si wanita pembaca berita menertawakan berita kematian suaminya tanpa sadar.

Bagi kita pembaca, jika hanya membaca salah satu media sebagai rujukan, maka kita akan percaya saja. Ketika membaca keduanya, kita jadi bingung soal mana yang benar. Muncul pertanyaan soal siapa yang memberitakan kebenaran.

Maka ada benarnya juga apa kata pepatah. Lain lubuk lain ikannya, kata pencari ikan. Lain barista lain pula racikan kopinya, kata penikmat kopi. Lain media lain juga cara penyajian beritanya.

Sungguh saya tulis ini dalam kondisi miris dan sedih. Perkembangan media masa kini yang menempatkan rating diatas kebenaran. Demi menarik minat pembaca, hingga ke pemasukan persekian kali klik Dan pemasangan Iklan.

Biasanya pengguna akun Blogspot seperti saya kena tuduhan, meski saya belum. Asal comot berita tak peduli valid sumber atau cuma hoax. Demi dolar AdSense yang menggiurkan.

Hal ini menjadikan saya hendak beritanya, bagaimana dengan media informasi yang membuat berita salah. Parahnya lagi berita benar, namun di beritakan secara salah.
Berita digoreng sedemikan hingga, tapi salah. 

Tidak valid sumber, padahal media terkemuka. Paling penting judulnya bombastic, soal lainnya urusan ke seratus dua puluh sekian.

Pembaca disesatkan dengan informasi yang salah. Apakah layak media yang tidak memiliki etika, kita tuntut di pengadilan ? Lalu siap yang berani melakukannya ?
Semoga tulisan ini jadi pengingat bagi para penulis judul berita, mari kita tuliskan kebenaran walau langit runtuh.

Saturday, 8 April 2017

Ulee Kareng : Surganya Penikmat Kopi

Aceh dan Somalia : Mati Lampu dan Air PDAM vs Bencana Kekeringan


Aceh|Part 1
Keluh kesah di dunia maya menyeruak. Mengalir deras sederas aliran krueng Aceh. Sebuah sungai yang alirannya tajam. Tajamnya hingga kota Banda Aceh terbelah menjadi dua.

Demikian juga komentar tajam kepada PLN membelah jagad maya. Kekesalan kepada pemadaman listrik menjadi sebab musabab serapah di facebook dan semacamnya.

Wajar saja, karena semua orang membayar tanpa pelayanan. Semua adalah akumulasi kekecewaan yang jika disampaikan kemana saja, seperti berbicara pada tembok. Tiada tanggapan pun didengarkan.

Demikian juga matinya air PDAM. Semua itu karena pembangunan flyover. Pipa PDAM hanyalah korban. Namun sebelum itu semua terjadi, pelayanan perusahaan plat merah ini terlanjur mengecewakan. Istilahnya sudah kecewa dari awal.

Air keluar pipa lebih parah dari kencing orang prostate. Kenapa tidak, untuk menarik air yang sudah kita bayar perlu menambah tagihan listrik untuk pompa air listrik. Tanpa tarikan "sanyo" air enggan keluar dari pipa.

Akhirnya "tembok" Facebook jadi tempat sumpah serapah, curhatan, hingga protes keras. Ya setidaknya di "wall" Ada yang like atau komentar. Ini lebih bisa menjadi pelipur lara dari pada bicara pada "tembok" pura-pura. Karena "dia" manusia.

Dari dunia maya kita bisa membaca bagaimana "kita" kesusahan. Ketiadaan air dan listrik. Seolah dunia hendak kiamat. Semua seperti terhenti dan tidak bermanfaat.

Mau tidur tidak bisa, AC mati Dan kipas angin tiada menjadi solusi. Bahkan may buang "air(hehehe) besar" saja tidak bisa, air di bak kosong. Ternyata sangat menyulitkan. Cobaan digilirnya mati lampu dan tersendatnya air PDAM.

Ya, kita semua bersepakat sulit.

Somalia|part 2


Eh, apa hubungannya antara Aceh dan Somalia. Kok dibawa-bawa ke acara mati lampu dan keringnya air PDAM ala Aceh. Eits, hubungannya sangat dekat dan erat. Berbicara apa yang kita rasa dan juga mereka mengalami.

Hanya saja mereka mengalami sedikit lebih parah dari kita. Saat air PDAM mati, air Krueng Aceh masih melimpah. Hanya saja kita bergantung pada lubang kecil dipenghujung pipa.

Di sana bahkan sungaipun membutuhkan air. Hmmmm, ah tidak, bahkan mata airpun membutuhkan seorang dermawan. Jangan bayangkan manusianya, yang memerlukan kedermawanan tanpa pamrih dari mata air.

Sumur-sumur kering, tak lagi mampu memeras air dari tanah yang juga sudah mengering. Sama kerontangnya dengan kualitas dan tukang saudara kita yang tiap harinya meninggalkan kita dalam kecukupan. Mereka mati kelaparan Dan kehausan.

Apa yang kita keluhkan, mungkin take sampai satu persen dari sulit yang mereka alami. Dan kita sudah merasa kesusahan, seperti kita yang paling susah.

Tidakkah Allah sedang mengetuk hati kita, membangunkan jiwa sosial kita yang mungkin sedang tidur. Ah, tsunami memberitahukan kita betapa sulitnya kehilangan harapan, dan betapa uluran tangan saudara kita dari segala penjual menjadi secercah harapan.

Mari kita sedikit bermuhasabah dengan membandingkan kondisi kita dan mereka. Bukankah mati lampu dan tersumbatnya air PDAM adalah cara indah dari Allah dalam mengingatkan kita.

Di sana ada saudara yang membutuhkan uluran tangan kita. Secercah harapan yang menguatkan. Suatu yang dulu pernah kita dapatkan. Ah, tidak tahu kita bagaimana dulu ketika tsunami melanda, hati mereka jadi terketuk.

Maka, mari kita jawab ketukan itu dengan salam hangat infaq dan sedekah kita. Melalui setiap lembaga kemanusian yang telah memutuskan untuk menjadi bahkan dari penyambung ulur tangan kita ke Somalia sana.

Mari kita ringankan cobaan yang menerpa saudara kita, seperti mereka juga pernah melakukannya kepada kita. Kita regular indahnya persaudaraan dengan menjadikan misi kemanusian pribadi kita untuk menggugah perasaan saudara kita yang lain. Agar kita peka dengan kondisi saudara kita yang lain di belahan dunia sana.


Semoga mereka lebih tabah, dan pada kenyataannya mereka benar-benar tabah dan bersabar.

Wednesday, 5 April 2017

Review Kedai Kopi Aceh : Duek Pakat




Duek pakat adalah istilah dalam bahasa Aceh yang bermakna "musyawarah untuk menentukan suatu kesepakatan". Memang sih, agak sulit kalau ngetranslate langsung bahasa Aceh ke Indonesia secara harfiah. Perlu buat kita terjemah.

Nah, kalau harfiah artinya duek adalah duduk, dan pakat artinya ajak, pakat (seperti sepakat). Nah arti dari duek pakat jelas harus sedikit diterjemah, agar maknanya sampai.

Lalu kenapa saya milih menuliskan tulisan berjudul "duek pakat". Jawabannya adalah untuk mereview salah satu warung kopi yang baru buka di Banda Aceh.

Ya, Aceh surganya penikmat kopi. Segala macam kedai kopi ada, dengan berbagai metode penyajian. Satu hal paling unik adalah biji kopi yang digunakan. Semua varietas lokal dengan kualitas mendunia.

Kembali ke "Duek Pakat". Menurut saya pemilihan nama yang tepat untuk sebuah kedai kopi. Karena makna filosofis dari apa yang terjadi di berbagai warung kopi di Aceh terangkum dalam judul ini.

Betapa tidak, di Aceh warung kopi bukan hanya soal duduk kongkow menghabiskan waktu dan usia. Di warung kopi deal bisnis bisa terjadi, menunggu pengumuman tender, para kontraktor akan memilih nunggu  di warung kopi.

Para mahasiswa banyak loh, skripsi dan paper selesai di warung kopi. Diskusi publik, pelatihan, temu komunitas, hingga rapat-rapat sering dilakukan di warung kopi. Jadi, jangan salah nilai atau menyamaratakan sudut pandang untuk mereka yang sedang kelihatan duduk ngopi.

Bahkan tulisan saya ini, saya buat sambil ngopi, di acara grand opening warung kopi "Duek Pakat". Ya, bisa dibilang sebagai wujud terimakasih sudah diundang, serta secangkir kopi hitam legam yang nikmat.
Soal kualitas rasa, saya sempat nyicip kopi hitam alias black coffee. Rasanya cukup untuk mengembalikan segenap ide yang pergi atau menemukan ide yang tersembunyi.


Biji kopi Lamno, itu yang terlintas di fikiran saya, ketika cairan hitam itu bertegur sapa dengan lidah saya. Untuk hari pertama di grand opening, saya lihat baristanya menggunakan metode tradisional Aceh yang dikenal dengan istilah kupi sareng



Metode ini baristanya merebus bubuk kopi kasar, dan menyaringnya dalam saringan besar untuk dituangkan kedalam gelas.
Keahlian merebus dan ketahanan fisik barista benar-benar di coba dalam metode ini. 

Untuk kopi di "duek pakat" rasa kopinya sudah standar kopi Banda Aceh. Bisa masuk ke deretan kopi robusta enak, sebagaimana yang diminati warga kota. Bagi wisatawan juga patut singgah Dan mencoba.

Sekian dulu untuk kesempatan kali ini. Bye bye.

Monday, 3 April 2017

PLN dan Sumpah Serapah

Sumpah serapah kepada PLN sering kita temui saat mati lampu. Terutama untuk wilayah yang sering dilanda bencana listrik mati, seperti Aceh misalnya. Makian dengan mudahnya keluar melalui lidah dan jemari. Menjadikan telinga dan mata panas menyerap info memaki.

Panas mata dan telinga menambah panas di hati dan naik ke ubun-ubun. Orang tidak dapat mengontrol lidah dan jemarinya lagi. Hati tidak lagi bisa menimbang dengan jernih, dan akal tidak lagi memiliki logika.

Mati lampu adalah masalah klasik di Indonesia. Bahkan tidak hanya itu, kita juga berbicara ada tempat yang belum tersentuh listrik. Gelap gulita dan lampu teplok atau panyoet culot masih menghiasi malam. Beruntung jika ada lampu petromax yang di Aceh dikenal dengan nama panyoet sirungkeng.

71 tahun merdeka, negara belum bisa memenuhi salah satu kewajibannya soal hajat hidup orang banyak. Hanya gaji besar untuk pegawai di sebuah perusahaan plat merah yang mengurus listrik baru sanggup dipenuhi.

Negara hanya bisa menaikkan tarif dasar listrik. Lalu menerapkan listrik pintar alias prabayar. Dengan begitu mereka akan mudah memaksa rakyat membayar sesuai tarif, meski pelayanan semakin buruk.

Hal seperti inilah yang menyebabkan sumpah serapah lahir. Monopoli PLN dengan kuasa besar dari negara. Bayar penuh tanpa layanan penuh, dan bagi yang masih menggunakan litrik pasca bayar, telat dua bulan akan dipotong tanpa peduli listrik hidup atau tidak.

Seperti benalu yang menopang hidup pada pohon mangga. Menyerap hara dari inang dengan simbiosis parasitisme. Negara melalui PLN terus menyerap uang dari rakyat dengan simbiosis semi parasit. Tentu kalian paham kenapa jadi semi parasit.

Ah, negara kita dipenuhi orang tamak. Mereka selalu terpilih jadi pejabat. Presiden, anggota parlemen. Tukang tidur dan planga-plongo tanpa solusi. Mengutamakan uang masuk rekening pribadi ketimbang rakyat sejahtera.

Wajar sumpah serapah itu jadi pelampiasan. Karena negara sudah bebal. Salah urus karena salah pilih pengurus. Ah, negara ini sudah salah urus sejak awal. Salah kita pilih presiden dan anggota dewan.

Apa boleh buat, sabar aja sampai pemilu sekali lagi, dan jangan pilih musang Dan ceurapee kap lagi, yaaa.

Bank Riba ber"Casing" Syariah


Banyak cerita, soal orang yang merasa tertipu dengan bank syariah. Hal ini efeknya adalah keraguan terhadap sistem syariah itu sendiri. Sebagian orang malah telah menyamakan antara praktik bank syariah dengan bank konvensional.

Pada titik ini saya kira kita patut berhati-hati. Karena ketidak-tahuan, akhirnya orang bisa berkesimpulan yang membedakan antara bank konven dengan syar'i hanya pada nama dan istilah saja. Hanya "casing" saja berbeda, sedangkan sistemnya sama.

Tentunya kesimpulan yang fatal terhadap eksistensi bank syariah. Nasabah atau calonnya tidak dapat disalahkan, karena mereka melihat dari bagaimana bank dijalankan. Bukan malah dari teks pelajaran soal pengertian dan sistem bank syariah itu sendiri.

Pelaku didunia perbankan harus berhati-hati. Jangan sampai ambisi kapitalis, menyebabkan sistem bank syariah hanya jadi produk untuk meraup keuntungan. Bekerja tanpa memperhatikan etika Dan tujuan dari setiap transaksi dalam Islam.

Ulah bankir kapitalis yang mencari untung dalam "balutan" sistem syariah. "Casing" syariah, namun sistem operasi masih berdasarkan sistem konvensional dengan tujuan meraup untung besar dari modal kecil. Terlebih lagi sampai memberatkan nasabah atau pihak lain dalam transaksi.

Nasabah masih dikelabui dengan aqad syariah, metode syariah, namun sebenarnya praktik riba karena etika syariah yang tidak dipakai sama sekali. Bank masih mencari kesempatan karena kesulitan atau kebutuhan dari nasabah.

Ini sering terjadi dalam pengajuan kredit. Misalnya pada akad murabahah yang sering diajukan nasabah. Para bankir culas ini menetapkan margin hingga diatas seratus bahkan seratus lima puluh persen, tanpa memperhatikan nasib nasabah selanjutnya.

Padahal dalam setiap transaksi jual beli harusnya disertai etika Islam, dimana ulama sepakat margin tidak boleh melebihi sepertiga modal. Hal ini disampaikan oleh ulama seperti Wahbah Al Zuhaili dan imam Malik bin Anas.

Para ulama mengingatkan bahwa tujuan dari jual beli dalam Islam adalah until saling membantu. Tidak benar jika setelah transaksi menambah kemudharatan bagi salah satu pihak. Baik transaksi di pasar tradisional hingga skala besar Dan transaksi di dunia perbankan prinsip ini adalah dasar. Berlakunya sama.

Dalam Islam sangat diutamakan kemashlahatan Dan persetujuan kedua belah pihak dalam aqad. Bukan persyaratan yang diajukan satu pihak saja dengan pilihan take it or leave it (ambil atau tidak sama sekali). Ini terlalu kejam dan otoritarian.

Baru-baru ini juga viral di media sosial soal curhatan salah seorang nasabah bank syariah di Aceh. Perlakuan syariah ala kapitalis telah menjerat lehernya. Tidak ada pilihan baginya kecuali membayar apa yang telah ditanda tangani dalam akad. Padahal jumlah yang harus dibayarkan sangat besar hingga seratus lima puluh persen.

Terkesima kita ketika membaca utang Dua ratus juta, potong adm sepuluh juta, hingga yang cash diterima hanya seratus delapan puluh juta. Dalam aqad, setelah ditambah margin yang ditentukan bank berjumlah lima ratus juta. Sungguh seperti jatuh dalam jebakan betmen ( bad man, pen).

Kita tentunya berharap agar para bankir benar-benar serius dalam menetapkan sebuah sistem. Lalu dijalankan sesuai dengan ketentuan tanpa mencampur aduk satu sama lain, yang berujung pada bingung atau dirugikan karenanya.

Apa lagi sampai menuding sebuah sistem yang benar menjadi sistem busuk, karena ulah busuk para bankir. Ini yang paling tidak sedap bagi kami para pendukung sistem perbankan syariah.


Sunday, 2 April 2017

Pengelolaan Barang Milik Negara

Kebutuhan sebuah negara meliputi :

1. Ketersediaan Dana
2. Ketersediaan SDM
3. Ketersediaan Peraturan
4. Ketersediaan Barang Milik Negara

Yang akan kita bahas sekarang adalah Barang Milik Negara.

Pengertian dari Barang adalah bagian dari kekayaan yang itu merupakan suatu kesatuan yang dapat dinilai, dihitung, diukur, ditimbang. Tidak masuk kedalam barang uang Dan surat berharga.

Barang milik negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang say diatur dalah Peraturan Pemerintah No 6 tahun 2006 tentang Milik Negara.

Ada 2 cara pengadaan barang Milik Negara dilihat dari sumber perolehannya :

1. Perolehannya dibiayai oleh APBN dan APBD

2. Sumber sah lainnya.

Sumbangan lainnya terdiri dari :

1. Barang yang diperoleh dari hibah atau sumber sejenisnya.
2. Barang yang diperoleh dari perjanjian kontrak.
3. Barang diperoleh berdasarkan ketentuan Undang-undang.
4. Barang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap.

Pada Dasarnya barang milik negara ada dua jenis :

1. Benda Privat (Private Domain)
2. Benda Publik ( Publik Domain)

Pengertian dan contoh :
Private Domain : milik pribadi negara.
Seperti : mobil dinas, kantor, rumah dinas dan sejenisnya.

Publik Domain : milik negara yang bisa digunakan oleh semua orang.
Seperti : listrik, jalan raya, kapal penyeberangan (ferry) dan sejenisnya.

Materi berdasarkan modul kuliah ilmu negara di Universitas Terbuka.