Saturday, 22 April 2017

Buku Kartini : Door Duisternis Tot Licht : Dari Gelap Menuju Cahaya

Gambar K. H. Sholeh Darat dan Raden Ajeng Kartini

Door Duisternis Tot Licht. Sebuah kalimat dalam bahasa Belanda. Artinya lebih kurang adalah "dari gelap kepada cahaya". Kata tersebut adalah judul sebuah buku yang disusun oleh J.H. Abendanon, seorang berkebangsaan Belanda. Penulis sebenarnya adalah seorang wanita berkebangsaan Indonesia, bernama Raden Ajeng Kartini.

Banyak kalangan yang memandang Kartini sebelah mata. Menurut mereka tidak cocok Kartini menjadi tokoh wanita yang diperingati harinya. Dijadikan simbol perjuangan atau emansipasi wanita, hanya karena tulisannya kepada sahabat penanya di eropa. Menurut kalangan ini ada nama lain seperti Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Sultanah Sri Safiatuddin yang perjuangan dan kerjanya sebagai perempuan melebihi apa yang dilakukan oleh laki-laki.

Kembali kepada Door Duisternis Tot Licht, sebuah kalimat yang diarrtikan dengan "habis gelap terbitlah terang oleh Armijn Pane. Ada fakta menarik soal dari mana inspirasi kata ini berasal. Jika Abendanon mengambil judul tersebut berdasarkan kalimat yang dianggapnya menginspirasi Kartini, karena sangat banyak pengulangan dalam berbagai surat yang dikirimnya.

Menariknya adalah dari mana Kartini memperoleh insparasi tersebut. Tidak disangka is terinspirasi dari Surat Al Baqarah ayat 257 yang berbunyi " Allahu waliyyullazi na aamanu yukhrijuhum minadh dhulumaati ilan nur". Artinya adalah "Allah pelindung orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya".

Ayat ini mengingatkan dirinya sendiri dalam proses memperoleh hidayah. Karena (Didasari artikel yang berasal dari cerita Ny. Fadhilah Shaleh, cucu dari K. Shaleh Darat) pada masa Kartini hidup penyebaran dakwah Islam tabu oleh Belanda. Juga kurangnya tafsir Al Quran kepada bahasa Jawa yang umum digunakan disana (termasuk Kartini). Juga pengalaman buruk yang dialaminya saat bertanya arti ayat Quran kepada guru mengaji. Cukup untuk membuat dia bingung dengan agama yang diwarisinya dari keluarga yakni Islam.

Hal itu tertulis dalam suratnya kepada Stella. Dalam suratnya ia mengatakan " manalah boleh aku cinta agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh aku mengenalnya. Al Quran terlalu suci untuk diterjemahkan ke dalam bahasa mana juapun. Di sini tidak ada yang tahu bahasa Arab. Orang diajarkan membacanya, tapi tidak diajarkan makna yang dibaca".

Sangat jelas, gambaran kondisi Islam dan dakwah pada masa tersebut. Bagaimana kekeliruan pandangan terhadap agama sangat memprihatinkan. Pemahaman tidak ada karena tidak diajarkan. Transfer ilmu terputus hingga pada tahapan terjadinya pewarisan ilmu yang salah. Kekeliruan yang berbuah keraguan dari pemeluk agama terhadap agama itu sendiri. Sebuah kondisi yang membuat Hamka dalam sebuah tulisannya menyayangkan kondisi tersebut.

Pertemuan dengan Kyai Soleh Darat pada sebuah pengajian yang membahas tafsir Al Fatihah membuka mata dari Kartini. Sehingga ia memberi usul kepada Kyai untuk membuat terjemahan Al Quran kedalam bahasa jawa, bahasa yang ia dan orang lainnya pakai sehari-hari. Terjemahan ini diberi judul Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an Dan menjadi terjemahan pertama Al Quran dalam bahasa jawa dengan menggunakan aksara Arab Pegon ( tulisan jawa menggunakan huruf Arab, semisal Arab Jawie).

Dari perjumpaan dengan Kyai Soleh Darat, tafsr Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an inilah banyak pelajaran tentang bagaimana Islam, yang Kartini menyebutnya sebagai agama nenek moyangnya itu dia pelajari. Dan dari situ juga ia menjumpai ayat 257 dalam Surat Al Baqarah yang sangat berkesan baginya. Suatu keterangan yang ia alami sendiri dan ditemukan ada dalam Al Quran. Sepertinya ini adalah suatu pembuktian tentang apa yang selama ini Kartini rasakan.

Hal tersebut tercermin dalam percakapannya dengan Kyai Saleh Darat.
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah.

Penterjemahan "habis gelap terbitlah terang" oleh Armijn Pane sendiri oleh beberapa kalangan penulis menilai telah menggerus makna asli dari kata "door Duisternis Tot Licht" yang seharusnya bermakna dari kegelapan kepada cahaya. Paling fatalnya ialah sangat menjauhkan dari sumber inspirasi darimana kalimat itu ditemukan ( kalimat "minadh dhulumaati ilan nur" yang sangat menginspirasi Kartini).

Sangat disayangkan jika Kartini sebagai wanita jawa, yang memiliki semangat kepada Al Quran dan Pemahaman terhadap pemikiran Islam di jadikan simbol kaum feminist yang malah menggiring wanita Indonesia jauh dari sumber cahaya yang penulis yakini ini "diyakini dan dipelajari oleh Kartini'.

Hal tersebut terlihat jelas ketika ia risau soal tidak bisa cinta dengan agamanya karena tidak tahu, serta tidak boleh mencari tahu. Kesimpulan yang sangat pelik yang muncul dari pengajar yang tidak sempurna ilmunya soal agama islam (kondisi guru mengaji Kartini tahu mengajarkan cara membaca aksara Arab, namun tidak bisa berbahasa Arab atau mengerti apa yang arti dari ayat Al Quran).

Ada kesimpulan unik bahwa terputusnya dakwah, atau pengajaran tentang bagaimana sebenarnya Islam dan tafsir Al Quran yang menyebabkan kecintaan Kartini terhadap Islam hampir pupus. Tentunya ini juga menjadi akar masalah yang sama pada tiap generasi yang kita jumpai telah terjadi penurunan kadar cinta terhadap Islam. Masalah puncanya adalah pengetahuan yang tidak memadai.

Dalam cerita Kartini, pertanyaanyan terhadap Kyai Soleh Darat seperti menggugahnya soal bagaimana menjaga keberlangsungan transfer ideologi Islam. Ini menginspirasi beliau, dimana menurut Ny. Fadilah Saleh, saat itu Kyai hanya bisa diam dan mengucap Subhanallah. Dan tentunya Jawaban menakjubkan dari Sang Kyai ketika menghadiahkan tafsir Al Quran karyanya sendiri tersebut. Tentu in menjadi jawaban terindah dari sang Kyai.

No comments:

Post a Comment