Monday, 24 April 2017

Ngopi Ala Orang Aceh

Pesan segelas kopi, lalu kamu dapat bonus segudang isnpirasi. (Agus Fajri |duek pakat warkop)

Bagaimana cara orang tempat kalian ngopi. Tentu ada yang unik. Sebuah kebiasaan atau rutinitas minum kopi. Pasti ada, karena kopi adalah minuman yang tak bisa lepas dari mulut orang Indonesia.

Tak berbicara soal soal filosofis, tapi kajian kali ini secara Sosiologis. Ada ditengah masyarakat dan selalu dilakukan. Dia seperti kebiasaan yang menjadi hukum tanpa sanksi, namun terus saja dipatuhi.

Berawal dari pertanyaan sederhana, yakni " berapa kali kalian minum kopi dalam sehari ? " Ada satu, ada dua, tiga, empat, lima. Tergantung aktfitas, kadang jumlah kopi yang masuk tidak terkontrol.

Nah saya mau cerita bagaimana kami di kampung ngopi atau "jep kupi". Umum terjadi di Aceh dan unik sekali. Kedekatan orang Aceh dengan kopi adalah "sesuatu". Sangat melekat.

Bayangkan saja seorang teuku Umar dalam menggelorakan jihad melawan Penjajah Belanda mengatakan " Singoh beungoh geutanyoe jep kupi di keudee Meulaboh atawa ulon syahid".

Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia maknanya menjadi " besok pagi kita ngopi di kota Meulaboh, atau saya syahid. Kalimat ini disampaikan dalam sebuah keberangkatan menuju medan perang.

Kembali ke berapa kali, atau bagaimana kami di kampung " jep kupi" (ngopi aka minum kopi). Silahkan kalian ambil kesimpulan. Saya hanya akan bercerita, sedangkan kalian akan menyimak. Jadi konsentrasi (haha, serius amat yak).

Kebanyakan dari kami bangun kala subuh, lalu salat subuh. Setelah salat sarapan. Minum kopi adalah kepastian. Baik itu kopi racikan abang barista di warung kopi, atau racikan bunda tercinta di rumah sendiri.

Lalu berangkat melakukan banyak aktifitas, sampai akhirnya seperempat pagi berlalu menuju siang. Bekerja, di kantor, PNS, Kuli panggul, Kuli batu, bertani dan banyak lagi lainnya (tentu saja saya gak bakal mengetik semua, bedagok kayak trisep ama bisep pindah ke jempol (ketahuan ngetik pake smartphone, hehe)).

Di ukur dari jam subuh itu jam lima pagi WIBPB (Waktu Indonesia Bagian Paling Barat), hehe, maka jam sepuluh adalah break time. Ini maknanya coffee break. Jam istirahat yang sering kami lakukan dengan "jep kupi " dan "pajoh kueh".

Ya, ngopi dan makan kue ala kadar, energi baru untuk melanjutkan aktifitas. Gak lama, palingan 10 hingga lima belas menit. Menghilangkan lelah dan mengembalikan mood. Coffee is the best mood booster, I'm alright.

Lalu kembali kerja sampai jam makan siang. Setelah siang dan shalat dhuhur, lanjut dengan aktifitas. Sampai jam salat ashar. Nah disini juga kadang ada jam "jep kupi" lagi. Kalau ini jadi kopi sore.

Ada yang udah selesai kerja seharian, ada juga sekedar buat "mood boosters" lalu lanjut kerja sampai benar-benar sore. Jam enam lah, lalu baru semua selesai karena udah menjelang magrib.

Nah lelah kerja seharian, malam adalah waktu santai dan bersosialita (cek ilee). Jam nongkrong dan kumpul-kumpul buat mereka yang sampai magrib full aktifitas. Malam jumpa kawan, atau berkumpul sesama warga desa.

Jelas sekali, warung kopi jadi pilihan. Duduk santai, ngobrol ringan hingga berat. Nonton tivi atau nyari sinyal Wi-Fi di era modern. Baru jelang larut malam pulang untuk istirahat total. Tidur untuk menyongsong pagi, bangun subuh Dan lanjut aktifitas lagi.

Kalau mau tahu kelanjutan, silahkan dibaca lagi dari awal. Gal jauh beda. Setidaknya paragraf ke delapan, hehe. Udah dulu ya udah jam 08.00. masuk kerja dulu. Oya ini juga saya ketik sambilan sarapan, di warung kopi.

Kopi pagi ini, segelas robusta penuh isnpirasi.

No comments:

Post a Comment