Tuesday, 25 April 2017

Pesona Bahari : Ujung Pancu, Lhok Mata Ie

Tidak ada banana boat, tidak ada hotel, tidak ada cafe dan kedai-kedai. Alami, begitulah adanya. Namun bukan berarti tempat ini belum terjamah tangan manusia. Tapi tempat favorit malam mingguan bagi jiwa-jiwa petualang.

Bagi yang suka kegiatan outdoor, seperti camping, atau tracking, Lhok Mata Ie menjadi tempat menantang yang mudah di jangkau. Dekat dengan kota Banda Aceh, namun memberikan suasana alam yang cukup liar.

Pada malam minggu atau hari libur, pantai kecil diantara tebing dan perbukitan itu penuh sesak dengan manusia dan tenda. Seperti pasar malam saja. Akan lebih tenang dan nyaman kalau malam-malam biasa.

Maklum, kalau malam minggu bisa-bisa gak kebagian tempat buat bermalam atau pasang-pasang tenda. Akhirnya mesti dinyaman-nyamanin begitu. Lain cerita malam biasa, cocok buat mencari ketenangan.

Lhok Mata Ie benar-benar potensi alami dari alam. Ikannya beraneka ragam, banyak pemancing datang kemari. Sekedar fishing, atau spear fishing sama-sama asik. Tentu spear fishing lebih menarik dengan hasil lebih memuaskan.

Selain itu, keong batu juga banyak dan beragam. Tinggal pilih yang besar-besaran biar puas. Langsung aja direbus pakai air laut, rasanya manis banget. Tapi jangan minum kuah air lautnya ya, karena tetap asin.

Atau kalau mau dipanggang juga enak banget. Taburi garam sedikit dimulut cangkangnya, juga setetes asam jeruk nipis, lalu letakkan saja diatas bara api. Tunggu sampai air mendidih keluar dari cangkang, yang bermakna udah matang.

Oya keongnya jangan dalam posisi terlungkup ya, pastikan mulut cangkang ke atas, atau masakanmu bakal gak jadi. Hahahaha.

Treknya itu terdiri dari perbukitan, jadi kadang menanjak, kadang menurun, melewati kebun warga hingga agak sedikit masuk hutan dan keluar di pantai.

Lalu mata akan dimanjakan dengan pemandangan laut dan gugusan beberapa pulau kecil. Sore hari, sunset dari titik ini juga sangat menyenangkan.

Selain itu sumber air tawar juga dekat, keluar dari celah batu pegunungan. Oya bukit yang ku cerita tadi itu lebih bisa ta bilang rantai atau anak-anak mungilnya bukit barisan. Jadi airnya bisa diminum langsung juga.

Airnya segar banget, dan pengalaman kami minum, gak pernah ada yang sakit perut. Anak manja aja kami bawa, bisa pulang sehat wal afiat. Meski gak kami kasih tahu kalau kami kasih air mentah.

Oh ya airnya awet, meski kemarau. Tapi debitnya kecil banget. Jadi penting untuk kalian yang berkunjung menjaga sumber air ini. Agar bisa terus dinikmati generasi camping dan tracking masa depan.

Kesimpulan akhir, pokoknya asiklah, berpetualang. Untuk acara kayak outbond atau kemah pramuka juga asik. Datang aja dan rasakan sensasi kepengen kembali.

No comments:

Post a Comment