Wednesday, 12 April 2017

Pilkada Jakarta : Pilihlah Anis-Sandi Atau Anda Akan Menyesal

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno

Saya tidak menuliskan soal Pilkada Aceh dan Banda Aceh. Padahal saya terlibat aktif didalamnya. Namun, untuk saudara saya di Jakarta, saya fikir inilah bantuan yang bisa saya berikan.

Kenapa demikian, ya jelas. Saya di Aceh, berKTP Aceh, tidak memiliki hak pilih di Jakarta. Lalu apa pula bagi saya memaksakan menggaruk kaki yang tidak gatal.

Saya kasian dengan media mainstream yang terlalu menyerang Anies-Sandi Dan lemah lembut dengan yang lainnya. Jadi biarlah saya dengan blog pribadi yang tak seberapa ini mencoba mengutarakan pikiran saya yang berbeda dengan media tersebut.

Jadi, Jawaban sebenarnya adalah agar warga Ibukota nantinya tidak menyesal. Bukankah ada diantara kita menyesal memilih Gubernur Jakarta yang akhirnya menjadi presiden yang disesali.

Tidak sempat membereskan Jakarta, dia maju ke pusat. Setelah itu banyak orang yang mulai menyesal telah memilih, lalu mengeluarkan pendapat soal betapa negeri telah salah urus.

Dalam pendapat pribadi saya; "kita telah menyerahkan negeri ini pada orang yang salah. Pada akhirnya Pajak, BBM, TDL semua naik tanpa di iringi pelayanan publik yang baik pula.

Pelayanan yang saya maksud adalah peningkatan daya beli dalam masyarakat masih stagnan, dan nilai jual rupiah terhadap dolar terus merosot. Bukankah ketika dihubungkan dengan kebijakan tadi, hasilnya kita menderita dua kali lipat.

Nah, bukankah di Jakarta, untuk yang kita orang kecil merasakan janji kampanye pasangan periode yang lalu tidak tepat. Gusur menggusur, serta ganti rugi yang tidak setimpal. Pembangunan yang dibela-bela adalah milik para cukong, dan orang super kaya (Reklamasi).

Tidakkah warga menjadi terpecah belah dan sentimen mulai muncul. Muslim tidak boleh takbiran di perayaan hari besarnya, sedangkan tahun baru Dan natal dirayakan besar-besaran. Bukankah ini diskriminatif.
Juga berkaitan dengan kasus penistaan terhadap agama Islam dan terakhir kampanye vidoe yang juga mengandung unsur fitnah. 

Tentu normalnya kita sebagai manusia yang humanis akan bertanya "apakah ia benci dengan agama Islam, atau memang dia rasis ?"

Para ahli hukum ada yang penasaran dan heran dengan sinetronisasi sidang kasus penistaan agama. Bahkan sampai Ada cerita penegak hukum mengintervensi proses peradilan.

Bukankah seharusnya kita semua sama dihadapan hukum. Kenapa Ada satu orang yang bedanya tidak biasa. Bahkan berbeda dengan ketidak adilan lainnya yang pernah terjadi di lembaga peradilan. Apa yang membuat dia seperti seorang yang berlaku atasnya "lex Specialist".

Mari Membuka Mata dan Hati

Jangan karena kita punya tanah di Jakarta, belum pernah tergusur, lalu kita melupakan yang digusur. Jangan karena uang untuk listrik, air PDAM, BBM cukup kita lupa dengan yang tidak mampu.

Saya tidak ingin bicara soal penggadaian Iman, tapi yang menghindar dari kewajiban Pajak juga mereka orang super kaya. Yang kekayaannya lebih dari cukup untuk kapling tempat di proyek Reklamasi.
Kasihan nelayan kita, menjadi korban Reklamasi. 

Kasihan orang yang tidak bayar Pajak bukan karena lari, namun memang karen hasil kerja dan banting tulang bahkan untuk beli buku anak sekolah saja masih harus ngutang.

Salah urus tidak akan terjadi, jika kita tidak salah dalam memilih orang yang akan kita tugaskan mengurusi kita. Dalam tiap coblosan dan suara, kita sedang memilih siapa yang akan menyelesaikan masalah kita. Bukan malah kitanya yang diselesaikan.

Mari suara kita berikan kepada orang yang bisa menyelesaikan permasalahan kota Jakarta. Jadi beri kesempatan Anies-Sandi untuk mengurus Jakarta pada periode kali ini.

Bagi saya ini penting, karena kota kalian adalah ibu bagi kami, ibu bagi kota-kota dan kabupaten serta provinsi lainnya.

No comments:

Post a Comment