Thursday, 13 April 2017

Polda Metro, Netizen dan Jilbab Online

Hal paling konyol yang pernah saya dengar abad ini adalah persaingan bisnis online jilbab dan gamis bisa membuat orang menggunakan kekerasan. Seperti siraman air keras terhadap keluarga pebisnis.

Hal yang paling tolol yang pernah saya dengar abad ini adalah Ketua KPK disiram air keras gara-gara persaingan bisnis jilbab online istrinya.

Sungguh paradoks (harus bold) dengan kejadian di film-film Hollywood. Kenapa film Hollywood, karena mereka benar-benar bisa membuat kita seperti sedang menyaksikan realita dalam film aksi Mafia yang mereka buat. Semua kedengaran logis meski semua hanya cerita.

Kali ini kita mendengar cerita paling aneh sejagad dari seorang kapolda dan itu Metro Jaya. Orang penting di sebuah institusi negara disiram air keras karena istrinya jualan jilbab online. Oi oiii

Kalau versi Hollywood, maka saya yakin ceritanya bakal seperti ini " seorang perempuan penjual jilbab dan gamis disiram air keras". " Polisi menduga sebagai ancaman terhadap suaminya yang ketua KPK". Begini terlihat lebih logis. Setidaknya bagi saya. Setidaknya alur di film-film Hollywood demikian.

Al hasil kini netizen terbagi dalam dua kegiatan. Pertama berkelakar soal jualan jilbab dan gamis online. Kedua karena jilbab dan gamis lagi viral, mereka mengambil peluang ini. Sebenarnya masih ada faksi ketiga yang menggabungkan antara keduanya. Dan begitulah netizen.

Yaaaa, kita para netizen hanya tahu mencemooh. Mungkin anggapan ini terselip difikiran mereka yang lupa atau tidak tahu siapa kita para netizen. Bukankah kita adalah smart citizens yang cukup ilmu soal skenario demikian dari film Hollywood dan Korea.

Lantas apa skenario ajaib ala Pak Kapolda akan laku, tentu saja ia, mutlak melahirkan cemoohan dan sindiran. Mungkin yang buat skenario kurang nonton film Korea dan Hollywood. Jadi script-nya kurang menggigit.

Yaaa kita semua paham, kita semua sama kondisinya. Tahu bagaimana dagelan dinegeri kita dilakoni oleh pelakon amatir. Hingga kita menertawakan apa yang kita tonton, lalu merasakan gundah karena ini bukan film.

Mungkin mereka tidak tahu kalau kita Ada yang cerdas, atau bukan kita yang disasar. Ada orang lain yang bukan netizen, yang aksesnya tak sehebat kita. Dan kita juga belum bisa berbuat banyak.

Al Fatihah untuk negeri yang kita cintai ini.

No comments:

Post a Comment