Sunday, 16 April 2017

Tahukah Kita : Islam Masuk Indonesia Pada Abad ke Tujuh Masehi

Banyak penulis sejarah mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ketiga belas masehi. Menurut beberapa sejarawan lainnya, Hal ini merupakan kekeliruan.

Dalam buku "Api Sejarah" Ahmad Mansur Surya Negara menuliskan hal tersebut diatas adalah sebuah kesalahan. Setidaknya menurut R. K. H. Abdullah bin Nuh dalam buku yang sama, is mengatakan seharusnya Islam masuk ke Asia Tenggara jauh lebih lama.

Islam lebih tepat datang ke Indonesia pada pada abad pertama hijriah atau abad ketujuh Masehi. Setidaknya setidaknya 7 abad atau 6 abad lebih cepat dari disangka oleh sejarawan lainnya.

Hal ini diperkuat dalam buku T. W Arnold "the pearching of Islam". Dalam buku tersebut dikatakan abad ke dua Hijriah pedagang Arab dan dakwah Islam telah menguasai Sailan atau Srilanka.

Masih dalam buku "Api Sejarah" pendapat ini diberitahukan diperkuat lagi oleh Prof. Dr. B. H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi dalam buku "Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia".

Tentu fakta sejarah ini menjadi jawaban atas pertanyaan kapan masuknya Islam ke Asia Tenggara. Karena jauh sebelumnya pedagang Arab berniaga hingga ke Cina.

Sabang sebagai pintu masuk Asia Tenggara saat itu memegang kunci penting dalam penyebaran Islam ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Karena di Sabang, Aceh merupakan pelabuhan international yang menjadi pintu laut dari dan menuju ke wilayah Asia Pacific atau menuju West Bank.

Pedagang Muslim Arab membawa dua misi dalam perjalannnya. Pertama adalah  dakwah atau penyebaran agama Islam. Kedua berdagang untuk mengumpulkan kekayaan. Bangsa Arab telah diterima dengan baik sebagai mitra bisnis di kalangan masyarakat Indonesia.

Bahkan sampai ke Timur Indonesia seperti Maluku. Islam masuk secara bersamaan melalui dakwah secara kultural. Pasar menjadi gerbang asimilasi dan interaksinya. Bahkan Jaziral Al Muluk adalah nama yang diberikan oleh orang Arab terhadap Pulau Maluku.

Hal ini berbeda dengan gaya kedatangan bangsa eropa yang memiliki tiga misi yakni Gold, Glory, Gospel yang dijalankan dengan praktik kejam perang dan penjajahan terhadap pribumi.

Mereka datang dengan tipu muslihat dan percobaan monopoli. Hal ini menyebabkan pedagang barat kurang diterima. Apalagi VOC (persatuan datang barat) datang membawa angka bersenjata. Sungguh cara yang jauh dari kata "makluk sosial" atau "manusia yang beradab".

No comments:

Post a Comment