Tuesday, 16 May 2017

Mengomentari Insiden Pemukulan di UNSYIAH

Anarkisme sepertinya masih menjadi jawaban atas problematika mahasiswa Unsyiah. Sepertinya memang ini kelasnya, sehingga pemukulan masih terjadi di kalangan mahasiswa. Terlalu banyak kepentingan dan seperti terlalu rumit masalah mereka, sehingga emosi menjadi tidak terjaga. Hilanglah akal, hikmah dan ilmu.

Sedih saya mendengar cerita seorang mahasiswi Fakultas Hukum Raudiah namanya. Ada tangan kuat mahasiswa unsyiah yang berani melayangkan pukulannya ke arah perempuan. Lalu masih ada nama lain seperti Miftah, Dewi yang juga tak luput dari perlakuan kasar para pria Unsyiah yang tergabung dalam Dewan Perwakilan Mahasiswa Unsyiah (DPMU).

Sungguh mereka mahasiwa sejati. Lelaki perkasa dan pilihan mahasiswa untuk mejadi perwakilan mereka di tingkat Fakultas dan Universitas. Tidak semua lelaki berani seperti mereka, memukul perempuan. Karena yang lain masih memiliki secuil rasa malu. Karena akhlak mereka memberitahukan agar melindungi perempuan.

Pemimpin adalah cerminan rakyatnya, maka dikampus mereka cerminan mahasiswanya. Mereka adalah cerminan dari konstituen mereka. kecenderungan memilih selalu yang sekufu, secara style dan pemikiran. Maka tak heran jika kampus hasilnya melahirkan tokoh yang tidak bisa mengurus Aceh. Karena kampus adalah laboratorium, maka kondisi kampus hari ini adalah gambaran Aceh sepuluh tahun yang akan datang.

Kita dapat melihat bukti bahwa aktifis pada masa sepuluh hingga lalu minimal, pada tahun ini telah memegang peranan penting di Pemerintahan Aceh. Bukan hal mustahil sepuluh tahun lagi adalah wajah-wajah tukang pukul Unsyiah ini yang akan mulai memegang peranan di Aceh. Dengan begitu, saya mulai bekesimpulan tidak ada harapan untuk Aceh dari Unsyiah. Karena yang akan menjadi politisi dan memegang perintah adalah mereka yang aktif bersaing di labolatorium kampus.

Mereka para tukang pukul adalah kriminal. Pemukulan adalah tindakan yang menyakiti dan menganiaya. Ini adalah tindakan pidana yang seharusnya dilaporkan kepada kepolisian. Apa lagi dilakukan secara bersama-sama seperti pengeroyokan. Maka tindakan ini menandakan mereka adalah pelaku pidana yang tidak layak menjadi perwakilan mahasiswa. Keberadaannya hanya menambah rentetan cerita buruk bagi sejarah dan keberadaan Dewan Perwakilan Mahasiswa.

Saya malah berfikir, bagaimana pelajaran akidah akhlak, dan sense moral dari pendidikan kewarga-negaraan harus ditanam lagi secara mendalam ke kepala mereka. Dengan demikian, mereka bisa belajar bagaimana memperlakukan perempuan. Apakah ini tanggung jawab semua dosen, rektor, dekan, biro akademik, MKU, atau UP3AI. Jelasnya apa yag sudah di Ajarkan sepertinya belum cukup untuk  mencerdaskan para politisi kampus ini.

Entah sampai kapan tradisi barbarisme ini terus dipertahankan. Warisan budaya masa lalu yang tidak berguna. Jika semua diselesaikan dengan mekanisme serangan fisik, maka apa beda antara prilaku manusia yang beradab dengan prilaku ala hewan non politik lainnya. Tentunya kita sudah tidak boleh lagi menyelesaikan forum berpengetahuan dan terhormat dengan prilaku yang demikian.

Semoga para pelaku instrospeksi diri dan meminta maaf, lalu menyelesaikan forum musyawarah dengan bermusyawarah. Atau para korban juga jangan tinggal diam diperlakukan seperti itu. Pidanakan saja mereka, agar jadi pelajaran. Mereka itu mahasiswa, seharusnya bertindaklah selayaknya mahasiswa.

No comments:

Post a Comment