Friday, 3 November 2017

Sejarah yang Sombong Tidak Terobati Alquran Hingga Doa

Terinspirasi dari kisah pada zaman Rasulullah. Pada masa awal kerasulan yang mana Islam masih didakwahkan secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah mengundang keluarganya, kerabat, Dan orang-orang terdekatnya dalam halaqah-halaqah kecil.

Mereka dijamu dengan makanan, lalu Rasulullah mengajak mereka memeluk Agama yang sedang disebarkan olehnya. Seperti yang diberitakan dalam sirah, respon para undangan tidaklah beragam. Terkumpul kedalam dua kelompok besar yakni menerima dan menolak dakwah yang disampaikan.

Kelompok yang menolak juga terkumpul dalam dua blok besar. Pertama yang menolak keras dan memerangi dakwah. Kedua kelompok yang menolak, namun tidak mengganggu (bahkan ada juga yang ikut membantu).
Kelompok pertama adalah komplotan seperti Abu Lahab, Abu Jahal, dan rekan- rekan. Kelompok ini aktif mengganggu kegiatan dakwah, sampai kepada menghalangi kegiatan dakwah. Misalnya pada saat Nabi Muhammad, SAW mengumpulkan penduduk dan bertanya soal kuda dibalik bukit. Seluruh hadirin yakin jika apa yang disampaikan Rasulullah benar. Alasan sederhananya adalah sosok Al Amin tidak pernah berbohong.

Hingga Abu Lahab yang menyanggahnya dengan berkata "untuk inikah kau kumpulkan kami di sini, celakalah kamu wahai Muhammad". Sanggahan yang membuat Nabi kita tercinta terdiam tidak bisa membalas. Pada saat itulah turun Surat Al Lahab.

Kedua adalah umumnya para Bani Hasyim. Meski tidak berislam, mereka menunjukkan Solidaritas kepada Muhammad, SAW. Ketika Boikot kepada ummat Islam, mereka ikut berjuang bersama sebagai anggota dari keturunan Hasyim.

Sosok menarik dalam kisah ini ada tiga. Mereka seperti tesis dan antitesis. Perbandingan yang tepat untuk menilai bagaimana sombong itu menjadi penyakit hati akut. Seperti kanker hati yang bisa membunuh pengidapnya. Sulit untuk disembuhkan. Dua orang tersebut adalah Abu Lahab, Abu Jahal, dan Umar Ibnu Khattab.

Sebenarnya Abu Lahab sangat menyenangi Al Quran. Selalu kagum dengan bacaannya ketia dia mendengar. Pernah dia bersama rekannya menuduhkan perkataan sihir, namun tetap takjub dan berkata ini (Quran) bukan perkataan manusia. Lalu komplotan ini berjanji satu sama lain untuk tidak mendengarnya, mencegah dari pengaruh sihirnya.

Lalu dikisahkan jika komplotan ini saling mecoba mencuri dengar bacaan Al Quran secara sembunyi-sembunyi. Pada satu waktu tidak sengaja mereka berpas-pasan Hingga saling memergoki keingkaran mereka terhadap janjinya. Pada saat itulah mereka saling mengakui agungya Alquran.
Masalahnya meski mengakui, takjub, kagum dengan Al Quran, Abu Lahab tidak mau berislam. Ia malah makin serius memerangi keponakan dan Agama yang dibawanya. 

Ternyata Al Quran saja tidak bisa mengislamkan Abu Lahab. Tahukah apa penyebab dia tidak mau berislam. Dalam riwayat dikatakan Abu Lahab enggan berislam karena tidal mau menjadi pengikut keponakannya. Dia merasa dirinya lebih hebat dan memiliki pengaruh cukup kuat dikalangan penduduk kota mekkah. Kesomombongannya yang menyebabkan ia enggan berislam, meski sedemikian hingganya dia terhadap Al Quran yang dia dengar.

Lalu selanjutnya Umar Bin Khattab yang marah ketika tahu saudara perempuannya telah berislam. Dia datang dengan amarah dan diriwayat memukul saudaranya karena membaca Alquran. Lalu Umar menemukan tulisan yang ternyata isinya Al Quran surat Ta Ha. Ia terkagum dengan Al Quran, lalu meminta diantarkan kepada. Rasulullah. Begitulah, dihadapan Rasulullah Umar Berislam, mengucapkan dua kalimat syahadat.

Amarah dan kemurkaan Umar terobati dengan Al Quran. Hatinya menjadi lembut dan terang dengan cahaya Allah. Berbeda dengan Abu Lahab yang telah tertutup hatinya dengan sifat sombong. Kekagumanya kepada Alquran (sampai sembunyi-sembunyi ia mendengarkan bacaannya). Sama sekali tidak dapat menjadi obat.

Begitu juga dengan Abu Jahal. Ia adalah manusia yang hebat. Bahkan masuk kedalam doa Rasulullah, agar Allah memuliakan islam dengan kehadiran Abu Jahal bin Hisyam. Namun sama seperti Abu Lahab yang karena kesombongan jugalah menyebabkan is enggan berislam. Bahkan doa Rasulullah tidal bisa menjadi obat baginya. 

Diungkapkan oleh khabab ketika is melihat keislaman Umar, bahwa dalam doa tersebut Ada dua nama yakni Umar sebagai salah satunya.
“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”.
Doa ini diungkapkan oleh Khabbab kepada Umar setelah melihat Umar yakin akan ke Esaan Allah di rumah saudarinya. Half ini menjadi penguat hati Umar untuk memantapkan dirinya mengucap dua kalimat syahadat.

Umar seperti mendapat dua resep obat paten atas penyakit hatinya. Kebenciannya terhadap Muhammad dan agama baru yang dibawa sirna dengan *_doa*_ dan *_Quraan_*. Sedangkan kesombongan Abu Lahab dan Abu Jahal tidak terobati. Masing-masing resep gagal kepada mereka. Meski merek meminum obatnya, namun penyakit sombong tidak mau disembuhkan.

Oleh karena bahayanya sombong,  Allah dalam Alquraan mengingatkan Kita. Demikian juga Rasulullah dalam hadistnya.
Allah berfirman,
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ  {18}
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)
Allah  berfirman,
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)
Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853)

Oleh karena itu mari kita menjauhkan diri dari menyombongkan diri. Merasa diri Superior (lebih hebat) dari yang lain. Tanpa kita sadari sifat ini membuat kita seperti kacang lupa dengan kulit. Kita jadi gila hormat, berharap terus dipuji dan sedikit berkonstribusi.

Umar Bin Khattab pernah ditegur Rasulullah karena perasaan berlebihan terhadap dirinya sendiri. Ketika itu Rasulullah bertanya perihal kecintaan Umar kepadaNya.
“*_Ya Rasulullah, engkau adalah orang yang paling aku cintai dari segalanya, kecuali dari diriku*_,” *_ demikian*_ Umar bin Khattab mengungkapkan kedalaman cintanya kepada Rasulullah. Rasulullah merespon, “*_Bukan begitu wahai Umar, demi jiwaku dalam genggaman-Nya hingga engkau mencintai diriku melebihi cintamu kepada dirimu.*_” Saat itu juga *_Umar langsung mengatakan*_, “Sekarang, demi Allah engkau lebih aku cintai daripada diriku._” “ _Itulah yang benar wahai Umar._” kata Rasulullah.

Mari introspeksi diri. Jauhilah sifat yang tidak Ada obatnya.

No comments:

Post a Comment